SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KESIANGAN


__ADS_3

Tubuh Vira sakit semua, mengurus anak-anak yang bermain ke rumahnya. Belum lagi menyapu, mengepel, bahkan mencuci baju juga bekas piring kotor.


Selesai sholat isya, Vira langsung tergeletak di atas tempat tidur. Wildan langsung merapikan sajadah, meminta Vira melepaskan mukenah.


"Tubuh aku sakit semua Wil, capek sekali." Vira langsung memeluk erat guling.


"Pakai ini di seluruh tubuh kamu, agar lebih enak." Wildan menyerahkan minyak telon bayi yang membuat Vira menahan tawa.


Senyuman Vira terlihat langsung membuka bajunya, Wildan melangkah mundur takut melihat Vira hanya menggunakan pakaian dalam saja.


"Kamu yang mengoleksinya."


"Apa aku?" Wildan kebingungan, Vira menutupi bagian depan dengan selimut.


Wildan mengunci pintu, tidak ingin anak-anak masuk lagi. Apalagi di depan rumah mereka ada Ravi yang selalu sengaja meminta anaknya bermain di luar agar dia bisa bermesraan.


Mata Vira terpejam, merasakan sentuhan tangan Wildan yang sangat lembut. Mata Wildan tidak berkedip karena pertama kalinya dia menyentuh punggung wanita yang terbuka.


Tubuh putih dan halus, Wildan memukul kepala yang mulai berpikir aneh.


Vira sudah tertidur Wildan menarik selimut menutupi tubuh istrinya yang terbuka bagian atas.


Wildan menyusun guling yang menjadi pembatas mereka, tubuh Wildan membelakangi Vira karena dia tidak nyaman dan belum terbiasa.


Sudah larut malam Wildan belum bisa tidur, padahal besok dia harus ke kantor. Kembali bekerja, setelah cukup lama cuti untuk mengurus pernikahan.


Vira sudah berpindah posisi bekali-kali, sedangkan Wildan masih dengan posisi yang sama.


Baru saja Wildan menoleh ke arah Vira, ternyata guling sudah menghilang dari atas ranjang, padahal tempat tidur mereka sangat luas.


"Vira kamu tidur atau apa? sebentar lagi aku bisa jatuh." Wildan menggeser tubuh Vira agar lebih ke tengah.


Posisi Wildan juga pindah ke tengah, mengambil guling meletakan di samping Vira agar tidak jatuh ke bawah.


"Vira, ayo pakai baju dingin." Wildan mengambil baju memalingkan wajahnya memakaikan kepada Vira yang tidur tidak ingat apapun.


"Jika ada yang menculik kamu, lalu membuang di lautan mungkin kamu tetap tidak bangun. Saat bangun sudah menjadi arwah gentayangan. Astaghfirullah Al azim, apa yang aku pikirkan?" Wildan mengusap wajahnya, antara kesal dan canggung tidur satu ranjang.


Baru saja Wildan menutup matanya, pelukan erat Vira membuat Wildan terbangun. Berkali-kali Vira digeser tetap saja wajahnya masuk ke bawah ketek, sampai akhirnya Wildan membiarkannya.


Hujan turun dengan derasnya, dua manusia tidur dengan mimpi indah masing-masing. Pelukan erat saling menghangatkan, suara gemericik air dan kilat berada langit tidak disadari.


Sampai matahari terbit, hujan berhenti. Malam sudah berganti siang, keduanya masih berpelukan erat.


Suara ketukan pintu juga tidak terdengar lagi, teriakan kuat tetap tidak membangunkan keduanya dari tidur ternyaman mereka.

__ADS_1


Pintu terbuka, Viana memiliki kunci serep membuatnya bisa masuk bersama Reva mengantarkan sarapan pagi, sesekali ingin melihat pengantin baru.


"Di mana mereka?" Viana berkeliling dapur mencari Wildan dan Vira.


"Mereka belum bangun mungkin kak Vi."


"Ayo ke kamar."


"Wildan tidak pernah bangun kesiangan, selesai sholat dia tidak tidur lagi." Reva mengetuk pintu pelan.


"Reva, masih bujangan selesai ibadah langsung bersiap-siap kerja, jika sudah beristri lanjut main pukul-pukulan." Viana tersenyum mengetuk pintu kuat.


Vira mengangkat kepalanya, langsung turun dari atas ranjang membuka pintu langsung berjalan lagi ke atas rajang. Tidur di atas tubuh Wildan.


Senyuman Viana dan Reva terlihat, masuk perlahan melihat keduanya asik berpelukan.


Wildan membuka matanya, melihat ke arah jendela yang sudah sangat terang langsung menyingkirkan Vira dari atas tubuhnya.


"Astaghfirullah Al azim, hari ini Wildan ada rapat." Cepat Wildan masuk ke kamar mandi, dia bahkan tidak terbangun saat subuh.


"Vira kenapa kamu tidak menggunakan dalaman?" Reva menahan tawa, meminta Vira mulai besok harus mengunakan lingerie yang bersejarah.


"Mommy sama Mami kenapa dari subuh sudah di sini? semalam Wildan mengelus Vira makanya tidak menggunakan dalaman." Vira melangkah keluar sebelum Wildan mengomelinya bangun siang.


"Vira." Wildan berteriak meminta kunci mobilnya , langsung memakai sepatu menolak untuk sarapan.


"Wil jangan buru-buru, hati-hati membawa mobil. Tidak masalah telat, asalkan selamat." Viana memberikan minum terlebih dahulu.


"Di mana kunci mobilnya, Vira tidak tahu." Teriak Vira sangat besar membuat Wildan mengucapkan istighfar.


"Mencari gunakan mata jangan mulut tidak akan ketemu, jika kamu ingin keluar harus menghubungi aku terlebih dahulu." Wildan mengambil kunci mobil, mencium tangan mommy dan mami.


Vira menatap tajam, bangun kesiangan memarahi orang, padahal bukan salah Vira mereka bisa bangun siang.


"Vir kamu ingin keluar tidak hari ini?" Viana meminta Vira sarapan.


"Hari ini ke kantor, sudah lama tidak mengecek keadaan kantor. Mungkin Vira akan aktif lagi di perusahaan." Vira mengunyah nasi goreng.


"Vir kalian sudah memproses pembuatan Wildan junior." Mami tersenyum menatap menantunya yang tertawa.


"Susah mi, Wildan takut bersentuhan." Vira tertawa lepas, Viana langsung menatap Reva yang sudah menduganya.


"Kamu bahagia Vir memiliki versi muda Bima yang sangat sensitif disentuh wanita, kamu putri mommy, tapi lebih mirip Reva." Viana tertawa melihat Vira dan Reva satu frekuensi.


***

__ADS_1


Vira menjalankan mobilnya ke arah perusahaan yang sudah berbulan-bulan tidak dia kunjungi, sebelum ke kantor Vira ingin membeli cemilan untuk rekan kerjanya.


Mobil berhenti di toko kue, Vira melotot melihat mobil Wildan yang terparkir di restoran samping toko kue.


Cepat Vira melangkah masuk, melihat restoran yang terlihat sepi, Vira yakin sudah dibooking.


"Di mana Wildan rapat?" Vira mengikuti arah jari yang menunjuk ke ruangan private.


Semua orang tahu jika putra Bramasta menikahi putri bungsu keluarga Prasetya, jadi bukan masalah besar bagi Vira, dia tidak harus mejelaskan hubungannya dengan Wildan.


Langkah Vira terhenti, menunggu rapat selesai. Beberapa orang mulai keluar, Wildan juga melangkah keluar diikuti oleh seorang wanita berambut pirang.


Wildan tidak melihat keberadaan Vira, tatapan Vira tajam seperti mengenal wanita yang bersama Wildan.


"Wil, aku mendengar kabar kamu sudah menikah?"


Wildan tidak menjawab, lengannya ditahan. Senyuman Fly terlihat menatap Vira yang ada di belakang Wildan.


Cepat Fly memeluk Wildan, tapi cepat juga Wildan mendorong kuat langsung melangkah pergi.


Vira tersenyum sinis langsung mendekati Fly, keduanya saling tatap dengan kemarahan masing-masing.


"Masih hidup juga kamu?"


"Berhati-hatilah Vira jika aku tidak bisa memiliki Wildan, maka tidak ada yang berhak atas dirinya." Senyuman licik Fly terlihat, langsung melangkah pergi.


"Lakukanlah, aku pastikan kamu akan segera menyusul kembaran kamu." Vira tertawa lucu, menatap tajam mobil Wildan yang sudah melaju meninggalkan restoran.


"Kamu berlari kencang untuk meeting hanya untuk melepas rindu, Wildan sialan." Vira meremas ponselnya kuat.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


***


maafkan update tidak bisa dijadwal, karena kesibukan dunia nyata.


Author usahakan setiap hari up dua episode, belaku juga untuk mengejar cinta Om duren.


JANGAN TANYA KAPAN UPDATE, diusahakan secepatnya. oke.


***

__ADS_1


__ADS_2