
Rama sedang sibuk di depan komputernya, Bima yang masih menemani Reva tidak bisa membantu membuat Rama harus bekerja ekstra, belum lagi harus mengawasi Abi yang takutnya mendekati keluarganya lagi.
Suara ketukan pintu membuat Rama mengangkat kepalanya, Masuklah seorang Perwira yang membuat Rama tersenyum, seorang pria tampan berbadan tegap menggunakan baju santai.
"Kamu sekarang sudah besar Rama, bagaimana kabar Oma?"
"Baik pak, lama tidak bertemu."
Kunci mobil di lempar ke depan Rama membuatnya tertawa dan Rama berhasil menangkapnya, langsung bangkit berdiri dan memeluk Sakti.
"Apa kabar kak Sakti, aku membutuhkan bantuan kakak, ini menyangkut keselamatan anak dan istriku."
"Anak! istri! kamu sudah menikah."
"Iya kami menikah 6tahun lalu mempunyai anak laki-laki."
Rama menjelaskan semuanya ke Sakti soal apa yang terjadi, dan permintaannya agar sakti turun langsung ke lokasi penangkapan para mafia yang terlibat bersama Abi. Mafia yang akan di lawan Sakti mempunyai pengalaman, pengaruh, kekuasaan, bahkan pengikut.
"Jika aku berhasil dalam misi seperti aku akan cepat naik pangkat, kamu melakukan ini karena tidak bisa ikut muncul."
"Iya kak, aku tidak punya kuasa di dalam hukum, karena ini aku membutuhkan orang kepercayaan."
"Baiklah, demi kebenaran aku bergerak, tapi sebelumnya lebih baik mempelajari misi dan musuh terlebih dahulu."
***
Viana masuk ke perusahaan LOVER dan wajah kesal, semuanya menunduk wajah memberi hormat.
"Pak Rama ada di dalam."
"Ada Bu, sedang makan siang bersama temannya."
"Teman pasti perempuan, setiap hari aku harus melihat banyak deretan perempuan yang mendekati suamiku, dari Chintya, Ririn, Indri dan Lo juga, sekarang siapa lagi, ini yang Vi tahu saja, belum yang mengagumi." Vi memukul meja membuat sekretaris Rama langsung mundur.
Viana langsung masuk mendobrak pintu dengan tangan di pinggang, membuat Rama langsung berdiri, Sakti juga langsung batuk dan mencari minum. Kuatnya suara pintu membuat jantung kembang kempis.
"Hubby! pertama hubby tega sekali membuat VCLO sahamnya anjlok, yang menyerang Reva bukan Vi tunggu Reva sembuh saja, Vi baru saja mengeluarkan produk baru dan sekarang pembuatan di pending. Yang kedua hubby makan dengan siapa, perempuan mana lagi, awas kamu ya Rama." Viana marah dengan berteriak, Rama hanya mengaruk kepala, Sakti juga duduk diam berhenti makan. Mau izin keluar takut diterkam harimau yang sedang mengamuk, tapi tetap di dalam tidak enak hati.
"Selesai marah tidak jelasnya, aku sedang ada tamu Vi. Hargai aku sebagai suami, tanya baik-baik bukan marah tidak jelas."
Viana maju menyingkirkan Rama melihat tamu Rama yang berada dibelakangnya. Vi terdiam melihat seorang pria sedang duduk menudukan kepalanya, tubuhnya tidak kalah bagus dari Rama.
__ADS_1
Sakti mengangkat kepalanya dan tersenyum ke Viana, tapi senyum sakti langsung menghilang dan memasang wajah kaget.
"Angel!" Sakti langsung berdiri dan mendekati Vi dan memeluk erat Viana. Rama langsung kaget apalagi Viana yang amarahnya memuncak.
Vi melepaskan pelukan sakti dan langsung menampar keras sakti dengan emosi.
"Laki-laki kurang ajar, mundur sekarang jika kamu masih ingin hidup."
Sakti mundur sambil memegang pipinya, matanya menatap Vi penuh kesedihan.
"Kamu bukan Angel, dia gadis baik, lembut, penyayang sangat berbeda dengan dirimu yang terlihat sangat kasar, bahkan mata kamu memiliki pancaran yang berbeda. Maafkan aku!"
Sakti melangkah melewati Viana, dan langsung pamit ke Rama dan pergi meninggalkan Vi dan Rama.
Rama menatap kepergian Sakti dengan banyak pertanyaan, Viana sudah duduk dengan mengatur nafasnya.
"Hubby! sini duduk, maafkan Vi. Pikir tadi sama perempuan."
"Kamu sadar tidak siapa yang berlebihan hari ini, kamu datang marah dan dipeluk pria lain dihadapan aku Vi."
"Vi sudah memukulnya hubby, hanya hubby yang tidak Viana pukul saat menyentuh Vi."
"Pintar kamu membalikkan fakta."
"Kamu juga belum makan," Rama memperhatikan Viana lebih banyak menyuapi mulutnya sendiri daripada dirinya.
"Iya, dari kantor sudah marah-marah kesal melihat pending pembuatan desain Vi, semuanya karena hubby yang tidak bicara dulu."
"Aku juga tidak tahu Vi, itu semua permainan saham, naik atau turun tidak penting yang penting masih beroperasi."
"Vi jaga jarak dengan pria manapun, termasuk Bisma. Daddy tidak rela melihat pemandangan seperti tadi."
***
Bisma menunggu Ravi pulang sekolah, Jum datang mendekati Bisma sambil memberikan minum dan cemilan.
Jum memperhatikan wajah Bisma yang terlihat murung dan sedih, ingin rasanya dia bertanya tapi tidak punya hak.
"Jangan memandangi saya, awas nanti jatuh cinta!"
"Pede banget! Jum hanya penasaran mas Bisma mikirin apa? terlihat sedih."
__ADS_1
"Aku akan pergi Jum, pergi jauh dan ingin sekali melihat Ravi yang terakhir kalinya, hati sangat berat meninggalkan Ravi. Tapi dia sekarang sudah bahagia hidup bersama Rama."
"Mas Bisma mau ke surga ya!" wajah Jum langsung menahan air matanya.
Bisma menghela nafas, memandangi Jum kesal dan langsung mendekati wajah Jum dan mencium bibirnya. Mata Jum melotot tidak mengerti apa yang barusan Bisma lakukan.
Bisma hanya menahan tawa melihat ekspresi Jum yang shock jantung berdebar kencang matanya berkedip perlahan.
"Ingat Jum Ciuman pertama kamu akan saya bawa mati, ciuman pertama tidak akan pernah terlupakan." Tawa Bisma tertahan, melihat wajah cantik Jum yang polos.
Langkah Ravi membuat senyum Bisma lebar, Ravi juga berlari mendekati Bisma sambil teriak memeluknya.
"Uncle! aunty Jum kenapa?"
Bisma membersihkan bibir Jum dengan jarinya, membuat Jum langsung melangkah pergi meninggalkan Bisma dan Ravi tanpa bicara apapun.
"Haduyy..., kenapa banyak sekali yang aneh, Ravi pusing." Gaya khas Ravi memegang kepalanya sambil memejamkan mata.
"Ravi, jaga diri ya, dengarkan nasehat daddy. Jadilah anak yang baik. Uncle sangat menyayangi Ravi." Bisma menciumi wajah Ravi dan langsung pamit pergi.
Ravi melambaikan tangannya mengiringi kepergian Bisma, Jum melihat Bisma menghilang dari penglihatannya dan air matanya menetes tanpa sebab.
***
Di kantor Viana dan Rama menonton adegan Bisma dan Jum, juga mendengarkan ucapan Bisma ke Ravi membuat Viana mengerutkan keningnya.
"Mau kemana Bisma, Apa ada sangkut pautnya dengan bisnisnya di LN, Apa Bisma akan kembali ke sana?" Viana menatap Rama mencari jawaban.
"Sebentar lagi juga Bisma pasti menemui kita, jangan berpikir sempit dulu, Bisma bukan yang dulu, yang sekarang kak Bisma jauh lebih dewasa dan memiliki jiwa memimpin.
"Viana hanya penasaran saja hubby, dia memberikan harapan ke Jum, setelah mendapatkan ciuman pertama Jum langsung pergi."
"Kamu juga sama merebut ciuman pertama hubby."
Viana menatap tajam Rama, dan coba mengigat kejadian masa lalu.
"Jangan mimpi hubby, pasti hubby yang mulai duluan, Vi tidak pernah melakukan hal keji ke ABG."
"Ingatlah Viana, saat kamu di bar, aku membawa kamu ke apartemen tapi di mobil kamu mencuri ciuman." Rama tertawa mengigat masa pertama pertemuan mereka.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE