SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PERJODOHAN


__ADS_3

Pertengkaran Viana dan Reva belum selesai, sudah mirip anak kecil yang main pukul meja mengikuti ego masing-masing.


Jum sampai memijit pelipisnya, mendengar suara besar Reva yang bisa menembus langit ke tujuh.


"Besar sekali suara kamu Reva?"


"Kak Vi yang bicaranya sembarangan, namanya bukan Venia, tapi Vania."


"Astaga hanya kepeleset saja sudah membuat perang ke tiga." Tatapan Viana tajam, mencoret lagi nama yang tertulis.


"Kepeleset, dasar kak Vi saja yang ingin berkuasa sendiri. Panggilan mereka Vi dan Va bukan Vive, kita sudah sepakat." Mata Reva melotot, bertolak pinggang ingin gelut.


"Kalian berdua, lanjut bertengkar di luar." Bima mempersilahkan keduanya keluar.


Suara pintu diketuk, Erik melangkah masuk bersama dua bayi yang masih ada ditabung. Kehebohan kembali terdengar, Erik meletakan tangannya dibibir agar semuanya mengecilkan suara.


Vira meneteskan air matanya melihat dua bayinya yang sudah bangun, satu persatu dikeluarkan untuk bertemu Maminya.


Senyuman Wildan juga terlihat, mengusap wajah kedua putrinya yang bangun tidur.


"Lapar ya nak."


"Dede Virdan." Tangan kecil Virdan menyentuh hidung adiknya.


"Jadi nama mereka siapa?" Rama menatap Viana dan Reva yang matanya saling melotot.


"Bayi pertama Viona."


"Vania kak Vi." Reva tidak terima jika yang pertama Vi.


"Harus Vi."


"Va."


"Bunda, siapa menurut Bunda yang pertama?" Vira menatap wanita paling dewasa.


"Viona yang pertama, kedua Vania."


"Jum, terbaik." Vi menjulurkan lidahnya mengejek Reva.


"Tega sekali kak Jum, tidak ada niat untuk berpikir dulu."


Jum menghela nafasnya, Viana dan Reva sudah debat selama satu jam. Tidak malu sama anak cucu yang memperhatikan mereka, menjadi contoh yang tidak baik.

__ADS_1


Jum tidak harus berpikir dua tiga kali, karena Viana paling tua juga namanya di depan Vi, maka putri pertama Wildan dan Vira bernama Viona Bramasta. Reva yang paling muda, juga nama Va ada di belakang maka putri kedua bernama Vania Bramasta.


"Kenapa aku merasa kamu menghina aku tua Jum?" Vi menatap tajam.


"Apa kak Vi mengira masih muda? cucu sudah ada tujuh, masih ingin muda seperti apa lagi?"


"Reva juga cucu satu, tiga, lima ada enam. Sudah tua."


"Kak Jum lebih banyak, Bening, Tiar, Bulan Bintang, Embun, dan Elang, kak Vi paling banyak." Reva tertawa mengejek Viana tua.


"Kenapa bisa aku yang paling banyak? Raka, Rasih, Virdan, Arwin, Arum, Viona dan Vania." Senyuman Viana terlihat, ternyata cucunya banyak.


Akhirnya semuanya sepakat memberikan nama Viona dan Vania, tapi masih binggung membedakan Vi dan Va yang akhirnya dipasang gelang di kaki untuk membedakan.


"Aku dan kak Bima sudah terikat hubungan darah melalui anak cucu, tapi jika bisa kita memperkuat hubungan saudara bersama kak Bisma juga dengan mengikat hubungan cucu kita." Rama menatap Bisma.


"Daddy ingin menjodohkan mereka?" Vira menatap serius.


Semuanya melihat ke arah cucu yang sedang mengobrol dengan cara mereka, jika memang berjodoh anak-anak setuju.


"Jika Daddy sudah tidak ada, Daddy berharap Wira akan menjaga Rasih. Meskipun keduanya memang memiliki sikap yang sama, tetapi hanya Wira yang memahami Rasih melebihi Raka."


"Vira setuju Daddy, mereka berdua cocok."


"Lalu Raka akan aku jodohkan dengan putrinya Erik." Ravi tertawa bersama Erik melihat Embun yang cemberut memukul Raka yang sedang membaca buku.


"Hanya dua pasangan ini yang bisa dijodohkan, sedangkan yang lainnya masih ada hubungan darah antara Bisma dan Bima." Vi masih berpikir dengan keras.


"Jangan khawatir masih ada dua yang bisa kita ikat, Aditiar dan Bening." Reva menatap dua bersaudara yang sangat akur.


Jum meminta semuanya berhenti menjodohkan, membiarkan semuanya memilih pasangan hidup masing-masing. Tugas orang tua menjaga anak-anak sampai tumbuh dewasa, menjaga keharmonisan keluarga.


Sedarah tidaknya mereka, para penerus terikat tali persaudaraan. Hal yang harus dijaga mereka harus mempertahankan persaudaraan agar tidak terpecah belah.


"Sekarang, Ravi, Erik, Tian, Steven, Ar, Wildan, Tama dan kamu Windy bukan anak-anak lagi, tapi sudah menjadi pengganti kami. Kasih, Binar, Vira, Bella, Billa, dan kamu Winda bukan anak remaja sudah saatnya dewasa untuk membentuk karakter anak-anak." Jum menatap Lin yang tertidur di kursi roda, bersama Arum.


"Kenapa Windy di deretan para lelaki?"


"Kamu paling memahami karakter adik-adik nakal yang sejak kecil tumbuh bersama, jaga dengan baik keluarga besar kita. Kami sudah tua, tidak tahu kapan akan berpulang." Bisma merangkul istrinya sambil tersenyum.


Suara tangisan bayi terdengar, semuanya binggung yang menangis Vi atau Va, satu menangis keduanya langsung menangis membangunkan Arum yang sedang tidur.


Vira langsung mengendong satu bayinya, mencoba menyusui secara langsung meksipun masih sulit.

__ADS_1


Billa membantu Vira mengajari baby untuk minum susu ibu, Winda juga menggendong satu bayi ingin menyusuinya karena Arum sudah jarang menyusu.


Semua yang laki-laki keluar, anak-anak juga bermain di luar agar tidak menggangu.


Mata Arum yang sayup-sayup mulai terbuka lebar, melihat dua bayi kecil menyusu di Umi dan Maminya.


Tatapan tajam Arum semakin terlihat, rasa cemburu muncul di dalam dirinya jika mengigat ucapan Asih, kehadiran twins V akan menyingkirkan dirinya.


Billa meletakkan bayi di samping Vira setelah menyusu, senyuman Vira terlihat menatap putrinya yang cerdas meskipun lahir terlalu cepat, tubuhnya kuat dan sehat.


"Vir, lanjut ke yang satu ini. Dia tidak mendapatkan banyak mungkin punya aku sudah tidak terlalu banyak lagi." Winda menyerahkan bayi kecil untuk menyusu di Maminya.


"Bahagia punya Umi sama Mami juga, sehat-sehat cantik, cepat pulang ke rumah sayang." Tangan Winda mengusap wajah lembut si kecil.


Arum berjalan mendekati ranjang, Winda tersenyum melihat putrinya menaikan ke atas ranjang. Tatapan Arum tajam melihat dua bayi yang terlelap di samping Vira.


"Lucu ya sayang."


"Nen, nya Rum!" Kedua tangan Arum terangkat langsung ingin menampar dua bayi kecil.


Suara teriakkan Vira terdengar kuat, melindungi kedua putrinya. Winda juga teriak kaget tidak sengaja memukul punggung putrinya.


Semuanya yang ada di kamar langsung berdiri kaget, Winda menurunkan putrinya Arum untuk menjauhi dua bayi kecil yang masih lemah, tidak bisa terbayangkan jika terkena pukulan.


Reva memukul punggung Winda kuat, Arum masih kecil tapi sudah dipukul, Winda bisa menahan tangannya bukan menyakiti.


"Mami tidak pernah mengajari kamu kasar sama anak, di mana otak kamu Winda." Reva langsung membuka baju Arum, melihat punggungnya yang merah.


"Winda tidak sengaja Mi, tidak mungkin dengan sengaja memukul kuat seperti itu." Winda langsung menangis, melihat Maminya menangis melihat cucunya dipukul.


Kepala Arum tertunduk, tidak ada ekspresi sama sekali membuat Reva menangis melihat Arum tidak menangis, apalagi punggung putihnya berwarna merah.


"Ada apa menangis?" Wildan melihat Mami, adik dan istrinya menangis.


"Winda memukul Arum lagi Wil, lihat punggung Arum."


Ar masuk menatap tajam istrinya yang sudah menangis sesenggukan, langsung menggendong putrinya melangkah keluar.


"Arrrrrhhhhggggg aaaaa." Arum berteriak kuat sampai wajahnya merah.


Semua kaget baik dalam dan luar ruangan, Arum teriak-teriak mengamuk bahkan Ar, Bima, Rama mendapatkan pukulan.


***

__ADS_1


__ADS_2