
Tian mengatakan Hariz ingin membunuh Erik, Kebahagiaannya hancur karena Ibu Erik, adiknya meninggal, Ayahnya pergi, Ibunya sibuk bekerja, tidak ada lagi kebahagiaan dalam hidupnya.
"Anna tidak bersalah, kami saling mencintai, tapi dia membuat Anna tidur bersama Ammar dibawah pengaruh obat, sampai hamil ...." Arif menghentikan ceritanya, meneteskan air matanya.
Ibu Erik yang melanjutkan, saat tahu hamil Anna berniat mengugurkan, tapi Arif melarang meminta Erik dilahirkan. Anna melahirkan Erik, didampingi oleh Arif, saat Erik berusia 1 tahun, Arif dipaksa menikah meninggalkan Anna, rasa dikhianati membuat Anna hancur.
Hidup menjanda, membesarkan anak seorang diri, hidup susah membuat Anna memutuskan terjun ke dunia malam, hidup dengan kemewahan, tidak mempedulikan Erik yang terus menangis, saat Erik berusia 6 tahun, Anna mengembalikan kepada Ammar, ayah kandung Erik.
"Maafkan Ibu Rik, menderita sejak usia muda membuat Ibu memilih menjadi orang jahat, melupakan kamu yang tidak bersalah. Ibu tidak pantas mendapatkan maaf dari kamu." Anna meneteskan air matanya.
"Ibu, Erik tidak pernah merasa sendiri, maafkan Erik tidak bisa menjaga Ibu selama ini. Saat pertama bertemu Ayah Erik diusir, wajah cantik Mami Reva sangat menenangkan, Mami pernah mengatakan, jangan menyalahkan diri sendiri, ini hidup yang harus dijalani, jika terus menyesal maka aku tidak akan bahagia. Erik langsung berniat untuk bangkit, menyakinkan diri suatu hari akan bahagia, menikmati hidup, menjalankan segala ujian hidup. Erik tidak perduli dengan hinaan orang, Erik bahagia hidup bersama Mama dan Papa." Erik mengusap air matanya.
"Saat Erik mulai besar, ada hari Erik jatuh. Menangis ingin berlari memeluk Mama, di sana Erik melihat Bunda Jum, menghapus air mata Erik. Bunda mengatakan jika ingin bahagia jangan menyerah, jika hari ini jatuh bangun lagi, jika jatuh lagi bangun lagi, Bunda juga mengajarkan Erik untuk terus memaafkan, tidak peduli sebesar apapun salah, maafkan dia, maafkan dia. Allah saja maha pengampun, kenapa kita tidak bisa memaafkan. Ucapan Bunda selalu ada di dalam kepala." Tangan Erik menutup matanya.
"Erik pernah marah, bahkan ingin memutuskan hubungan dengan Ibu, saat Ibu menyakiti Mama, hancur sekali hati Erik, benci dan marah, hampir Erik mengucapkan sumpah tidak akan melihat bahkan jenazah. Tangan Mommy Viana menutup mulut Erik, Mommy mengatakan ada saatnya semuanya berubah, orang jahat bisa menjadi baik. Mommy meminta Erik menunggu hari, saat Ibu menjadi orang baik, merangkul Ibu untuk terus menuju jalan kebaikan, jika Erik ingin Ibu menjadi orang baik, Erik juga harus baik. Tidak ada Erik yang sekarang, tanpa cinta Mama, tanpa Kasih sayang Mommy, Mami dan Bunda. Erik mempunyai banyak Ibu yang mendukung Erik, tapi harapan Erik hanya satu, ingin Ibu yang melahirkan Erik menemukan kebahagiaan, menjadi orang baik, meninggalkan kemewahan dunia."
Semuanya ikut meneteskan air matanya, setiap melihat Erik hanya penuh kesedihan. Di balik canda tawanya tersimpan kesedihan.
"Erik kenapa bicara kamu panjang sekali? seperti cerita dongeng zaman dulu, Kasih mengantuk mendengarkannya." Kasih menguap, Erik langsung melotot menatap kesal.
"Kasih, siapa orang yang kamu kirim untuk menyelamatkan ibu dan paman Arif?" Erik baru sadar jika Kasih juga terlibat.
"Kasih mengantuk tidak ingin bercerita, Aak Kasih ingin tidur." Ravi langsung bertanya kamar, menggendong Kasih yang sudah mengantungkan tangannya di leher.
"Aak bangun tidur, Kasih makan es krim ya? Kasih juga pengen mandi bola." Kasih terus mengoceh, matanya sudah tertutup mulai terlelap.
"Seharusnya kamu mandi bunga tujuh rupa, otaknya sudah geser." Erik menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Ravi meletakaan Kasih di ranjang yang sangat besar, mencium keningnya juga mencium anaknya. Mengelus Ravi junior, menciumnya berkali-kali.
"Sayang, Aak berharap saat tahu kamu hamil, kita akan teriak bersama menyambut bahagia, tapi yang terjadi, kamu tidak ingin melakukan tes, saat aku mengalah untuk menunggu, kamu cek sendirian, membuat satu rumah heboh, tespack kamu yang puluhan tersebar. Unik sekali tingkah kalian nak." Ravi memeluk perut Kasih.
"Daddy juga ingin melihat kalian, tapi Mommy memilih pergi sendirian, seharusnya menunggu Daddy. Sampai bertemu bulan depan, nanti Daddy yang akan menemani kalian." Ravi mencium lagi, langsung berbaring di samping Kasih.
"Kasih, kita sudah lama tidak bercinta, melihat tingkah kamu yang sekarang, Aak takut nanti otak polos kamu ternodai, turun ke anak kita." Ravi tersenyum memeluk Kasih.
Ravi membaca pesan di ponselnya, langsung ke luar kamar perlahan, Karan datang membawa beberapa bukti soal keterlibatan Kasih dalam penyelamatan ibu dan bapak tiri Erik.
"Kenapa Kasih bisa terlibat, bukannya selama ini dia tidak pernah jauh dari aku?" Ravi membaca semua laporan.
"Siapa dia?" Erik menunjuk seorang wanita.
"Pengawal bayaran Kasih, dia orang yang bekerja untuk Kasih dari kejauhan, penjaga pribadi Karin."
"Kak Kasih mengenal mereka, bahkan sebelum kalian menikah, Kasih tahu banyak hal, tapi tutup mata." Karin penasaran dengan wajah pengawal pribadinya.
Viana tersenyum, ternyata menantunya sehebat dirinya dulu, bisa bergerak tanpa harus muncul, tidak heran penyamaran Kasih tidak diketahui, di mata orang lain dia bawahan, tapi sebenarnya Kasih pemimpin sebenarnya dari tempat lain.
"Kenapa kamu tersenyum Viana, bangga dengan menantu kamu yang mirip dirimu." Ammar menatap sinis.
"Tentu aku senang, menantuku bukan wanita lemah, dia kejam tapi tidak membunuh, dia jahat tapi tidak menyakiti." Viana tersenyum.
"Jangan diselidiki lagi soal pengawal Karin, dia orang kepercayaan Kasih, biarkan dia pergi dan hidup bebas." Ammar tidak ingin memperpanjang lagi, yang paling penting, putranya baik-baik saja.
Erik mengucapkan syukur, Ibunya selamat dari kejahatan Hariz, mengucapakan banyak terima kasih untuk bumil yang sedang memiliki dua karakter.
__ADS_1
"Rik, aku sangat menghawatirkan kamu, seharusnya jika ingin membawa motor jangan lupa izin dulu." Ravi menatap kesal.
"Sudah izin sebelum acara dimulai, aku meminta Kasih yang menyampaikannya." Erik mengerutkan keningnya, Kasih ternyata tidak amanah.
"Kasih kamu titipin pesan, masih kurang heboh soal tespack."
"Istri kamu gila."
"Rik, jika yang membawa mobil bukan kamu, lalu siapa?"
"Supir pribadi, aku memintanya untuk mengembalikan mobil ke rumah rumah utama, tidak menyangka dia menjadi korbannya."
"innalilahi wa inalillahi rohjiun, kamu harus melakukan santunan kepada keluarga korban."
"Dia tidak memiliki keluarga, hidup sebatang kara."
Teriak Wildan dari balik ponsel Karan terdengar, karena Ravi yang tidak sabaran untuk tiba ke Mansion, jarak tempuh yang seharusnya 7 jam bisa menjadi 5 jam. Wildan ditahan polisi karena membobol keamanan lalu lintas, Wildan juga dilaporkan sebagai *******.
"Seorang Wildan ditahan polisi, lucu sekali." Ravi tersenyum.
"Wildan menolak memberikan identitasnya, jadi dia meminta jaminan. Kak Tian diminta datang untuk membebaskannya." Karan memberikan panggilan.
"Biarkan saja dia penjara, semua ini kesalahan Wildan, kita sudah menangis, Septi pingsan, panik karena dia yang tidak menyelidiki secara jelas." Reva kesal mendengarkan suara Wildan.
"Mami jangan seperti itu, Tian pergi dulu untuk membebaskan Wildan."
***
__ADS_1