
Di depan ruang tunggu masih tegang, Erik membuka pintu perlahan melihat satu-persatu wajah keluarganya yang menahan air mata.
Viana, Reva dan Jum langsung saling genggam. Mereka semua siap dengan hasil akhir.
Erik mengusap matanya, melihat waktu operasi yang terbilang cepat hanya butuh waktu tiga jam, sedangkan mengangkat bayi kurang dari lima menit.
"Rik, bagaimana keadaan Vira?" Rama maju ke depan, menatap Erik sambil menepuk pundaknya.
"Daddy, cie jadi kakek lagi." Erik tersenyum, tidak ada yang merespon tawa Erik.
Keluarganya yang biasanya heboh dan ceria tidak ada respon, bahkan yang keluar tetesan air mata.
Ravi yang biasanya paling berisik meneteskan air matanya, memukul Erik yang masih bisa bercanda di suasana tegang.
Erik berdehem, memutuskan masuk lagi ke dalam. Mengintip keluarga yang menangis sesenggukan.
Senyuman Erik terlihat, Billa juga mendekat langsung memeluk suaminya melihat keluarga mereka menangis semua.
"Kamu saja yang memberikan kabar baik sayang, kali ini keluarga kita sedang tegang. Ada tiga nyawa yang sedang dipertaruhkan." Senyuman Erik terlihat, memuji istrinya yang berani mengambil resiko, padahal Billa tahu, jika gagal nyawa sahabat, saudaranya yang menjadi taruhan.
Erik menghapus air mata istrinya, meminta maaf karena sudah mengeluarkan kata kasar sampai membentak.
"Maafkan kak Erik Billa, aku hanya manusia biasa yang terkadang lepas kontrol. Aku mencintai kamu."
"Billa juga minta maaf, semakin hari semakin baper." Billa tersenyum memeluk suaminya.
Dokter yang masih menangani Vira dan twins hanya tersenyum dan menundukkan kepala melihat pasangan suami istri yang memiliki waktu untuk mengatakan cinta.
Billa melangkah keluar, melihat Mommy dan Mami yang menangis histeris.
"Mommy, Mami kak Vira dan twins V selamat." Billa menatap semuanya yang langsung menatap tajam.
"Vira and twins selamat, kenapa kalian menangis?" Billa mengaruk kepalanya.
Suasana hening, teriak langsung terdengar. Billa menutup telinganya sambil tertawa melihat semuanya berpelukan.
Bima dan Rama langsung sujud syukur, Ravi dan Tian berpelukan mengucapakan Alhamdulillah.
Winda, Bella, Kasih, Windy langsung memeluk Billa mengucapkan syukur karena Vira dan twins dalam keadaan baik-baik saja.
Steven dan Bisma juga bernafas lega, tersenyum mendengar kabar baik.
"Kenapa memukul kak Erik?"
"Dia mengatakan selamat menjadi kakek, kita pikir Vira dalam keadaan tidak baik." Ravi tersenyum mengusap air matanya, menggunakan baju Kasih untuk membersihkan ingus yang keluar dari hidungnya.
"Ye ye kita jadi nenek lagi." Viana tertawa joget-joget bersama Reva membuat Jum geli.
__ADS_1
Erik membuka pintu, tersenyum melihat semuanya tersenyum. Rama langsung menarik Erik memeluknya erat meminta maaf atas kesalahpahaman.
"Kak Erik I love you." Ravi ingin memeluk.
"Jijik." Erik mendorong Ravi menjauhinya.
Tama dan Binar baru datang setelah meletakkan anak-anak di kamar Lin, mengucapkan selamat untuk dua keluarga yang menambah dua cucu.
"Tunggu, mereka prematur. Apa kejadian Vivi bisa saja terulang kembali?" Winda menatap Billa dan Erik yang sangat yakin langsung menggeleng.
"Winda, kamu pasti langsung jatuh cinta saat melihat mereka. Twins V paling cantik dari semua bayi yang lahir sebelumnya, padahal mereka prematur." Billa menutup mulutnya saat melihat Asih, Arum, Bulan, dan Embun yang langsung balik arah lagi.
"Mampus kamu Billa." Bella tertawa melihat para cucu perempuan ngambek.
"Kak Erik, tolong." Billa menunjuk ke arah anak-anak yang tidak jadi menjenguk twins.
Viana tertawa melihat cucu-cucu mereka yang melangkah pergi, menatap Rama yang mengusap air matanya.
Vi memeluk suaminya, memberikan selamat karena menjadi kakek lagi.
"Bagaimana keadaan Wildan?" Bima tidak melihat putranya keluar.
Erik langsung tertawa kuat, menceritakan keadaan Wildan yang mirip anak kecil terus menangis.
Reputasi Wildan sebagai manusia es, pria paling dingin, cuek sudah hilang. Dia sudah menjadi Papi yang super cengeng.
"Kak Wil are you okay?" Winda menatap kakaknya.
"Vira belum bangun." Wildan menangis mengeluarkan suaranya.
Reva tersenyum langsung duduk di samping putranya, memeluknya erat mengusap punggung putranya yang akhirnya mengerti cinta, kasih sayang itu apa.
"Sabar ya sayang, Vira membutuhkan waktu untuk beristirahat setelah mempertaruhkan nyawanya." Reva meminta Wildan lebih menghargai wanita, mencintai istri lebih tulus lagi, menjaga anak-anak lebih lagi.
Reva juga belum mengerti arti tulus mencintai, tapi saat melahirkan menyusui, lelah membesarkan dengan emosi, tangis, canda dan tawa.
Lelaki tidak akan merasakan sakitnya melahirkan, sulitnya mengandung, beratnya menyusui, sulitnya saat anak rewel tidak bisa tidur, saat mereka sakit.
"Mami tahu kamu masih muda, tapi belajar menjadi ayah yang lebih sabar, dewasa, dan menjadi suami yang menjaga perasaan istri. Sudah jangan menangis seperti anak kecil." Reva menghapus air mata putranya.
"Maafkan Wildan ya Mami, mungkin ada kata Wildan yang menyinggung perasaan Mami."
"Iya nak, melihat kamu bahagia hilang semua rasa sakit. Mami menjadi seorang ibu yang paling bahagia, jaga dengan baik kedua putrimu. Semoga dia pendiam." Senyuman Reva terlihat berharap cucunya tidak seperti Vira.
"Aku berharap mereka nakal, Wildan sudah terbiasa menjaga empat wanita pengacau. Sekarang mereka sudah dijaga pawang masing-masing."
Ar tersenyum mengucapkan selamat, memberikan air minum agar perasaan Wildan lebih tenang.
__ADS_1
"Wil, mereka bukan empat lagi. Ada Rasih, Bening, Embun, Bulan, Arum, ditambah twins V. Jumlah mereka semakin banyak." Ar tersenyum menghitung ada tujuh penerus.
Wildan menghabiskan air minumnya, mengubah niatnya berharap anaknya pendiam saja.
Mengurus empat saja hampir porak poranda, bagaimana jadinya jika tujuh.
Pintu terbuka, dua bayi yang sudah ada di dalam tabung inkubator keluar, suara rusuh terdengar melihat dua bayi cantik.
Kulit mereka putih, rambutnya lebat, hidungnya mancung, ada lesung pipi mirip Wildan.
"Bibit yang unggul, Wildan versi perempuan." Binar ingin sekali menyentuh.
"Kenapa mirip sekali?" Tama menatap Wildan.
"Mereka kembar identik, gemes." Winda ingin memeluknya.
"Subhanallah, cantiknya makhluk ciptaan mu ya Allah." Windy memeluk tabung inkubator, ingin menyentuh Twins V.
Di dalam kamar Lin menatap binggung para wanita yang cemberut, sedangkan para pria masih tidur.
"Asih jauh lebih cantik."
"Katanya twins V lebih cantik dari kalian?" Ning mengunyah kue meminta cucu perempuan Prasetya sabar.
"Diam kak Ning."
"Kenapa?"
"Embun yang paling cantik." Bibir Embun monyong.
Asih mengajari Bulan dan Arum untuk marah, jangan mau melihat twins yang dipuji-puji.
Erlin tertawa melihat Arum dan Bulan yang sok tahu menganggukkan kepalanya, berpura-pura marah padahal tidak paham.
"Kalian bersaudara, tidak boleh saling iri dan dengki." Lin tersenyum, dirinya tidak memiliki saudara, teman dan keluarga.
Setiap hati Lin kesepian, membutuhkan sosok kakak ataupun adik.
"Pokoknya kita marah." Asih menatap tajam.
"Rum duga."
"Juga Arum bicara kamu tidak jelas." Em menatap tajam.
"Rum asi ecil." Bibir Bulan monyong membela adiknya.
***
__ADS_1
DONE DUA BAB.