
Mobil Wildan tiba di parkiran rumahnya, langsung melangkah masuk dari pintu lain karena sudah malam.
Wildan masuk perlahan, tidak ingin membangunkan Vira yang sudah tidur lebih dulu.
Kamar gelap gulita, Wildan langsung menghidupkan lampu. Teriakkan Wildan kuat melihat Vira yang duduk di atas meja sambil menggunakan masker wajah.
"Astaghfirullah Al azim Vira." Wildan langsung duduk di lantai karena lemas.
Vira tertawa, langsung melepaskan masker wajahnya melihat Wildan yang bisa terkejut juga. Sungguh menggemaskan.
"Makanya jangan lembur, akibatnya hampir jantungan." Vira tertawa menatap Wildan yang langsung mandi.
Selesai mandi Wildan mendekati Vira yang masih duduk di atas meja sambil mengemil dan mendengarkan musik, senyuman Vira tidak pudar dari wajahnya.
"Kenapa belum tidur?"
"Suami belum pulang, Vira juga tidak bisa tidur." Tatapan mata Vira masih fokus melihat ponselnya.
Wildan mendekat, melihat Vira yang cekikikan tertawa melihat chat bersama Winda. Meskipun keduanya jauh, rasanya seperti hanya lima langkah.
"Ayo tidur, sudah malam." Ponsel Vira, dimatikan.
Tanpa sengaja, tangan Wildan menarik baju minim yang memperlihatkan paha istrinya. Vira menarik lagi ke atas bahkan hampir terlihat semua.
"Vira, tidak boleh." Wildan menutup paha Vira.
Senyuman Vira terlihat, meminta Wildan lebih dekat langsung minta digendong ke atas rajang.
"Perbaiki dulu baju kamu."
"Modelnya memang begini, namanya juga baju lingerie Ayang." Vira membuka penutup bajunya langsung membuang ke lantai.
Wildan terdiam, matanya langsung tidak berani menatap tubuh Vira yang terlihat jelas.
"Ayang, Vira ingin kita ... Ayang tidak siap, ya sudah. Ayo tidur." Vira langsung turun, lompat ke atas tempat tidur, menarik selimut memejamkan matanya.
Wildan menarik nafas panjang, meredupkan lampu kamarnya langsung naik ke atas ranjang menepuk pundak Vira yang masih memunggunginya.
"Vira." Wildan mencium leher Vira, tangan Vira langsung mencengkram kuat selimut.
"Lihat aku." Pelukan erat dari belakang.
Vira membalik tubuhnya, saling bertatapan mata lalu tersenyum. Perlahan bibir Wildan mendekat, Vira menahannya sambil tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Wil, kamu belum belajar?"
"Vira, dosa belajar itu." Wildan langsung memunggungi Vira, giliran ngambek.
Suara tawa Vira terdengar, suami brondongnya yang suka ngambek jika membahas soal berhubungan.
Suara ponsel Wildan berbunyi, Vira langsung berdiri mengambilnya. Wildan juga berdiri, memeluk Vira dari belakang.
__ADS_1
Baru saja Vira ingin menjawab, Wildan mematikan panggilan. Menatap wajah Vira yang binggung.
"Sudah malam, jika ada urusan pekerjaan bisa dilanjutkan besok. Bukannya malam waktunya kita berdua." Tatapan mata Wildan membuat Vira merinding, mata indah suaminya membuat lemas.
Ucapan Winda ada benarnya, tatapan mata membuat tubuh tidak berdaya.
Mata Vira terpejam, merasakan bibirnya yang sudah merasakan gigitan kecil. Wildan mencium leher Vira, meninggalkan jejak kecil yang membuat suara Vira tidak keruan.
Tangan Wildan masih ragu ingin mengangkat baju Vira, hanya menyentuh membuat Vira tersenyum.
Mata Wildan terpejam, merasakan perih lehernya. Bajunya juga sudah lepas. Otak jenius Wildan langsung lenyap, tidak memikirkan apapun lagi.
Tubuh Vira di dorong pelan di ranjang, bajunya diangkat. Keduanya tangannya menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara yang tidak ingin dia dengar.
"Wildan tunggu dulu." Vira berteriak, memeluk tubuh suaminya yang sudah tidak menggunakan apapun.
"Vira, jangan hentikan aku."
Belum sempat Vira menjawab, bibirnya sudah ditutup dengan bibir Wildan. Suaranya tidak bisa keluar.
Tubuh Vira tidak bisa bergerak sama sekali, tangan lelakinya sudah menyentuh seluruh bagian tubuhnya. Vira kehabisan tenaga sebelum bertempur, kekuatan Wildan tidak bisa ditandingi.
"Vir, maaf jika sakit."
"Tunggu Wildan, berikan Vira kesepakatan untuk menarik nafas."
"Cepatlah Vira." Kepala Wildan masih berada di leher Vira, memberikan jejak kecil.
"Sudah tahu doa sebelum berhubungan?" Vira menatap Wildan yang kaget.
"Otak aku tidak jalan Vir."
"Cepatlah, atau kita tunda malam ini."
"Tega sekali kamu, tidak cukup membuat kepala aku hampir pecah." Wildan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Vira hanya tersenyum, melihat Wildan yang lupa cara menghidupkan ponselnya.
"Astaga lama sekali hidupnya."
"Ini tombolnya sayang, bukan yang ini. Kamu lucu Wil jika otaknya tidak jalan."
"Kenapa tidak memperingati dari awal?" Wildan langsung berbaring, memberikan ponselnya kepada Vira untuk mencari bacaan yang mereka butuhkan.
"Ini sudah."
"Kamu bacakan, nanti aku ulangi." Wildan menatap istrinya mengikuti ucapan Vira.
"Oke selesai, buang handphonenya." Wildan langsung berada di atas Vira.
Suara Vira tertawa terdengar, perutnya sakit melihat tingkah Wildan yang tidak ingin menghafal cukup mengikuti ucapan Vira.
"Besok baru aku hafalkan, sekarang tidak bisa konsentrasi. Vira jangan tertawa, astaga kamu pikir kita sedang melawak." Wildan mencium bibir Vira agar diam.
__ADS_1
Suasana kembali hening, Vira sudah diam merasakan sentuhan suaminya yang membuat merinding.
Wildan membaca ulang doanya ditelinga Vira, meminta izin. Senyuman Vira terlihat, sungguh kagum melihat Wildan yang bersikap sangat lembut.
Tangan Vira mencengkram kuat lengan Wildan, menggigit bibirnya merasakan sakit. Pelukan erat dipunggung suaminya sampai cakaran dipunggung Wildan.
Vira tidak mengeluh sakit, hanya memejamkan matanya menyerahkan dirinya kepada lelaki yang sejak kecil sangat dia cintai.
Jika bukan Wildan jodohnya, mungkin Vira akan tetap memaksa Wildan tetap menjadi jodohnya.
"Vir,"
"Iya,"
"Sakit, maaf."
"Iya memang sakit, tapi Vira bahagia, karena kamu lelaki yang Vira cintai."
"Aku juga mencintai kamu, sangat mencintai kamu. Kita lanjut." Wildan tersenyum mencium kening Vira yang juga tertawa.
"Kamu tidak polos seperti yang aku pikirkan." Vira memeluk erat.
"Jangan dipikirin, nikmatin saja."
Vira memeluk erat Wildan, merasakan banjir keringat yang manjadi satu sampai mereka berdua mengeluarkan suara bersamaan.
Wildan melihat jam dinding sudah pukul dua dini hari, Vira sudah terkulai lemas. Matanya terpejam, nafasnya ngos-ngosan.
"Terima kasih untuk cinta kamu yang tulus, aku mencintai kamu Vir, ingin bahagia bersama sampai kita tua." Wildan mencium pelan kening Vira, membiarkannya beristirahat.
Suara ketukan pintu terdengar, Wildan bisa mendengar suara keponakan yang sedang mengendor pintu.
Wildan memungut pakaiannya langsung mengenakannya, menutupi Vira dengan selimut.
Pintu terbuka, Wira duduk di depan pintu sambil cemberut.
"Ada apa Wira?"
"Uncel peluk." Wira langsung minta digendong.
"Kenapa sayang?"
Suara petir terdengar, pelukan Wira erat. Mungkin Wira takut ke kamar orangutannya yang ada di lantai bawah, karena kamar Wildan terdekat akhirnya Wira memilih Wildan.
Pintu ditutup kembali, Wildan meletakan Wira di sampingnya. Mata Wira sudah tertutup lanjut tidur.
"Terima kasih Wira sudah menjadi kebahagiaan di dalam keluarga kita, terima kasih Vira sudah menjadi teman hidup." Wildan mencium kening Wira dan Vira yang tidur di pinggirnya.
"Aku bahagia memiliki kamu Vira."
***
VISUAL NYUSUL
__ADS_1
IG VHIAAZAIRA