
Dua bocah kembar masuk kelas bersama Arum dan Bulan, keempat duduk di tempat masing-masing.
"Virdan di mana Rum?"
"Pindah kelas, dia masuk daftar siswa pintar bersama kak Erwin dan Bintang." Arum merasa sedih, karena kedua kakaknya sudah pindah kelas sedangkan dirinya harus menjaga twins V dan Bulan yang selalu bertengkar.
"Kenapa kalian selalu datangnya telat? apa tidak punya mobil?" seorang anak kecil mengejek Vio yang sedang menulis di bukunya.
"Jangankan mobil, pesawat juga kita punya, tapi pesawat jika dibawa ke sini sekolahan ini hancur." Bibir Vani monyong, matanya tajam.
Arum tersenyum sinis, menepuk pundak Vani agar diam. Guru datang dan mulai belajar.
Tidak ada yang berani menegur empat wanita yang ada di belakang sekali, mereka sibuk dengan mainan masing-masing.
Suara dengkuran Bulan juga terdengar, iler juga sudah menempel di meja belajarnya. Vani juga sibuk menggambar sedangkan Vio melakukan perawatan kuku.
Hanya Arum yang duduk diam memperhatikan guru sambil menggunakan kacamata hitam, Arum bukan belajar tapi tidur.
Suara ketukan pintu terdengar, Asih melangkah masuk mengetuk meja Arum yang membuka kacamatanya perlahan.
Asih membisikan sesuatu, Arum langsung berdiri dan melangkah mengikuti Asih keluar kelas.
"Ibu guru Arum izin keluar sebentar." Senyuman Arum terlihat, melambaikan tangannya.
Vio sudah berlari kencang, Vani langsung mempercepat gambarnya agar bisa menyusul. Setelah selesai langsung berdiri, menjambak rambut Bulan yang langsung bangun.
"Siapa yang berani menjambak aku?" Bulan langsung melangkah keluar saat melihat saudaranya sudah tidak ada lagi di kelas.
"Ada apa ya kak Lan? kenapa kak Asih ada di sekolah kita?" Vani berlari kecil saat di lapangan ada pertarungan.
"Kak Embun bertengkar lagi? sama siapa?" Bulan langsung berlari melihat Em sudah bergulung menjadi satu dengan kakak kelasnya.
Asih dan Arum sudah menatap tajam, Ning sudah menangis melihat adiknya berkelahi dengan laki-laki.
"Wow, ayo kak Em hajar terus. Vio bantu doa saja." Suara besar Vio terdengar menyemangati kakaknya.
Embun langsung berdiri, satu laki-laki babak belur. Seorang wanita ingin mendorong Em, tapi Asih sudah menendang lebih dulu.
Pertarungan kembali terjadi, Asih bertengkar dengan tiga wanita. Bulan juga sudah maju membantu Rasih berkelahi.
Guru-guru mulai berdatangan mencoba menghentikan pertengkaran, tidak ada yang bisa menghentikan Rasih bahkan guru juga dia pukul.
"Kak Arum tidak ingin membantu mereka?" Vani kebingungan melihat lapangan sudah ramai.
"Kamu pikir sebesar apa tubuh aku, jangan cari masalah." Tatapan Arum tajam, meminta Vio mendekatinya.
"Kita masih kecil tidak boleh bertengkar, tapi kenapa kak Bulan juga bertengkar?" Kening Vio berkerut melihat Bulan terpental, kepalanya berdarah.
Tatapan Arum langsung tajam, mencoba tarik nafas dan buang nafas untuk mengendalikan emosinya.
__ADS_1
"Bulan! selangkah lagi kamu maju, aku yang akan memukul kamu." Arum berteriak kuat, Bulan langsung melangkah mundur.
Arum meminta Vio dan Vani menjaga Bulan, guru sudah ada yang menangis melihat Rasih dan salah satu siswa sulit dilepaskan.
"Kak Asih berhenti, kak dengarkan Arum." Suara teriakan besar, Rasih melepaskan perlahan.
"Siapa yang membuat kepala Bulan berdarah?" Arum melihat beberapa orang yang menatapnya sinis.
"Salah dia sendiri, masih kecil tapi sok jagoan."
Em langsung ingin maju, tapi Arum menatap tajam. Ning sudah menahan tangan Em.
Rasih ditarik menjauh, langsung menatap Arum yang menendang kaki lelaki yang jauh lebih tinggi sampai berlutut, melayangkan pukulan kuat, dan tendangan memutar.
Vio dan Vani langsung tepuk tangan, anak-anak dipisahkan. Lelaki yang mengeluarkan darah dari hidung dan mulut menatap Arum tajam bersumpah akan membalasnya.
Sekolah anak-anak orang kaya juga berkuasa menjadi satu, dari tingkat sekolah usia tiga tahun sampai sekolah tingkat atas menjadi satu.
Keluarga Bramasta pemilik dari sekolahan, dan memang membiarkan sekolah untuk umum, tanpa memandang status.
Namun sekolah yang dibangun dengan mewahnya, dihuni oleh orang-orang berpangkat juga memiliki status besar salah satunya keluarga terpandang.
Guru langsung menghubungi seluruh orang tua murid yang terlibat, Arum menatap Em yang duduk santai membersihkan bibirnya yang berdarah.
"Kenapa kak Em bertengkar? kita sudah tanda tangan surat perjanjian untuk tidak bertengkar." Arum menaikan nada bicaranya.
"Kak Em membuat kita semua dalam masalah, kamu juga Bulan kenapa ikut-ikutan?" Arum melihat wajah Bulan yang membiru.
"Apa yang akan kak Asih jelaskan kepada keluarga? usia kak Asih berapa sih? kita semua bisa ditahan untuk tidak latihan beladiri lagi karena membuat masalah lagi." Tendangan Arum kuat menghantam kursi.
Asih tersenyum, dia tahu Arum juga menahan emosi. Tidak perduli sebaik apapun mereka, anak-anak yang memiliki status tinggi akan terus datang dan mencoba menjatuhkan.
"Kamu tahu itu Arum, kita tidak harus berpura-pura tidak tahu. Alasan Umi Winda, mommy Kasih, Mami Vira dan Bunda Bella mengajari beladiri untuk kita saling melindungi. Kita akan dikurung di rumah masing-masing selama satu minggu, bertahanlah untuk itu." Asih menepuk pundak adiknya.
"Apa yang harus Arum katakan kepada Abi?"
"Kita tidak salah Rum, mereka yang mulai. Kamu mengkhawatirkan apa? kita juga terluka, susun rencana untuk balas dendam." Em meniup tangannya yang berdarah.
"Vio tidak mau dikurung di rumah, tapi Vio juga tidak mau latihan beladiri, soalnya percuma tidak pernah mendapatkan bagian untuk bertarung." Tatapan Vio kebingungan, dia juga ingin memukul orang, tapi lawannya terlalu besar.
"Kak Vion hanya bisa melawan Vani." Suara tawa Vani terdengar.
"Apa yang membuat kamu tertawa Vani?" Em menatap tajam.
"Kak Ning menangis terus, dia selalu ketakutan padahal ini menyenangkan."
Arum langsung melangkah pergi, tidak perduli dengan panggilan guru untuk menunggu orang tuanya.
Asih langsung mengejar Arum, menarik tangannya untuk duduk. Tangan Arum berdarah dan kakinya juga membengkak karena terlalu kuat menendang.
__ADS_1
"Tenaga kamu semakin kuat Arum, tapi lain kali tetap diam saja kak Asih yang akan mengalahkan mereka." Asih meniup tangan adiknya.
"Kak Asih maafkan Arum, sulit sekali mengendalikan amarah. Arum masih kecil dan. belum boleh bertarung."
Asih memeluk adiknya, usia mereka terpaut empat tahun lebih. Saat seumuran Arum, Asih masih sibuk bermain, menunggu kelahiran adik-adiknya.
Dirinya bertambah besar, mengenal dunia luar dan selalu ingin unggul, melibatkan adik-adik kecilnya.
"Melihat Em bergulung menjadi satu ingin sekali mengamuk, makanya kak Asih mencari kamu untuk menahan Bulan, Vio dan Vani."
"Kak Asih takut mereka menggunakan pentungan, dan membahayakan nyawa." Arum mengacak rambutnya baru terpikirkan.
Asih mengangguk kepalanya, Bulan selalu emosional, dia tidak akan menyadari rasa sakit, sedangkan Vio dan Vani belum berpikir jauh.
"Kakak, para penyihir sudah datang." Vio berlari mengikuti Em yang menghindari orang tua
mereka.
Semuanya langsung berlari, hanya Ning yang masih duduk sambil menangis, sedangkan yang lainnya menghilang.
***
follow Ig Vhiaazara
BUAT SERU-SERUAN AJA, BANTU LINDUNGI YA.
PILIH TOON CARNAVAL Klik AJA
LANJUT AULA KEHORMATAN
CARI KARYA BEBAS PILIH
SUAMIKU MASIH ABG
ISTRI MUDA PAK POLISI
KAWAN ATAU LAWAN
KLIK LINDUNGI 🤭🤭🤭🤣🤣
TERIMA KASIH YANG SUDAH IKUTAN
__ADS_1