
Hampir lima jam keluarga menunggu di depan pintu, Wildan keluar dan langsung terduduk lemas. Tangannya membuat lingkaran, sebagai tanda jika Vira baik-baik saja.
Bima langsung berjongkok, menggenggam tangan putranya yang terasa sangat dingin. Sejak kecil Wildan tidak pernah menunjukkan kelemahannya, fokus Bima hanya untuk kedua putrinya, membiarkan putranya dewasa dengan bertahan sendiri.
Wildan langsung mengembuskan napasnya, menggenggam balik tangan Papinya, Wildan seakan meminta tenaga lebih untuk bertahan.
Billa dan Erik juga keluar dari dalam ruangan Vira, Erik menjelaskan untuk saat ini keadaan Vira sudah membaik.
Dia mengalami pendarahan ringan, tapi langsung drop. Dokter pribadi Vira akan berjaga dan memastikan Vira baik-baik saja.
Prioritas utama keselamatan ibunya, jika bisa ibu dan anak harus dalam keadaan baik dan selamat.
"Vira di prediksi akan melahirkan dua hari lagi, jika kondisinya baik dan tidak pendarahan." Billa memeluk mommy yang terlihat sangat kuat, Reva yang tidak bisa menahan air matanya.
Ruangan Vira dilarang dimasuki oleh banyak orang, kondisinya membutuhkan istirahat full sampai waktunya operasi.
Rama dan Viana melangkah masuk, melihat Vira terbaring di atas tempat tidur. Matanya terpejam, Rama menggenggam tangan putri semata wayangnya.
"Kamu kembali lagi berjuang seperti satu tahun yang lalu, saat itu Daddy sangat takut sekali Vir. Daddy takut Vira merasa bersalah, tapi ternyata putri Daddy kuat, kesayangan Daddy hebat, kamu harus bertahan lagi ya sayang." Rama mencium tangan putrinya, berkali-kali Rama mengecupnya sampai meneteskan air matanya.
Viana hanya tersenyum, melihat wajah Vira yang pucat. Vi percaya putrinya akan kuat dan menepati janji.
"Hubby, Viana ingin berdua bersama Vira boleh."
Rama mencium kening Vira, mencium kening istrinya langsung melangkah pergi. Membiarkan dua pengacau bersama.
Vi duduk di kursi, meletakan tangannya di dagu menatap wajah putrinya.
"Vir, Mommy pernah meminta waktu kamu untuk kita mengobrol dan bercerita berdua, tapi Mommy terlalu malu." Viana menatap wajahnya di kaca.
"Kamu tahu apa yang Mommy rasakan saat tahu Sisi sudah berpulang, Clara juga sudah mendahului mommy. Jujur Mommy belum siap meninggalkan kalian semua, maka Vira jangan pernah meninggalkan mommy." Viana mengusap air matanya.
Meksipun wajahnya masih cantik dan terlihat awet muda, Vi tidak bisa menutupi jika dirinya sudah sangat tua. Tidak pernah Viana pikirkan jika dirinya bisa panjang umur dan hidup bahagia.
__ADS_1
Bima pernah mengatakan jika dirinya pulang lebih dulu meminta Viana menjaga istrinya untuk terus menghiburnya, Bisma juga pernah berkata jika umurnya tidak panjang, menitipkan istri polosnya agar terus tersenyum, dan berhenti memikirkannya.
Saat kembali dari luar negeri Viana meminta Reva menjaga suaminya jika dirinya pergi lebih dulu, meminta bantuan Jum untuk mengawasi suami ABG nya agar tidak bersedih.
"Vira, Mommy sudah tua sayang. Kapan ajal datang hanya Allah yang tahu? Mommy ingin hidup dan mati bersama Daddy kamu, jika mommy boleh meminta diizinkan hidup lebih lama lagi agar bisa melihat putri nakal mommy tertawa bersama anak-anaknya." Viana tersenyum, meskipun Vira selalu tersenyum, tapi kebahagiaan Vira belum lengkap.
"Mommy jangan bicara sembarangan, Vira bisa marah." Suara pelan Vira terdengar, menatap wanita yang melahirkannya.
"Vira, kamu sudah bangun?"
"Vira janji akan baik-baik saja, Mommy jangan pernah berpikir untuk meninggalkan Vira." Air mata Vira menetes, mengusap wajah Mommynya.
"Mommy sudah tua Vir?"
"Hiduplah seratus tahun Mommy, hidup dengan sehat dan terus bahagia. Kita menua bersama." Vira mencium tangan wanita yang paling dicintainya.
Viana tertawa, menganggukkan kepalanya, putra dan putrinya memiliki permintaan yang sama dan tidak ingin mendengar Vi berbicara soal perpisahan.
"Mommy, ceritakan persahabatan Mommy bersama Aunty Sisi dan Aunty Clara?"
Kehidupan Viana saat itu sangat gelap, dirinya seakan buta, baginya tidak membutuhkan orang pintar tapi orang yang bermental kuat.
Sisi dan Clara langsung diterima, karena Viana tidak memiliki teman juga tidak pernah mempercayai siapapun, selalu mabuk di kantor sampai berkali-kali Sisi dan Clara memergokinya.
Mereka mulai berpesta, dugem, mabuk-mabukan bersama lalu tertidur, bangun bekerja dan lanjut lagi mabuk.
Tahun terus berlalu sampai akhirnya VCLO menjadi perusahaan besar, hidup Viana hanya terisi oleh pekerjaan, melupakan yang namanya pernikahan.
Setiap bulan Vi berpindah negara membawa nama VCLO, Sisi dan Clara orang yang ada di sisinya.
"Hubungan persahabatan kami ada di lingkup pekerjaan, Mommy bahagia bersama mereka, meskipun tidak ada kepercayaan. Hati Mommy tertutup rapat, tidak memiliki satupun orang untuk di anggap sandaran."
"Lingkup mabuk juga Mom."
__ADS_1
"Jangan disebut Vir, nanti didengar cucu Mommy jadinya malu, mana ada anaknya Clara lagi. Sebenarnya mereka berdua anak baik, tapi mommy iblis yang mengajari mereka." Viana tertawa bersama Vira yang merasa terhibur.
"Vira senang, karena Aunty Sisi dan Clara setia sampai tiada."
"Kamu benar Vir, mereka bukan hanya setia kepada mommy, tapi juga setiap kepada Reva, merangkul Reva yang masih muda sampai bisa bersaing. Mommy memiliki hutang terutama kepada Cla, jika Sisi dia bahagia bersama Varel." Viana mengusap air matanya.
Vira akan membalas kebaikan Clara dengan menjaga putri semata wayangnya, Viana bisa mengucapkan terima kasih kepada Lin, karena sudah lahir menjadi pengganti Clara.
"Mom, kenapa bisa mempercayai Mami dan Bunda yang sebenarnya hanya orang asing?"
Viana langsung tertawa, Reva gadis yang menyerupai dirinya sangat kasar, heboh dan yang paling utama anaknya jujur. Reva memiliki pendirian, juga sangat penyayang.
Jum wanita polos, tidak bisa diam. Viana berpikir Jum akan jadi korban perjodohan siti Nurbaya melihat tingkahnya yang selalu membuat heboh dengan kepolosannya.
"Mommy melihat Reva dan Jum seperti cahaya tempat Mommy bersandar selain Daddy, mereka alasan mommy ingin menjadi wanita baik." Vi meminta Vira beristirahat, mereka akan melanjutkan cerita saat Vira bangun dari tidur, karena sekarang Vira tidak boleh banyak bergerak.
"Mommy, Vira mempunyai satu pertanyaan lagi? seandainya bukan Daddy siapa pria yang mommy percaya?"
"Bisma, meksipun Bima sangat baik, mommy tidak sebaik Mami yang bisa menerima anaknya." Vi menutup mulutnya.
"Sebaiknya itulah Mami sampai Mommy juga mengaguminya."
Viana menganggukkan kepalanya, Reva wanita hebat yang mencintai dan sangat menyayangi Windy.
"Kenapa harus Ayah Bisma?"
"Karena dia mirip Bima." Vi menarik selimut mencium kening putrinya.
"Ayah pria baik sama seperti Daddy dan Papi."
"Tentu sayang, Ayah penyelamatan Mommy dan Ravi sehingga dia mendapatkan kebahagiaan dari wanita terbaik. Vira harus kuat, Mommy sayang Vira." Vi mencium perut Vira, mengusapnya lembut.
Mata Vira terpejam untuk beristirahat, Vi hanya duduk menemani putrinya sampai tertidur.
__ADS_1
***
Done 2 bab