
Senyuman Wildan terlihat menatap tangannya berdarah, tangan yang baru saja menyambut tangan seorang ayah.
Sejak awal pernikahan memang tidak selancar yang Wildan harapkan, berkali-kali tangannya hampir terluka.
Ravi langsung membungkus tangan Wildan yang terluka, langsung meminta tim keamanan mengecek kembali keadaan sekitar hotel.
"Siapa yang menyerang kamu?" Ravi menyentuh pundak Wildan, mengecek tumbuh Wil memastikan tidak ada luka lain.
"Tidak tahu, kita lupakan saja." Wildan langsung mengambil cincin, menggenggam erat langsung melangkah masuk.
Ravi yakin pasti ada sesuatu yang terjadi, tapi Wildan tidak akan pernah mengatakan apapun.
Tatapan mata Wildan terlihat penuh amarah, tetapi berusaha untuk menahan diri. Tidak ingin membuat khawatir keluarga.
Di dalam kamar pengantin Wildan duduk seorang diri mengobati luka tangannya yang tersayat pisau, menatap cincin yang dia persiapan untuk Vira.
Suara ketukan pintu tidak Wildan hiraukan, dia memilih untuk tidur di atas bunga mawar yang seharusnya menjadi tempat tidurnya bersama Vira setelah pesta.
Perasaan Wildan tidak nyaman, hatinya terasa perih dengan berita yang dia dengarkan.
Mata Wildan tertutup sambil menggenggam cincin yang masih penuh darah, cincin yang sangat Vira sukai sejak mereka kecil.
Wildan sengaja memesan jauh hari sesuai pesanan Vira saat dia kecil yang meminta Wildan melamarnya menggunakan cincin, tapi kenyataannya Vira juga yang membuangnya bahkan berhubungan dengan lelaki gila.
Seluruh keluarga sedang sibuk membicarakan acara pesta malam, tidak ada yang mengetahui jika Wildan diserang bahkan tangannya terluka.
Ravi tidak memberitahu, karena tidak ingin ada yang khawatir sehingga membuat suasana semakin heboh.
***
Vira sudah di make up dengan sangat cantik, senyuman terlihat sangat indah dengan gaun yang bagaikan seorang ratu.
Di depan kaca Vira tidak berhenti berkaca memuji kecantikan dirinya sendiri, Viana secara langsung yang membuatkan baju untuk putrinya.
Bukan hanya Vira yang sudah dandan dengan cantik, tapi seluruh keluarga juga sudah bersiap.
"Ada yang melihat Wildan tidak? dia tidak ada di kamarnya." Tian menatap Viana yang kaget.
"Kamar pengantin mungkin Tian, soalnya kata Ravi dia ke sana."
Bastian langsung melangkah pergi, tersenyum melihat Vira yang sangat cantik. Memuji kecantikan Vira yang luar biasa.
Wildan sudah melangkah ke luar kamar pengantin, tersenyum melihat Tian yang melangkah mendekatinya.
__ADS_1
"Kamu dari mana Wil? dicari sama Papi. Di luar sudah ramai tamu undangan." Tian menepuk pundak Wildan yang hanya tersenyum melangkah ke tempat pesta.
Tian merasakan keanehan dari sikap Wildan yang semakin dingin, menatap tangannya yang terbalut kain putih.
"Ada masalah cerita Wil, bukan untuk mengumbar aib tetapi untuk menemukan solusi." Tian merangkul pundak Wildan, menepuknya untuk menenangkan.
Senyuman Wildan terlihat, mungkin dirinya belum dewasa dalam masalah berhubungan sehingga hatinya terasa berat menerima tuduhan orang.
"Kak, bagaimana perasaan kak Tian jika seseorang mengatakan jika istri Kak Tian ... lupakan saja." Wildan menarik nafas panjang, dia tidak ingin membahasnya lagi.
Bastian mengerti maksud ucapan Wildan, mentalnya masih sangat lemah juga tidak mengerti apapun soal perasaan cinta.
Usia Wildan juga masih sangat muda, sehingga dia mengalami kesulitan jika membahas soal perasaan.
"Wil, kenapa kamu harus berpikir keras dengan ucapan orang? semua itu tidak akan memberikan solusi, tapi menyakiti hati kamu. Saran Kak Tian kamu harus mempercayai diri sendiri." Senyuman Tian terlihat, melangkah bersama ke arah pesta yang memang sudah sangat ramai.
"Percaya diri sendiri?"
"Iya, tidak ada satu orangpun di luar sana yang mengenal Vira sebaik kamu. Tidak ada orang yang bisa membuat Vira bahagia kecuali kamu. Wildan usia Vira lebih tua dari kamu, tapi bedanya kamu anak pertama, sedangkan Vira anak bungsu yang memiliki sepenuhnya cinta keluarga. Jika hanya karena ucapan orang luar membuat hati kamu goyah, rumah tangga kalian seperti kapal yang tidak memiliki nahkodanya terombang-ambing di laut lepas." Tian langsung melangkah pergi, menggendong Embun yang berada di gendongan pengasuhnya.
Senyuman Wildan muncul, ucapan Tian ada benarnya. Tidak ada gunanya Wildan memikirkan ucapan orang luar, Vira istrinya sudah menjadi haknya untuk membimbing Vira dengan caranya bukan dengan mempercayai ucapan orang lain.
Wildan langsung melangkah menemui kedua orangtuanya yang sudah berada di atas pelaminan menyambut tamu undangan
Senyuman Ar terlihat, Winda juga belum muncul. Tidak tahu apa yang Winda lakukan yang pasti, tidak kalah dengan Vira yang membuat masalah.
"Hanya tergores kak, luka kecil."
Ar tersenyum mempercayai ucapan Wildan yang tidak akan mengakui jika dirinya sedang terluka.
Di depan mereka sudah penuh tamu yang mulai berdatangan, hampir seluruh yang datang orang berpengaruh baik dalam dan luar negeri.
Siapa yang tidak mengenal Wildan sebagai pemimpin BB yang baru, dia juga melebihi kehebatan Papinya yang memang raja bisnis.
Kehadiran Tian juga menambah ramai, karena Tian di atas Wildan. Pernikahan gabungan putra putri Bramasta membuat banyak orang bersemangat untuk datang dan mengucapkan selamat atas bergabungnya dua keluarga.
Rama Prasetya juga mengumumkan soal adik sepupunya yang menikahi Putri Bramasta, tanpa Rama perjelas, Ar juga sudah terkenal sepak terjangnya.
Suara langkah kaki Vira terdengar, suara sorakan terdengar menyambut kedatangan Vira yang cantiknya tidak ada duanya.
Wildan mengulurkan tangannya untuk menyambut Vira agar berdiri di sampingnya. Tatapan Vira tajam melihat ke arah tangan Wildan yang terbalut.
"Kenapa tangan kamu?"
__ADS_1
"Luka, terkena goresan."
Vira menyentuh tangan Wildan, tidak mempercayai ucapan suami brondongnya.
"Ada yang menyerang Ayang Wil?" Vira menahan tawa.
Viana langsung mual, Wildan dan Vira langsung melihat Vi yang merasakan geli mendengar ucapan Vira.
Ar menahan tawa, merasa lucu melihat tingkah Vira yang hobi menggoda Wildan yang memang tidak mengetahui apapun soal cinta.
Kehebohan terlihat menatap Wildan dan Vira yang berbicara berdekatan saling berbisik, karena suara musik yang terdengar.
Kepala Wildan tertunduk menahan malu mendengar ejekan banyak orang yang menggodanya, Vira merasa tidak enak melihat cincin yang terlempar.
"Cincin sudah ketemu belum?"
"Belum."
"Nanti Vira bantu cari, tapi jangan marah jika tidak ketemu." Tatapan mata Vira terlihat, tersenyum menatap ketampanan Wildan.
"Jangan dicari lagi, nanti beli baru."
"Beda Wil, nanti kita cari dulu." Vira tersenyum menyentuh tangan Wildan yang terluka.
"Jangan pernah bertemu dengan pria itu lagi, dia pria gila yang membawa senjata."
"Hubungan kami sudah lama berakhir, lagian tidak pacaran. Vira hanya memanfaatkan dia, tapi tenang saja tidak akan menemuinya tanpa izin." Kedua tangan Vira terlipat meminta maaf.
Senyuman Wildan terlihat, memaafkan Vira yang merasa bersalah. Wildan sangat mempercayai Vira dari pada orang lain, mereka sudah mengenal sejak kecil tidak mungkin satu saja tindakan Vira tidak dia ketahui.
"Wil?"
"Apa?"
"Vira cantik tidak?"
"Menurut kamu?" Senyuman Wildan terlihat, kecantikan Vira tidak bisa dia utarakan dengan kata-kata.
"Cantik Vira atau wanita di depan sana?"
"Aku tidak bisa melihat dengan jelas, mungkin mata aku sudah rabun." Wildan hanya menatap wajah Vira.
"Bukan rabun, tapi kecantikan Vira sudah menutupi kedua mata kamu." Vira menutup mulutnya malu-malu mendengar candaannya.
__ADS_1
***
...Winda dan Ar sudah update di sebelah ya MENGEJAR CINTA OM DUREN S3...