SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KELUARGA MILYARDER


__ADS_3

Sampai di kantor BR, Kasih binggung karena banyak orang, Jum meminta Kasih mengikutinya. Sekretaris Tian yang melihat Jum langsung memberikan hormat dengan menudukan kepalanya.


"Tian belum datang?"


"Belum Bu, mungkin sebentar lagi, rapat akan dilakukan 30menit lagi."


"Siapa saja yang sudah datang?"


"Belum ada Bu, ruangan dilarang dibuka sebelum Pak Ravi dan Pak Bastian datang."


Jum menarik Kasih untuk duduk di tempat sekretaris, melihat orang penting yang akan datang. Kasih dengan semangat setuju mengikuti Jum yang tidak mengerti soal bisnis.


"Bunda dia seksi sekali?" Kasih melihat seorang wanita seksi datang.


Jum hanya tersenyum melihat wanita istri dari lelaki yang pernah memaksanya dulu untuk menikah, Bisma sampai bertengkar karena masalah Jum menyimpan nomornya.


Viana dan Reva mulai datang bersama sekretarisnya, Kasih ingin menyapa tapi Jum menahannya.


Tidak lama Bastian juga datang dengan seorang wanita cantik, Jum langsung meremas kertas tidak suka melihat kedekatan keduanya.


Wildan juga datang bersama Karan, Kasih memperhatikan wajah Karan yang tidak asing baginya.


Ravi juga datang bersama Rama, sebelumnya Ravi sempat pergi ke LOVER untuk membahas berapa hal dalam rapat.


Bima juga masuk diikuti oleh Bisma bersama Sekretarisnya yang jalan beriringan, Jum langsung berdiri. Kasih merasa lucu melihat Bunda seperti penguntit.


"Bunda, Kasih menemui Ravi dulu sebentar ya?"


"Nanti, Bunda lagi kesal."


"Bunda BR sebenarnya kantor siapa?"


"Kantor pusat, Rama pemimpin LOVER, Bima pemimpi BB, Bisma pemimpin ** group, Viana Reva pemimpin VCLO."


"Kalau yang lainnya Bun."


"Erik memiliki saham di BR, Wildan pemimpin BB selanjutnya dan pemegang seluruh cabang, Bastian pemilik dari ** cabang dan pemimpin utama BR, kalau Ravi Penerus LOVER, dia juga pemilik saham terbesar di BR."


"Wow, mereka Milyarder semua ya Bun?" Kasih bertepuk tangan.

__ADS_1


"Bunda juga tidak tahu pasti, Bunda hanya tahu inti saja. Vira geng juga punya bisnis sendiri tapi terpisah dari bisnis keluarga."


"Mereka bibit yang unggul Bun, keturunannya bukan hanya ganteng, cantik tapi kaya semua." Kasih tersenyum menahan tawa.


"Kamu benar sayang, tapi banyak pelakorr, banyak orang syirik, banyak godaannya."


Kasih setuju dengan Bunda Jum, tidak ada yang tidak menginginkan hidup enak, keturunan yang unggul, tapi ajaran agamanya sangat kental, tidak ada yang melanggar aturan agama, semuanya menjalankan kewajiban.


Di dalam rapat semuanya sudah kumpul, layar besar juga sudah hidup memperlihatkan Vira geng juga ikut rapat. Saat akan dimulai Wildan menghentikan acara.


"Rapat dibatalkan, silahkan keluar." Wildan membalik kursinya, tatapannya langsung dingin.


"Wildan, aku yang memimpin, rapat akan tetap dilanjutkan." Tian meminta dilanjutkan.


Wildan langsung berdiri melangkah keluar, Ravi langsung menghentikan meminta Wildan memberikan alasannya.


"Wildan berikan alasan kamu?" Bima menatap putranya, langsung duduk kembali.


Wildan menyambungkan tabletnya ke layar besar, semuanya diam tidak ada yang memulai bicara.


"Kita membangun bisnis dengan damai, tapi kenapa kalian memilih per grup. Di sini LOVER, VCLO, BB, ** yang sudah puluhan tahun berdiri. Siapa yang memberikan izin keempat perusahaan ini maju paling depan, lalu nasib kami perusahaan baru ingin kalian apakan." Wildan mematikan layarnya.


Reva melotot melihat putranya, dalam bisnis tidak ada namanya keluarga, sudah menjadi peraturan dalam susunan kepemimpinan Keluarga.


"Jika seperti itu, akan aku buat perusahaan VCLO berada di daftar paling bawah." Wildan menatap Maminya tajam.


"Seharusnya yang berada di atas BR sebagai perusahaan pusat, aku juga tidak setuju." Ravi angkat bicara.


"Siapa yang membuat peraturan, daftar bisa berubah." Tian menatap semua orang.


"Maaf pak, kami hanya mengutamakan perusahaan yang berdiri kokoh."


"Jadi kalian menggagap kami perusahaan baru lemah, mudah di jatuhkan. Aku tahu tanpa perusahaan besar kami bukan siapa-siapa, tapi ada orang hebat, berpengalaman mempunyai harapan ingin memajukan perusahaan, kita semua memiliki karyawan, bukan hanya karena penjualan yang sukses, tapi rasa bangga akan kerja keras." Tian meletakkan laporannya.


"Kami minta maaf pak, peraturan akan tetap menjadi peraturan."


Wildan menatap Tian, Ravi hanya tersenyum melihat orang tua mereka.


[Gays Vira rasa pikiran kalian orang tua sangat pendek, soal pengalaman kalian tidak diragukan, tapi sayangnya ketinggalan zaman. Sebaiknya secepatnya kalian pensiun.] Vira tertawa, Winda menutup mulut Vira melihat mata Mommy Viana melotot.

__ADS_1


Viana langsung mematikan layar girl, rapat memang sebaiknya dibatalkan. Rencana awal untuk pertemuan gabungan, tapi yang terjadi menolak jika perusahaan besar berada diposisi teratas.


"Maaf Bu Viana, kami bukan menolak hanya saja tidak adil untuk karyawan kami." Bastian tersenyum.


"Kami ingin persaingan sehat, tuan Rama, Bima juga tuan Bisma, silahkan menolak dan mencari penerus baru jika tetap pada pendirian kalian." Wildan tersenyum menatap Papi.


Reva langsung mengambil high heels langsung melayang di kepala Wildan, banyak yang menahan tawa melihat ibu dan anak jika soal bisnis selalu bertengkar.


"Sekarang kalian mengerti mengapa anak-anak kami bilang layak memimpin, mereka layak membuka banyak cabang, bukan menghitung berapa keuntungan, tapi mementingkan para pekerja." Rama menatap para pemegang saham lainnya.


"Rapat kali ini ingin menyerahkan perusahaan secara resmi, di depan semua pemimpin perusahaan lainnya. Kami ingin kalian tidak merasa ragu jika mereka menjadi pemimpin utama." Bima juga angkat bicara.


Ravi binggung, Tian Wildan juga binggung. Viana Reva lebih binggung lagi, Rama dan Bima Bisma melepaskan perusahaan di depan banyak orang tanpa pemberitahuan.


"Kenapa Daddy tidak mengatakan ke mommy?" Viana kesal.


"Karena kamu pemimpin VCLO, kamu berada di bawah kami."


"Sebenarnya kami ingin menyerahkan setelah mereka menikah, Ravi juga tidak bisa membawa istrinya karena sebuah alasan. Harap kalian memakluminya." Bisma juga tersenyum menatap putranya.


"Kasih seharusnya mendampingi Ravi." Wildan menatap Ravi.


"Aku tidak tahu jika rapat menjadi seperti ini, pemindahan kepemimpinan." Ravi tidak setuju dengan usul Daddy.


"Maaf Ayah, Bastian menolak bukan karena tidak siap, tapi belum waktunya Ayah."


"Kenapa? apa karena kamu bukan putra kandung. Bastian Bramasta aku keluarkan kamu sebagai putraku."


Pintu terbuka, Jum menatap tajam ke arah Bisma, Tian juga kaget dengan ucapan Bisma.


"Jika kamu berani mengeluarkan dia dari keluarga kita, aku juga akan angkat kaki dari rumah kamu." Jum menggenggam tangannya, Bastian berjalan mendekati Jum, memeluknya menenangkan Jum mungkin Ayahnya salah bicara.


"Aku tidak bercanda Bastian, aku tidak akan menarik ucapanku. Kamu bukan putraku lagi."


"Ayo kita pergi Tian." Jum menangis sesenggukan, menarik Tian keluar.


"Jum, siapa yang memberikan perintah dia keluar. Kenapa kamu melawan ucapan suami kamu?"


"Karena dia anakku, aku ibunya akan aku bela anakku sampai kapanpun, jika kamu tidak suka dia, berarti kamu juga menyingkirkan aku Bisma."

__ADS_1


"Dia bukan putra kita Jum, dia akan aku jadikan putra menantu, statusnya bukan kakak tertua. Setelah Bella lulus kuliah aku ingin Bastian menikahi Bella, Tian juga harus berhenti dekat dengan banyak wanita, cukup Ayah yang playboy. Aku ingin Bastian menjadi penerus keluarga Bramasta."


****


__ADS_2