SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PINDAH PABRIK


__ADS_3

Suara high heels Vira berbunyi, dia bolak-balik menghubungi tim di bagian pabrik, tapi tidak ada satupun yang menjawab.


"Sial, di mana kalian?" Vira berteriak kuat, Wildan yang mendengar langsung menegur membuat bibir Vira monyong, kesal melihat konflik yang tidak ada titik terangnya.


"Bella sibuk hamil, Billa mengurus anak, Winda mengurus pelakor. Vira harus mengadu kepada siapa?"


"Ayo kita ke pabrik sekarang." Wildan mengambil jas kerjanya, meminta Winda membawa tas, mengganti high heels dengan heels lebih rendah.


Vira hanya menurut saja apapun yang suaminya katakan, langsung memeluk lengan Wildan untuk melangkah keluar.


Wildan hanya pergi bersama Vira, Karan tetap di perusahaan untuk berjaga-jaga. Wildan juga sudah menghubungi Tian jika dirinya keluar kota, menitip perusahaan untuk diawasi.


Di jalanan Vira sibuk main game, dia tidak memikirkan apapun soal keadaan karyawannya di pabrik.


"Vira, kamu tidak khawatir ada korban jiwa?" Wildan tidak mengurangi sedikitpun laju mobilnya.


Senyuman Vira terlihat, tidak ada yang perlu dirinya khawatirkan. Seluruh orang yang ada di pabrik bukan orang sembarang, mereka memiliki keahlian masing-masing terutama keahlian untuk menyelamatkan diri sendiri.


"Mungkin pabrik yang terlihat bisa dilenyapkan, tapi sebenarnya yang beroperasi bukan pabrik luar.


Berkerja dengan penjahat dari beberapa belahan dunia, Vira, Winda Bella dan Billa kumpulan menjadi satu sehingga menjadi tim yang kuat dan bisa merakyat.


"Terkadang menjadi orang memiliki kelebihan sangat menyebalkan, kita dipaksa untuk menjadi Penjahat meskipun niatnya ingin menjadi orang baik." Vira tersenyum, dia memberikan kesempatan untuk orang jahat mengembangkan kemampuan mereka, membantu orang lemah, tapi ketenangan diganggu dengan munculnya banyak benalu.


Wildan hanya terdiam saja, Vira memang terlihat sangat santai. Bedanya Wildan selalu bekerja menggunakan otak, mencari sebab penyebab masalah bisa terjadi.


Sangat berbeda dengan Vira, dia akan bertindak sesuka hatinya. Jika dia mulai bosan dan terganggu dengan apapun yang mendekatinya tanpa menunggu bantuan, tidak menerima alasan langsung menyingkirkan tanpa meninggalkan jejak.


"Vira, jangan menyakiti orang yang tidak bersalah."


"Tidak ada yang bisa menilai baik dan buruknya seseorang kecuali sang pencipta, masalahnya bisa tidak menghindari hari buruk, juga nasib sial. Aku tidak berniat menyakiti siapapun, tapi siapa yang menyakiti aku, maka harus bersiap menerima hari buruk dalam hidupnya." Senyuman Vira terlihat, saat seperti ini dia merindukan sahabatnya Winda yang selalu ada di depan setiap ada konflik.


"Kita dididik dan dibesarkan dalam keluarga yang taat, jangan lupakan itu Vir." Wildan menasehati Vira sebagai seorang suami, semakin kuat dirinya, maka semakin bahaya hidupnya dan tidak akan mendapatkan ketenangan.

__ADS_1


"Vira sudah berusaha untuk mengakhiri semuanya, tapi kamu lihat sendiri. Mereka muncul mengusik ketenangan orang lain. Mommy pernah menasehati Vira, apa yang kamu lakukan, pilihan yang kamu ambil sudah menjadi jalan yang harus dilalui jika ingin mengakhiri seharunya tidak memulai." Vira menghela nafasnya, menggenggam tangan Wildan.


Sejujurnya Vira ingin hidup seperti burung yang terbang bebas, tapi kenyataannya apa yang Vira mulai sekalipun dia akhirnya, semuanya tidak sepenuhnya berakhir.


"Wil, aku ingin kuat, meskipun aku tidak pernah muncul. Alasan aku hanya satu, melindungi apapun yang harus aku lindungi, terutama para sahabat, tim yang bekerja." Vira mengakui jika dirinya takut, sangat takut jika dia bisa kembali ke masa lalu mungkin memilih tidak memulai.


Wildan hanya tersenyum, mengusap kepala istrinya yang sedang cemberut. Wildan sangat mengenal baik Vira, jika dia kembali ke masa lalu tetap akan mengambil jalan yang sama, mutlak tidak mungkin bisa dirubah.


"Kamu tidak perlu takut, ada aku." Senyuman kedua terlihat. Vira mencubit pipi Wildan yang tidak ingin menatapnya.


Mobil tiba di pabrik, api sudah mati sedangkan di dalam tidak ditemukan satupun korban. Vira dan Wildan hanya diam saja di dalam mobil.


"Seluruh orang menghilang dari pabrik, berarti ada jalan rahasia." Wildan menjalankan mobilnya membiarkan penyelidikan.


"Berhenti di rumah sakit." Vira tersenyum meminta Wildan masuk ke gerbang rahasia.


Suasana gelap, lampu mobil dimatikan. Vira langsung melangkah keluar melihat lampu redup satu persatu mulai hidup.


"Kalian baik-baik saja?"


"Ada pengkhianatan di antara kita, ke manapun pergi tetap akan dikejar. Cari pengkhianatan, lalu singkirkan. Ingat ada ribuan di belahan dunia membutuhkan kita, demi hak mereka singkirkan satu benalu agar bisa tumbuh." Vira tersenyum sinis, menatap puluhan orang yang menundukkan kepalanya.


"Bagaimana cara kami menangkapnya?"


"Pilihan hanya ada dua, melarikan diri lalu bunuh diri, atau mengakui dan menerima hukuman. Keduanya tidak ada yang menguntungkan, tetap terluka." Vira kembali ke mobil, hanya memberi waktu 1x24jam.


Wildan menjalankan mobil kembali, keluarga dari gedung rumah sakit yang masih beroperasi dengan baik.


Wildan menatap tajam Vira, ternyata empat wanita yang mengendalikan Grup V tidak pernah diketahui identitasnya.


"Apa yang akan kamu lakukan soal pabrik?"


"Biarkan saja, aku hanya perlu meminta Tim di perusahaan lebih memperketat keamanan. Saatnya aku yang menyerang Fly, lihat saja bisnis dia tidak akan jalan." Vira menatap tajam ponselnya.

__ADS_1


Panggilan video dengan empat wanita, Vira menceritakan kejadian di pabrik kecurigaan soal bocoran informasi.


Bella meminta Vira santai, bocornya informasi bukan hal baru bahkan pernah terjadi. Mereka hanya perlu menemukan dalangnya lalu melenyapkan dari muka bumi.


Winda hanya tertawa melihat Vira mirip wanita bodoh, bergerak sendiri membuat otaknya macet tidak berfungsi dengan baik.


[Fly ada di sana Vir, hati-hati suami kamu nanti diculik. Dia menggunakan ilmu pelet.] Winda tertawa membuat Vira tersenyum, sahabat konyolnya masih bisa mentertawakan dirinya.


[Win, hati-hati jangan sampai kamu tidur suami kamu pindah kamar. Aisyah memiliki ilmu jaran goyang.] Vira tertawa diikuti yang lainnya.


Wildan hanya terdiam, saat ada masalah mereka masih sibuk tertawa tidak ada niat untuk menyelesaikan kekacauan.


Kepala Wildan yang berdenyut, Bella sudah menemukan lokasi Fly bahkan target pabrik mereka.


Vira memberikan ciuman jarak jauh, kepada hacker bumil yang keahlian masih mereka akui.


"Bukannya tadi kalian asik tertawa, kenapa bisa cepat sekali tahu lokasi?"


"Suami ku sayang, kamu pria jenius kenapa mendadak bodoh. Kami terkenal wajah tersenyum tangan membunuh. Makanya jangan macam-macam, mungkin saja aku sedang mencium kamu, ternyata tangan aku sudah mengeluarkan ginjal." Vira tertawa melihat wajah panik Wildan, padahal dirinya hanya bercanda.


Wildan yang tidak terbiasa dengan candaan berpikir jelek, Vira mirip badut Joker yang menakutkan.


"Kita ke perusahaan sekarang."


"Tidak mau, kita ke hotel sekarang."


"Vira, jangan bercanda."


"Apa? memangnya kalau ke hotel kita ingin membuat anak, Vira ada pekerjaan. Pikiran kamu nakal Wil."


"Vira." Wildan mulai kesal.


Melihat Wildan ngambek Vira hanya tertawa, karena Wildan sangat polos.

__ADS_1


***


__ADS_2