SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 SIBUK BEKERJA


__ADS_3

Suara langkah kaki Vira menuruni tangga, langsung menarik kursi duduk di samping Dewa. Vira sangat bahagia karena sudah tiga hari Dewa tinggal bersama mereka.


"Makan apa Dewa, Vira yang akan menyiapkan."


"Jangan Vira, aku bisa mengambil sendiri." Dewa tersenyum.


Tatapan mata Dewa melihat ke arah Bella, Winda, Yusuf juga Randu, tapi sudah tiga hari Dewa tidak melihat Wildan.


Selesai makan Dewa menahan Yusuf, menatapnya tajam.


"Kak Yusuf di mana Wildan?"


"Ada." Yusuf mengambil piringnya langsung mencucinya.


"Kenapa dia tidak pernah terlihat? apa mungkin dia manusia vampir?" Randu menatap serius.


"Jika kamu tidak mengenal dia jangan bicara sembarangan." Yusuf tersenyum menepuk pundak Randu.


"Di mana memangnya Wildan?" Vira melangkah mengikuti Yusuf.


"Di dalam." Yusuf menunjukkan ruangan Wildan.


Vira langsung melangkah masuk, melihat Wildan duduk di kursi menggunakan kacamata bening, mengotak-atik komputer.


Tangan Vira dilipatkan di dada melihat Wildan yang sibuk, terlihat beberapa cemilan di dekat Wildan.


"Kamu sudah makan Wil? sudah tiga hari tidak terlihat." Vira menarik kursi duduk di samping Wildan.


Mata Wildan melihat rekaman beberapa daerah, pertanyaan Vira tidak direspon sama sekali.


"Wildan bekerja boleh, tapi jangan lupa waktu nanti kamu sakit." Vira langsung melangkah keluar, melihat Winda, Bella, Yusuf, Dewa dan Randu berada di depan pintu.


"Apa yang kalian tunggu?" Vira melihat arah telunjuk.


Vira tersenyum, di depan pintu di larang masuk. Vira tidak membacanya asal masuk saja.


"Kak Wil di dalam Vir?"


"Iyalah, sudah berlumut dia di dalam sana."


Vira langsung melangkah mengambil makan untuk Wildan, langsung melangkah masuk kembali.


"Boleh aku ikut masuk?" Dewa menahan Vira.


"Maaf ayang, dibaca. Vira takutnya setan yang ada di dalam mengamuk, demi keselamatan ayang biarkan Vira yang berkorban." Vira melangkah masuk.


"Uweeekk." Bella dan Winda langsung ingin muntah.


Dewa tersenyum melihat Bella yang langsung melotot, Vira masuk seorang diri masih melihat Wildan tidak berpindah tempat, tangannya masih sibuk menari di atas keyboard.


"Wildan makan dulu." Vira memaksa mulut Wildan terbuka, langsung memasukkan makanan.


Mata Wildan melotot meminta Vira menjauh, langsung fokus lagi ke arah komputernya.


"Buka mulut atau aku masukan ke dalam hidung?" Vira menahan tawa.

__ADS_1


"Belum habis di dalam mulut." Wildan mengunyah makanan, sesekali melirik Vira lalu fokus kembali ke arah komputernya.


"Buka mulutnya." Vira tersenyum melihat Wildan menurut, meskipun tangannya masih sibuk.


"Apa yang kamu ...."


"Kunyah dulu makanannya, baru bicara." Vira mengusap kepala Wildan seperti anak kecil.


Makanan habis satu piring, susu segelas, air pintu banyak membuat Wildan hampir muntah.


"Alhamdulillah kenyang." Vira tersenyum menatap Wildan yang terdiam menatapnya.


"Vira kamu bisa membaca tulisan di depan?"


"Bisa, di larang masuk!"


"Terus kenapa masuk?"


"Tidak disebutkan siapa yang di larang." Vira tersenyum imut.


Wildan terdiam langsung kembali fokus ke depan komputernya, Vira menggelengkan kepalanya melihat Wildan yang memang terlalu berlebihan jika melakukan sesuatu.


Lama Vira duduk di belakang Wildan, menghabiskan cemilan yang Wildan makan. Vira kagum melihat sosok Wildan yang tidak pernah bicara tidak sopan dalam keadaan kesal.


"Wil."


"Emh." Wildan langsung menoleh ke arah Vira.


"Kamu tidak lelah?"


"Wil, cobalah bekerja dalam tim. Kenapa kamu harus menyelesaikan sendiri? kamu memiliki banyak orang." Vira duduk mendekati Wildan.


"Aku tidak mempercayai siapapun Vira, sedikit saja melakukan kesalahan akan ada nyawa yang melayang. Aku tidak mau." Wildan kembali melihat layar di depannya.


Vira tersenyum memeluk Wildan dari belakang, meletakan kepalanya di bahu Wildan sambil tersenyum.


"Wildan, kamu memang hebat tapi lebih hebat jika kamu juga mempercayai tim kamu. Jangan memaksa diri, saat bersama tim kita bisa saling mengandalkan dan bertukar pikiran."


"Vir, jangan terlalu dekat nanti ada yang salah paham."


"Kenapa? Wildan kenapa kamu deg-degan?" Vira tertawa lucu langsung melepaskan Wildan.


Wildan mengusap dadanya, memalingkan wajahnya dari Vira tersenyum melihat tingkah Vira yang mengejeknya.


Pintu terbuka, Bella masuk bersama yang lainnya. Winda langsung mendekati akuarium melihat ikan Wildan.


"Kak Wil ikannya mati?" Winda berteriak.


"Bukan mati Winda, mereka memang bukan ikan asli."


"Oh."


Wildan menghela nafasnya, Yusuf berdiri di samping Wildan melihat layar Wildan menunjukkan beberapa wajah orang yang terlihat asing.


"Wil bukannya ini hasil penelitian saat lab kebakaran?" Yusuf duduk di samping Wildan.

__ADS_1


"Iya kak, Wildan tidak mengerti soal penelitian berusaha untuk memahaminya."


"Otak kamu terbuat dari apa Wildan? tidak mengerti tentang penelitian, tapi bisa menemukan yang aku cari." Randu tersenyum melihat layar.


Dewa mendekati Wildan melihat zat beracun yang membunuh kedua orang tuanya, tangan Dewa menggenggam erat menahan kesedihannya.


"Dewa, Randu jujur aku tidak mempercayai kalian berdua. Bisa saja kalian bagian mereka yang ingin balas dendam, tapi jika benar aku hanya ingin memberikan saran agar kalian berdua lebih bersatu lagi agar bisa saling melindungi."


"Kenapa mereka berniat menghentikan kita meneliti soal racun ini?"


"Jika racun sampai terdeteksi di dalam tubuh manusia yang menyebabkan mati otak mereka akan terekspos, tapi aku tidak menjamin mereka akan ditahan karena terlalu mudah untuk mencari kambing hitam. Perjalanan kalian panjang."


"Bisa dipercepat saja tidak Wil, aku lelah ingin hidup normal seperti dulu lagi." Dewa menatap Wildan.


"Bisa, jika kita berhasil menangkap mereka."


Wildan menunjukkan Akun Dewa yang ternyata milik Randu, menunjukkan identitas butterfly.


"Fly, dia juga terlibat?" Dewa menatap Wildan.


"Iya, Dia juga terlibat karena Fly orang yang membocorkan informasi, mengambil sebagian harta Ayah kalian."


"Bukannya banyak yang disita negara?" Dewa menatap Randu.


"Butterfly sudah pastikan terlibat dia masuk daftar, ada Dewa yang dikendalikan oleh Randu aku tidak tahu alasan, satu lagi dia yang belum terlihat."


"Masih ada W dan By. Siapa mereka?"


"W aku Wildan sedangkan By dia orang yang membuat teknologi utama yang mereka gunakan untuk menyembunyikan identitas." Wildan menatap Bella.


"Aku yang membuat cara agar akun terlindungi, belum sempat di publik laporannya menghilang sampai saat ini belum ditemukan."


"Oh, karena laporan File penting menghilang kak Bella sampai marah besar di perusahaan, ternyata memang membuat masalah." Winda menganggukkan kepalanya.


Wildan menunjukkan beberapa orang yang berhasil Wildan selidiki.


"Dia masih hidup?" Vira menatap pemuda tampan di layar.


"Kamu mengenal mereka Vira?"


"Tidak mengenal baik, tapi aku tahu mereka pernah mengambil alih beberapa kelompok yang cukup besar untuk melakukan bisnis ilegal."


Wildan menatap Vira, langsung menatap lima orang di layarnya.


"Dia siapa Vira?" Wildan menunjuk ke arah gambar lain.


"Tidak tahu."


"Mereka orang yang sama dengan pemuda yang kamu kenali tadi."


Semuanya kaget, tidak percaya pemuda tampan ternyata sudah keriput.


"Siapa dia?"


"Dia pemimpin yang kita cari, tunggu saja mereka akan segera muncul." Wildan tersenyum menatap sinis.

__ADS_1


***


__ADS_2