SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 ADA PENGKHIANATAN


__ADS_3

Puluhan orang tergeletak tidak sadarkan diri, Kasih menendang kuat meluapkan amarahnya. Wildan berhasil menemukan lokasi, tapi jaraknya sangat jauh hampir 7 jam.


Yusuf masuk ke dalam, bibirnya berdarah. Wildan melihat di luar penuh orang yang bertarung.


"Wil, ayo pergi dari sini. Mungkin akan semakin banyak orang yang datang." Yusuf memegang dadanya yang sakit.


Wildan meminta semaunya keluar, masuk ke dalam mobil. Erik melangkah keluar dibantu oleh Billa, Kasih melangkah keluar, masuk ke dalam mobil yang cukup besar.


Semuanya meninggalkan rumah yang berantakan, Wildan meminta Yusuf untuk mengantar ke lokasi. Vira berusaha menghubungi Daddy dan Mommy, tapi tidak ada yang menjawab.


Bella dan Winda juga menghubungi orangtuanya, tapi tidak ada satupun yang menjawab.


Wildan menggunakan peralatan seadanya untuk menjaga Keluarganya, Wildan melihat banyak keanehan. Sistem yang dia ciptakan bisa menghilang, hanya Wildan dan Ravi yang bisa membuatnya.


Wildan memijit kepalanya, saat mobil masuk area sepi banyak pohon, sinyal langsung menghilang. Saat mendapatkan jaringan, semuanya langsung berubah putih.


Mata Wildan melotot, pukulan kuat di dasbor mobil terdengar. Ada yang mengendalikan komputer Vira, kekesalan Wildan langsung memuncak, mematikan seluruh ponsel kecuali milik Yusuf.


Keanehan semakin terlihat, hanya pada ponsel Yusuf yang bisa digunakan. Wildan menatap Erik yang memejamkan matanya tertidur di bahu Billa.


"Siapa pengkhianatan di sini?" Batin Wildan, menatap satu persatu keluarganya.


Kasih meneteskan air matanya, melihat cincin pernikahan dengan Ravi.


"Aak, Kasih rindu. Kenapa tidak membawa Kasih? Aak sudah berjanji pergi ke manapun bersama Kasih." Kasih memeluk dengkulnya.


Sekarang Wildan dalam keadaan binggung, tidak ada teman untuknya berdiskusi, keadaan Erik juga tidak stabil. Berbicara dengan Bella, Vira bisa melibatkan keduanya.


"Kenapa Wil" Yusuf melihat Wildan sesekali sedang binggung.


Wildan meminta Yusuf berhenti, Bella diminta membawa mobil ke lokasi tempat Ravi berada. Semuanya binggung melihat Wildan yang aneh, tapi tidak ada yang menolak, langsung menurut saja.


"Biar Winda saja yang membawa mobil?" Winda sudah terbiasa kebut-kebutan di jalanan.


Wildan pindah ke belakang bersama Yusuf, tidak ada yang mendengar pembicaraan keduanya.


Yusuf memperhatikan keamanan rumah, sebelum Wildan datang, penjagaan sangat ketat, tapi dengan mudahnya orang luar bisa masuk. Wildan juga meretas CCTV, saat Wildan dan yang lainnya sampai, CCTV langsung mati.


Bahkan keanehan semakin terjadi, CCTV rahasia juga mati, yang tahu pastinya hanya hacker, petugas keamanan juga belum tentu tahu.


Wildan mejelaskan lokasi perumahan Vira, Yusuf mengerutkan keningnya.


"Semua ini direncanakan oleh orang dalam Wil?" Yusuf menjelaskan jika memang targetnya Vira Billa, saat keduanya masuk perumahan, pulang dari kampus sudah tertangkap, tapi kenyataannya Vira Billa bisa sampai rumah.

__ADS_1


"Siapa pengkhianatnya, tidak mungkin kak Erik, dia orang yang sangat baik." Wildan menatap Yusuf.


"Jangan menuduh, ambil positif saja, jika semua yang ada di sini tidak ada yang berkhianat."


Wildan memikirkan Karan, kemungkinan besar bisa saja Karan, dia berbohong sudah meninggal, bekerja sama dengan orang Roma.


Cepat Wildan menepis pikirannya, Karan tidak punya alasan menyerang mereka. Karan juga bukan seseorang yang mengincar harta, hidupnya sudah mapan.


Yusuf diam mengerutkan keningnya, menghapus pikiran buruk mengambil sisi positifnya.


"Wil, tujuan sebenarnya membawa kalian semua pergi ke pantai. Kamu akan mendapatkan jawaban saat tiba nanti."


Wildan mengangguk mengerti, Wildan mulai bergerak, walau hanya menggunakan ponsel, meretas CCTV sekitar lokasi kapal, tidak terlihat banyak aktivitas. Semuanya tenang, lokasi sepi, tidak ada satu orangpun yang terlihat.


Sudah setengah perjalanan, Karin mual karena lapar, penyakit maag kambuh. Erik meminta Winda berhenti di rumah makan. Vira menolak bisa saja mereka diserang di restoran.


Perintah Wildan diikuti oleh Winda, mereka berhenti di rumah makan untuk mengisi tenaga. Wildan masih menjaga keamanan sekitar rumah makan


Mencari makanan halal tidak mudah, Yusuf memberikan usulan untuk makan di restoran miliknya yang tidak begitu jauh.


Sampai di sana, Yusuf memberikan izin Wildan meretas CCTV nya. Semuanya turun untuk makan kecuali Kasih.


"Kak ayo makan. Kita butuh tenaga untuk bertarung lagi."


Yusuf menatap Kasih yang sangat sedih, meminta karyawannya mengantarkan makanan ke mobil. Wildan hanya memberi waktu makan selama 30 menit, makan juga seperti di kejar hantu.


"Assalamualaikum, Kasih kamu makan dulu." Yusuf mengantarkan makanan.


"Ravi pasti baik-baik saja."


"Jika kamu ingin tahu jawabannya, makan dulu. Ravi juga pasti sedang memikirkan kamu, dia pasti berharap kamu makan, agar memiliki tenaga."


Kasih menerima makanan, memasukkan sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya. Biasanya Ravi selalu minta makan satu piring berdua, Kasih sudah terbiasa menyuapi bayi besarnya.


Vira datang bersama yang lainnya, makan di dalam mobil. Di luar hanya Wildan, Erik, Billa dan Karin juga Yusuf.


Air mata Vira menetes, mengingat kakaknya, Bella juga sedih mengingat kakaknya yang diikat di kapal.


"Kak Kasih kita lemah ya?" Vira menangis sambil makan.


"Kita belum kalah Vira, saat semuanya jelas baru bisa diputuskan." Kasih masih terus makan.


Winda melihat sekitar, tidak ada hal yang mencurigakan. Winda menghidupkan ponselnya menghubungi Papinya, tapi belum juga di jawab.

__ADS_1


"Bel, kenapa teknologi Wildan bisa di bobol ya?"


"Karena orang tersebut mengetahui sandi Wildan." Bella langsung terdiam, menghentikan makannya.


"Berarti ada pengkhianatan di antara kita?" Winda menatap tajam.


"Siapa?" Kasih menatap satu-persatu.


Vira coba berpikir, tapi tidak ada yang mendekati kriteria berkhianat.


"Yusuf, mungkin dia pengkhianatan." Winda menatap Yusuf yang mengantarkan minuman.


Tatapan mata Winda, membuat Yusuf menghela nafasnya. Menyerahkan minuman, tapi langsung di buang oleh Winda.


"Winda?" Kasih menatap tajam.


"Kenapa kamu membalas aku dengan menyakiti keluargaku?" Winda turun dari mobil, mencengkram leher Yusuf.


"Aku tidak memiliki alasan untuk menyakiti kalian." Yusuf menahan tangan Winda.


"Pembohong, kamu membenci aku karena ibu kamu yang berzina, kalian kotor."


"Jangan melihat seseorang dari masa lalu Win, aku tidak pernah dendam. Aku bersyukur kamu membongkarnya, walaupun cara kamu mempermalukan aku, tapi aku ikhlas ini menjadi takdir hidup aku."


"Munafik, ucapan kamu berbeda dengan hati kamu. Ingat Yusuf buah tidak akan pernah jatuh, jauh dari pohonnya. kamu dan ibu kamu sama."


"Kamu benar, tapi aku bukan tumbuhan, aku manusia. Darah ibu memang mengalir, tapi hal buruk tidak tumbuh pada diriku. Ajaran agama masih kuat melekat."


Winda menampar kuat Yusuf, Winda memukuli Yusuf yang di mata Winda sangat munafik.


"Bagaimana aku membuktikan jika aku tidak terlibat?"


"Berhenti berbohong."


"Jawabnya akan ada di sana, kita buktikan Winda aku tidak pernah berbohong, aku juga tidak pernah menyimpan dendam. Jika aku bersalah, kamu bisa membunuh aku, tidak akan kaki ini menginjak tanah lagi, tapi jika aku benar, kamu harus bersedia terpenjara dalam hidupku." Yusuf langsung pergi.


"Apa maksudnya?" Winda menatap Kasih.


"Yusuf, ingin kamu menjadi istrinya."


Vira dan Bella menutup mulutnya, saling tatap mengerutkan keningnya.


"Makanya Win, jangan sembarang bicara." Vira mengaruk kepalanya.

__ADS_1


***


__ADS_2