SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 RAKA RASIH


__ADS_3

Tian memeluk Ravi, mengucapkan selamat sudah menjadi Ayah, Erik juga memeluk Ravi bersama dengan Tama.


Ravi mencium tangan ibu mertuanya, mengucapkan selamat menjadi nenek. Cinta juga tersenyum sambil menghapus air matanya mengucapkan selamat.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Karin tidak kuasa menahan air matanya. Dia baru pulang dari luar kota, mendapatkan kabar menyedihkan langsung mendekati keluarga.


"Bagaimana keadaan kak Kasih, twins juga?" Karin meneteskan air matanya.


"Baik mereka selamat, tapi twin harus pisah dari Kasih karena lahir prematur." Ravi tersenyum melihat Karin.


Ravi merasa lucu dengan perjalanan cintanya, menjadi kekasih Cinta, tapi harus berakhir karena tanpa restu Tama. Bertemu kembali berniat hubungan serius dengan Cinta, tapi bertemu dengan Kasih, pacaran dengan Karin, tapi menikah dengan Kasih.


Tiga saudara perempuan hadir dalam hidup Ravi, tapi hanya satu pemenang dan pemiliknya.


"Kenapa kamu tersenyum Rav? bangga bisa menjadi pacar ketiga adikku." Tama berbicara pelan, Ravi hanya tersenyum.


Suara teriakan, tangisan dari ponsel terdengar. Vira ingin pulang memeluk keponakannya. Ravi mengambil ponsel Tian tersenyum melihat tiga wanita paling heboh.


[Kak, selamat ya sudah menjadi Daddy, Vira menjadi Aunty Vir.] Vira menangis dengan ciri khasnya yang sangat manja.


[Iya, selamat ya Vir menjadi Aunty, semoga anakku tidak mirip Aunty nya yang cerewet dan manja.]


[Selamat kak Rav, Win menjadi Aunty lagi, ada mirip bule seperti Winda tidak?]


[Terima kasih Win, dia mirip kak Rav bukan kamu. Bella juga terima kasih, jangan sampai dia mirip kalian bertiga yang nakal.] Ravi tersenyum.


[Bella belum berbicara apapun kak, jangan-jangan satu mirip kak Erik, kak Kasih benci banget sama kak Erik.] Bella langsung tertawa.


[Semoga saja hatinya sebaik Erik, mengikuti jejak Erik menjadi Dokter, jadi keluarga kita semakin banyak profesi.]


Panggilan berakhir Ravi bertanya soal Wildan, Tian menggelengkan kepalanya. Ponsel Karin berbunyi, panggilan dari Karan.


[Kak Rav, selamat menjadi Kakek.] Wildan memperlihatkan wajahnya yang masih mengunakan alat bantu bernafas.


[Kakek?!] Ravi tidak merasa lucu dengan candaan Wildan, menghindari Mami jangan sampai tahu keadaan Wildan.


Lama Ravi berbicara dengan Wildan, dia sudah menghubungi Papi, juga sudah melakukan panggilan dengan Mami. Wildan belum tahu kapan bisa kembali, mungkin pernikahan Billa, atau tidak bisa kembali sampai 2 tahun.


Ravi sangat mengerti keadaan Wildan, terpenting Wildan harus menjaga diri, jangan sampai hilang kontak dengan yang lainnya.

__ADS_1


***


Bayi sudah dipindahkan, Billa berdiri memperhatikan dua bayi yang sedang tidur. Dari balik kaca Billa melihat Mommy, Mami, Bunda wajahnya sudah menempel di kaca, pasti sangat penasaran dengan wajah cucunya.


Billa mengambil foto Raka dan Rasih, mendekati kaca menunjukkan ponsel. Billa mengirim di grup keluarga, senyum Billa terlihat saat semuanya mulai memegang ponsel, tersenyum bahagia saling berpelukan.


Erik masuk ke dalam ruangan bayi, melihat Raka dan Rasih yang sangat kecil. Billa mendekati Erik yang menatap serius.


"Bagaimana keadaan mereka Bil?" Erik menatap Billa yang juga melihatnya.


"Sekarang normal, tapi kita juga berjaga takutnya ada efek samping. Jika keadaan bayi memukimkan, Billa akan melakukan pengecekan seluruh tubuh bayi, dari jantung, ginjal, bahkan bagian kepalanya."


"Lebih baik memang melakukan pengecekan detail, penjagaan juga perketat, takutnya tiba-tiba ada penolakan dari pengobatan yang sedang dilakukan." Erik menatap Raka yang mulai bergerak.


"Kak, sepertinya pernikahan kita ...." Billa tidak melanjutkan ucapannya.


"Berapa lama Bil? sampai mereka bisa bertemu Mommynya, seperti keadaan mereka beda dari bayi prematur lainnya."


"Iya kak memang beda, mungkin satu bulan ke depan, sampai berat badan bayi bertambah, baru bisa pulang satu bulan ke depannya lagi, berarti dua bulan."


"Raka Rasih, terima kasih sudah menunda pernikahan Uncle selama 2 bulan, kalian terbaik. Gemes pengen mengunyah kalian." Erik langsung melangkah keluar, wajahnya cemberut membuat Septi heran.


"Rik, Kenapa ada masalah dengan twin?" Viana langsung khawatir.


"Jum Erik batal menikah." Viana menatap Jum yang langsung menutup mulutnya.


"Kenapa? kalau begini kapan Jum menjadi Nenek?" Jum menghembuskan nafas berat.


"Sabar kak Jum, lihatlah Billa yang sangat fokus untuk menjaga Raka dan Rasih. Billa menundanya untuk fokus kepada twins sampai pulang."


"Jum mengerti mbak Septi, tapi dari dalam hati Jum ingin cepat punya cucu. Kamu saja sebaiknya cepat menikah Tian." Jum melihat Tian yang sudah tersedak minuman.


"Bunda, meminta anak menikah seperti lagi beli bakso." Bisma melihat Jum yang langsung cemberut.


Tama menatap Tian yang membuatnya binggung, Tama sudah cukup umur, Bella juga sudah bersedia, tapi Tian masih terus menundanya.


"Tian, kenapa kamu masih belum siap menikah?" Tama melihat Tian yang tersenyum.


"kamu kenapa belum menikah?"

__ADS_1


"Belum bertemu calonnya."


"Aku bukan belum siap, Bella masih harus memuaskan dirinya. Aku juga masih mempunyai target yang harus aku selesaikan."


"Lalu kapan? kamu paling tua. Ravi anak dua, Erik siap naik pelaminan, kita kapan?"


"Kapan-kapan." Tian tersenyum bersama Tama.


***


Kasih sudah pindah ruangan, Ravi setia menunggu, menemani Kasih sambil melihat kehebohan di ruangan bayi.


"Aak Raka kuat tidak minum susunya?" Kasih hanya bisa melihat video, belum bisa menyentuh anaknya.


"Kuat banget sayang, baru selesai minum minta lagi. Mommy tidak ingin pulang ke rumah, Bunda memaksa mempercepat pernikahan Billa, agar cepat menimang cucu." Ravi tertawa, jika datang melihat anaknya.


"Rasih Aak?"


"Rasih minum susu, tapi tidak sekuat Raka, dia pasang gaya cantik dan anggun. Minum susunya perlahan."


Kasih tersenyum setiap melihat foto kedua anaknya, Kasih ingin sekali bisa memeluk anaknya, menyusuinya secara langsung.


"Sabar sayang, akan ada saatnya kita menggendong mereka." Ravi mengerti tatapan Kasih, sebagai seorang Ibu pasti ingin sekali menggendong.


"Iya Aak, maafkan Kasih yang tidak sabar. Anggap saja masih mengandung mereka dua bulan lagi." Kasih tersenyum menatap suaminya yang sangat tampan.


Ravi meminta Kasih tidur, Ravi juga ingin tidur karena kekurangan waktu beristirahat.


Viana masuk ke dalam kamar Kasih, mengantarkan makanan untuk Ravi. Melihat keduanya tidur nyenyak, terlihat juga ketenangan setelah melewati hari yang menguras perasaan, air mata, bukan hanya hati yang tersakiti, tapi fisik juga lelah dan butuh istirahat.


Rama juga masuk merangkul Viana melihat Ravi dan Kasih, keduanya langsung tersenyum dan keluar. Kembali melihat kamar bayi yang sudah ribut dari luar.


Reva menghentikan teriakan cucunya Wira yang mengamuk, ingin melihat adik kecil. Windy sudah pakai emosi menarik telinga Wira sampai akhirnya menangis berlari mencari Daddy-nya.


Melihat cara Windy, Bima langsung menegur agar Windy tidak main fisik.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2