
Suasana hening setelah kepergian Delton, Lin masih menangis karena dirinya tidak sekuat Wira yang sangat dewasa.
Kursi Wira bergerak berputar-putar mendekati kakaknya yang masih menangis, tangannya masih dingin karena takut.
"Kenapa menangis? kak Lin cengeng jika bersangkutan diri sendiri, tapi jika orang lain berpura-pura berani. Sekarang sudah hampir subuh, sebaiknya pulang dan tidur." Wira memberikan tisu, langsung berputar lagi ke tempat Winda, menarik kursi membuat Winda hampir jatuh.
"Cari mati kamu Wira?"
"Sekarang Wira sudah punya kakak, kapan kita pulang ke Amerika? Wira ingin memperkenalkan kepada sepupu Wira di sana, lalu kita ke cana untuk pengangkatan pangeran." Senyuman Wira terlihat menatap kakeknya.
"Pangeran Cana akan segera dilantik?" Winda mendekati Wira yang menganggukkan kepalanya.
"Apa pangeran juga akan dijodohkan?" Vira mengerakkan kursinya mendekati Wira.
"Aunty pikir ini zaman purbakala, sekarang sudah modern Aunty, tidak ada kata perjodohan lagi, hanya saja kerajaan memilih wanita terbaik untuk pangeran yang akan menjadi pengganti raja." Tatapan Wira tajam, mejelaskan kepada Vira yang sangat penasaran.
"Apa bedanya Wira? dia tetap tidak bisa memiliki wanitanya."
"Aunty Bella bodoh sekali, apa pangeran Cana harus dinikahkan dengan mafia? lalu bagaimana nasib kerajaan Cana? pikir pakai logika." Mata Wira melotot ingin menjodohkan Bulan dengan pangeran Cana.
Bella langsung protes, tidak ingin anak-anaknya pergi jauh dari lingkungan keluarga. Lebih baik sekalian anaknya dijodohkan dengan anak tukang kebun.
Wira tertawa kuat, dia juga tidak rela jika adik-adiknya saling berjauhan. Cukup Wira saja yang selalu pergi jauh.
Anak-anak langsung berlari kencang ingin pulang ke mansion, rebutan ingin masuk lift lebih dulu.
Suara Asih dan Em teriak-teriak membuat para bodyguard kebingungan, sampai suara tangisan juga terdengar karena saling dorong.
Senyuman Wildan terlihat mengusap wajah cantik putrinya yang terbangun mendengar suara keributan, berharap anak-anak segera tumbuh dan bisa berlarian bersama yang lainnya.
Berkali-kali Wildan mencium putrinya tanpa rasa bosan, tidak menyadari kehadiran Arum yang memperhatikan Papinya.
"Tekalang Idak tayang Rum lagi, Rum anya puna Abi." Arum tersenyum langsung mendekati Ar memeluk Abinya merasakan cemburu.
Vira menatap Wildan yang kebingungan, mengejeknya karena membuat Arum kesal padahal sudah diperingati bekali-kali tidak boleh berlebihan di depan Arum.
"Sayang, Papi tetap sayang Rum, tidak akan pernah menduakan Rum." Wildan membujuk Arum yang memeluk erat Abinya.
Meskipun matanya menatap Wildan, tapi tidak memberikan jawaban sama sekali karena perasaan masih coba belajar untuk berbagi.
Ar mengusap punggung putrinya, berbisik sesuatu kepada Arum yang perlahan mencoba untuk membuka perasaan putrinya agar tidak iri terhadap saudara.
__ADS_1
"Rum nuna Abi, Dede twins V nuna Papi, tapi bagi tua. Rum nuna Abi hanya puya Rum." Arum meminta pembelaan Ar yang hanya tersenyum.
"Sayang, tidak ada yang namanya punya Arum, punya Vio, Bulan, Vani. Tidak ada yang punya siapapun. Abi sayang Arum, juga sayang twins V sayang kalian semua, rasa sayang itu tidak dibagi, tapi rata hanya bedanya twins V masih membutuhkan kasih sayang lebih, karena dia masih kecil." Ar bicara sangat pelan mengobrol dengan putrinya yang mencoba mengerti.
"Papi masih punya Rum tidak?"
"Iya, nuna Rum duga, tapi bagi cama twins dan cemuannya." Arum mencium Wildan yang bernafas lega.
Suara Arum mengomel masih terdengar, mempertanyakan acara untuk twins yang sudah dijanjikan.
Keluarga langsung bersemangat saat membicarakan pesta, mereka ingin melakukan sedekah untuk kelahiran twins V juga hari lahir Arum, Arwin, Virdan, twins V dan Lin.
"Sebaiknya kita kembali ke mansion dan besok pulang ke rumah." Bima menatap cucunya Arum yang sudah tidur di pelukan Abinya.
Semuanya melangkah pergi, Viana memeluk lengan suaminya yang menggendong Vio.
Pintu Mansion terbuka, tidak ada suara anak-anak bertengkar lagi. Suasana sangat tenang padahal dalam lift rusuh.
"Astaghfirullah Al azim." Jum tersenyum melihat semuanya terkapar di lantai, sudah terlelap tidur.
"Waktu subuh dua jam lagi, bawa anak kalian ke kamar masing-masing." Bima menatap Wira yang menjadi bantal adik-adiknya.
Raka juga dipindahkan ke kamar bersama Wira, Elang, Virdan, juga Arwin, Bintang yang sudah tidur memisah.
***
Matahari sudah bersinar Vira masih tidur mengorok karena kekurangan tidur, Wildan yang harus mengurus kedua putrinya bahkan memandikan.
Kedua putrinya sudah cantik, keduanya sangat mirip membuat Wildan sangat mengagumi keduanya.
"Good morning anak Papi, lapar ya sayang." Suara Wildan bicara sangat pelan agar tidak menggangu istrinya.
"Tunggu sebentar ya, Papi mengambil susu dulu." Wildan ingin melangkah keluar, Vio langsung menangis membuatnya harus membawa Vio.
Di dapur masih sepi, Wildan menatap Lin yang sedang membuat susu. Tatapan Lin langsung tertunduk tidak berani melihat Wildan.
"Tolong bantu Uncle membuat susu Vio, atau bantu jaga Vio."
"Emh, Uncle kenapa tua sekali? Lin gendong Vio saja." Senyuman Lin terlihat langsung menyambut Vio ke dalam gendongannya.
Wildan tersenyum melihat susu Lin ditinggalkan, langsung melangkah pergi duduk di sofa sambil mengobrol.
__ADS_1
"Lin, bantu kak Vira menjaga Vani sebentar." Vira masih acak-acakan langsung meletakkan Vani dalam pelukan Lin.
Tatapan Lin mengagumi melihat dua bayi yang sangat cantik, keduanya ada dalam pelukannya. Mata yang sangat indah, wajah yang sangat cantik.
"Maafkan kak Lin, kalian jangan marah ya?" air mata Lin menetes meminta maaf kepada twins V yang hampir dia sakiti.
Wildan dan Vira terdiam melihat Lin bercerita kepada twins V jika dia sangat takut, tatapan mata Wildan sangat mematikan sehingga membuat Lin rasanya terluka bekali-kali.
Kebencian Raka, Elang membuat Lin juga takut pada awalnya. Apalagi melihat Wira, hanya Vira yang menyayanginya berarti twins V juga menyayanginya.
"Maaf ya sayang."
"Sudah di maafkan." Wira langsung memeluk Lin dari belakang.
Senyuman Wira terlihat, dia pernah melihat moments Lin sedang memangku dua anak kecil. Mimpi yang bekali-kali datang, ternyata nyata.
"Kakak, sayang Wira tidak?"
"Sayang sekali." Lin mencium kening Wira.
Asih juga bangun, langsung duduk di samping Lin, Em juga bangun tidur langsung duduk.
Wira berlari membawa adik-adiknya untuk duduk bersama, bahkan Bulan yang masih tidur juga dibangunkan membuat semua orang kebingungan.
"Daddy foto kita." Wira tersenyum berlari ke belakang kursi langsung memeluk Lin dari belakang.
Steven tertawa, melihat anak-anak yang wajahnya masih kusam, foto kedua semuanya tersenyum hanya menunjukkan gigi.
Raka duduk di samping Lin, Asih langsung meletakan kepalanya di paha kakaknya, Elang juga melakukan hal yang sama. Embun lanjut tidur menggunakan paha kakaknya sebagai bantal.
Arum, berada di tengah Arwin dan Virdan, Ning meletakkan kepalanya di sofa, adiknya Tiar juga tidur memeluk kakaknya. Bulan meletakkan kepalanya di pundak kakaknya sambil memejamkan matanya.
Semuanya bergaya tidur, bahkan Lin juga memejamkan matanya.
"Kalian mengemaskan sekali, foto masa kecil Ravi dan kawan-kawan sudah waktunya diturunkan." Steven tertawa menunjukkan foto anak-anak.
***
DONE 2BAB
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1