
Perlahan Erik tersadar, Billa sudah mengobati wajah Erik yang babak belur. Wildan duduk diam tidak mengangkat wajahnya, dia sudah memasang keamanan untuk Karan, tapi dengan mudahnya orang bisa menghilangkannya.
"Kak Erik, bagian mana yang sakit." Billa menyentuh wajah Erik.
"Aku baik-baik saja Bil."
Kasih melihat kertas yang dilempar dengan batu, membaca isinya. Mereka akan melepaskan yang lainnya asalkan menyerahkan Vira dan Bella, Kasih membolak-balik kertas. Vira langsung mengambilnya, menyobek kertas melemparkannya.
Kasih melangkah mencari Ravi di kamar, Kasih langsung memukuli Ravi yang asik berbaring di atas tempat tidur. Ravi mengangkat kepalanya, Kasih kaget melihat Ravi pucat, kulitnya memerah semua.
Teriakan Kasih kuat memanggil Tian, pintu terbuka Tian melihat Ravi yang terkena alergi. Tian memijit pelipisnya, Ravi mulai merasakan sesak nafas. Kasih panik, tidak perduli apapun, Ravi harus dilarikan ke rumah sakit.
"Kak Tian kita harus ke rumah sakit sekarang." Kasih langsung mengambil ponselnya dan Ravi, Tian setuju.
Tian langsung berlari ke bawah, mengambil kunci mobil Bella. Erik dan Wildan menatap Tian yang buru-buru.
"Apa lagi sekarang kak Tian?" Wildan melihat Ravi turun bersama Kasih. Erik langsung berdiri melihat wajah Ravi.
"Kak Ravi, astaghfirullah Al azim. Kakak alergi, tapi tidak mungkin kambuh lagi." Vira langsung menangis, ingin menghubungi Mommy, tapi Ravi menolak.
"Kak Ravi kenapa?" Karin binggung melihat Ravi yang lemah, Kasih sudah menangis.
Wildan langsung membantu Ravi berjalan ke luar, mobil sudah disiapkan, tidak ada yang boleh keluar kecuali Ravi dan Tian.
"Kasih ingin menemani Ravi, pokoknya Kasih harus ikut."
"Sayang kamu tetap di sini, kami tidak akan lama." Ravi masuk ke dalam mobil.
Ravi meminta tolong Wildan menjaga istrinya, menjaga adik-adik sampai Ravi dan Tian kembali. Wildan menggagukan kepalanya, Kasih tidak berhenti menangis, sampai meronta-ronta ingin bersama Ravi.
"Ayo kak Kasih masuk. Jangan memperkeruh keadaan, kita harus berada di dalam, kak Ravi meminta kita menunggu sampai matahari terbit." Wildan membawa Kasih masuk.
Keadaan di dalam semuanya diam, Kasih, Vira masih menangis. Erik juga masih sangat lemah. Karin merangkul Kasih untuk sholat, memohon agar semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Kasih akhirnya memutuskan sholat tanpa Ravi, di dalam sujud Kasih memohon perlindungan, berharap suaminya baik-baik saja. Kasih tidak sanggup melihat Ravi kesakitan seperti tadi.
Sekarang Kasih merasakan menderitanya Ravi selama berbulan-bulan, menjaga Kasih dari koma bahkan nyawa di ujung tanduk, masih setia menemani. Saat Ravi sakit, Kasih tidak bisa menemaninya, tidak bisa menggenggam tangannya.
"Ya Allah lindungi suamiku dari orang yang berniat jahat, jaga dia sampai kembali ke dalam pelukan. Kasih tidak ingin lagi hidup penuh pelarian, hamba mohon lindungi kami semua."
Vira juga menangis, karena dirinya keadaan semakin kacau. Kakaknya terluka karena menghirup racun yang membuat tubuhnya bereaksi sehingga sesak nafas. Vira teringat Mommy, rasa rindu sedang Vira rasakan, seandainya saat ini ada Daddy Mommy, Vira tidak mungkin ketakutan. Pelindung terbaiknya sedang sakit, hanya Daddy yang mengangkat Vira saat tidak ada Ravi.
Selesai sholat Vira memasukkan barang penting untuk pergi, Wildan mengetuk pintu kamar Vira langsung masuk.
Wildan bisa melihat kesedihan juga penyesalan di mata Vira. Wildan juga tidak menyangka keadaan semakin runyam, Erik dipukuli, Ravi menghirup asap berbahaya, Karan meninggal. Sedangkan Wildan tidak bisa melakukan apapun, aksesnya sudah diblokir semua.
Harapan terakhir Wildan meminjam komputer Vira, selama ini tidak ada yang bisa mengalahkannya dalam teknologi. Wildan sadar betapa lemahnya dirinya, keberhasilan yang selalu dia dapatkan membuat Wildan tidak tahu rasanya gagal dan kalah.
Wildan membuat akses baru, Bella juga masuk melihat Wildan yang sedang berkerja. Jika sampai jam 10 Ravi dan Tian tidak kembali, Wildan harus membawa yang lainnya pergi, tidak ada alasan untuk menunggu, menyelamatkan keluarga lebih dulu baru menolong yang lain.
Wildan harus membawa yang lainnya keluar melalui jalur air, Bella memperhatikan Wildan yang masih sibuk mencari aman.
Sudah jam 10 pagi, Ravi tidak kembali. Ponselnya tidak bisa dihubungi. Erik kehilanganmu kontak bersama Ravi dan Tian.
Melihat yang lainnya Wildan turun, sudah menyiapkan mobil yang dibawa Yusuf. Wildan memutuskan untuk pergi lebih dulu. Semuanya menolak, tidak ada yang ingin pergi meninggalkan Ravi dan Tian.
"Sebaiknya kalian mengikuti Wildan, aku akan tetap berada di sini." Erik meminta Wildan pergi sendiri bersama yang lainnya, Erik akan mencari keberadaan Ravi dan Tian.
"Kasih tidak akan pernah pergi, sekalipun harus mati di sini." Kasih menatap tajam Erik.
"Terserah, yang ingin pergi silahkan, jika menolak juga silahkan. Tidak ada yang akan memaksa, keadaan sudah kacau. Semuanya menghilang satu-persatu, bahkan pelakunya saja kita tidak tahu." Erik duduk di sofa, memejamkan matanya.
Suara keras terdengar, Billa langsung memeluk Erik, Wildan berdiri di depan melihat puluhan orang berbadan besar, menjambak rambut Vira yang sedang makan di dapur, Karin dilempar, Billa juga di lempar.
"Lepaskan Vira." Erik menatap tajam.
"Bawa wanita ini, dia kunci kita untuk mendapatkan uang ratusan juta. Wanita pengacau, kalian terlalu lemah untuk melawan bos kami."
__ADS_1
Wildan tanpa aba-aba langsung melemparkan ponselnya, Vira terlepas langsung berlari ke arah Wildan, senjata diarahkan ke Vira, Wildan juga mengeluarkan senjata.
"Serahkan dia, maka kalian semua bisa hidup."
"Di mana Ravi dan Tian?" Wildan menatap tajam.
Sebuah video diperlihatkan, Ravi yang terbaring dilantai dalam keadaan tubuhnya yang semakin memburuk di dekat kapal, Tian terikat siap menjadi makanan ikan.
"Brengsek, kalian tidak tahu siapa kami?" Wildan semakin marah.
Kasih tersenyum mendekat, senjata diarahkan kepadanya. Berkali-kali Kasih diminta mundur, tapi langkahnya terus maju.
"Kamu bosan hidup, ingin menyusul kedua orang yang berada dalam kapal.
Kasih tertawa, puluhan orang saling tatap. Mata Kasih menatap sinis langsung melayangkan pukulannya. Senjata langsung ditendang menjauh.
"Jangan sampai ada yang keluar dari tempat ini, patahkan tulang belulang mereka." Kasih bicara penuh emosi.
Vira menghapus air matanya, melihat kakaknya terluka, tatapan Vira mirip Viana yang kejam. Melihat Kasih memukuli orang, perasaanya langsung hilang, melangkah menyerang. Winda juga sudah bertarung, Bella masih terduduk lemas, menggakat kepalanya melihat Vira dan Winda sudah mengamuk.
Wildan langsung mengambil tablet yang menunjukkan video, langsung meminta Bella melacaknya.
"Kamu saja yang melacaknya, aku ingin membunuh mereka." Bella melangkah maju menyerang. Puluhan orang berbadan besar bertarung dengan gadis kecil.
Wildan mengumpat kesal, Karin membuka ponselnya, menyambungkan dengan tablet. Melacak lokasi Ravi dan Tian.
Erik hanya menonton, melihat wanita tangguh yang mematahkan tulang orang berbadan besar.
"Vira mirip Mommy, Winda mirip Mami, sedangkan Bella mirip Uncle Bisma. Emosi kalian memang tidak terkontrol." Erik merinding melihat kemampuan bela diri Kasih, tidak heran Ravi mengatai istrinya Hulk.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***