SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SAYANG


__ADS_3

Suasana kamar sangat hening, semuanya saling tatap seakan-akan tidak percaya dengan suara Wildan yang baru saja mengucapkan kata cinta.


"Bisa di ulang satu kali lagi, Mami ingin mendengarnya." Reva mencium kening putranya yang akhirnya terbangun.


Tangisan Reva langsung terdengar, sakit sekali hatinya melihat putra kesayangannya mengalami kecelakaan. Sulit menutupi betapa takutnya dirinya kehilangan.


"Mami Wildan baik-baik saja, bagaimana keadaan Dewa?" Wildan menatap keluarga yang memilih untuk diam.


Mata Wildan langsung terpejam, tanpa dijelaskan sudah tahu jawabannya. Dia sudah menduganya sejak mendengar ucapan terima kasih.


Papi mengusap tangan Wildan untuk tenang, menjelaskan jika Dewa sudah meninggal sebelum sampai rumah sakit.


Kepala Wildan mengangguk, dia mengerti dan mengkhawatirkan Randu. Mungkin saat ini dia sedang menangis, karena kehilangan dan hidup sendirian.


"Wildan harus melihat keadaan Randu, di mana ponsel Wildan?" Wajah Wildan meringis berusaha untuk duduk, dia belum bisa banyak bergerak.


"Jangan memaksa diri Wildan, tubuh kamu bukan besi. Ravi dan kak Tian akan membantu pemakaman Dewa, soal Randu ada Karan di sisinya. Pikirkan saja diri kamu dulu, keluarga juga mencemaskan kamu." Erik meminta Wildan berbaring kembali, Vira hanya tertunduk diam.


"Maafkan aku, tapi Dewa yang menyelamatkan Wildan, mengorbankan nyawanya dengan pasang badan menerima tembakan senjata. Jika tidak ada dia, mungkin tidak ada lagi Wildan di sini." Tangan Wildan menggenggam erat tangan Vira, memintanya untuk mengerti pengorbanan Dewa, juga sakitnya Randu.


"Kapan Dewa di makamkan?" Vira menatap Erik yang langsung melihat jam tangannya.


"Mungkin sore, jenasah juga belum dijemput." Erik menghubungi bagian kamar jenazah.


"Di mana Randu?" Wildan langsung meminjam ponsel Kasih, menghubungi Karin untuk meminta nomor Karan.


Pintu terbuka, Karan datang menyapa melihat keadaan Wildan. Senyumannya terlihat jika Randu dalam keadaan aman.


Suara langkah kaki masuk, Randu berjalan mendekat sambil menundukkan kepalanya. Wildan menghela nafasnya bisa merasakan sakitnya perasaan Randu.


"Bagaimana keadaan kamu Wil?"


"Maaf, hanya kata maaf yang bisa aku katakan." Wildan menundukkan kepalanya, Randu memaksa untuk tersenyum mengatakan jika dirinya baik.


Tangan Papi mengusap punggung Randu, memintanya untuk mengantarkan kakaknya secara baik, juga penuh dengan hikmah.


Ravi juga muncul bersama Tian, menatap Randu yang hampir membunuh Fly. Keberadaan dragon menghilang, kemungkinan juga sekarat karena terkena tembak di bagian perut.


Wildan tidak ingin berkomentar, membicarakan Fly hanya akan membuat Vira kecewa, jadinya menyerahkan semuanya kepada Randu.


Seluruh keluarga akan membantu untuk pemakaman Dewa, juga memberikan tempat untuk Randu agar bisa memakan kakaknya secara layak.

__ADS_1


Erik memberikan Wildan izin untuk turut hadir di pemakaman, tapi hanya bisa duduk di kursi roda.


Seluruh keluarga akhirnya kembali untuk persiapan, hanya Vira dan Wildan yang menunggu di rumah sakit.


Vira menutup pintu langsung duduk di samping suaminya yang belum bisa banyak bergerak, senyuman Wildan terlihat.


"Maafkan aku yang membuat kamu khawatir, pasti banyak menangis?" Wildan mengusap wajah Vira yang matanya sembab.


"Siapa yang tidak menangis? Vira sampai pingsan." Bibir Vira monyong menahan air matanya.


Wildan tertawa lucu melihat istrinya, meminta Vira tidur bersamanya. Tanpa penolakan, Vira langsung naik memeluk Wildan pelan.


"Jangan terluka lagi, Vira tidak ingin kehilangan lagi, lagi, lagi, dan lagi." Kepala Vira disembunyikan di bawah leher Wildan.


Tangan Wildan mengusap pelan, mencium kening Vira. Wildan tidak bisa menjanjikan dia terluka atau tidak, tapi memastikan akan terus sehat dan menemani Vira selalu.


"Wil, katakan lagi yang tadi kamu katakan. Vira ingin mendengarnya." Senyuman malu-malu terlihat.


"Yang mana?" Wildan berpura-pura lupa.


Tangan Vira langsung memukul dada Wildan, membuatnya langsung meringis kesakitan. Vira tidak tega melihat wajah tampan yang sedang mengusap dadanya.


"Aku mencintai kamu Vira." Wildan langsung tertawa, merasa lucu dengan ekspresi wajah istrinya yang ketakutan.


"Maaf tidak mendengarnya."


"Aku cinta kamu, Vira aku sayang kamu, aku sangat mencintai kamu." Wildan mencubit wajah Vira yang memonyongkan bibirnya.


"Sejak kapan?" Vira menakup wajah Wildan yang tersenyum, sesekali berdehem berpikir.


Wildan tidak menyadari kapan dia jatuh cinta, sejak kecil saling mengenal membuatnya terlalu terbiasa bersama Vira.


Kapan tepatnya cinta datang? mungkin sudah lama hanya saja tidak bisa membedakannya. Wildan menyayangi Vira sama seperti yang lain, selalu mengkhawatirkannya, selalu memikirkannya juga terkadang merindukannya saat mereka berpisah.


Wildan tidak bisa mengekspresikan perasaannya, tidak tahu apa bedanya cinta lawan jenis, atau cinta keluarga.


Jika Vira seorang wanita yang terbiasa mengungkapkan perasaannya, sedangkan Wildan tidak pernah bisa mengekspresikan perasaannya.


"Intinya aku cinta kamu, tidak ingin berpisah apalagi kehilangan kamu. Sudah tidak perlu diperjelas lagi. Aku juga ingin bertanya kenapa harus mengatakan cinta? jika kita sudah menikah berarti aku cinta kamu." Wildan mencium kening Vira lembut.


Vira tertawa, manusia es yang selalu mengutarakan perhatian lewat tindakan, tapi siapa yang mengetahuinya jika perhatian sebagian dari ungkapan cinta.

__ADS_1


"Kata cinta memang tidak penting, tapi setidaknya mewakili perasaan jika kamu milik aku, tidak boleh melirik wanita lain." Vira mengigit hidung mancung suaminya.


"Bukan jika cinta tidak mungkin berpaling, jika dia berpaling berarti tidak cinta." Wildan mengusap hidungnya.


"Wildan Bramasta lebih baik kamu diam, jangan membuat kesal. Jangan rusak kebahagiaan Vira yang baru saja berbunga-bunga." Tatapan Vira tajam, tapi langsung tertawa bahagia.


Wildan menutup mata Vira yang melotot, meminta Vira tersenyum anggun jangan tertawa lebar.


"Sayang kunci pintu." Wildan ingin tidur sebentar.


"Tunggu tunggu, tadi memanggil apa?"


"Vira kunci pintu." Wildan tersenyum melihat Vira lompat-lompat langsung mengunci pintu.


"Tadi memanggil apa?"


"Vira, naik sini kita tidur sebentar. Kamu pasti semalaman tidak tidur." Wildan menarik tangan Vira.


"Panggil seperti tadi, baru Vira tidur." Suara tawa Vira terdengar gemes melihat lelaki yang sedang terbaring di atas ranjang.


"Sayang ayo tidur." Wildan bicara pelan, sambil tertawa.


"Tidak kedengaran, lebih keras." Tangan Vira mengusap wajah Wildan.


"Sayang, sini naik kita tidur." Wildan menutup wajahnya menahan malu.


Kepala Erik menggeleng, dia seperti nyamuk yang tidak terlihat juga merasa jijik melihat sepasang pengantin baru yang sangat alai. CCTV langsung Erik matikan, membiarkan keduanya berbahagia.


Wildan memejamkan matanya sambil memeluk Vira, mata Vira juga terpejam karena memang kurang tidur, juga banyak menangis mengkhawatirkan suaminya.


"Wil, kapan kita malam pertama?"


"Tidur Vira, jangan memikirkan hal lain. Kamu tidak melihat tulang aku retak semua?" Wildan tersenyum masih memejamkan matanya.


"Vira di atas." Tawa Vira terdengar, melihat kening Wildan berkerut.


Keduanya akhirnya tidur, merasakan kebahagiaan dari sebuah musibah yang sedang menimpa.


***


MAAF KEMARIN GK UP, KEHILANGAN JARINGAN

__ADS_1


__ADS_2