SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KELUARGA BARU


__ADS_3

Di rumah Bima sudah ramai, kehebohan juga terdengar karena sedang pemakaian hena pengantin di tangan. Vira menggunakan warna putih, sedangkan Winda berwarna merah.


Wildan menolak menggunakan, karena terlihat seperti perempuan sampai akhirnya terpaksa karena perintah Maminya yang hanya memakai di kuku.


Ar tidak bisa menolak keinginan Winda yang memasangkan hena di tangannya, menghiasnya sedikit membuat Winda tertawa.


Kaki Ar juga di lukis oleh Winda, tidak ada penolakan sama sekali membuat Wildan tersenyum.


Selesai kehebohan pengantin yang menggunakan hena Rama sudah memegang hasil tes yang Erik sendiri yang mengambilnya.


Terlihat ketegangan, seluruh keluarga duduk diam memperhatikan kertas yang Rama sudah buka hasilnya.


Erik menatap Ar yang menunggu jawaban dari Rama yang meminta Erik saja yang menjelaskan, karena Erik lebih tahu soal ilmu kedokteran.


"Daddy Rama dan Ar sepupu kandung, mereka juga memiliki golongan darah yang sama, bahkan aku sempat mencocokan dengan Ravi yang juga memiliki kecocokan akurat." Erik menyerahkan kepada Armand yang memperhatikan kecocokannya dengan keluarga Prasetya.


"Dugaan Bisma benar jika Uncle dulu memiliki kembaran ternyata terbukti, aku pernah melihatnya dengan jelas. Sekarang semuanya terbongkar jika dia memiliki seorang putra." Bisma tersenyum menatap Rama dan Bima.


Viana yang langsung heboh memeluk Ar, mencium keningnya membuat Ar kaget karena tidak terbiasa di sentuh wanita.


"Viana, Ar merasa tidak nyaman." Rama menatap anak muda yang tersenyum menyentuh pundak Viana.


"Selamat datang di keluarga Prasetya anak tampan, diperhatikan kamu sekilas mirip Rama saat muda, meskipun dia sekarang masih awet muda dan tetap tampan." Viana mengusap kepala Ar yang menahan air matanya.


"Mommy, Ravi lebih mirip Daddy."


"Iya, kamu memang mirip Daddy sejak kecil. Mommy senang sekali memiliki dua putra yang sama tampannya." Viana mencium pipi Ravi dan Ar yang langsung menyentuh pipinya.


Rama tercengang, awalnya Ravi yang merebut Vi, sekarang ditambah lagi satu. Vira langsung mencium pipi Daddy-nya.

__ADS_1


"Maaf Mom, Ar tidak nyaman jika dicium begitu." Erik menatap kasihan melihat Ar.


Reva langsung berlari memeluk, Jum juga mengusap kepala Ar mengusap wajahnya sambil tersenyum.


"Mami, mommy Bunda jangan disentuh, Kak Ar tidak nyaman di sentuh wanita yang bukan muhrimnya." Bella menghentikan orangtuanya, membuat Reva dan Jum langsung mundur.


Viana menatap kepala Ar yang menunduk, matanya fokus melihat kertas DNA. Viana langsung duduk memeluk Ar yang tidak bergerak.


"Menangis Ar, dengan menangis tidak akan mengurangi sedikitpun wibawa lelaki, menangis juga bukan, karena kamu lemah. Mommy tahu sakitnya melihat kebenaran tentang diri sendiri setelah dia tiada, mommy tahu rasa sakit sesak dan terpukulnya, mengetahui Ayah kandung mommy sudah tiada. Jadi cara satu-satunya luapkan kesedihan kamu." Viana meneteskan air matanya, menangis sesenggukan.


Ar juga meremas kuat kertas, tubuhnya bergetar menangis menahan suaranya yang sangat terpukul, sakit dan marah dengan kebenaran.


"Kenapa aku tidak seberuntung orang lain?" Ar menutup matanya, melepaskan kertas menangis sesenggukan meluapkan betapa tersiksanya dia yang menerima perlakuan uminya, alasan Ar selalu mengikuti abinya karena tidak pernah diterima kehadirannya oleh uminya.


"Jika kamu bertanya kenapa aku tidak beruntung seperti orang lain? siapa orang yang kamu pertanyakan. Daddy Rama bertahan tanpa orang tua, Mommy Viana juga kekurangan cinta dan kasih sayang, Papi dan Ayah juga tanpa orangtuanya, Mami Reva berjuang untuk bertahan hidup dari ekonomi keluarga, Bunda Jum juga menjadi pulang punggung keluarga. Sebenarnya setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing, mungkin sekarang orang melihat mereka lelaki hebat, memiliki istri hebat tanpa orang luar ketahui jika sebenarnya perjalanan mereka melewati tahun demi tahun untuk ada di zona sekarang." Ravi tersenyum memberikan tisu, mengusap punggung Ar yang memeluk erat Ravi.


"Ucapan Ravi benar, andai kamu tahu siapa aku duku Ar. Hanya anak kecil yang dibuang ibu kandung, berlari mencari ayah dan merusak pernikahannya. Kehadiran aku tidak diterima, tapi Allah mengirimkan orang baik, keluarga baik sehingga aku mendapatkan keutuhan keluarga. Kak Tian juga sama memiliki masa yang kelam, di sini bukan hanya kamu yang pernah merasakan sakit, kita juga tahu rasanya." Erik tersenyum mengingat kembali alasannya ada di tengah-tengah keluarga.


"Bahagia bisa dipertemukan dengan cara seperti ini, kamu seperti burung Ar terbang tinggi, berpidah-pindah tempat, tapi pada akhirnya akan tetap kembali ke sini." Viana mengusap kepala Ar.


"Terima kasih mommy, kalian semua orang baik." Ar mengusap air matanya.


"Kamu pernah marah? kenapa nada bicara kamu lembut dan menenangkan? apa keluarga Prasetya memang dari golongan manusia halus? atau karena kalian tidak memiliki kebiasaan dan kebebasan untuk menggila? sekali saja bentak Mommy." Vi memaksa Ar menaikan nada bicaranya.


"Viana." Rama menggeleng kepalanya.


"Jangan khawatir kak Vi, setelah menikah dia akan menaikkan nada bicaranya melihat tingkah istrinya yang kurang waras." Reva tertawa menatap Winda yang masuk sibuk mengukir kukunya.


"Benar juga, keturunan Prasetya tetap akan rusak. Setiap hari teriak-teriak, mengamuk, membuat masalah." Viana merinding membayang Winda dan Vira versi kecil.

__ADS_1


Ar hanya diam tidak mengerti dengan ucapan Viana, dia menatap ke arah Rama yang tersenyum memintanya mendekat.


Rama memeluk adik sepupunya yang terpaut usia cukup jauh, tidak pernah Rama sangka jika ada keturunan lain selain dirinya.


"Nanti kamu kenalan dengan keluarga Arsen, keturunan mereka sekarang ramai, hanya mengusir satu Viana." Rama tersenyum melihat istrinya cemberut.


Rama juga menceritakan jika tidak ada keluarga lain dalam hidupnya sehingga bergantung dengan Bima, Rama senang karena ada keturunan lain selain Ravi, Vira, Raka, Rasih.


"Semoga nanti keturunan Prasetya semakin ramai, keluarga kita semakin besar."


"Amin." Ar tersenyum langsung memeluk Rama yang tidak pernah terbayangkan sebagai kakak sepupunya.


"Maafkan Ar jika hadir di saat yang tidak tepat, maaf juga jika aku lahir hanya membawa dosa."


"Semua anak yang terlahir suci, mereka berdosa setelah besar, karena melupakan ajaran juga kewajibannya." Bima tersenyum membuat Ar menganggukkan kepalanya.


Vira dan Winda sudah menarik koper, mereka akan segera ke hotel karena acara sudah di depan mata. Soal siapa Ar bukan hal yang penting sehingga Vira tidak terlalu menggubris pembicaraan.


"Kita selesaikan di sini, ayo kita bersiap-siap ke hotel. Ingat Ravi Tian penjagaan harus benar-benar sudah aman." Viana menatap keduanya yang menjamin tidak ada masalah.


"Semuanya aman, hanya ada satu masalah takutnya ada mantan yang datang." Erik tertawa melihat wajah Vira dan Winda yang telah terkejut.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


***

__ADS_1


UPDATE JAM 00.00 DAN JAM 17. 00


__ADS_2