
Suara Bella tertawa terdengar, melihat banyaknya bunga mawar merah yang berhamburan dari atas kepalanya.
Wira hanya tersenyum menatap Rasih yang juga tertawa lompat-lompat kesenangan melihat bunga mawar, tatapan Wira juga kagum melihat kecantikan Embun.
"Cucu Bramasta dan Prasetya kecantikan masih oke." Wira tersenyum.
"Hei anak nakal, jangan menggoda Asih dia masih kecil." Ravi berbisik menahan tawa melihat Wira, tatapan mata bule kecil menunjukkan karakternya yang playboy.
Erik juga langsung memeluk putrinya, tidak akan mengizinkan Wira mendekatinya.
Wira hanya tersenyum, langsung melangkah pergi. teriakkan Wira terdengar kesakitan, karena mommynya sudah melotot menarik telinganya.
Bima menatap Windy, meminta Wira mendekatinya. Tatapan Wira tajam langsung memeluk kakeknya.
Vira sudah mengamuk ingin memakan Wira, kemarahan Vira membuat semua orang tertawa.
Suara musik terdengar, gerakan kaki Asih dan Ning terdengar lompat-lompat kesenangan, Raka hanya duduk jauh dari keramaian.
Elang yang mulai berjalan juga tertatih pergi menjauh, dia sangat sensitif dengan suara keras.
Baby sister kerepotan menjaga anak-anak terutama Asih yang nakalnya luar biasa, jika Wira tidak ada yang sanggup menjaganya hanya Stev yang paling sanggup mengikuti keinginan putranya.
Erik kewalahan menggendong putri kecilnya yang terlihat nakal seperti Asih, kehebohan terdengar melihat anak-anak lebih dominan.
Setelah tamu pulang, Bima mengumpulkan seluruh keluarga untuk makan malam bersama. Mereka semua akan pergi ke Bali untuk acara pernikahan Bella Tian.
Meskipun di sana sudah diurus, tapi tetap saja membutuhkan kontrol dari keluarga juga dua mempelai ingin pesta yang terbaik.
"Kepergian kita akan ditunda, karena salah satu keluarga kita juga akan naik pelaminan dua hari lagi." Bima menatap Karan dan Karin.
Kasih tersenyum menatap saudara kembarnya, Tama juga merangkul adik bungsunya yang akhirnya akan menikah.
"Karin adik dari menantunya Rama juga menantunya Bisma ...." Bima menghentikan bicaranya yang baru menyadari jika Rama dan Bisma bersaudara dari ipar.
"Kenapa Ay? apa Rama dan Bisma ingin menjodohkan Elang dan Asih?" Reva langsung tertawa.
"Tidak, keluarga kita berputar-putar." Bima tersenyum menatap Wildan dan Vira.
"Besok kita semua pergi ke hotel untuk persiapan, selesai pesta Karan kita langsung berangkat ke Bali." Bisma menunjukkan jadwal.
Bima Reva, Rama Viana menatap Wildan dan Vira yang hanya diam saja, mereka sudah tahu jika minggu depan lamaran mereka.
"Kalian berdua ada yang ingin mundur?" Rama menatap putrinya.
"Berikan Vira waktu sampai acara pernikahan kak Karin selesai." Vira tersenyum menatap Wildan.
__ADS_1
Kepala Wildan hanya mengangguk, menyetujui ucapan Vira yang dia sendiri tidak tahu apa jawabannya.
"Winda bagaimana dengan kamu? Yusuf siap tidak? Mami ingin kalian juga menikah tahun ini." Reva menatap Winda yang hanya diam saja.
Yusuf hanya diam, langsung menatap Winda. Yusuf langsung menyetujui keinginan kedua orang tua Winda, sedangkan Windy meletakan kepalanya di bahu Steven.
"Winda jika tidak ingin tolak saja, kamu punya hak untuk menolak." Stev mengusap kepala Winda.
"Berikan Winda waktu sampai acara pernikahan kak Wil." Winda tersenyum tidak ada arti.
"Oke, kami menunggu kabar baiknya Winda, kamu bisa membicarakan dengan Yusuf." Windy menatap adik kecilnya.
Stev menatap mata Winda yang menyimpan kesedihan, memiliki pekerjaan yang sama membuat Stev sangat memahami Winda, sebagai pengacara menatap mata cara menebak perasaan seseorang.
Vira menatap Wira yang sudah bisa memainkan gitar, meskipun dia nakal kepintaran Steven juga Wira miliki.
"Kak Win berapa usia Wira?" Vira tersebut mendengar suara lembutnya.
"Masuk tujuh tahun, dia sangat pintar Vira. Pintar dalam segala hal, termasuk menipu orang." Windy tersenyum menatap putranya.
"Tidak ingin menambah lagi kak Win?" Bella tersenyum.
"Pastinya kak Windy menginginkannya, tapi terlalu banyak trauma keguguran." Windy juga memeluk lengan Stev.
"Menurut kalian Wira playboy tidak?" Bisma menatap seluruh keluarga menunjukkan tangan sangat yakin Wira playboy.
Steven dan Bisma tersenyum, semuanya salah besar. Wira anak yang sangat setia seperti Windy yang tidak mudah jatuh cinta.
Steven sudah mengetahuinya sejak awal, dia tahu putranya hanya membuat heboh saja, tapi aslinya Wira sangat baik.
"Wira pasti playboy." Ravi menatap Wira yang tersenyum bermain gitar.
"Tian apa kamu yakin?" Stev menatap Tian.
"Tian tidak begitu yakin."
"Maaf jika Stev salah bicara, playgirl itu dia dan dia." Stev menunjuk ke arah Asih yang tersenyum sinis, juga Embun yang berjalan memeluk Wira.
"Gila, kalau Asih aku setuju, tapi Embun masih kecil." Erik menggaruk kepalanya.
"Asih anaknya kasar, pemarah, galak, tapi pesonanya luar biasa. Jika Embun dia anaknya sangat ramah, senyuman menenangkan sehingga banyak yang mendekatinya." Stev tertawa.
"Benar juga, aku juga jatuh cinta dengan senyuman Embun." Bella gemes melihat putri kecil Billa.
"Apapun masa depannya tanggung jawab kalian besar sebagai orang tua, terutama yang memiliki anak perempuan. Bunda harap Wira akan menjadi pelindung untuk mereka semua." Jum tersenyum menatap Embun, Wira juga mengusap kepala si kecil yang memeluknya.
__ADS_1
"Amin." Semuanya tersenyum.
***
Suara tembakan panah terdengar, Wildan memanah sasaran tepat mengenai ditengahnya.
Yusuf hanya duduk menatap jauh ke depan, padangan kosong terlihat banyak beban.
"Jangan melamun Ar, nanti kesurupan." Wildan tersenyum.
"Sudah lama tidak mendengar nama panggilan itu Wil." Yusuf tersenyum.
"Emh, Wildan binggung harus memanggil kakak atau adik." Kening Wildan berkerut.
"Aku binggung Wil, jujur sekarang sedang delima." Yusuf menghembuskan nafasnya.
"Bukan kamu saja, aku juga binggung." keringat mengalir dari wajah Wildan, langsung diusapnya.
"Kak Armand mencintai Winda?"
Yusuf menggelengkan kepalanya, lelaki berusia dua puluh lima tahun yang tidak tahu rasanya cinta, dia hanya menjalani apa yang seharusnya dijalanin.
Wildan dan Yusuf tertawa, Wildan juga merasakan binggung.
"Kamu belum siap menikah Wil? kamu juga masih muda."
"Menikah bukan soal umur, hanya saja Wildan takut tidak bisa menjadi suami yang baik. Mencintai mudah, tapi mempertahankan yang sulit, kami memiliki karakter yang jauh berbeda." Botol minum kosong, langsung Wildan lemparan ke tempat sampah.
Yusuf tersenyum, apa bedanya dengan dirinya. Wildan Vira yang sejak kecil bersama saja memiliki keraguan. Yusuf heran mengapa dirinya sangat yakin bisa membahagiakan Winda, melindungi Winda dari masa lalu.
"Wil, apa aku harus mencari tahu soal Umi?"
"Karena Winda?" Wildan menatap serius.
"Iya, aku ingin meyakinkan Winda, jika aku tidak sejahat yang dia pikirkan." Yusuf tersenyum.
"Ar aku minta maaf atas nama adikku." Wildan duduk di samping Yusuf.
"Aku juga minta maaf atas nama umi." Yusuf tertunduk.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1