SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MALAM YANG TERTUN'DA


__ADS_3

Semuanya kembali setelah hampir satu minggu berada di Mansion, Erik Billa melambaikan tangannya melihat seluruh keluarga kembali.


Erik masih harus melakukan kunjungan ke Desa, karena memang sedang musim panen, beberapa mahasiswa pertanian juga banyak yang singgah di Mansion Erik untuk beristirahat.


Billa juga berkeliling untuk melihat kesehatan anak-anak, melihat keindahan Desa, mengikuti ke manapun Erik pergi.


"Sayang cuaca panas, kamu jangan ikut. Kakak pulang sore, terus kita bisa jalan ke kebun teh." Erik mencium kening Billa.


"Hati-hati kak, nanti Billa masakin." Billa mencium tangan Erik, memeluknya erat.


Billa sibuk di dapur bercerita dengan Maid yang membersihkan Mansion, membuat kue bersama untuk dibagikan, Billa juga berpikir dia tidak mengetahui suaminya suka makan kue tidak.


Sampai sore Billa sibuk di dapur, membungkus beberapa makanan, membagikan kepada pengurus kebun, juga beberapa orang desa yang datang untuk membeli buah.


Erik memanggil, mencari Billa yang ternyata berada di kebun, Erik tersenyum melihat istrinya sibuk berbaur dengan penduduk.


"Kamu putri orang kaya, tapi tidak canggung bergaul dengan orang Desa."


"Bunda juga orang Desa, dulu Billa sering pergi ke Desa, main ke sawah, kebun, bahkan kakak Billa hampir tenggelam, kita semua panik, ternyata pura-pura karena dia ngambek." Billa tertawa bersama warga desa.


Billa langsung kaget, jika dia dan Erik ingin jalan-jalan. Billa langsung pamitan, berlari pulang masuk ke dalam rumah mencari Erik yang ternyata sudah mandi, makan kue yang Billa siapkan.


"Sayang, boleh kuenya di makan?" Erik tersenyum melihat Billa yang mencium pipinya.


"Boleh kak, sudah habis lima baru bertanya?" Billa duduk di samping Erik.


"Enak, manis seperti kamu."


"Jangan gombal, maafkan Billa yang tidak mengetahui makanan kesukaan kak Erik."


"Bil, kak Erik suka apapun yang kamu siapkan, jika ada kakak makan, tapi jika tidak ada juga tidak apa." Erik meminta Billa mandi, keringat masih mengalir di tubuh Bil karena berlari.


***


Erik keluar kamar mandi, setelah mengambil wudhu. Melihat Billa yang sudah menyiapkan perlengkapan sholat, juga ada mukenah.


"Sayang, kamu sudah sholat?"


"Iya kak, sudah lebih satu Minggu, Billa mengambil wudhu dulu."


Erik langsung tersenyum bersyukur bisa berduaan di Mansion, Ravi sang pengganggu sudah pulang. Akhirnya Erik bisa menyelesaikan malam yang tertun'da.

__ADS_1


"Astaghfirullah Al azim, sholat dulu Erik kenapa berpikir ke hal mesum." Erik menepuk jidatnya sendiri.


Keduanya melaksanakan sholat Maghrib, selesai sholat Billa berbaring di paha Erik masih menggunakan mukenah.


Tangan Erik mengusap kepala Billa, keduanya saling pandang dan tersenyum. Erik merasa seperti mimpi bisa bersama Billa.


Erik bercerita banyak hal, Billa juga berbagi cerita. Berkerja sesama Dokter membuat pembicaraan Billa dan Erik satu server, Erik sebagai senior mengingatkan Billa banyak hal, sebagai istri dan pangkat jauh di bawah suaminya Billa memahami ucapan Erik dan akan menerapkannya.


"Kak, maafkan Billa jika cemburuan."


"Sayang, di rumah sakit kita memiliki hubungan kerja, tapi di rumah kita sebagai pasangan. Jangan kamu samakan, atau kamu sangkut pautnya keduanya. Pekerjaan selesaikan di tempat kerja, urusan rumah tangga kita selesaikan di rumah."


"Iya kak, masalah rumah selesai di rumah."


"Satu hal lagi Billa, jika ada sesuatu yang Billa tidak sukai atau menganggu perasaan kita bicarakan berdua, setiap hari kita harus bertemu, kak Erik akan menceritakan apapun yang kak Erik lakukan, begitu juga dengan kamu, harus menceritakan apapun yang kamu lakukan seharian." Erik menekan hidung Billa, mencium keningnya.


"Kak, sejujurnya Billa merasakan sedih soal hubungan kak Tian dan kak Bella."


"Sayang, kak Erik juga sedih, tapi jodoh sudah ditakdirkan biarkan Allah yang menentukan, mungkin mereka berdua tidak berjodoh. Bunda juga menerima baik keputusan Tian dan Bella, juga keinginan Tian untuk menikah dengan wanita pilihannya."


"Kak Ravi, kak Erik sekarang kak Tian, berputar-putar pada satu wanita. Akhirnya kak Tian yang akan menikahinya." Billa memonyongkan bibirnya.


"Maaf, kamu tidak setuju sayang."


Selesai sholat Erik masih menerima panggilan dari Ravi yang memang tidak bisa membuat hidup Erik tenang, Ravi bercerita hal bodoh soal dirinya yang harus bekerja pulang malam, tidak bisa bermain dengan anaknya.


Erik heran di mana letak otak Ravi, menggangu malamnya hanya untuk hal tidak penting. Erik menutup panggilan, langsung mematikan ponselnya, kembali ke kamar untuk menjalankan keinginannya.


"Sayang, ponsel kamu dimatikan saja."


"Memangnya kenapa kak?"


"Ravi pengganggu."


"Memangnya kak Ravi menganggu apa?"


"Malam pertama kita Billa Bramasta."


Billa langsung membalik badannya, malu dengan ucapan Erik, suara petir terdengar, Billa langsung memeluk ERIK.


"Sayang cuaca mendukung, kita membutuhkan kehangatan." Erik mencium kening Billa.

__ADS_1


"Kak, pikirannya jauh berkelana. Hilangkan pikiran kotor."


"Ini bukan kotor Billa, proses membuat Erik junior. Apa kamu belum siap memiliki anak?" Erik menatap mata Billa.


"Billa menikah bukan hanya ingin bersama lelaki yang Billa cintai, tapi memiliki keturunan darinya. Billa ingin cepat punya anak, biar nanti usia mereka tidak terlalu jauh dengan Billa. Billa umur 40 anak Billa 20tahun." Billa tertawa.


"Istriku tercinta, kita membelah saja belum, bahkan menyebar benih juga belum, pikiran kamu sudah 20tahun kemudian."


Billa tertawa, senyumannya terhenti karena Erik sudah memulai, menggendong Billa ke atas tempat tidur. Membuka baju keduanya, saling memuaskan.


"Sayang, doanya apa?" Erik menghentikan ciumannya langsung mencari kertas yang Ravi berikan, Billa hanya menahan tawanya.


Hanya satu menit, Erik langsung bisa menghapal. Membacakan doa ditelinga Billa, jantung Billa berdegup kencang.


"Sayang, kamu tahan. Maafkan kak Erik jika menyakiti kamu." Erik menciumi wajah Billa, kepala Billa mengaguk mengerti.


Bibir Billa sudah tertutup, kedua tangannya memeluk punggung Erik yang sudah tidak menggunakan baju. Awalnya Billa nyaman, tapi matanya langsung terbuka, merasakan sakit di bagian bawah, Billa mencengkram punggung Erik sangat kuat, mulutnya tidak bisa teriak karena Erik menciumnya. Air mata Billa menetes, memejamkan matanya menenangkan dirinya.


Billa memberikan kehormatan yang dia jaga selama ini, kepada lelaki yang sudah berstatus suaminya.


Erik terbaring lemas di samping Billa yang sudah lebih dulu terkulai lemas, Erik menyelimuti tubuh mereka, memeluk Billa yang sudah memejamkan matanya.


"Bismillah, semoga cepat ada babynya." Erik mencium kening Billa, mengusap perut Billa, memejamkan mata beristirahat.


Bangun subuh Erik masih meminta kembali, seakan ketagihan membuat Billa kehabisan seluruh tenaganya.


"Kak Billa capek, sakit bagian bawah."


"Iya udah ronde terakhir." Erik menghidupkan ponselnya yang memiliki banyak pesan.


Ravi mengirim puluhan pesan, panggilan juga menumpuk, Tian juga melakukan hal yang sama, Bella juga. Bahkan mertuanya.


Erik mengambil ponsel Billa, menghidupkannya dan melihat hal yang sama. Erik membaca pesan yang membuatnya cukup terkejut.


"Innalilahi wa inalillahi rohjiun. Billa sayang bangun kita harus pulang sekarang."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2