SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENCINTAI SAUDARA


__ADS_3

Semuanya berkumpul untuk makan malam, setelah lelah seharian bermain akhirnya bisa diam. Meskipun Winda dan Ar jauh mereka masih bergabung, walaupun hanya makan berdua.


Bima tersenyum melihat putrinya yang makan dengan lahap, Ar juga duduk di sebelah Winda menunjukkan makanannya mengejek anak-anak yang menatap tajam.


Reva juga tersenyum melihat hubungan Ar dan Winda terlihat baik, mereka tidak terlihat ada rasa canggung.


Suara dentingan sendok terdengar, Em melihat makanan Winda menjadi ngiler berbeda dengan makanan mereka.


Sejak kecil Em sudah diajarkan untuk menghargai makanan, juga mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang masak dengan jeri payah.


Winda tahu jika Em menginginkan makanan, melihat ke arah dirinya dengan bibirnya yang maju mengalahkan bibir angsa.


[Ada yang ingin menitip oleh-oleh?] Winda berteriak.


Suara sorakan langsung terdengar, Wildan yang sedang mengunyah makanan langsung batuk, Vira menyiapkan minum mengusap punggung suaminya.


"Em Enti, Em mau oleh-oleh yang enti mam. Em cuka ... cuka mam nenek, Em hanya coba mam enti. Em juga cuka mam Mama, tapi Em tidak cuka mam Papa, asin." Senyuman Em terlihat, melambaikan tangannya.


Suara tawa terdengar, gemes melihat Em yang bicaranya sangat lama membuat darah naik.


"Lama sekali Em, Asih juga mau." Rasih teriak kuat.


"Asih, kecilkan suara kamu." Kasih menatap tajam.


"Asih Aunty, titip makanan yang kemarin Asih katakan." Rasih lama berpikir.


"Asih cepat." Ning menatap kesal.


"Sabar nanti kamu cepat tua, marah terus." Rasih menatap tajam Ning.


"Asih, kamu yang marah, teriak-teriak. Kamu mirip Tarzan." Ravi meminta Rasih duduk tenang.


"Berarti Daddy bapak Tarzan." Asih memonyongkan bibirnya.


Tawa Viana, Reva, Vira langsung terdengar kuat, mereka sangat suka dengan mulut Rasih yang pas merusak mental. Winda juga tertawa lepas.


Erik mengusap punggung Ravi, memintanya sabar karena Asih cerminan dirinya.

__ADS_1


Dua pria yang paling tenang Raka dan Elang, suara keduanya hampir tidak terdengar. Melihat Raka dan Elang mirip Kasih dan Billa tidak banyak bicara, saat suara mereka keluar pasti serius.


"Em ...."


"Diam, kamu sudah banyak pesanan Em. Sekalian saja kamu yang pindah negara." Rasih menatap tajam.


Em langsung memukul wajah Rasih, dia tidak suka melihat mata melotot. Ravi dan Erik langsung cepat berdiri, mengangkat anak mereka masing-masing.


Tangan Asih sudah menjambak rambut Em merusak kuncirnya, tangisan Embun terdengar. Teriakannya besar ingin membalas Asih, Erik langsung membawa Em pergi sebelum urusan semakin panjang.


Ravi menatap Asih yang menghindari matanya, Ravi memang sangat menyayangi putrinya, tapi tidak akan ragu untuk menegur.


"Asih kenapa kasar sekali?"


"Em duluan Daddy, dia pukul wajah Asih."


"Lalu kamu pantas memukul adik kamu, tega kamu menyakiti saudara sendiri. Kalian harus melindungi, menjaga, mencintai, pasang badan untuk menjaga saudara kalian." Ravi menatap putrinya yang sudah menangis.


"Asih sudah mengalah, Em bicara lebih dulu Asih diam."


"Ya sudah, mulai hari ini Rasih dan Embun tidak diizinkan bertemu lagi, Daddy tidak suka melihat saudara saling memukul. Jangan bertemu sebelum mengakui kesalahan masing-masing." Ravi meminta Asih duduk diam.


[Asih, dulu saat aunty berusia lima tahun bertengkar dengan Vira sampai berdarah. Kita dipisahkan selama satu minggu, di kamar aunty merenung merasakan rindu selalu menangis. Sejak hari itu kita berjanji saat bertengkar langsung baik lagi, karena kita takut dipisahkan. Bertengkar dalam sahabat hal biasa, tapi ini cara kita untuk mempererat persaudaraan. Kami saling mencintai, melindungi sampai tumbuh besar.] Winda tersenyum melihat Vira, air mata Vira menetes merasakan rindu.


"Aunty Win benar, saat itu aunty Vir meminta tolong Bella dan Billa untuk selalu melihat Winda, aunty takut sekali berpisah. Bahkan sampai kita menikah, berat sekali untuk berjauhan. Kita berempat sejak kecil selalu bersama, baik suka duka kita saling rangkul, saling support, karena kami saling menyayangi." Vira mengusap air matanya.


Asih juga menangis, Ning memeluknya menemani Asih untuk menemui Em yang menangis sesenggukan, karena mendapatkan teguran.


Erik meninggalkan Em yang masih duduk menutup wajahnya, semuanya diam. Ravi melihat putrinya yang duduk memeluk adiknya, meminta Em diam.


Senyuman Ravi dan Erik terlihat, langsung duduk kembali menatap orangtua mereka yang dulu juga sulit sekali menyatukan mereka.


"Baru tiga, belum proses dua lagi semakin heboh. Kalian harus merasakan sulitnya Mami dulu menjaga kalian. Masih ingat Billa tengelam, Bella diusir dari rumah, Winda Vira juga diusir gara-gara mereka gagal saling melindungi."


"Billa saja yang bodoh, sudah ada tulisan 10 M dia lompat. Menolong Billa sama saja mencari mati." Bella tertawa bersama Vira dan Winda, karena Billa selalu menjadi korban.


"Di mana Wira Windy?" Bima tidak melihat Wira sejak dia jatuh.

__ADS_1


Langkah kaki beberapa anak-anak berjalan mendekat, Asih membantu Em untuk duduk. Baru saja Ning ingin naik kursi, Wira datang menarik kursi membuat Ning terjatuh, terhentak di lantai.


Ravi dan Erik langsung putar badan, menahan perut cekikikan tertawa. Suara tangisan Ning terdengar, pinggangnya sakit karena jatuh.


Tama langsung berdiri menggendong putrinya, Ning menyentuh bokkongya yang terasa sakit. Vira sudah duduk di lantai tertawa, Winda sudah menghilang karena tertawa.


Wira berdiri diam, memeluk kursi. Elang dan Raka mengerutkan kening melihat tingkah Wira. Asih dan Em terdiam melihat Wira yang hanya berdiri.


Ning terus menangis, karena merasakan sakit. Wira menarik kursi pelan dia ingin mengambil sesuatu sehingga membutuhkan kursi.


Wira tidak tahu jika Ning ingin duduk, dirinya spontan langsung menarik kursi.


Windy menatap tajam putranya, meminta maaf kepada Binar yang hanya tertawa saja. Satu hari tidak ada keributan mustahil.


Bisma langsung memeluk Ning, mengusap wajahnya yang memerah, karena banyak menangis.


"Sayang, cucu kakek. Maafkan kak Wira, dia tidak sengaja. Anak baik harus ...."


"Memaafkan, sakit kakek." Ning memeluk erat.


Wira muncul lagi mengembalikan kursi, langsung mendekati Ning mengusap tangannya.


"Ning maafkan kakak ganteng, kamu seharusnya lebih cepat duduknya." Wira tersenyum, memberikan permen lollipop untuk Ning.


Mata Em langsung melotot, dia juga menginginkan lollipop.


"Kakak ganteng, Em tadi juga menangis kenapa tidak dapat?"


"Karena kamu sudah memanggil ganteng, dapat satu." Wira tersenyum melihat Em senang.


"Kakak ganteng, Asih juga."


Wira memberikan kepada Asih juga, meminta mereka duduk tenang.


"Kalian berdua mau tidak?" Wira menatap El dan Aka yang hanya diam saja.


"Dasar kulkas dua pintu." Wira langsung duduk.

__ADS_1


"Permen yang kak Wira ambil, punya Aka." Raka menggelengkan kepalanya, dia memiliki banyak coklat, permen dari penggemarnya.


***


__ADS_2