
Makan malam terasa hening, tidak ada lagi suara kicauan dari Vira dan twins. Keempat gadis cantik hanya diam, mengunyah makanan dengan cepat, biasanya masih manja meminta disuap.
"Kenapa semuanya diam, Kasih merasa sedang makan di kuburan." Kasih memeluk lengan Ravi, wajah Ravi juga sedang tidak bersahabat.
"Sayang, Aak temani kamu makan di dalam kamar."
"Billa selesai makan, duluan untuk istirahat, besok Billa langsung pulang ke LN, Ayah, Bunda, Billa sudah memesan tiket, jadi langsung berangkat dari bandara sini."
"Bil, gunakan Jet saja, kalian bisa santai." Tian berusaha bersikap santai.
"Baiklah, Billa ikut yang terbaik. Besok Billa kembali menggunakan Jet. Selamat malam semuanya." Billa langsung melangkah pergi.
"Bella juga selesai, Ayah Bunda selamat malam."
"Win, cepat habiskan makanan kamu, besok kita harus bangun pagi." Vira mencium pipi Viana dan Rama langsung berlari mengejar Billa dan Bella.
"Selamat malam Mami Papi, Winda tidur duluan."
"Win, Billa baik-baik saja." Erik menatap Winda, senyum Winda terlihat dipaksakan.
"Iya kak, Billa mudah terluka, mudah kasihan, mudah menyayangi, Billa juga mudah melupakan. Lupakan permintaan Billa, dia pasti baik-baik saja, Billa pemikiran sangat dewasa. Upz maaf dia masih kecil dimata kalian." Winda langsung melangkah pergi.
"Sudah, selesaikan dulu makan kalian." Bima meminta semuanya kembali makan.
Kasih bukannya makan, tapi langsung berlari mengikuti Karin yang menyusul twins.
"Kasih jangan berlari." Ravi teriak kuat, Kasih balik lagi mendekati Ravi, langsung berjalan pelan.
Reva langsung menutup mulutnya menahan tawa, Viana juga tersenyum melihat Kasih mirip Ravi kecil.
Karin masuk ke dalam kamar, Kasih juga menyusul untuk masuk. Suasana di dalam kamar sibuk dengan aktivitas masing-masing.
***
Di ruang keluarga Erik masih duduk diam, Ammar meminta Erik menatapnya. Bisma juga ikut duduk bersama Jum dan Septi.
"Rik, lihat Bunda, jangan menjadi beban pikiran. Keluarga kita akan tetap memiliki hubungan baik tidak peduli kalian berjodoh atau tidak."
"Ucapan Bunda benar Rik, tidak masalah kamu menolak, Jum juga memang sudah menjodohkan Billa dengan anak temannya dikampung. Billa bisa menjadi Dokter di sana." Viana menendang kaki Reva.
"Jadi perjodohan Jojon dan Billa benar kak Jum, lumayan Jojon juga punya banyak peternakan. Jojon pria mapan, iyakan Ayy Bima."
Bima coba berpikir, tidak mengerti ucapan Reva. Viana juga rasanya ingin tertawa kuat, Reva memang asal sambar saja.
"Ayy, Jojon pria mapan yang kemarin menemui Billa."
"Jojon, Ayy tidak mengenal Jojon, jika Joko ada." Bima masih mengaruk kepalanya.
__ADS_1
"Ohhhh, iya namanya Joko. Reva lupa hanya ingat Juju jeje Jojo, intinya huruf depannya j." Reva tersenyum.
"Va, jodohnya Billa bukan orang kampung kamu, tapi kampung Jum. Namanya Jul jel jom ... siapa ya?" Viana terus berpikir.
"Jomblo kak Vi." Jum menatap Viana dan Reva yang mengerutkan keningnya.
"Kak Jum, kalau dia jomblo tidak punya pacar." Septi menahan tawa.
"Jum tidak kenal, kak Vi sama mbak Reva tapi bisa tahu."
"Kak Jum, Reva sama kak Vi hanya bercanda."
"Mommy, Mami sudah ya, kepala Erik pusing ingin beristirahat. Selamat malam semuanya." Erik langsung berdiri ingin menuju kamarnya.
"Aak, Aak ...." Suara tangisan Kasih terdengar, keluar dari kamar Billa langsung mencari Ravi.
"Bocah gue nangis." Ravi langsung tertawa, memeluk Kasih, menghapus air matanya.
"Aak sudah janji, Kasih bangun tidur makan es krim, tadi Vira memakan permen, Kasih minta tapi langsung dihabiskan." Mata Kasih berkaca-kaca.
"Dilarang memakan es krim nanti sakit perut, permen juga tidak bagus untuk gigi kamu."
"Aak ... boleh makan es krim."
"Tidak boleh Kasih, sekarang kita tidur saja."
"Satu boleh ya Aak." Wajah memelas Kasih muncul.
"Tidak boleh sayang."
"Terus Kasih harus makan apa?" Kasih membuang pandangannya.
"Banyak, ada buah, susu, makanan sehat lainnya."
"Kasih hanya menyukai es krim Aak."
"Terus saja minta es krim, Aak tutup produksi es krim dari kota ini." Ravi langsung menatap tajam, Kasih langsung memeluk Ravi tidak menyukai jika Ravi mulai dingin, juga kesal.
"Jangan marah Aak, Kasih minta maaf."
"Iya, sekarang kita tidur ya."
"Gendong." Kasih tersenyum, Ravi langsung menggendong Kasih.
Erik tersenyum melihat kebahagiaan Ravi, sebenarnya Erik juga ingin sekali segera menikah, memiliki anak, sehingga dia memiliki mainan baru.
Di kamar Ravi meletakkan tubuh Kasih di ranjang, dengan santai Kasih membuka baju membuat Ravi panas dingin.
__ADS_1
"Aak ayo tidur, Kasih panas."
Ravi langsung memeluk Kasih, menciumnya lama. Memberikan tanda merah di beberapa tempat. Ravi tersenyum melihat tubuh Kasih yang semakin berisi, perut ratanya sudah berlemak, ukuran dadanya juga besar, belum lagi bagian bawahnya.
"Sayang, ayo main." Tangan nakal Ravi mulai bergerak, Kasih tersenyum menikmati.
Ravi bermain pelan untuk menjaga keamanan anaknya, Kasih yang semakin tidak sabaran, bahkan tidak mengizinkan Ravi berhenti, tidak terlihat juga wajah lelah Kasih.
"Aak lagi, Kasih belum capek."
"Istirahat sayang, masih ada hari esok. Kasihan Dede kalau kita terus memaksa." Ravi mengelus perut istrinya.
"Enak Ak, Kasih suka, satu kali lagi."
Ravi langsung tertawa, biasanya Kasih malu-malu, sekarang semakin mau. Ravi tidak bisa menahan godaan Kasih akhirnya menuruti untuk satu kali lagi.
"Aak lagi." Tubuh Kasih terkulai lemas di atas tubuh Ravi, senyum bahagia Ravi terlihat mengelus punggung Kasih. Suara nafas Kasih terdengar sedang tidur, dia sangat kelelahan.
"Sehat terus Sayang, aku sangat mencintai kamu Kasih." Ravi meletakkan Kasih di sampingnya, mengambil selimut mencium perut juga kening Kasih.
"Selamat malam Mommy, selamat malam anak-anak Daddy. Kalian harta paling berharga dalam hidup Daddy. Kasih aku tidak tahu banyak masa lalu kamu, tapi masa depan kamu bersama aku dan anak-anak kita, akan aku buat kamu keluar dari dunia kamu yang dulu, cukup fokus untuk membesarkan anak-anak." Ravi mengusap kepala Kasih.
"Daddy es krim." Bibir Kasih manyun langsung sedih.
Ravi tersenyum, saat tidur saja Kasih masih memikirkan es krim. Sikap kekanakan Kasih memang aneh, tapi yang membuat Ravi lucu Kasih bertingkah seperti dirinya saat kecil.
Kepala Kasih diletakkan di dekat dada Ravi, perlahan Ravi juga mulai terlelap. Keduanya tidur dengan tenang, saling memeluk erat.
***
Semalam Erik tidak tidur, berdiri di atas balkon kamarnya. Memikirkan ucapan Billa, Erik sangat mengerti Billa tidak akan mengulangi permintaan, dalam hati Erik takut cinta Billa berpaling.
"Ya Allah aku mencintai dia, tapi tidak ingin menjadi penghalang cita-citanya." Erik mengacak rambutnya, langsung masuk kamar mandi untuk berendam, sebentar lagi subuh.
"Billa, apa kamu benar-benar siap menikah?" Banyak pertanyaan di dalam kepala Erik.
"Kita harus bicara Bil, setidaknya aku tidak ingin menyakiti kamu." Erik menghubungi nomor Billa, jantung Erik langsung berdegup, nomornya sudah diblokir, bahkan aku sosial media juga sudah di blok semua.
Erik menggunakan ponsel yang lain, menghubungi nomor Billa langsung nyambung, tapi tidak diangkat.
"Kenapa harus diblokir, jika marah bicara jangan menghindar." Mata Erik terpejam, kepalanya terasa sakit.
Berkali-kali Erik memanggil, panggilan ke lima, nomor sudah diblokir lagi, rasanya Erik ingin membanting ponselnya, langsung cepat menyelesaikan mandinya. Erik yakin Billa sudah bangun, sebaiknya mereka berbicara secara langsung.
"Jadi begini rasanya galau, menyiksa."
***
__ADS_1