SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SALING MENJAGA


__ADS_3

Sarapan pagi terlihat santai, Wildan menatap Rama dan Viana yang tersenyum melihat Virda yang sedang menyusu.


Vira hanya tersenyum saja, menunggu suaminya untuk bicara.


"Mommy, Daddy Vira hamil." Wildan berbicara spontan, Viana langsung menyemburkan minumannya.


"Jangan bercanda Wildan." Vi menatap tajam Vira yang hanya tersenyum, mengunyah makanannya dengan santai.


"Kita pagi ini ke rumah sakit untuk memastikan, semoga ...."


Viana berteriak langsung melangkah pergi, dia tidak percaya Vira hamil. Virdan juga masih kecil, baru saja berusia enam bulan.


Melahirkan secara Caesar sangat beresiko, apalagi keluarga mereka memiliki keturunan kembar, sangat berbahaya.


Vi menghubungi Reva, mengatakan Vira hamil. Teriakkan dari balik panggilan lebih besar lagi.


Vira melangkah mendekati Mommynya, menyerahkan hasil tes pack. Vira tahu Mommy tidak setuju Vira hamil cepat, melihat ketegangan yang terjadi saat lahirnya Virdan.


Tidak ingin kejadian Vivi terulang kembali, Viana tidak menyetujuinya. Selain membahayakan nyawa putrinya, juga membahayakan cucunya. Virdan juga masih terlalu kecil.


Suara langkah kaki masuk terdengar, Reva langsung mengambil hasil tes pack. Terlihat sekali tatapan khawatir membuat Vira binggung harus bagaimana cara meyakinkan kedua ibu yang terlihat tidak setuju.


"Vira, ini sangat beresiko sayang. Astaghfirullah Al azim, kenapa bisa hamil?" Reva meletakkan hasil tes pack.


"Karena Vira mempunyai suami, jadi wajar saja Mami."


"Kamu hamil, sedangkan Virdan baru berusia enam bulan. Sekarang Virdan sedang aktifnya, tadi malam saja kalian berdua kewalahan mencari keberadaan Virdan, ditambah lagi hamil. Kamu lahiran Caesar Vira bukan normal." Suara Viana meninggi, tidak setuju jika Vira tetap memaksa untuk mempertahankan kandungannya.


"Sekarang zaman sudah canggih Mommy, tidak ada yang harus di khawatirkan. Sudah banyak dokter hebat yang akan membantu mempertahankan kandungan." Vira duduk, mengusap air matanya.


"Lalu Virdan harus bagaimana? hamil normal saja tidak boleh banyak aktivitas apalagi caesar, lalu kamu ingin anak kamu diurus sama orang lain." Reva melihat ke arah Virdan yang sudah merangkak, bahkan menyelinap ke bawah lemari, keluar lagi, masuk bawah meja keluar masuk lorong-lorong kecil.


"Vira akan mengatasinya Mami." Vira langsung melangkah mengambil putranya, membawanya ke sofa untuk duduk.

__ADS_1


Tatapan mata Virdan melihat ke arah Viana dan Reva, menundukkan kepalanya saat ditatap balik.


"Mommy tidak setuju Vira."


"Mami juga, demi kebaikan kamu." Reva juga menggelengkan kepalanya tidak setuju.


Rama datang mendekat melihat Vira meneteskan air matanya, dia ingin mempertahankan anaknya jika memang positif hamil.


"Pertahankan kandungan kamu Vira, bersyukur karena Allah memberikan kalian kepercayaan lagi untuk segera memiliki anak. Kamu harus menjaga dia lebih baik lagi, apalagi memiliki resiko besar. Wildan kamu juga harus lebih memperhatikan Vira, rutin ke rumah sakit." Rama memeluk putrinya, mengusap air mata. Meminta Vira harus selalu bahagia, tidak memiliki banyak pikiran.


"Rama, kamu masih ingat apa yang dokter katakan. Tunda kehamilan setidaknya satu tahun." Reva mengerutkan keningnya.


"Aku lebih percaya apa yang ditakdirkan Allah, dokter hanya bisa memprediksi, sedangkan Allah bisa memberikan mukjizat. Kita berdoa saja, jika semua ini rezeki dari Allah, tergantung kita menerima rezeki harus bagaimana?" Tatapan Rama tajam, Reva dan Viana hanya bisa diam.


Bima juga muncul bersama Arum, mempertanyakan kebenaran soal Vira yang hamil lagi.


"Benar Wildan?"


"Masih harus cek ke dokter dulu Papi, tapi melihat hasil tes pack positif."


"Kehamilan Vira beresiko keguguran, juga perdarahan. Reva cukup trauma melihat Windy."


"Setiap orang tidak terlahir sama Reva, jangan membicarakan hal buruk, berdoa saja jika ini pertanda baik."


"Vi tidak mengerti dengan kalian para lelaki, kehilangan Vivi tidak cukup." Viana meneteskan air matanya, tidak ingin kehilangan putrinya Vira jika kehamilan beresiko.


Rama tersenyum melihat istrinya menangis, dia juga tidak ingin Vira melepaskan kesempatan untuk segera memiliki anak lagi, tapi melihat keadaan tidak bisa membuat Viana tenang.


Erik dan Billa juga langsung berkunjung, mengetahui keadaan Vira yang hamil. Erik hanya diam saja melihat Billa yang menghubungi dokter kandungan agar keluarga tidak khawatir.


"Kita periksa saja dulu, tapi kamu tidak merasakan nyeri di bagian jahitan?" Billa menatap Vira yang menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak merasakan sakit apapun, perasaan aku selalu bahagia." Vira melihat Arum yang meminta di gedong.

__ADS_1


"Vir, kamu lebih tahu soal kondisi tubuh kamu, seharusnya belum boleh hamil, tapi jika memang sudah hadir berarti Alhamdulillah. Meskipun resikonya cukup berbahaya, kita usahakan menjaga kamu dan baby bersama-sama." Billa menjelaskan singkat apa yang Dokter katakan.


"Salah kak Wildan keluar di dalam?" Winda menatap tajam.


"Tidak ada yang salah Winda, dokter sudah memberikan obat untuk menunda kehamilan, biasanya reaksi obat ini sangat efektif. Kemungkinan sangat kecil untuk hamil, karena keluarga kita ditangani oleh dokter berpengalaman."


"Kenapa harus dipermasalahkan? kita harus mengadakan syukuran untuk menyambut kehadiran mereka. Keluarga kita di sini sangat besar, jika Vira memang harus istirahat total, tidak boleh capek, ada kita semua yang mengawal Virdan. Untuk apa memiliki banyak uang, memiliki banyak keluarga jika menjaga Virdan juga harus wajib menjadi tanggung jawab kedua orangtuanya?" Jum menatap tajam, seluruh keluarga yang lain hanya diam.


"Bunda akan membantu Vira untuk menjaga Virdan, kamu fokus saja ke kandungan kamu. Ingat kesalahan kemarin jangan sampai terulang kembali." Jum memeluk Vira yang langsung menangis, dia tidak ingin kehilangan anaknya lagi.


"Kasih juga akan ke sini jika manusia nakal sudah pergi sekolah, kita jaga Virdan dan kandungan kamu bersama-sama." Kasih mengusap air mata Vira.


"Maafkan Bella tidak bisa mengajukan diri, soalnya kepala Bella sudah menjadi kaki, sedangkan kaki sudah di kepala. Namanya saja yang anggun seperti indahnya bulan, tapi aslinya dia lebih mirip bom nuklir yang bisa menghancurkan kepala Bella." Tatapan Bella langsung panik, melihat putrinya sudah menghilang.


"Bulan, rasanya ingin aku masukan lagi ke dalam rahim." Bella menarik putrinya yang ingin masuk ke bawah lemari mengikuti Virdan.


Tian langsung menggendong putrinya dan Virdan, rambut Virdan sudah dijambak oleh Bulan, membuat banyak orang tertawa.


Tatapan Arum tajam, melihat Bulan duduk di dekatnya langsung menarik kuat sambil teriak. Suara tangisan dan teriak menjadi satu.


"Makanya jangan sentuh Virdan, jika kamu tidak ingin disakiti oleh Arum." Bella menarik telinga putrinya pelan.


Vira tersenyum melihat putranya yang aktif, saat melihat banyak orang dia lebih suka bersembunyi, tidak menyukai keramaian.


"Di mana Arwin?" Ar menatap Winda.


"Mana Winda tahu." Semua mata keluarga berkeliling mencari Arwin yang sudah duduk dipojokan lemari sambil memejamkan matanya.


"Haruskan aku menjaga Virdan, agar kamu bisa fokus. Sebenarnya Virdan dan Arwin sebelas dua belas." Winda memeluk Vira mengucapkan selamat.


"Vira akan menjaganya, tapi tolong bantu Vira juga. Winda, bisa kamu bantu aku juga menjaga kandunganku?"


"Tentu, putra putri Winda juga putra putri Vira, begitupun sebaliknya." Winda tersenyum memeluk sahabatnya.

__ADS_1


***


__ADS_2