SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BERDARAH


__ADS_3

Barang berjatuhan, alat bantu pernafasan sudah dipasang. Yusuf menghubungi tim ATC meminta izin untuk mengendalikan pesawat, karena pilot yang bertugas sedang jatuh pingsan.


Yusuf meminta arahan agar bisa secepatnya mendarat, tim ATC langsung menerima laporan. Mengizinkan kapten termuda yang pernah berkeliling dunia mengambil alih membawa pesawat.


Padangan Yusuf gelap, berusaha menenangkan dirinya juga harus bisa membawa seluruh keluarga tiba di daratan.


Pesawat berputar-putar, Yusuf tahu dia tidak memiliki banyak waktu untuk berputar, karena kemungkinan besar akan terjadi ledakan karena kerusakan mesin.


Seluruh mata terpejam, cahaya terang terlihat meninggalkan kabut hitam yang menggumpal di udara.


Co-pilot tersenyum melihat anak muda yang sudah meninggalkan penerbangan hampir sepuluh tahun, tapi keahlian masih sehebat dulu.


Air mata co-pilot terlihat, melihat darah mengalir darah wajah Yusuf.


"Kita belum aman, secepatnya harus segera melakukan pendaratan darurat karena mesin mengalami kerusakan, kemungkinan buruknya pesawat meledak." Yusuf menyampaikan kepada pemandu lalu lintas udara.


Pihak ATC sudah mempersiapkan pendaratan darurat, menghentikan seluruh penerbangan.


Yusuf mempunyai kesempatan untuk segera landing di bandara tujuan sesuai jadwal, tim medis juga sudah langsung berhamburan menuju bandara.


Wildan tersenyum melihat mereka keluar dari kabut hitam, sudah terlihat daratan.


Di belakang pesawat sudah mulai mengeluarkan asap, mobil medis berlarian langsung membantu seluruh penumpang untuk segera keluar.


Pramugari membuka pintu, semuanya keluar dalam keadaan baik juga terlihat tenang. Mental keluarga sudah terlatih untuk bisa mengontrol diri dalam keadaan apapun.


"Tuan, silahkan menjauh." Keamanan mengeluarkan pilot yang langsung dilarikan ke rumah sakit.


"Uncel pilotnya kenapa?" Asih menatap Wildan.


"Uncel sakit, kita ucapkan syukur karena keluar dalam keadaan selamat." Wildan menyerahkan Asih kepada Ravi.


Karan dan Ravi langsung berlari kembali ke pesawat, melihat Yusuf tersenyum melangkah keluar dari pesawat untuk menjauh.


Dugaan Yusuf benar kapal meledak, pemadaman kebakaran langsung bertidak. Api tidak begitu besar karena langsung dimatikan.


Vira, Bella, Billa, Winda, Binar, Jum, Viana, Reva , Septi, Karin dan Kasih langsung terduduk lemas di lantai.


Sungguh pengalaman yang luar biasa, mereka hampir saja jatuh dari pesawat bersama keluarga besar.


"Astaghfirullah Al azim, kita selamat. Ya Allah doa kita dikabulkan." Jum langsung menangis memeluk kedua putrinya, mengusap perut Binar.

__ADS_1


Viana juga langsung menangis memeluk Vira, langsung mengusap wajah Kasih.


"Ya Allah kita masih diberikan kesempatan untuk saling menatap." Vi mengusap air matanya.


Reva hanya terduduk diam bersama Septi, tatapan mata keduanya kosong.


"Septi sumpah Tya terkabul, dia pernah menyumpahi aku mati jatuh dari pesawat." Reva menatap Septi yang mengangguk kepalanya.


"Mami, bukannya memeluk Winda, tapi memikirkan masa lalu." Winda cemberut.


Reva memeluk Winda langsung mencari ponselnya untuk menghubungi Windy, mereka juga akan segera menyusul.


"Windy, Stev dan keluarga lainnya menunda keberangkatan karena ada pesawat yang keluar jalur, sehingga terjadi tabrakan." Reva mengusap dadanya.


"Semuanya baik-baik saja." Tian menatap keluarga yang menganggukkan kepalanya.


"Ada korban tidak Tian?" Viana langsung berdiri.


"Pilot terluka, keadaan kritis mengalami sesak nafas. Yusuf juga terluka bagian wajah, kepala juga tangannya." Tian menatap Yusuf yang datang bersama Wildan.


"Selamat siang kapten Ar." Pilot cantik langsung menundukkan kepalanya memberikan hormat.


Semua orang terdiam menjadi patung, Reva langsung berdiri melihat kepala Yusuf yang tekena pecahan kaca.


"Wow, jadi Yusuf yang menyelematkan kita semua?" Vira menatap Daddy-nya.


Rama mengangguk kepalanya, meminta semuanya menunggu Yusuf sebentar karena harus diperiksa.


"Kita langsung ke hotel saja Daddy, semua juga capek dan masih shock banget. Nanti Yusuf bisa ke rumah sakit sendirian." Senyuman Yusuf terlihat menatap Ning dan Asih.


"Terima kasih Uncle." Asih dan Ning tersenyum.


"Terima kasih karena kalian baik-baik saja, maafkan Uncle yang sudah membuat kalian ketakutan." Senyuman Yusuf terlihat.


Rasih menggelengkan kepalanya, memberikan sticker di tangan Yusuf pertanda jika hari ini apa yang Yusuf lakukan perbuatan baik.


Senyuman Yusuf terlihat menatap para Mommy, bernafas lega karena semuanya baik'-baik saja.


"Kenapa kamu mengkhawatirkan orang lain, padahal kamu yang terluka." Reva mengusap kepala Yusuf.


"Ar takut jika ada yang terluka karena semua orang penting, juga orang-orang baik mi." Yusuf langsung melangkah pergi keluar bandara bersama yang lainnya.

__ADS_1


Wildan tersenyum menepuk pundak Yusuf, masih teringat pertemuan pertama mereka saat Wildan yang baru remaja naik pesawat untuk pulang.


Pilot yang membawa kapal salah satu pilot terbaik di penerbangan, dia juga di dampingi oleh seorang Co-pilot yang masih sangat muda.


Usia tujuh belas tahun kapten Armand menjadi pilot terbaik, juga termuda. Wildan merasa dia nyambung jika bicara dengan kapten Ar.


Bertemu beberapa kali di pesawat membuat keduanya dekat, Wildan tidak pernah menyangka jika akan datang hari Yusuf meninggalkan penerbangan.


Tidak ada alasan pasti kenapa dia mengundurkan diri, pastinya banyak yang kehilangan melihat anak muda yang sangat pintar.


"Tidak heran dia kaya, ternyata seorang pilot, dosen juga pengusaha." Bella bertepuk tangan.


"Winda heran, manusia pintar juga memiliki harta kenapa masih selingkuh? bekerja di pesantren." Winda menatap punggung Yusuf dari kejauhan.


Beberapa mobil sudah tersusun, seluruh keluarga langsung ke hotel sedangkan Yusuf pergi rumah sakit.


Wildan dan Yusuf keheranan melihat Winda dan Vira mengikuti mereka.


"Kamu memiliki harta berlimpah, tapi kenapa dulu ibu kamu selingkuh?" Winda fokus melihat ke depan.


"Harta hanya titipan Win, aku tidak terlalu mempedulikan. Jika kamu bertanya soal Umi, aku juga tidak tahu jawabannya karena tidak bisa membaca isi hati seseorang." Yusuf terlihat sedih.


"Kamu karir bangus, wajah oke, fasilitas juga terjamin. Kenapa kamu bekerja di pesantren?" Vira sangat penasaran.


"Kapan aku mengatakan pernah kerja di pesantren, aku ingin membangun pesantren dengan uang kerja keras saat masih muda." Senyuman Yusuf terlihat.


Vira langsung menatap Winda, sangat takut jika Winda penyebab Yusuf kehilangan mimpi dan cita-citanya.


Wildan menepuk pundak Yusuf karena tidak bicara lagi, Winda dan Reva langsung panik Karena Yusuf jatuh pingsan.


Darah juga masih menetes, sejak keluar dari pesawat penglihatan Yusuf gelap.


"Astaghfirullah Al azim pingsan Win." Vira menggoyang tubuh Yusuf.


Kepala Winda tertunduk, dia tidak mengerti apa yang dulu pernah dia lakukan sudah menghacurkan hidup pemuda berbakat.


"Kepalanya juga berdarah Wil, lukanya juga besar sekali." Vira langsung deg-degan.


"Sebentar lagi sampai tolong tutup lukanya." Wildan langsung panik, karena Yusuf memang sosok orang yang tidak pernah mengeluh.


Mobil sampai di rumah sakit, Wildan langsung meminta bantuan dokter membawa Yusuf yang sedang jatuh pingsan.

__ADS_1


"Astaga darah semua." Vira melihat baju Yusuf penuh darah. Vira menatap kasihan, langsung berlari mengikuti Wildan.


***


__ADS_2