SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 POSITIF LAGI


__ADS_3

Mobil sudah siap Wildan Vira pergi periksa ke dokter bersama mommy dan Mami, mereka langsung menemui dokter yang menangani kehamilan pertama Vira.


Sepanjang perjalanan hanya hening, kehebohan mommy dan Mami tidak terlihat sama sekali. Vira juga memilih diam, karena tidak ingin memancing kekesalan dua wanita kesayangannya.


"Wil, kamu takut tidak mendapat kabar Vira hamil?"


"Takut pasti Mami, tapi anak bukannya rezeki yang tidak ternilai harganya. Jujur hati kecil Wildan sangat bahagia. Kita berdua berencana menambah anak lima tahun ke depan, sementara Vira akan akan menundanya, tapi sebelum kita ke dokter untuk menunda hamil, Allah sudah mengirimkan kabar baik ini. Sebagus dan sebaik apapun rencana kami, bukannya rencana Allah jauh lebih baik." Wildan tersenyum, meminta Maminya mendukung kehadiran anaknya, atas izin Allah ibu dan bayi insyaallah akan baik-baik saja.


Air mata Reva menetes, meminta maaf kepada Vira karena membuatnya bersedih tidak mendapatkan dukungan. Viana juga merasakan hal yang sama, menyesal sudah berpikiran buruk.


"Maafkan Mommy ya Vira, putri Mommy wanita kuat, ini jawaban dari kesabaran atas kehilangan kalian." Senyuman Viana terlihat, menghubungi suaminya untuk ke rumah sakit.


Seluruh bayi dalam keluarga mereka disambut dengan penuh canda dan tawa, semua keluarga juga kumpul untuk menyambutnya.


"Mommy, kenapa menghubungi Daddy?"


"Kita harus menyambut kabar baik ini, seluruh keluarga harus datang dan melihat calon baby baru." Viana mengusap perut Vira membuatnya tertawa.


"Terima kasih Mommy Mami, Vira sangat bahagia menyambut kehadiran mereka." Tangan Vira menghapus air matanya.


Wildan tersenyum, menggenggam jari jemari Vira memberikan semangat agar istrinya selalu kuat.


Sesampainya di rumah sakit, Wildan dan Vira langsung menuju ruangan dokter yang sudah membuat janji terlebih dahulu.


Viana dan Reva juga langsung masuk melihat dokter Nisa yang tersenyum melihat Viana dan Reva panik.


"Vira hamil dok, kita bahagia juga khawatir." Viana dan Reva menatap dokter Nisa yang mengerutkan keningnya.


"Kita periksa dulu." Dokter Nisa meminta Vira melakukan tes pack terlebih dahulu.


Wildan duduk mendengar penjelasan dokter, sesuai persetujuan Wildan dan keluarga sebenarnya kemungkinan hamil dalam jangka waktu yang dekat kecil, tapi bisa juga ada yang hamil.


"Dok, jarak hamil Vira sangat dekat enam bulan." Reva terlihat binggung.


"Iya, jaraknya memang dekat, tapi ada juga yang jarak empat bulan hamil. Setiap pasien yang melakukan operasi caesar, memiliki pemulihan yang berbeda. Ada yang cepat juga lambat, sedangkan Vira termasuk cepat, meskipun lahiran prematur." Dokter menjelaskan soal kasus yang serupa dengan Vira, tetap ada yang namanya kesempatan.


"Wildan sudah pernah saya bahas sebelumnya soal kondisi Vira, dia baik-baik saja, tapi saya tidak akan mengatakan semuanya baik, tetap ada yang namanya resiko, juga hal buruk dari setiap prosedur yang akan kita jalani." Dokter Nisa menjelaskan semuanya kepada Wildan.


Vira muncul menunjukkan garis dua, dokter Nisa meminta Vira tiduran agar di periksa lebih detail.


"Vira, kamu harus setiap bulan kontrol, karena kita harus berhati-hati jika bayi kembar."


"Iya dok, kira-kira sudah berapa bulan?" Vira melihat ke arah monitor.


Vira menceritakan jika dirinya sudah telat selama dua bulan, melihat ukuran dokter memprediksi sudah hampir sepuluh minggu.

__ADS_1


"Resikonya dok?" Viana deg-degan.


"Sejauh ini aman, saya hanya mengkhawatirkan jika bayi kembar, tapi kita usahakan kontrol mereka setiap bulan." Dokter tertawa melihat ekspresi Wildan.


Vira juga tertawa melihat suaminya, Wildan hanya diam saja dia binggung harus menyambut bahagia, atau khawatir.


"Kenapa kamu Wildan duduk di pojokan mirip Arwin?" Reva menatap aneh putranya.


"Dokter, cowok atau cewek?"


"Belum kelihatan Wil."


"Ayang ingin cowok atau cewek?" Vira menggenggam tangan suaminya yang tersenyum.


"Cewek, dua juga tidak masalah. Cewek pendiam, cuek sepertinya lucu." Senyuman Wildan terlihat, mencium perut Vira.


"Jangan bermimpi terlalu tinggi Wildan, bagaimana jika dua cewek mirip Asih dan Embun? tidak ada sejarahnya keluarga kita perempuan pendiam." Viana menatap Reva yang mengangguk kepalanya setuju dengan ucapan Viana.


"Cewek satu saja." Wildan tertawa melihat Vira yang tertawa.


"Kita jaga baby bersama-sama ya sayang."


Vira tersenyum mencium pipi suaminya yang sangat menggemaskan, dokter berbicara beberapa hal yang harus Wildan dan Vira perhatikan.


"Positif, sudah memasuki minggu kesepuluh." Viana tersenyum langsung memeluk suaminya.


"Alhamdulillah." Seluruh keluarga bertepuk tangan.


Winda, Bella dan Billa langsung memeluk Vira memberikan selamat, mengelus perut Vira.


"Vira selamat ya dek." Ravi memeluk Vira yang meneteskan air matanya, bahagia melihat keluarganya.


Virdan langsung digendong oleh Wildan untuk menyapa adiknya, anak-anak juga kumpul menatap perut Vira.


"Adiknya cewek atau cowok?" Asih menatap tajam.


"Em yakin cewek, dia bisa menjadi musuh kita."


"Embun tidak boleh seperti itu, sesama saudara harus saling menyayangi sayang." Erik mencium pipi putrinya.


"Saudara Em hanya satu kak Elang."


"Dasar Embun bodoh, itu saudara kandung, sedangkan kita saudara sepupu." Asih menaikkan bibirnya, menatap sinis. Tangan Ravi langsung menutup wajah putrinya.


"Mana Embun tahu, Embun masih kecil."

__ADS_1


Dokter nisa tertawa, sungguh lucunya keturunan Prasetya dan Bramasta jika bertengkar.


"Hai Bulan, kamu terlihat sangat pendiam." Dokter nisa mengusap wajah Bulan yang duduk di kursi dorong.


Belum sempat Bella memperingati, Bulan sudah memukul dokter Nisa dengan botol susu.


"Maaf dok." Tian menatap putrinya.


"Tidak masalah, ternyata dia juga nakal." Suara tawa terdengar.


Vira langsung berjalan bersama Wildan yang masih menggendong Virdan, menatap keluarga yang berjalan di depan.


Suara tangisan seorang wanita terdengar, Vira dan Wildan melihat secara bersamaan. Seorang gadis muda masih menggunakan seragam sekolah tingkat atas menangis sesenggukan di depan pintu kamar.


Perasaan Vira mendadak sedih, dadanya terasa sesak melihat anak muda yang terlihat putus asa.


"Ayo sayang kita pulang." Wildan merangkul istrinya, suara teriakan memanggil dokter terdengar membuat langkah Wildan dan Vira terhenti.


Erik terlihat sedang bicara dengan salah satu dokter, selesai bicara langsung melangkah pergi ke parkiran.


"Kak Erik, apa yang terjadi?" Vira melihat ke arah gadis muda.


"Emhh, dia seorang yatim. Ibunya mengalami kecelakaan, harus melakukan operasi."


"Kekurangan dana?" Wildan berjalan bersama Erik.


"Iya, tapi sudah ditangani. Kondisi ibunya cukup memperihatinkan, harapan juga kecil."


Vira menangis memeluk Wildan, hatinya baper melihat anak muda yang menangis terpuruk tidak memiliki tempat bersandar.


"Jangan menangis sayang, nanti menganggu kesehatan kamu, ingat yang dokter katakan." Wildan membuka pintu mobil.


Vira melihat ke arah luar, menatap gadis yang dia temukan di dalam rumah sakit berlari kencang tidak tahu ke mana tujuannya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA.


FOLLOW IG VHIAAZAIRA.


***


MAMPIR JUGA KE NOVEL BARU AUTHOR CEK PROFIL.


__ADS_1


__ADS_2