SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MENGHILANG


__ADS_3

Cinta masuk menyapa, melihat bayi mungil yang sangat cantik. Tian juga masuk memeluk Bunda, Mommy, Mami. Tian baru saja kembali dari luar negeri, mendengar kabar Billa melahirkan langsung cepat kembali.


Tian menggendong Elang yang sedang tidur, tersenyum menatapnya. Cinta tidak berani menggendong Embun, masih terlalu kecil, Rasih saja saat bayi Cinta takut.


"Belajar Cinta, kamu juga sebaiknya cepat menikah, jadinya bisa merasakan memiliki bayi lucu." Jum menggendong Embun yang juga sedang tidur.


Cinta hanya tersenyum, mengangguk kepalanya.


Di luar masih heboh soal Wira, Ravi Erik tidak berhenti tertawa.


"Kenapa penampilan kamu Wir?" Erik melihat gelang Wira.


"Gaul uncle, di bandara Wira lihat, bajunya sobek, banyak benda aneh diwajahnya, terus banyak tempelan seluruh tubuhnya." Wira bercerita dengan penuh semangat.


"OHH, sini biar uncle bantu kamu menjadi lebih keren, bukan hanya metal, tapi di depannya ada H nya." Ravi menahan tawa, Erik mengerti maksud Ravi.


Ravi sibuk mendadani Wira, Erik memegang perutnya menahan tawa. Bisa gila Mak bapak bocah seperti Wira, Ravi Erik lupa, jika mereka juga mempunyai anak cewek dan cowok.


Erik membuka pintu, menatap semua orang sibuk bercerita. Erik tertawa lebih dulu sebelum berbicara.


"Erik kamu normal?" Ammar menatap putranya aneh.


"Begini semuanya, kita punya sesuatu tontonan lucu untuk kalian." Erik tertawa kuat membukakan pintu.


Ravi masuk bersama Wira, senyum Wira terlihat melambaikan tangannya.


Bisma langsung tertawa kuat, Tian juga yang sedang menggendong Elang tidak bisa menahan diri.


Seluruh orang tertawa kuat melihat wajah Wira, matanya berbentuk bulat hitam, alisnya berbentuk cicak, wajahnya ada gambar bebek, bibirnya tebal berwarna merah.


"Astaghfirullah Al azim, kenapa cucuku modelnya gini." Reva tertawa memegang perutnya.


Wira dengan bangganya melihat wajahnya di kaca, tawa semua orang semakin menjadi. Wira menggaruk kepalanya.


"Kenapa wajah Wira mirip pocong metal, mata Wira hitam, kenapa ada cicak di alis Wira?" Melihat wajahnya Wira tidak suka.


"Jahat banget kalian berdua sama anak kak Win? wajah bulenya berubah jadi pocong metal." Windy tertawa paling kuat, tidak tahu apa yang dia lakukan, sehingga memiliki anak nakal.


Bening dan Rasih diam di pangkuan Tama dan Rama yang ikut tertawa melihat tingkah Wira.


Tangisan Bening langsung kuat, wajahnya merah melihat Wira yang menatapnya."


"Ayah cocong." Bening menangis kuat, Tama langsung membawanya keluar.


"Cocong, pocong." Wira menatap wajahnya di kaca, langsung menoleh lagi.


Kini tangisan Rasih yang terdengar, Asih takut melihat mata Wira yang hitam, tangan mungil Asih menutup mulutnya.


Kasih langsung cepat mengendong Rasih keluar, memukul punggung Ravi yang membuat anaknya menangis, Binar juga melangkah keluar mengejar Bening.

__ADS_1


Tangisan Wira akhirnya pecah, takut melihat wajahnya sendiri. Menghapus cicak yang ada di alisnya. Membuka bajunya, menangis dan mengamuk pada Daddy-nya.


Stev langsung membawa Wira keluar, suara tangisannya bisa membuat twins E menangis.


Erik dan Ravi terdiam, Ravi mengembalikan alat make up Billa, mata Billa langsung melotot melihat make up pecah, banyak yang bolong.


"Win ganti baju Wira, bersihkan wajahnya, setidaknya dia berhenti ingin menjadi metal." Bima tersenyum, Windy langsung keluar.


"Keluarga ini memang tidak pernah tenang." Viana menggelengkan kepalanya.


***


Billa sudah satu minggu pulang, akan diadakan acara syukuran menyambut kehadiran twin E.


Rumah sudah ramai, mengundang warga sekitar, anak panti juga yatim piatu. Bima meminta setiap anak kecil di kawal pengasuh, termasuk Wira, Bening, Raka, Rasih.


Anak-anak mempunyai ruangan khusus bermain, Bening duduk di sana melihat banyaknya anak kecil bermain. Asih bermain bersama yang lain juga dijaga oleh penjaganya.


"Tidak ada yang ingin bermain bersama Ning." Tangan Bening menyentuh pengasuhnya yang sibuk telponan.


Bening mendekati Asih, memegang mainan, tapi tangannya di tepis oleh anak kecil yang jauh lebih besar darinya.


"Kamu Bening, tidak punya Ayah. Kita tidak ingin bermain dengan anak yang tidak punya Ayah."


"Ning punya ayah."


"Ada, ayah Ning ada, lagi kerja."


"Dia bukan ayah kamu, kata Mommy aku, kamu anak yang diangkat sama keluarga Asih."


"Enggak Ning punya Ayah, Asih juga punya Ayah, kita berdua punya Ayah."


"Ayah kalian berbeda Asih, Ayah sama Mommy kita selalu bersama, tidur makan bersama, tapi Ning tidak, ayah Bunda dia tidak mencintai." Semua anak-anak pergi meninggalkan Bening dan Asih.


Tangan mungil Asih menggenggam Ning, keduanya bermain berdua.


"Asih, mom dad Asih selalu bersama?" Bening masih membandingkan dengan orang tuanya.


"Iya, Asih juga bobo berempat bersama kak aka juga." Asih tersenyum memberikan mainannya.


"Ayah tidak sayang Bunda."


"Ning, tunggu ya. Asih tanya Nek Ju dulu? nanti Asih kasih tahu Ning." Rasih langsung berjalan masuk, pengasuhnya mengikuti Asih.


Beberapa anak-anak bermain di depan Bening, tertawa tapi tidak ada yang menyapanya. Bening langsung melangkah pergi.


"Ayah." Bening berkeliling mencari ayahnya.


"Ayah." Air mata Bening mulai menetes, Bening melangkah keluar mencari ayahnya.

__ADS_1


Gerbang yang terbuka membuatnya bisa keluar, Bening mencari ke rumah Viana, tapi rumah kosong, mencari lagi ke rumah Reva, tapi rumah kosong, semua orang kumpul di rumah Jum, pintu gerbang juga di kunci.


"Ayah." Bening teriak memanggil ayahnya.


Di rumah masih penuh orang, Asih berada dalam gendongan pengasuhnya untuk mencari Jum, Rasih menunggu Jum selesai mendampingi Billa. Perlahan mata Rasih mengantuk, Kasih meminta Rasih dibawa ke kamar untuk beristirahat.


Binar yang sibuk membantu melihat pengasuh Bening, langsung menghampirinya, menayangkan keberadaan Bening.


"Di mana Bening?"


"Tidur Bu, bersama Rasih."


Binar mengangguk kepalanya, melanjutkan pekerjaannya.


Belum ada yang menyadari ketidakhadiran Bening, sampai acara selesai.


"Nek Ju, Ning di mana?" Asih bangun tidur membawa mainan untuk bermain bersama Bening.


"Binar di mana Bening?"


"Kata mbak tidur bersama Asih."


"Maaf Bu, Asih tidur sendiri." Pengasuh Asih tidak melihat Bening.


Bisma langsung berdiri, meminta pengasuh Bening datang."


"Di mana cucuku?" tatapan Bisma tajam.


"Tidur tuan."


"Tidur di mana?" Bisma semakin menaikkan suaranya.


"Bening tidak tidur bersama Asih." Pengasuh Asih menegaskan suaranya.


"Maaf tadi saat di area bermain, Bening sudah tidak ada. Saya pikir pergi bersama Asih, tidur bersama Asih."


"Brengsek kamu!" emosi Bisma langsung naik.


Semua orang berkeliling rumah mencari, tidak ada satupun yang melihat Bening.


Air mata Binar sudah menetas, tangannya gemetaran memikirkan putrinya, Bening masih kecil, dia memang pintar berbicara, tapi dia tidak mungkin tahu jalanan.


"Ya Allah di mana anakku?" Binar membuka semua ruangan, teriak memanggil Bening.


"Bening, kamu di mana sayang. Katanya mau bertemu Ayah." Binar teriak sambil menangis, takut juga jika Tama sampai tahu.


***


EPISODE AKU PERCEPAT, NIATNYA TANGGAL 1 TAMAT. LUPA INI SUDAH AKHIR BULAN 🤭

__ADS_1


__ADS_2