
Hari yang paling Vira takuti akhirnya terjadi, hari di mana dia akan meninggalkan rumahnya, juga hari kehilangan sahabatnya.
Jadwal keberangkatan Winda dan Ar ke luar negeri sudah ditetapkan, mereka akan berangkat pagi diantar keluarga ke bandara.
Mata Vira berkeliling menatap kamar Wildan yang sangat rapi, bukunya tersusun bahkan tidak terlihat sedikitpun debu. Berbeda jauh dengan kamarnya yang mirip gudang tidak pernah dibersihkan.
Sudah tiga hari menikah, Vira belum merasakan tidur berdua dengan Wildan. Saat Vira tidur Wildan masih di ruangan pribadinya, saat Vira bangun Wildan sudah tidak ada di kamar.
"Mandi Vira, sholat jangan melamun." Wildan menatap Vira yang masih duduk di pinggir ranjang, dia masih malas-malasan untuk bergerak.
Melihat Wildan sudah melangkah ke luar untuk nge-gym, Vira langsung mandi untuk sholat dan melihat Winda yang akan bersiap-siap untuk berangkat.
Langkah kaki Vira menuruni tangga, suasana di kediaman Wildan belum berubah. Masih sama seperti saat dia kecil sering tidur di kamar Winda.
Suara Papi yang sedang mengaji, suara Mami yang mengomel di dapur. Biasanya Winda juga selalu mengacau membuat Reva teriak besar membuat Bima selalu menegurnya.
"Selamat pagi Papi." Vira tersenyum melihat Bima yang baru saja keluar dari kamar yang biasanya keluarga Bramasta gunakan untuk sholat.
"Pagi Vira," Bima mengusap kepala Vira yang hanya tersenyum.
Suasana terasa aneh, karena statusnya bukan teman Winda ataupun putri sahabat, tetapi menantu keluarga Bramasta.
"Pagi Mami, ada yang bisa Vira bantu?"
"Kamu cukup duduk dan menonton saja, Mami hanya berpura-pura saja agar tidak mendapatkan teguran dari Papi setiap pagi tidak ada pekerjaan." Reva tertawa duduk di samping Vira, senyuman Vira terlihat menatap Mami yang terus mengomel bergosip dengan asistennya.
"Mami kenapa pagi-pagi sudah ngegosip?" Vira tertawa melihat para maid yang tertekan bekerja dengan Reva, untungnya gaji besar.
"Sebenarnya mami ingin menjadikan mereka sahabat, tapi mereka mengatakan tidak ingin menumpuk dosa memiliki sahabat seperti Mami." Reva tertawa bersama Vira yang dari pagi sudah sakit perut.
"Masih pagi Reva, bicarakan hal yang baik saja." Bima mengambil teh nya.
"Iya Ay, sebenarnya dari pagi Reva sudah melihat berita, tapi membuat otak Reva kotor?" senyuman Reva terlihat memeluk suaminya dari belakang.
"Berita apa?"
"Seorang pemuda berusia 23 tahun meninggal di makan buaya, dikarenakan dia mandi di sungai hanya menggunakan ****** *****. Body dia juga bolong, tangannya hilang, dadanya juga hilang. Untung dia laki-laki." Reva menutup mulutnya, menahan tawa.
__ADS_1
Vira sudah duduk di lantai tertawa melihat tingkah mertuanya, para maid yang mendengar juga tertawa sampai sakit perut melihat majikan yang mirip pelawak.
"Untungnya di mana Reva? dia meninggal." Bima menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya.
"Tidak lucu ya Ay, nanti Reva mencari berita baru. Ay pagi-pagi lebih baik tertawa, tidak heran Wildan wajahnya mirip besi karatan tidak bisa tersenyum." Reva tertawa melihat Wildan yang menjadi korban.
Vira tidak berhenti tertawa melihat kelucuan di kediaman Bramasta, ternyata Mami memang sumber kebahagiaan.
"Karatan Mi, tidak ada julukan lebih bagus lagi." Wildan duduk di kursi, menunduk melihat Vira tertawa di lantai.
"Tidak ada yang lucu Vira." Wildan memintanya untuk duduk sarapan.
Bima mengusap kepala istrinya, Vira bisa menjadi teman Reva yang sama konyolnya dengan Winda.
"Assalamualaikum Mami, sudah lihat berita buaya belum?" Winda tertawa memeluk Maminya yang juga langsung tertawa lagi.
"Lucu ya Win."
Vira menutup mulutnya melihat Reva dan Winda bercerita soal buaya di tempat makan, Bima dan Wildan hanya bisa diam melihat dua wanita tertawa, ditambah lagi oleh Vira.
"Masih di depan, soalnya Mommy tidak berhenti tertawa saat Winda bercerita buaya yang memakan body seksi pemuda sampai ...." Winda menatap Ar yang menutup mulutnya, sudah membuat kehebohan di kediaman Prasetya, Winda membuat heboh di kediaman Bramasta.
"Winda papi ingin sarapan, jangan menceritakan soal buaya lagi." Ar mengusap kepala istrinya yang langsung duduk.
Suara tawa Viana terdengar, menatap ponsel Winda yang berisi soal buaya.
Bima memijit pelipisnya, langsung mengambil minuman untuk melangkah pergi. Wildan dan Ar juga langsung pergi membiarkan empat wanita tertawa, membuat dosa mentertawakan orang yang tekena musibah.
Rama menghela nafasnya mendengar suara tawa dari dapur, menantunya Winda menghidupkan kembali Viana yang jarang becanda, biasanya Ravi yang selalu membuat lucu, setelah Ravi menikah terasa sepi.
"Winda bangun tidur langsung berlari memeluk Viana, membicarakan buaya."
"Maafkan Winda Ram, dia dan Maminya memang selalu heboh setiap pagi. Derita orang sesuatu yang lucu bagi mereka." Bima meminta Wildan mengambil minuman untuk Rama.
Ar masih sempat bertemu Ravi yang ingin pergi ke kantor, sesuai keinginan Ar dia ingin bisnisnya bergabung dengan perusahan Prasetya yang diolah oleh Ravi.
Wildan juga menunjukkan daftar saham yang terus naik, Ar salah satu pemegang saham terbesar selain Wildan dan Tian.
__ADS_1
"Ar, menurut kamu bagaimana dengan bisnis Tian? apa mungkin dia bisa mengalahkan aku?" Ravi mengerutkan keningnya melihat Tian yang memang sangat hebat dalam bisnis.
"Kak Bastian sudah memiliki bakat dalam bisnis, mungkin sejak muda dia sudah bergelut dengan pekerjaan. Bagi aku kehebatan dia di atas Wildan." Ar menunjukkan grafik kenaikan saham perusahaan Tian.
"Kapan kita bisa mengalahkan Tian dan Wildan?"
"Kak Ravi, di sini ada Wildan." Kening Wildan berkerut mendengar kekonyolan Ravi.
"Emhh, menurut Ar kak Tian tetap unggul mungkin rezeki anaknya. Setiap tahun dia terus meningkat awal tahun ini jatuh, tapi sekarang naik drastis."
Bima tersenyum melihat kemajuan Tian, tidak menyangka ajarannya membuat Tian sehebat sekarang.
"Bisa tidak kalian berhenti membicarakan pekerjaan, sekarang ayo siap-siap ke bandara." Viana langsung pulang untuk mengambil tas.
Reva memeluk Winda dari belakang, pasti akan merindukan putrinya yang sangat lucu, meskipun pemarah.
"Kamu jaga diri Winda, mungkin beberapa bulan kamu tertawa sendiri. Jangan khawatirkan Mami."
Winda tersenyum memeluk Maminya, dia tidak khawatir sama sekali. Winda lebih khawatir kepada Papinya, takutnya jantungan melihat Maminya setiap pagi mirip kuntilanak selalu tertawa.
Bima memeluk Winda dan Reva, tidak ada kata bosan. Hidup Bima berasa berwarna sejak kehadiran Reva dalam hidupnya.
Vira tersenyum melihat cinta keluarga, sebenarnya Vira juga merasakan kelembutan Wildan yang mirip Papinya, tapi sayangnya tidak pernah peka.
Semuanya keluar, Winda tidak membawa banyak pakaian, karena dia akan belanja di luar negeri. Rugi suaminya memiliki black card tidak dimanfaatkan.
Beberapa mobil melaju ke bandara meninggalkan kediaman, Vira menggenggam tangan sahabatnya yang tidak akan pernah tergantikan.
"Jika butuh bantuan hubungi aku."
"Vir, Winda akan mengakhiri semuanya."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA-
__ADS_1