
Viana pergi ke dalam ruangan bawah tanah, di carinya semua foto yang selama ini sudah Bisma buang. Vi melihat foto seorang wanita bule tersenyum bersama Bisma.
Digenggamnya foto dengan kuat dan keluar dari sana, Vi mencari Jum yang sekarang duduk terdiam di taman belakang rumah yang sudah semak belukar karena taman belakang yang tidak terawat.
"Jum! kak Vi minta maaf ya, lupakan Bisma!" Viana memberikan foto yang dia temukan.
"Apa dia Sisil kak Vi," Jum tersenyum melihat foto bule yang sangat cantik jauh jika dibandingkan dengan dirinya.
"Kamu mengenalinya Jum?" Viana langsung duduk di samping Jum yang tersenyum.
"Dia cantik sekali, jika kak Vi wajahnya blesteran tapi Sisil bule asli. Beda sama Jum yang hanya gadis kampung, sebanyak apapun perawatan tidak akan secantik dia."
"Jum! tidak perduli dia secantik apa? kamu jauh lebih cantik." Viana menundukkan kepalanya menyesal memberi harapan ke Jum soal Bisma.
"Kak! Bisma pernah cerita soal dia tapi Jum mengabaikannya, Jum tidak perduli jika memang jodoh tidak akan ke mana, Jum ikut alur saja."
Viana memeluk Jum yang mempunyai pemikiran dewasa dan baik hatinya, hati Viana tidak pernah salah jika menyukai seseorang. Reva datang ikut memeluk Jum juga Viana.
"Kak Jum, kita berdua tahu awal cinta Rama dan kak Vi mereka di satukan dalam ikatan pernikahan yang tidak mereka inginkan, mereka terpisah. Berapa banyak orang yang mendekati Rama, tapi tidak ada yang bisa menggeser posisi Viana perempuan galak dan juga tua." Viana langsung memukul kepala Reva.
"Ya, mereka tetap kembali bersama dengan cinta yang semakin kuat,"
"Lo juga lihat perjuangan seorang desainer menaklukan hati om duren, 6tahun gue di tolak Jum, tapi semuanya permainan takdir, sebenarnya 6 tahun bukanlah sebuah perjuangan tapi awalan perjalanan gue."
"Reva! Lo semakin dewasa semenjak tunangan dengan orang tua." Tawa Vi dan Jum terdengar.
"Kak Vi lihat Rama, sebelum menikahi wanita tua juga sudah dewasa. Dia terkena karma banyak membuat wanita patah hati salah satunya Reva." Cepat Reva berlari ke dalam di kejar Viana sambil menjambak rambutnya. Jum ikut berjalan masuk ke dalam.
***
"Mommy! Ravi lapar,"
Viana terdiam mendengar ucapan Ravi, dia sampai saat ini belum juga bisa masak, tapi Vi tetap berusaha memasakan makan Ravi.
Di dapur Vi bertemu Bima yang baru membeli bahan makanan untuk makan malam, Vi hanya tersenyum melihat banyak aneka jenis sayuran, Bima pergi meninggalkan Viana yang masih melongo.
Vi mengambil wajan memanaskan minyak dan membersihkan ayam untuk di goreng, setelah minyak panas Vi langsung memasukkan ayam.
__ADS_1
Reva melihat masakan Viana yang sudah menyembul asap, mereka berdua hanya saling pandang. Jum yang mencium bau gosong cepat berlari ke dapur dan mematikan kompor.
"Gila kalian berdua ya, mau gosong!" teriak Jum marah.
"Reva, Lo gak pernah masak ya." Viana melotot ke Reva.
"Jangan salahkan Reva, dari kecil Reva tidak bisa masak, Bisanya masak mie."
Viana dan Reva mundur mendengar Jum yang sudah mengomel marah, dan langsung menyiapkan makan malam mereka, Vi dan Reva hanya jadi penonton sambil menjadi tukang cicip.
Masakan siap di meja makan, Ravi yang cemberut menunggu lama akhirnya bisa menikmati ayam goreng kecap, dan banyak lauk lainnya. Vi dan Reva tersenyum ingin ikut makan tapi di larang Jum.
"Kalian berdua bersihkan dulu kotoran di dapur," Viana mengomel dalam hati menarik Reva ke dapur.
Rama, Bima , Ivan hanya menahan tawa melihat ke-tiga wanita yang kadang kompak tapi suka bertengkar.
"Sialan Jum, bikin malu bisa dia marahin gue." Vi mencuci piring sambil ngomel.
"Iya, Reva juga malu, padahal Reva dulu suka masak karena zaman sudah modern langsung delivery saja."
"Sambilan kak Vi," mereka berdua tertawa.
***
Jum melangkah menaiki tangga sambil membawa makanan masuk ke kamar Bisma yang ternyata masih tidur, Jum menutup semua jendela karena hari sudah gelap. Jum menggulung tinggi rambut panjangnya memperlihatkan lehernya yang jenjang.
Kamar Bisma yang sangat berantakan dan bau apek karena lama tidak di bersihkan, Jum melipat selimut, baju yang berserakan. Bisma hanya diam melihat Jum yang sibuk beres-beres dan tidak menyadari jika Bisma sudah bangun.
Suara ponsel Jum berbunyi dan langsung menggakat dan menghidupkan loud speaker sambil melanjutkan pekerjaannya.
[Jum, kamu di mana? bisa bertemu sekarang."
Banyak pertanyaan yang di lontarkan seorang pria yang menghubungi Jum, tapi Jum lebih cuek dan menjawab seadanya.
[Jum, boleh tidak aku menemui orang tua kamu, aku mau serius Jum.]
Suara nafas Jum yang lemas mendengarkannya, langsung duduk sambil mengambil ponselnya mematikan loud speaker.
__ADS_1
[Maaf mas, bukannya Jum menolak. Tapi tanyakan kepada orang tua mas siap tidak mempunyai menantu dari kampung, jika mencari wanita cantik maka tidak akan pernah habis mas, Jum hanya seorang pembantu Jum tidak mempunyai apapun, bagi Jum bisa menafkahi keluarga sudah merupakan rezeki yang tidak ternilai. Jum perjelas sekali lagi mas, Jumi seorang pembantu derajat Jum sangat rendah.]
Panggilan berakhir Jum hanya tersenyum sambil memainkan handphone, matanya melihat kearah Bisma yang masih memejamkan matanya.
"Mbak Sisil kembalilah kasihan mas Bisma yang mencari mbak Sisil ke berbagai negara. Jum doakan mas semoga perjuangan mas membuahkan hasil dan di persatuan dengan wanita yang mas cintai." Gumam Jum yang di dengar oleh Bisma.
Jum mengambil foto Sisil yang di berikan Viana meletakkannya di kasur samping Bisma tidur, sambil menulis di kertas agar jangan lupa makan malam.
Bisma membiarkan Jum keluar dari kamarnya, baru dia duduk di sandaran ranjang mengambil foto Sisil dan dirinya yang terlihat bahagia.
"Sisil munculah, aku tidak membenci kamu, maafkan aku yang menuduh kamu pengkhianatan, dan terimakasih kamu pernah menyelamatkan Viana. Setidaknya biarkan aku mengucapkan terimakasih, dan memperjelas hubungan kita."
***
Ravi berlari menaiki tangga mengetuk pintu kamar Bisma langsung masuk, Bisma sedang makan masakan Jum yang di bawa ke kamarnya.
"Uncle!" Ravi langsung bergelantungan di punggung Bisma yang membuat Bisma tertawa.
"Apa kabar Ravi?" Bisma memeluk Ravi penuh kasih sayang, dan mencium keningnya.
"Uncle jahat! tidak sayang Ravi lagi, tega meninggalkan Ravi juga aunty Jum."
"Aunty!"
"Ya aunty juga menunggu Uncle pulang, pasti uncle sibuk pacaran," mata Ravi menyipit menatap Bisma.
"Tenang saja, sejauh mana uncle pergi, hati uncle sudah di tinggalkan bersama aunty sang pemiliknya. Jadi pasti akan kembali."
Bisma hanya tersenyum memeluk Ravi, dan mengigat wajah cantik Jum dengan rambutnya yang diikat tinggi.
"Kamu semakin cantik Jum, juga sangat baik hati."
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE
__ADS_1