
Di rumah sakit, Erik berdiam diri tidak menemui Laura sedikitpun, menugaskan Dokter lain. Tian yang selalu menemani Laura, Erik cukup lelah melihat perjalanan hidupnya.
"Susah sekali untuk bahagia, aku pikir penderita sudah selesai, tapi ternyata belum. Ya Allah boleh tidak aku mengeluh sedikit saja." Erik menghapus air matanya, menatap ponselnya terus menghubungi Billa, Erik melepaskan jas putihnya melangkah keluar untuk menemui Billa, tapi seseorang memanggil Erik mengatakan jika ada pasien sekarat.
Erik balik lagi ke dalam ruangan, mengambil jas langsung berlari untuk masuk ke dalam ruangan gawat darurat. Kecelakaan besar yang melibatkan bus pariwisata jatuh tergelincir ke dalam jurang.
Rumah sakit penuh, seluruh Dokter mendapatkan panggilan, Billa juga di hubungi untuk segera datang ke rumah sakit. Berkali-kali Dokter anak berusaha memanggil Billa.
"Astaghfirullah Al azim, anak ini sekarat."
"Ada apa Dok? kenapa masih sibuk melakukan panggilan?" Erik menatap tajam.
"Saya sedang menghubungi Dokter anak Dok, bocah ini sekarat, dia harus segera ditindaklanjuti. Banyak Dokter yang sedang berada di luar kota, saya coba menghubungi Dokter Billa, tapi tidak ada jawaban."
Erik menghela nafas, langsung masuk ke dalam ruangan rawat, seorang anak kecil terluka parah, bernafas juga sulit, Erik berusaha menolong semampunya, melakukan operasi juga sudah percuma.
Tangan Erik langsung menyingkir, meminta semua alat bantu di lepas, dia sudah meninggal. Erik langsung menutup matanya, menutup seluruh tubuhnya dengan kain, meminta segera memindahkan ke kamar jenazah.
Erik meminta semua Dokter fokus, kepada pasien yang ada harapan selamat, jangan berlarut dengan banyaknya korban yang meninggal.
***
Air mata Billa menetes, mengambil keputusan untuk membatalkan pernikahan. Bisma diam mendengarkan curhatan putrinya, Bella juga sampai meneteskan air matanya.
"Kamu yakin Billa, mengakhiri pernikahan ini? jangan menyesal jika sudah terjadi, Ayah berharap kamu dan Erik bisa membicarakan dengan baik. Hubungan ini bukan menyangkut kalian berdua saja, tapi dua keluarga, kita juga menjalin hubungan baik, jangan karena masalah kecil, pernikahan ini berakhir."
"Billa yakin Ayah, besok Billa akan menemui Mama Septi, mengembalikan cincin pertunangan."
"Pikirkan kembali sayang, seharusnya besok jadwal menyebarkan undangan, kamu tenangkan diri pikirkan matang-matang."
"Billa sangat yakin Ayah, tolong dukung keputusan Billa, maafkan Billa jika mengecewakan."
"Kamu yang memilih pasangan hidup kamu, Ayah hanya bisa menurutinya. Jika sudah yakin, besok Ayah yang akan menemani kamu mengembalikan semuanya."
__ADS_1
"Jangan Ayah, Billa ingin pergi sendiri. Billa janji semuanya akan baik-baik saja." Billa menghapus air matanya, Bisma menutup matanya tidak tahu harus bagaimana mengobati luka putrinya.
Bisma meminta Billa mendekatinya, memeluk erat Billa, mengelus rambutnya. Bella juga mendekat memeluk erat Ayahnya. Bisma terluka mendengar tangisan kedua putrinya, sampai air matanya juga menetes.
"Ayah sangat menyayangi kalian berdua, harta paling berharga dalam hidup Ayah. Sejak kalian kecil, seekor semut saja tidak Ayah izinkan menyentuh kulit kalian, tapi saat kalian besar menangis seperti ini membuat hati Ayah terluka."
"Biarkan ini menjadi pelajaran untuk kami mendewasakan diri." Bella dan Billa mencium pipi Bima.
Suara ketukan pintu terdengar, Jum masuk membawakan susu putih dan coklat, juga minuman hangat untuk Bisma, setelah meletakkan Jum langsung melangkah pergi, tidak melihat ke arah anak-anaknya.
Pelukan erat dari belakang Jum rasakan, Bella memeluk sambil menangis sesenggukan. Jum mengusap tangan Bella.
"Maafkan Bella ya Bunda, sudah menyakiti hati Bunda. Bella tidak bermaksud, maafkan Bel Bun. Bella sayang Bunda, selalu mengkhawatirkan Bunda, Bella tidak rela ada yang menyakiti Bunda, tapi ternyata Bella yang menyakiti." Tangisan Bella kuat, sangat merasa bersalah.
"Bunda juga minta maaf tidak bisa mengerti kalian berdua, kita semua wanita nak, bukan Bunda membela Binar, menyalahkan Bella dan Billa, karena Bunda seorang Ibu, kalian belum tahu rasanya menjadi seorang Ibu." Jum membalik tubuhnya menghapus air mata Bella.
"Bella, tidak ada wanita di dunia ini yang ingin hidup menyakitkan. Mereka memiliki mimpi, hidup bersama lelaki yang mencintainya, tapi tidak semua harapan sesuai kenyataan. Binar kehilangan cinta keluarga, bertemu seorang pria tempat dia mengantungkan hidupnya, tapi dia di tinggalkan, tidak dinikahi tapi dihamili, keguguran, hidup hancur. Dia tidak seberuntung kita nak."
"Bella tidak tahu Bunda, semuanya terlalu tiba-tiba. Dia wanita jahat, ingin menghancurkan karir Billa, merebut cinta Billa."
"Iya Bun, Bella berharap kebaikan Bunda bisa meluluhkan wanita jahanam. Bella belum bisa menerima dia, tapi akan Bella pikiran, besok Bella izin pamit untuk pergi menenangkan diri, liburan bersama yang lainnya."
"Billa juga?" Jum menatap Billa tajam.
"Iya Bunda, kita akan melakukan perjalanan selama satu bulan."
"Astaghfirullah Al azim, pernikahan kamu?"
"Billa memutuskan untuk membatalkan, besok akan mengembalikan cincin pertunangan."
"Ya Allah Billa, kamu pikirkan lagi sayang. Pernikahan hitungan hari Bil, besok undangan disebar." Jum langsung menangis mendekati Billa.
"Maafkan Billa Bunda, hati Billa belum bisa memaafkan. Mungkin ini yang terbaik." Billa menangis sesenggukan, memeluk erat Bundanya.
__ADS_1
"Kamu marah sama Bunda?"
"Tidak Bun, Billa hanya ingin menenangkan diri."
"Billa, coba kamu ...."
Bisma memeluk istrinya, membawa Jum keluar untuk beristirahat. Bella Billa juga di minta beristirahat, Jum masih ingin berbicara dengan Billa, tapi Bisma melarangnya.
Billa langsung melangkah kembali ke kamarnya, menghubungi Kasih. Dia sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya, memang sangat berat, tapi Billa yakin memilih mundur, maju hanya akan menyakiti hatinya.
Kasih mendengar semua keluh kesah Billa, akhirnya besok menjadi akhir hubungan keduanya, undangan dibatalkan untuk disebar, seluruh persiapan pernikahan dibatalkan.
Kasih menarik nafas panjang, meletakkan ponselnya, Ravi menatap serius, tidak mungkin dia salah dengar, Billa benar membatalkan pernikahan, bahkan sudah berbicara dengan Ayah dan Bundanya.
"Sayang, Erik batal menikah?" Ravi masih tidak percaya.
"Iya, Aak. Besok Billa akan mengembalikan cincin, hubungan keduanya berakhir."
"Konyol, hanya masalah ini pernikahan batal, tidak masuk akal." Ravi meletakkan Raka di dalam boks bayi.
"Kasih sependapat dengan Billa, memperbaiki sekarang tidak ada gunanya. Laura juga masih belum jelas, bukti tidak ada yang bisa menjatuhkan Dokter yang ingin menyakiti Billa, lebih baik mundur untuk mengambil persiapan maju."
"Sayang, jika pertunangan yang batal tidak Masalah, ini pernikahan Kasih, dua keluarga yang sangat dekat, tapi batal menikah. Bagaimana hubungan dua keluarga?" Nada bicara Ravi mulai naik.
"Kenapa hanya memikirkan keluarga Aak, rumah tangga yang menjalani Billa dan Erik, bukan keluarga." Kasih langsung mengeluarkan nada tinggi.
Viana langsung berlari membuka pintu, melihat pertengkaran Kasih dan Ravi.
"Apa yang kalian berdua ributkan di depan anak?!" Viana menatap Rasih dan Raka yang tidak bisa tidur.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***