
Windy melihat susunan boneka Barbie, mobil-mobilan, robot, pesawat terbang. Semuanya masih sama seperti saat terakhir Windy masuk, kamar yang tidak ada perubahan, tidak ada satupun yang berkurang, juga tidak ada yang ditambah.
Kamar yang tidak pernah diizinkan dimasuki siapapun kecuali kedua orangtua Erik, juga Windy, Ravi dan Tian. Saat kecil Ravi pernah ngambek dari rumah, membawa tas sekolah, juga ular kecilnya.
Mommy Daddy sampai histeris mencari ke segala tempat, bahkan sudah menggunakan polisi, ternyata Ravi kabur ke rumah Erik, tidur bersama Erik lelah bermain robot, Windy dan Tian juga bebas masuk hanya sekedar untuk bersantai atau berdiam diri.
Kamar Erik menjadi tempat pelarian saat marah, kesal, kecewa, tidak perlu melewati pintu, mereka memanjat balkon untuk masuk kamar, dulu Windy sangat lihai manjat, berbeda dengan sekarang bisa melotot mata Wira, ikut-ikutan memanjat.
Erik sudah siap untuk berangkat, menggunakan baju santai sambil memaksa untuk tersenyum. Tian melarang Erik membawa mobil, pergi bersama satu mobil, karena seluruh keluarga sudah berangkat lebih dulu.
Windy duduk di belakang bersama Erik, Tian yang membawa mobil di sampingnya ada Ravi. Perjalanan cukup lama, Erik memilih untuk tidur, tidak memperdulikan candaan Ravi dan Windy.
Tangan Windy menepuk pelan pundak Erik, membiarkan tidur di pundak Windy, mengusap dadanya yang pastinya belum bisa sepenuhnya pulih.
Ravi melihat dua anaknya sudah sampai bersama seluruh keluarga, Erik membuka matanya, melihat Ravi yang tersenyum menyapa Raka dan Rasih.
Erik mengambil ponsel Ravi, melihat wajah Raka dan Rasih yang sudah bisa tertawa, Erik tertawa melihat Rasih yang melotot melihat Erik.
"Ternyata kamu yang tidak menyukai Uncle, dasar anak nakal kamu Asih." Erik mengelus layar ponsel gemes melihat Raka Rasih.
***
Billa duduk diam melihat langit malam, mereka baru saja selesai melakukan acara amal, membagikan bahan pangan, juga memberikan perlengkapan untuk beberapa anak yatim.
Acara amal selesai sampai malam, Vira, Winda dan Bella sudah tidur lebih dulu. Billa meneteskan air matanya, seharusnya sekarang dia sedang bersama Erik berstatus sebagai seorang istri, tapi mimpi sudah hancur hubungan mereka berakhir.
"Assalamualaikum Billa,"
"Waalaikum salam Yusuf,"
"Jika hati kamu sedang gelisah serahkan semuanya sama Allah, berdoa Bil, Allah tidak akan menguji melebihi kemampuan kita."
__ADS_1
"Seharusnya hari ini kami menikah."
"Kita manusia hanya bisa berencana, Allah yang menentukan segalanya. Apa yang menurut kita terbaik, tapi Allah akan memberikan yang jauh lebih baik, mungkin tidak sekarang, tapi nanti. Jika kita merasa hidup ini tidak adil, renungkan kembali Bil, harta paling berharga sehat, selama kamu sehat sudah menjadi rezeki yang paling utama. Syukuri apapun yang kamu dapatkan." Yusuf duduk jauh dari Billa melihat langit malam.
"Kamu benar, aku terlalu berlarut dalam kesedihan."
"Aku pernah marah terhadap takdir, bahkan pernah menyimpan benci terhadap Winda. Saat aku renungkan kehadiran Winda sebuah perantaraan untuk mengungkap kebenaran."
"Maafkan kami Yusuf, maafkan juga Winda, dia menghancurkan pesantren sampai diamuk masa dan kalian semua diusir." Billa menatap Yusuf yang diam sambil tersenyum.
"Abah meninggal saat tahu umi berpaling, sakit jantung Abah kumat. Aku menjadi yatim piatu, umi juga pergi aku tidak memiliki tujuan, diusir juga dari pesantren, aku juga didiskualifikasi dari tim keanggotaan dalam memperdalam ilmu agama. Saat paling menyedihkan, Allah mengirim satu umatnya untuk menolong." Yusuf menatap Billa meminta maaf karena banyak bicara.
"Siapa perantara yang Allah kirim untuk menolong kamu?"
"Uncle Bima dan Aunty Reva, mereka orang yang menolong mengobati luka, mereka tidak meminta dimaafkan, tapi Uncle Bima berkata dia ingin mengobati luka."
"Iya Uncle memang sangat baik."
"Aku harap kamu juga kuat Billa, mungkin sekarang kamu sedang diuji, sebesar apa cinta kamu, jangan pernah melewati cinta kepada yang maha kuasa."
"Kak Billa kuat, besok kita kembali untuk acara syukuran twins, di sana juga pasti ada kak Erik. Kak Bil pasti bisa menerima sikap Kak Erik."
"Wil, bagaimana jika Erik membenci kak Bil?"
"Tidak masalah kak, jika kak Erik mencintai kak Billa, dia akan berjuang kembali, kak Billa yang harus bisa menentukan hati untuk menerima atau mundur lebih jauh, mungkin kembali seperti dulu sebagai saudara." Wildan memeluk Billa yang menangis dalam pelukan Wildan.
"Besok ulang tahun kak Erik, dia seharusnya bahagia tapi kenyataan kita berpisah, padahal kita berencana bulan madu sambil merayakan ulang tahun." Billa berbicara dengan suara terbata-bata.
"Wildan tahu sangat berat, tapi kak Bil kuat sangat kuat, Wildan yakin kak Erik tidak mungkin menjauhi kak Bil." Wildan menghapus air mata Billa.
"Ayah, rindu Ayah Wil, ingin dipeluk Ayah." Billa menangis sesenggukan, Wildan mengusap punggung Billa menahan kesedihannya.
__ADS_1
Suara tangisan dari belakang terdengar, Bella memeluk Wildan, Winda juga memeluk menangis bersama melihat Billa yang bersedih.
"Sudah jangan ada yang menangis lagi, besok kita kembali. Jangan tunjukkan kesedihan apapun, jika kita sedih seluruh keluarga sedih, kasian Rasih dan Raka.
"Billa ingin menikah, punya anak, jadi Bunda." Billa menudukan kepalanya.
Tidak ada yang mempunyai jawaban dari ucapan Billa, dari awal sudah berkali-kali Ayah Bisma katakan jangan menyesal di akhir jika penikahan batal, ucapan Ayah Bisma benar Billa yang menyesal, karena memutuskan sepihak.
"Billa masuk pengen tidur." Billa langsung melangkah ke dalam meninggalkan yang lainnya.
Wildan menatap Vira yang celingak-celinguk kebingungan, langsung duduk di dekat Wildan mengaruk kepala.
"Billa pergi dengan penuh keyakinan, tapi lihat sekarang dia menyesal, kita bisa apa. Mungkin kak Erik juga marah besar."
"Bella no coment, Wildan yang memutuskan."
"Apa yang bisa Wildan lakukan? keputusan kak Bil yang mengambil. Pernikahan juga batal, seharusnya hari ini."
Wildan menerima panggilan dari Karan, Erik mengirim surat pengunduran diri di rumah sakit, juga sudah memesan tiket untuk pergi jauh. Besok kepergian Erik untuk pergi ke pedalaman meninggalkan keluarga.
Tatapan mata Wildan melihat yang lainnya, Billa juga mendengar pembicaraan Wildan, melangkah kembali masuk ke dalam menghidupkan ponselnya, menghubungi Erik tapi sudah tidak aktif lagi.
Air mata Billa kembali menetes tidak kuasa menahan sakitnya, juga sesaknya dada.
"Kak maafkan Billa pergi sepihak, Billa tahu kak Erik marah. Billa takut bertemu, bagaimana jika kak Erik tidak ingin melihat Billa lagi, membenci Billa." Billa berlari ke kamar, berbaring tengkurap menangis memanggil nama Bunda.
"Bunda, Ayah dada Billa sakit Bunda, pengen peluk Ayah." Billa menangis sesenggukan, walaupun Maria sudah tertangkap tidak bisa mengembalikan hubungannya dengan Erik.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***