SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 TIGA BULAN


__ADS_3

Sudah tiga bulan sejak Kasih berduka, keadaan kembali normal. Ravi sudah sibuk bekerja, Kasih juga sibuk mengurus kedua anaknya.


Vira dan yang lainnya juga sudah kembali ke luar Negeri, Billa Erik juga kembali ke rumah sakit untuk bekerja. Tian sibuk di perusahaan, juga mengawasi Cinta yang sedang dalam pemulihan.


Binar dan Bening juga sudah tinggal bersama Jum dan Bisma, Jum merasa hidupnya semakin bahagia dengan melihat Bening, bahkan Bisma menolak untuk pergi bekerja, karena tidak sanggup berpisah dengan cucu mereka yang semakin aktif.


Viana Rama juga jarang di rumah, sibuk di rumah Ravi yang tidak bisa jauh dari cucunya. Hanya Reva yang kesepian, cucunya jauh, sehingga lebih sering di luar negeri.


Bima sudah menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada Wildan, Wil memutuskan tetap tinggal melanjutkan bisnis Papinya.


Reva baru saja kembali, menuju rumah sakit untuk bertemu Wildan yang terlalu banyak bekerja, lupa makan dan beristirahat, dia mengalami maag yang cukup parah.


Erik tersenyum melihat Wildan yang bisa tumbang juga, Wil sudah melarang Erik untuk menghubungi keluarga. Belum selesai Wildan bicara teriakan Reva sudah terdengar, Viana dan Jum juga muncul.


Wildan langsung pura-pura tidur, Reva datang bukan menangis, tapi langsung memukuli Wildan yang tidak tahu cara menjaga tubuhnya.


"Mami Wildan sudah sakit semakin sakit." Wildan teriak, mengusap bagian tubuhnya yang mendapatkan cubitan.


"Kamu yang salah, sehat itu mahal. Jika Papi sampai tahu, pasti langsung melakukan penerbangan sekarang juga."


"Mami pergi tanpa izin Papi, selalu seperti itu, Mami ingin menjadi istri durhaka."


"Mami sudah pulang dari awal, Papi juga tahu."


Reva kesal sekali melihat putranya yang melebihi Bima yang sibuk bekerja, Viana menanyakan keadaan Wildan, Erik mengatakan baik-baik saja.


"Wildan sayang, kamu harus jaga kesehatan."


"Iya Bunda, Wildan akan mengatur jadwal lagi."


Pintu terbuka, seorang suster memanggil Erik jika Billa jatuh pingsan setelah menyelesaikan operasi. Erik langsung berlari ke luar menuju ke tempat Billa.


Jum masih terdiam, Viana dan Reva sudah berlari bersama Erik. Jum menatap Wildan sambil tersenyum.


"Kak Billa baik-baik saja Bunda?" Wildan menenangkan Bunda Jum.


"Wil, kamu akan menjadi Uncle lagi."


Wildan mengerutkan keningnya menatap Bunda Jum yang tersenyum bahagia, Wildan duduk menyentuh kening Bunda yang memang panas.


"Bunda tahu dari mana?"

__ADS_1


"Bunda, setiap hari memantau Billa, dia suka ngambek, tapi nanti dia sendiri yang manja, Bunda juga salut Billa masih sanggup bekerja." Jum langsung melangkah keluar, Wildan melepaskan infus mengikuti Bunda untuk melihat keadaan Billa.


Erik menggendong Billa, wajah Erik sangat khawatir. Biasanya Erik cuek walaupun bertemu Billa, seperti tidak saling mengenal jika berada di rumah sakit.


Viana mengerutkan keningnya melihat Jum yang bahagia, Reva juga menatap sinis, anak pingsan Bundanya tersenyum bahagia.


"Panggil Dokter." Erik teriak kepada Suter.


"Maaf dok." suster ragu untuk bicara.


"Kamu Dokter Erik." Viana menatap Erik yang sangat khawatir.


"Panggil Dokter kandungan." Jum tersenyum, meminta suster segera memanggil Dokter kandungan.


Reva menenangkan Erik yang gemetaran, memasangkan infus, membangunkan Billa yang perlahan membuka matanya.


"Sayang, bagian mana yang sakit?"


"Billa kamu mual, kepala pusing, atau menginginkan sesuatu?" Jum bertanya membuat Erik menatap Bunda aneh.


Dokter kandungan masuk bersama Wildan, menatap Erik yang tersenyum, tatapan Billa tajam tidak suka.


"Sepertinya yang sakit saya, tapi mata kenapa di suami saya?" Billa berbicara ketus.


Erik mengaruk kepalanya, mengusap kepala Billa yang meneteskan air matanya. Dokter mengecek Billa, meminta Erik membawa Billa ke ruangannya.


Jum langsung membantu Billa, Erik mengikuti di belakang, Billa menggenggam erat tangan Erik, wajahnya masih cemberut, bibirnya monyong.


Dokter mempertanyakan kapan terakhir Billa bulanan, Bil menatap Erik yang menggelengkan kepalanya, Dokter tersenyum biasanya suami yang paling tahu.


"Kalian jarang berhubungan?"


"Dua bulan yang lalu kita sama-sama sibuk, bulan ini memang belum bulanan, saya juga tidak memperhatikan dok."


Dokter tersenyum menatap Erik, tidak heran Erik sulit didapatkan, dia sulit digoda hanya dengan nafsu. Erik terlalu profesional.


Perut Billa langsung dicek, Viana tersenyum menatap Jum yang pertama kali tahu Billa hamil. Hebatnya usia kandungan Billa sudah masuk tiga bulan.


Erik kaget bahkan tidak mengeluarkan suara, Billa tersenyum mengusap perutnya. Erik masih menjadi patung menatap perut Billa.


"Kenapa Rik kamu tidak bahagia?" Reva memukul punggung Erik.

__ADS_1


"Kenapa bisa tiga bulan, aku harus menyapa sejak dia usia satu hari." Erik langsung berlutut memeluk perut Billa, menciumnya penuh rasa bahagia, bahkan air mata Erik menetes.


Dokter meminta Erik duduk, janin Billa sangat kecil,. tidak sesuai dengan usianya. Billa juga pasti memahami soal kandungan, kurangi pekerjaan, fokus kepada kandungan, jika Billa lalai takutnya hal yang tidak diinginkan terjadi.


Billa mengusap perutnya, dia memang sudah lama merasakan keanehan, tapi mengabaikannya. Tidak menyangka ternyata ada nyawa lain yang sedang berkembang di dalam perutnya.


Jum, Viana, Reva menghubungi seluruh orang untuk berkumpul di rumah utama, ada hal penting yang dibicarakan. Jum juga langsung meminta Billa pulang, Erik akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.


"Hati-hati sayang, kita fokus menguatkan mereka, menambah berat badan, kita berjuang bersama." Erik mencium kening Billa, mengusap perut Billa yang memang sudah buncit.


"Iya, Pa." Billa tersenyum bersama Erik, merasakan kebahagiaan.


Billa pulang terlebih dahulu, air mata Billa menetes merasakan bahagia, dia akan segera menjadi Ibu.


Jum mengusap air mata Billa, mengusap perut putrinya, berdoa agar Billa sehat sampai melahirkan. Billa menatap tri istri yang bisa berada di rumah sakit.


"Bunda, Mami, sama Mommy kenapa bisa ada di rumah sakit?" Billa menatap ketiganya yang terlihat sedang berpikir.


"menjenguk Wildan." Jawab serempak.


"Astaga, tujuan awal melihat Wildan, tapi sekarang Wildan terlupakan." Jum tersenyum.


"Reva, kamu lupa sama anak sendiri?" Viana menepuk lengan Reva.


"Iya, lupa Reva." Reva tertawa bersama Viana dan Jum.


Di mobil Billa menghubungi Bella yang sedang makan bersama Vira dan Winda, Bil menetes air matanya, Bella langsung khawatir.


Jum tersenyum melihat ketiga putri yang sangat kompak, Bunda mengatakan jika Vira, Winda dan Bella akan segera menjadi Aunty.


Teriakan ketiga membuat heboh satu restoran, air mata Bella menetes bahagia untuk Billa, meminta Billa menjaga kandungannya. Billa juga menceritakan kondisi anaknya yang lemah, ketiganya menyemangati Billa, mereka yakin Billa bisa berjuang menjadi Ibu yang luar biasa.


Peluk cinta sayang dari kejauhan untuk Billa junior.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


***


Banyak yang protes hubungan Bella dan Tian, biarkan mereka bahagia dengan cara berpisah. Terkadang perpisahan jalan terbaik dari pada memaksa, karena tidak semua rasa cinta harus bersama.

__ADS_1


Kisah cinta Bella masih dirahasiakan, mereka gabung bersama Vira dan Winda.


***


__ADS_2