
Hujan turun dengan derasnya, di langit terlihat kilat yang menerangi jalanan. Bunyi guntur bersahutan menggema menakutkan.
Mobil keluarga satu persatu terparkir, berlarian menuju ruangan operasi. Suara tangisan terdengar dari setiap keluarga.
Bima langsung melangkah menepuk pundak istrinya, Reva langsung masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Wildan Papi."
"Sabar sayang, Allah sedang menguji Wildan dan kita semua. Tidak ada yang bisa menghindar takdir, berdoa saja yang terbaik untuk putra kita." Bima mengusap punggung Reva yang melemah dalam pelukannya.
Rama langsung berlari, berlutut di hadapan putrinya yang sadar pingsan lagi, sadar dan pingsan.
"Vira sayang, harus kuat nak. Allah tidak menguji melebihi batas kemampuan kita, Vira harus banyak berdoa." Rama memeluk erat putrinya yang terus menangis.
"Sudah Vira katakan jangan pergi, kenapa Wildan tidak pernah mendengarkan Vira Daddy?" Tangan Vira menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Billa berjalan mendekat setelah mengantar anaknya untuk pulang, berganti baju untuk masuk ruangan operasi.
"Maaf Bil, aku tidak bisa mengizinkan kamu masuk. Kamu tahu sendiri cara kerja Erik, dia tidak bisa diganggu. Hanya Tim Dokter Erik yang boleh masuk."
Billa melihat jam yang sudah melewati waktu yang seharunya, Erik tidak pernah terlambat menyelesaikan operasi, tapi kali ini membutuhkan waktu lagi.
"Billa, kamu melihat Wildan saat masuk?" Mami mengusap air matanya.
"Tidak mi, Billa hanya melihat Dewa yang tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal saat tiba di rumah sakit." Billa mengusap wajah menahan air matanya.
Bella langsung meneteskan air matanya, tidak menyangka jika Dewa meninggal. Randu yang baru tiba langsung terduduk.
Karan langsung merangkul Randu, semua menatap Randu yang menangis histeris mendengar kabar Kakaknya tidak bisa di selamatkan.
"Bella, tolong kakakku. Vira kamu pernah menyelamatkan kak Dewa, tolong dia." Randu meremas rambutnya.
"Dia sudah meninggal saat tiba Randu, sekarang ada di ruangan jenazah." Billa melangkah untuk menunjukkan tempat jasad Dewa yang meninggal, karena pendarahan bahkan jantungnya tidak berfungsi lagi.
Sejak awal tidak ada harapan Dewa bisa hidup, Randu berjalan sempoyongan mendekati jenazah kakaknya sambil menangis.
__ADS_1
"Kak bangun, kenapa meninggalkan Randu sendirian?" suara tangisan Randu terdengar, berteriak melihat wajah kakaknya yang pucat tidak berdarah lagi.
Hati Randu sangat hancur, dia sudah mengatakan untuk berhenti berurusan dengan Fly dan dragon. Randu bahkan meminta bantuan Wildan agar hidupnya juga kakaknya bisa normal, tapi kenyataannya Dewa meninggalkannya sendirian.
Karan juga merasakan sesak melihat keadaan Randu yang hancur, belum lagi Wildan yang belum ada kabar baiknya.
***
Suara langkah kaki berlari sambil teriak histeris, Fly langsung mendekati ruangan operasi menangis histeris saat tahu sebenarnya target yang ingin dibunuh Wildan.
Saat tahu Wildan kecelakaan Fly langsung mengejar dragon, tapi sudah bersembunyi karena terluka parah akibat tertembak.
Tangan Fly menggedor pintu operasi, Ravi dan Tian langsung menarik Fly untuk tidak menganggu jalannya operasi. Fly memohon agra dilepaskan, dia ingin melihat Wildan, lelaki yang sangat dicintainya.
Tatapan mata Vira tajam, langsung berdiri. Viana langsung menggenggam tangan putrinya untuk tidak membuat masalah.
Luka yang Vira rasakan sama sakitnya seperti Viana yang menerima kenyataan jika suaminya kecelakaan dalam ledakan mobil.
Saat hati mulai bahagia, saat luka mulai terobati saat itu juga kebahagiaan direnggut kembali. Bagaimana mental tidak jatuh, saat takdir mulai mempermainkan.
Vira langsung tertawa membuat semua orang terdiam, tamparan kuat langsung menghantam wajah Fly sampai berdarah.
Air mata Vira menetes mencekik kuat Fly, baru saja dia dan Wildan merasakan kebahagiaan sebuah pernikahan, tapi begitu mudahnya manusia sampah merusaknya.
Ravi memeluk Vira meminta melepaskan, Tian juga menahan tangan Vira agar melepaskan Fly.
"Jika aku ingin begitu mudahnya aku melenyapkan kamu dari dunia ini, tapi Wildan selalu mengatakan bukan kamu yang berhak memutuskan hidup dan mati seseorang. Kenapa kalian datang merusak kebahagiaan kami? jika sampai terjadi sesuatu pada suamiku tujuh turunan kamu akan aku singkirkan, pilihan hidupku menjadi orang jahat yang membasmi ...." Mulut Vira sudah ditutup oleh Viana, meminta putrinya tidak mengotori tangan untuk membunuh orang.
"Vira, cukup mommy yang menjadi orang jahat, kalian jangan sayang. Kehilangan kak Andri dan Bima membuat hidup mommy sepi dan tidak berarah. Mommy bersumpah akan menjadi orang jahat, sampai akhirnya mommy menjadi iblis berbentuk manusia. Apa gunanya Daddy mengajari kamu agama, mengajari arti sabar jika kalian ingin menjadi penjahat. Lepaskan dia Vira." Viana mendorong Fly yang hampir kehabisan nafas.
"Vira ingin merasakan kebahagiaan lebih lama bersama Wildan mom, tapi mereka datang merusak kebahagiaan Vira. Mereka tidak pantas hidup, jika sampai terjadi sesuatu kepada Wildan, Vira tidak bisa hidup mom." Air mata Vira menetes, Viana memeluk putrinya sambil menangis.
"Mommy tahu apa yang kamu rasakan, mommy pernah merasakan hidup seakan-akan mati, saat dipisahkan dari orang yang mommy cintai. Vira tidak sendiri, percaya kepada Mommy Wildan pasti bangun." Viana menghapus air mata Vira.
Ravi menggenggam erat tangannya, memeluk adik perempuannya. Membuat Vira menangis sama saja menyakitinya, siapa yang merusak kebahagiaan adiknya akan Ravi buat lenyap juga ketenangan hidupnya.
__ADS_1
Vira langsung jatuh pingsan ke dalam pelukan Ravi, tumbuhnya langsung diangkat dipindahkan ke kamar rawat.
Rama merangkul Viana untuk melangkah menemani Vira, keluarga yang lain masih menunggu di depan ruangan operasi.
Fly melangkah pergi, menatap dari kejauhan berharap Wildan akan segera keluar. Fly berjanji akan mengorbankan dirinya untuk membalas dendam Wildan kepada dragon
Fly akan memastikan dragon mati, karena sudah melanggar perjanjian mereka hanya untuk memisahkan Wildan dan Vira.
"Maafkan aku Wildan, kamu harus bangun." Fly mengusap air matanya.
Wajah Fly langsung kaget, melihat Randu menepuk pundaknya. Tatapan kemarahan terlihat dari mata pemuda dingin yang sangat menyayangi Dewa.
"Di mana dragon? sebelum aku membunuh kamu, dia harus mati lebih dulu." Randu menarik tangan Fly untuk melangkah pergi, meminta bantuan Karan untuk menjaga kakaknya sebentar saja.
***
Semua yang duduk langsung berdiri, melihat lampu operasi mati. Dokter satu persatu keluar, Erik melangkah sempoyongan menatap keluarganya.
Wajah Erik pucat setelah melakukan operasi lebih dari delapan jam baru bisa selesai, kepalanya juga pusing.
Mami langsung menyentuh tangan Erik, tangisan Mami langsung pecah memeluk Erik yang mengusap punggungnya.
"Bagaimana keadaan Wildan Rik?" Bima menundukkan kepalanya, tidak bisa tenang menunggu kabar putranya.
Vira langsung berlari kencang, melepaskan paksa infus langsung menarik kerah baju Erik.
"Di mana Wildan? bagaimana keadaannya? kak Erik jawab?" Vira berteriak histeris, Erik langsung mundur melihat Vira histeris.
"Vira, kamu tenangkan diri dulu. Bagaimana aku bisa mejelaskan jika suara kamu lebih besar?" Erik mengusap dadanya yang kaget.
"Vira diam sekarang, ayo katakan." Vira mengusap air matanya, tangannya berdarah karena infus dilepas paksa.
"Wildan." Vira langsung menyingkirkan Erik melihat Wildan dibawa keluar."
***
__ADS_1