SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 POSITIF *


__ADS_3

Suara nyanyian Vira terdengar, Wildan hanya diam saja menyetir mobilnya. Winda sudah tertidur di kursi penumpang, tubuhnya lelah setelah dua bulan lebih bertualang.


"Vir, dari mana saja kamu? penikahan sisa satu minggu kamu sibuk sendiri." Tatapan Wildan sinis melihat Vira yang tidak memperdulikan ucapannya.


Vira tidak tertarik menjawab pertanyaan Wildan, dia lebih memilih bernyanyi membuang beban pikiran.


Mobil tiba di bandara, Yusuf sudah tiba. Vira melambaikan tangan kepada Yusuf memintanya duduk di belakang bersama Winda yang sudah terbangun.


"Assalamualaikum Winda." Senyuman Ar terlihat, berbeda dengan tatapan Winda yang sinis.


Winda mendekati tubuh Ar yang langsung mundur ke pintu, Wildan dan Vira langsung menoleh ke belakang.


"Winda, mundur." Wildan menatap tajam, Winda tidak mendengarkan sama sekali, mencium bau tubuh Ar.


"Kamu dari mana? bau parfum wanita, jangan macam-macam aku bisa menghacurkan hidup kamu." Winda menunjuk Ar dengan tatapan tajam.


"Tolong mundur, aku tidak nyaman." Kepala Ar menggeleng meminta Wildan jalan.


Senyuman Vira terlihat, mereka akan menemui perancang busana pengantin. Seluruh keluarga sudah menunggu di sana untuk fitting baju.


"Kak Ar kenapa pulangnya lebih cepat?"


"Selesainya lebih cepat, lagian bulan depan baru launching."


Wildan dan Ar hanya membicarakan soal pekerjaan, dari bisnis satu ke bisnis dua lanjut lagi meeting ini meeting itu.


"Kalian lebih sibuk dari pak presiden?" Tatapan Vira tajam, dia paling tidak suka jika sedang di luar kantor membahas pekerjaan.


"Berarti selesai menikah kamu ke luar negeri lagi?"


Ar langsung menatap Winda yang melotot, kepala Ar langsung menganggu menjelaskan alasan dirinya pergi, karena ada launching penelitian terbaru.


Winda tidak mengizinkan, Ar dan Wildan langsung terkejut. Jika tetap memaksa pergi Winda akan ikut ke manapun Ar pergi.


"Jika kamu ingin ikut lebih baik, berarti aku bisa lebih lama menetap di sana." Tatapan lembut mata Yusuf melihat ke arah Vira yang terlihat kesal.


"Jadi kamu akan membawa Winda pergi?" Bibir Vira langsung monyong meminta Wildan mengikuti ke manapun Winda pergi.


Kepala Wildan menggeleng dia binggung apa yang ada di kepala Vira, dia dan Winda tidak ingin berpisah sama sekali meskipun sudah menikah.


Mobil Wildan berhenti sebentar ke toko kue , Rasih meminta dibelikan cake. Vira dan Winda mengikuti Yusuf dan Wildan masuk ke toko kue.


Tangan Vira berpegang di jas kerja Wildan, melangkah bersama mencari kue untuk keluarga yang sudah berkumpul di gedung.


Winda hanya melihat kue yang terlihat unik, seorang ibu melihat kue mengecek harganya lalu melihat tas kusamnya.


Senyuman Winda terlihat mengambil uangnya, memasukkan ke dalam tas saat ibu sedang melihat harga termurah.


Mata Ar berkedip, senyumannya terlihat melihat sikap Winda yang kasar di luarnya, tapi baik hatinya.

__ADS_1


Winda melihat tatapan calon suaminya yang memberikan kue untuk Winda, langsung diambil dan menatap ibu yang kebingungan di tasnya ada uang yang sangat banyak.


Senyuman Winda terlihat menganggukkan kepalanya, memberikan kue dari Ar mengatasnamakan calon suaminya yang membayar.


Winda langsung melangkah keluar toko kue kembali ke mobil, Ar langsung membayar beberapa kue langsung melangkah menemui Winda.


"Win, sebentar lagi kamu ulang tahun ingin hadiah apa?" Ar memberikan kue, tapi tidak diterima oleh Winda.


"Kamu tahu jika aku memiliki segalanya, tidak ada yang aku inginkan dari kamu. Jangan bersikap baik membuat aku semakin benci." Winda langsung menatap ke arah lain.


"Iya maaf, ini ada pita rambut mungkin kamu menyukainya." Pita rambut diletakan di samping Winda.


Kaca mobil terbuka, Winda langsung membuang ke luar. Ar menarik napas langsung pamit membeli minum.


Winda memejamkan matanya membiarkan Ar pergi, mata Winda melihat pita kecil yang ditendang orang yang lewat.


"Aish sial, kenapa kamu kejam sekali Win?" Winda menutup kaca mobil.


Mobil kembali ke gedung untuk fitting baju, Ar dan Winda hanya diam saja. Vira yakin pasti ad sesuatu, tapi percuma dirinya ikut campur tidak akan mengubah keadaan.


***


Di gedung sudah ramai, kebahagiaan juga sedang dirasakan oleh Bisma sekeluarga. Bella diminta langsung melakukan tes kehamilan, Bella menolak karena mungkin kesalahan.


"Bel, ayolah. Kakeknya sudah hilang wajah, karena membeli tes keindahan ini." Viana memberikan kepada Bella.


"Ayo kak Bel Billa yang temani, ini kabar baik yang harus kita sambut kehadirannya." Billa menarik tangan Bella tersenyum bahagia.


"Ada apa sayang?" Ravi menatap Kasih.


"Lihat saja nanti, insyaallah ada kabar baik." Kasih mengusap tangan suaminya bahagia.


Erik juga sampai langsung mencari kedua anaknya langsung duduk memangku Embun dan Elang yang terlihat sangat bahagia.


"Ada apa semuanya tersenyum? Billa di mana Bunda?"


"Sudah kamu diam saja, kita menunggu Tian sampai." Jum memeluk Bisma terus tersenyum.


Bella keluar bersama Billa, wajah Billa terlihat sangat bahagia langsung menunjuk tes pack ke arah seluruh keluarga.


"Astaghfirullah Al azim sayang, anak masih kecil sudah hamil lagi. Matilah aku." Erik mengacak rambutnya bisa kebobolan.


"Alhamdulillah, selamat Erik menjadi bapak lagi. Banyak anak banyak rezeki, bilang amin meskipun jatah enak-enak terusik." Ravi tertawa puas melihat Erik yang pusing.


"Ini punya Bella, bukan Billa." Tatapan Bella binggung melihat Erik dan Ravi.


"Alhamdulillah, jika memang ingin hamil tunggu anak kita menikah dulu." Erik bertepuk tangan bersama Embun.


"Alhamdulillah ya Allah, mereka cepat diberikan keturunan. Sehat terus Bella, kita semua ada untuk kamu." Seluruh keluarga terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Suara salam dari Tian terdengar, wajah Tian terlihat binggung melihat ayah bundanya meneteskan air matanya, Billa juga menangis sambil tersenyum.


"Ada apa bunda? kenapa Bunda menangis?" Tian langsung memeluk Jum, pelukan Jum juga sangat erat mengusap-usap punggung putranya.


"Selamat ya sayang, kamu akan menjadi Ayah. Bunda sangat bahagia melihat kalian cepat diberikan keturunan."


Tian masih berdiri terdiam, seakan-akan tidak percaya begitu cepatnya dia mendapatkan kepercayaan untuk menjadi orang tua.


"Maaf Bunda bisa diulang, Tian takut salah pendengaran."


Pelukan Ravi dan Erik erat langsung memukuli Tian sampai jatuh ke lantai.


"Akhirnya Tian menyusul kita Rik, selamat bro akhirnya penantian panjang, doa kamu langsung dijawab sama Allah. Jaga baik-baik anak istri Lo." Ravi mengacak-acak rambut Tian yang duduk dilantai.


"Alhamdulillah kak Tian, Erik senang untuk kesabaran panjang selama ini."


Tian langsung berdiri memeluk erat Bella, tangisan Tian terdengar membuat haru melihat Tian dan Bella bahagia.


Wildan, Vira, Armand dan Winda berdiri terdiam melihat kehebohan di dalam gedung.


"Kita salah masuk bangunan sepertinya." Vira mengerutkan keningnya.


"Alhamdulillah Bella positif hamil." Winda tersenyum merangkul Vira.


"Seriusan Win, Alhamdulillah padahal tadi kita hanya bercanda." Vira langsung berlari memeluk Bella, Billa juga memeluk erat.


Tian langsung mundur, mengusap air matanya melihat empat wanita berpelukan, Wildan tersenyum langsung memeluk Bella.


"Alhamdulillah tahun ini menjadi tahun yang luar biasa ujian dan berkahnya, di sini diuji perpisahan, sekarang Allah menitip rezeki yang tidak ternilai harganya." Wildan mengusap air mata Bella.


"Masya Allah masih tidak percaya Wil, semoga nanti dia mirip kamu tampan."


"Memangnya aku tidak tampan." Tian mengerutkan keningnya.


"Tampan, tapi aku hanya mencintai satu lelaki, jika wajah kalian sama berarti cinta Bella dibagi dua." Bella langsung memeluk Tian.


"Tidak masalah, jika dibagi dengan anak-anak." Tian mencium kening Bella.


***




BASTIAN BRAMASTA.



__ADS_1


BELLA BRAMASTA


__ADS_2