
Suasana masih haru, Bisma meminta Tian duduk di sampingnya memperlihat sesuatu yang menjadi semangat Bisma untuk menjadi Ayah yang baik untuk anak-anaknya.
Senyuman Tian terlihat menatap layar besar di depannya, Bisma menunjukkan foto Tian saat bayi merah yang baru lahir. Terlihat juga rekaman Tian kecil yang menangis.
Bisma menyimpan banyak sekali foto Tian kecil, saat dia duduk, berjalan, belajar makan, sekolah, sampai akhirnya Bisma datang kembali.
Tian menutup matanya, tangisan semakin kuat memeluk Bisma yang tidak bisa menjaganya secara langsung.
"Ayah tidak memperlihatkan foto ini kepada siapapun, termasuk Bunda. Masa ini hal yang paling menyakiti untuk Tian dan Ayah. Sejak kamu bayi Ayah hanya bisa melihat foto, tapi tidak bisa melindungi secara langsung. Maafkan Ayah." Bisma memeluk putra kesayangannya.
"Maafkan Tian Ayah, belum bisa membanggakan Ayah. Tian tidak bersyukur memiliki orang tua yang sangat mencintai Tian." Suara Tian menangis terdengar.
"Kamu salah Tian, Ayah pria brengsek yang menafkahi kamu tidak halal. Ayah berhutang banyak sama Bunda yang akhirnya bisa menafkahi kalian semua dengan uang hasil kerja keras, bukan menjadi orang jahat. Ayah takut putra putri kesayangan Ayah disakiti orang karena karma."
Tian menghapus air mata Bisma, putra putrinya bangga sudah memiliki orang tua yang sangat luar biasa. Suatu anugerah bagi mereka dibesarkan dengan cinta.
"Tian bangga sama Ayah, Bella Billa juga sangat beruntung memiliki Ayah. Kepala kami tidak keras tanpa perjuangan juga kasih sayang Ayah dan Bunda." Tian memeluk ayahnya, Bella dan Billa yang menangis langsung memeluk erat Ayahnya.
"Jum juga bangga menjadi istri mas, bangga menjadi ibu dari anak-anak mas. Kami bahagia dengan semua yang mas lakukan, sungguh Jum wanita paling beruntung." Jum memeluk suaminya yang sulit sekali untuk menangis, tapi akhirnya melepaskan semua rasa sedih dihatinya.
Beberapa rekaman pernikahan Jum dan Bisma juga ditayangkan, di sana ada Tian yang menjadi anak paling bahagia, kebahagiaan terbesar mereka saat menyambut kelahiran twins B ke dunia.
Tian kecil lompat kesenangan berlari kencang, menemui kedua adik bayinya. Kedekatan ketiganya selalu terekam menjadi kenangan.
Bisma mengabdikan momen tumbuh kembang anak-anak yang sangat dia cintai, tidak pernah Bisma sangka akhirnya mereka memiliki ending bahagia.
Putra putrinya sudah tumbuh besar, sudah menikah dan memiliki anak. Bisma dan Jum yang dulunya masih muda sekarang sudah menjadi kakek nenek, usia tidak bisa berbohong baik fisik dan kecantikan mulai pudar dimakan usia.
Senyuman Tian terlihat saat dia harus melerai pertengkaran adik kecilnya, Billa yang selalu menangis karena mendapatkan pukulan dari Bella, tapi Tian harus menggendong Bella sedangkan Billa memeluk kaki Tian sambil suara tangisannya kuat.
"Kalian berdua harus bahagia ya nak." Bisma mencium kening Bella dan Tian.
"Ayah, Billa belum dicium."
__ADS_1
"Yakin, nanti Abang sayang kamu cemberut." Bisma menatap Erik yang mengusap matanya.
"Ada satu hal lagi Tian yang harus kamu tahu, sudah saatnya kami memberitahu. Rahasia ini cukup lama aku, Bisma dan Bima sembunyikan." Viana tersenyum menayangkan siaran perebutan hak asuh Tian.
Beberapa tahun yang lalu, saat Tian sedang kuliah Ayah Tian datang memintanya kembali kepada Bisma, dia juga melaporkan Bisma sebagai penculikan.
Perang kekuasaan, kekayaan terjadi. Bisma merahasiakan semuanya dari Jum, dia berdiri sendiri mempertahankan hak asuh Tian yang sebenarnya punya hak untuk memilih sendiri dia ingin tinggal dengan siapa.
Rahasia Bisma ketahuan oleh Viana, Vi sangat tahu karakter Bisma yang sebenarnya diam. Viana memaksa Bisma untuk jujur soal Tian, sampai akhirnya Bima juga tahu.
Mereka bertiga berjuang mempertaruhkan harta dunia untuk tetap bisa mempertahankan Tian, agar hidup tidak tidak terusik dan hidup bahagia.
Bima kehilangan beberapa perusahaan yang berkembang pesat, karena ayah Tian bukan orang sembarang.
Perjuangan hampir satu tahun, sampai Bisma bisa bertemu langsung dengan Ayahnya Tian. Di sanalah pertengkaran terjadi, Tian hanya akan dia jadikan alat untuk menikahi wanita tua yang memiliki harta.
Bisma yang membesarkan Tian tidak terima, putranya memiliki masa depan yang cerah, dia mempunyai mimpi.
Mereka akan menikah setelah cukup usia, tidak ada yang punya hak atas Tian kecuali istrinya begitupun sebaliknya.
Vi mengancam jika sampai ada yang menggagalkan perjodohan Tian, jangankan Ayah kandungnya wanita yang menginginkan berondong akan Viana buat lenyap dari dunia.
Siapapun yang berani mengusik kehidupan Tian, dipastikan mati. Viana bahkan secara terang-terangan menghancurkan satu gedung termewah untuk membuktikan ancamannya tidak main-main.
Tian sudah menjadi dunia yang mereka kelilingi, tidak ada yang boleh menyentuhnya. Tidak ada hukum yang Vi takuti, jadi lebih baik semua orang mundur.
Keluarga besar Tian bukan orang sembarang, keluarga mereka memiliki paket komplet. Ayah kandung, ibu kandung, nenek kakek bibi pamannya Viana tidak takut.
"Tian mulai saat ini kami keluarga kamu, mulai detik ini jangan pernah kamu cari lagi mereka hanya untuk mendapatkan pengakuan. Baik Tian maupun Binar tidak diizinkan untuk berurusan dengan keluarga mereka sampai keturunan kalian, mereka tidak pantas mendapatkan cinta kamu. Apa yang kami lakukan demi kebahagiaan kalian." Viana bicara tegas.
"Iya Mommy, di sinilah keluarga Tian tidak ada di tempat lain." Tian menghapus air matanya.
"Viana juga yang membuat Bima hampir bangkrut." Bisma tersenyum melihat kakaknya yang mendukung untuk tidak melepaskan Tian untuk keluarga serakah yang hanya haus kekuasaan.
__ADS_1
"Terima kasih mommy, Tian bahagia sekali memiliki kalian semua." Tian tersenyum langsung memeluk Viana yang menepuk pundak Tian.
"Mami, terima kasih juga karena Mami sangat baik kepada Tian." Pelukan Tian erat kepada Reva yang juga menepuk pundaknya.
"Sudah jangan menangis lagi, kita akan segera berpesta setelah makan siang." Reva mengusap kepala Tian.
Suara tawa saling berpelukan terdengar, seluruh keluarga bahagia melihat tawa Tian dan Bella.
"Bella ingin keliling dunia tidak?" Tian menyambut tangan Bella.
"Billa juga ingin ikut berkeliling dunia." Billa menggenggam tangan Tian yang langsung mengandeng Erik.
"Winda juga ingin keliling dunia." Winda dan Vira berlari berpegang tangan.
Ravi juga tersenyum langsung melangkah bersama Kasih menggenggam tangan yang lainnya. Diikuti oleh Steven dan Windy.
Binar dan Tama juga mengikuti, Wildan juga melangkah menggenggam tangan Vira.
"Sudah siap keliling dunia." Tian tertawa melihat semuanya.
"Siap." Semuanya bersemangat.
"Ravi mulai." Tian tersenyum meminta Ravi berjalan lebih dulu.
Ravi berjalan mengelilingi Rama Viana diikuti yang lainnya saling menggenggam, dilanjutkan mengelilingi Bima dan Reva yang tersenyum, lalu mengelilingi Jum dan Bisma.
"Kalian dunia kami." Tian tersenyum.
"Ada kereta api ... Tut ... Tut ... Tut... siapa hendak turut, ke Bandung Surabaya ...." Rasih juga berjalan bersama Wira, Bening, Embun, Elang di depan sekali Raka saling memegang pundak bermain kereta api.
Suara tertawa terdengar melihat cucu Bramasta dan Prasetya.
***
__ADS_1