
Semuanya duduk hening, makan dan minum dengan santainya. Lin memperhatikan Vira dengan perasaan yang hancur sampai air matanya tidak tertahankan.
Tangan Vira mengambil gelas minum, belum sempat dirinya minum Lin yang sudah menangis langsung mengambil dan meminumnya sampai habis.
Keheningan terjadi melihat Lin yang menangis menatap gelas yang kosong, orang pertama yang baik kepadanya tidak memandang rendah dirinya, tidak mungkin Lin tega menyakitinya.
"Kenapa kamu menangis Lin?" Winda mengambil gelas, mencium baunya yang terasa aneh.
"Lin wanita jahat, tujuan Lin sejak awal buruk." Tangisan Lin semakin kuat menatap Vira yang menatapnya sinis.
Lin menceritakan jika dirinya bertemu ayahnya saat ibunya meninggal, karena tidak ada tempat untuk pulang.
Keluarga ayahnya akan menerima Lin dengan syarat, Lin harus menghacurkan rumah tangga Wildan, karena seorang wanita ingin menggantikan posisi Vira.
Demi bisa masuk ke dalam keluarga Wildan, Lin berbohong dan terlihat seperti manusia paling menyedihkan.
Berkali-kali Lin ingin mencelakai Vira, tapi hatinya tidak siap. Vira terlalu baik bagi Lin, apalagi perlakuan Ravi, sangat lembut bahkan tidak sungkan membelikan dirinya barang mahal.
Lin berpikir Winda dan Bella manusia kejam, tapi setelah tinggal bersama kedua wanita yang penyayang, lucu, tingkah lakunya kekanakan.
Mencoba mendekati Wildan, tapi Lin tidak ingin menjadi wanita murahan yang mendekati suami orang.
Mencoba mencelakai Virdan, tapi tatapan matanya si kecil terlalu indah untuk Lin sakiti, sehingga dirinya tidak bisa menyakiti siapapun.
Awalnya Raka dan Elang terlihat dingin, setelah mengenalnya dua anak yang sangat jenius sehingga membuat Lin bahagia melihat anak-anak pintar juga pikirannya sangat dewasa.
Kelucuan Asih, Embun, Bulan, bahkan Arum menjadi kebahagiaan terbesar bagi Lin, dirinya bisa bernyanyi, berlari, tertawa, menangis bersama mereka.
Mengenal Wira, membuat Lin memiliki teman, adik yang menjadi tempat bercerita. Lin mendengar banyak hal soal keluarga dari Wira dan mengambil banyak pelajaran.
Erlin mengakui semuanya kepada Vira, meksipun akhirnya Vira membenci dirinya setidaknya Lin tidak ingin menyakiti Vira.
"Maafkan Lin kak Vira, saat Virdan muntah semua itu karena Lin."
__ADS_1
Pukulan Vira kuat menghantam Lin sampai jatuh ke lantai, anak-anak langsung melihat ke arah Vira yang terlihat sangat marah.
"Aku sudah berbaik hati sama kamu, tapi ternyata kamu mempunyai niat jahat menyakiti anakku. Aku bisa menyingkirkan kamu dengan mudahnya." Vira menatap tajam, sikap kejam Vira keluar jika menyangkut soal anaknya.
"Apa yang kamu masukkan dalam minuman Vira?" Winda meletakkan gelas, melangkah mendekati Lin.
"Obat pengguguran kandungan." Suara Lin sangat pelan, meneteskan air matanya merasakan jambakan dari Winda yang sangat kuat.
Billa berteriak kaget, meneteskan air matanya. Teganya orang ingin mencelakai bayi yang masih dalam kandungan hanya demi mendapatkan apa yang diinginkan.
Suara pecahan gelas terdengar, kemarahan Vira, Bella dan Winda berada di puncaknya. Kasih meminta anak-anak kembali ke mobil, tidak ingin mereka melihat keributan.
Windy meminta Vira lebih tenang, jangan terpancing emosi yang bisa membahayakan kesehatannya juga bayi yang sedang dia kandung.
"Aku akan membunuh kamu sebelum kamu membunuh anakku." Mata Vira merah menahan sedih juga amarah.
"Hentikan Vira, Bella, Winda, kalian bertiga menjauh. Jika kalian masih menghormati kak Windy sekarang mundur, jangan sentuh dan sakiti dia." Windy membantu Lin untuk duduk, melihat wajah Lin terluka karena pecahan gelas, darah dan air mata menjadi satu.
Lin memeluk erat Windy, meminta maaf karena dirinya jahat. Windy tidak bisa mendengar jelas suara Lin, karena tangisannya mirip anak kecil yang baru sudah dipukuli.
Windy merasakan sakit sekali melihat wajah Lin, menyingkapkan rambutnya yang ada memar di kepala, bahkan ada luka besar.
"Jika kamu berniat membunuh bayi Vira, lalu kenapa kamu menghentikannya?" Mata Windy menatap tajam, melihat Lin yang pelukannya melemas.
"Dia tidak mungkin hanya ingin membunuh bayi, pasti juga ingin membunuh kak Vira, lalu Lin masuk penjara dan tidak akan ada yang menyelamatkan Lin. Sherlin ingin bertemu ibu saja, tidak ada alasan Lin hidup di dunia ini. Maafkan Lin ya." Mata Lin terpejam, darah keluar dari mulut dan hidungnya, langsung muntah darah membasahi baju Windy yang masih memeluknya.
Windy berteriak meminta menghubungi dokter sekarang, Lin bisa meninggal karena meminum racun yang ditunjukan untuk Vira.
Di dalam mobil anak-anak meneteskan air matanya, melihat isi kado masing-masing yang berisikan surat perpisahan.
Asih membaca suratnya sambil menangis, memeluk kakaknya Raka yang matanya merah melihat ke luar yang masih ribut.
Embun juga memeluk kadonya yang berisikan gambar love, juga lukisannya bersama Lin.
__ADS_1
Wira langsung membuka pintu mobil, berlari mendekati Mommynya yang sudah menangis. Wira melihat gelang melingkar di pergelangan tangan Lin.
"Mommy, Wira sudah menghubungi dokter dan meminta ambulans datang ke sini."
"Bagus sayang, anak Mommy pintar." Windy meminta Billa melakukan sesuatu, jangan diam saja menonton.
Billa langsung mendekat, mengecek denyut nadi Lin. Darah terus mengalir dari mulut dan hidung. Baju Windy darah semua, tidak bisa menghentikan darah yang terus keluar.
"Sebaiknya kalian semua pulang, aku dan Kasih yang akan membawa Lin ke rumah sakit." Windy menghubungi suaminya sambil menangis.
Tangannya gemetaran, teringat saat dirinya pendarahan dan keguguran. Perjuangannya mempertahankan putranya juga berada dalam genangan darah, sekarang ada wanita muda dihadapannya juga muntah darah.
"Kalian harus membayar mahal, karena sudah menghancurkan hidup wanita muda yang tidak bersalah." Windy menatap putranya yang mengambil alih ponselnya untuk mengabari Daddy-nya yang sedang bekerja.
[Daddy, Wira sama Mommy sekarang menuju rumah sakit, kakak terluka. Tolong minta dokter terbaik bersiap Daddy, karena banyak darah di sini. Wira sama Mommy baik-baik saja, hanya kakak yang tidak baik.] Wira menghapus air matanya.
[Siapa Kakak? kalian tunggu Daddy di rumah sakit.]
"Vira, Winda, Bella pulang sekarang, anak-anak butuh kalian. Jangan terlalu dipikirkan, kita do'akan Lin baik-baik saja." Kasih menatap Vira yang sudah menangis sesenggukan.
Winda memeluk Vira, meminta untuk tenang agar kandungan Vira juga aman. Bella menyentuh tangan Lin yang sudah dingin.
Mobil ambulan datang, langsung melakukan pertolongan pertama. Membawa Lin ke dalam mobil, Windy meminta Wira pergi bersama Kasih.
"Apa Lin akan baik-baik saja?" Vira memeluk erat Winda, langsung melangkah untuk pulang bersama anak-anak.
"Siapa orang yang ingin mencelakai keluarga kita?" Bella langsung masuk mobil melihat anak-anak menangis.
"Kak Lin tidak jahat Aunty, dia selalu mengatakan kepada kita, dia hanya ingin dicintai dan bisa bersama ayahnya seperti harapan ibunya. Jika ayahnya tidak menginginkan, maka kak Lin ingin ikut ibunya." Asih menetes air matanya, memberikan kado untuk Vira, Bella, Billa, Kasih, dan Winda sebuah lukisan dan ucapan terima kasih.
"Kenapa tidak kamu akui saja? tanpa meminumnya bodoh." Vira meneteskan air matanya di atas lukisan yang ada dirinya, juga sahabatnya.
***
__ADS_1
Udah 2 aja. cuman minta like coment
***