
Tatapan mata Tian dan Bella fokus ke kamar masing-masing, mereka binggung ingin ke kamar Tian, atau kamar Bella.
"Kalian berdua butuh hotel?" Bisma menatap putra putrinya.
"Tidak Ayah, Bella harus pindah ke kamar Tian." Senyum Tian terlihat melangkah ke lantai atas kamarnya.
Bella langsung menghentakkan kakinya, dia ingin pergi ke hotel agar bisa bebas malam pertama.
Langkah kaki Bella terdengar berlari ke arah kamar suaminya, Tian langsung menutup pintu melihat kamar yang ternyata sudah diubah menjadi lebih luas.
Bunda sudah menyiapkan semuanya, baju Tian dan Bella juga sudah di gabung sehingga tidak perlu keluar lagi.
"Kamu mandi duku Bel." Tian melihat ruang kerjanya.
"Tidak ada niat mandi bareng." Bella mengerutkan keningnya.
Suara air terdengar gemericik, Bella merinding merasakan dinginnya air. Sejak menikah Tian tidak pernah mencium, apalagi berbicara hal intim.
Bella mengerti kondisi keluarga mereka yang berkali-kali mendapatkan ujian, tapi setidaknya bahas sedikit saja soal malam pertama.
"Aduh, kira-kira malam ini buka segel tidak? sebentar lagi jadwal bulanan bisa tertunda lama." Bella bergumam sendiri karena was-was.
Keluarga mereka mendapatkan kutukan tertundanya malam pertama, Bella sudah sejak awal antisipasi agar tidak bulanan, peringatan Bundanya cukup menakutkan untuk Bella.
"Malam pertama memang sudah tertunda hampir satu minggu, jika ditunda lagi jadinya dua minggu." Bella mengusap wajahnya, lompat-lompat kesal karena sudah merasakan sakit perut ingin haid.
Tian bolak balik di depan pintu menunggu Bella keluar, suara Bel bergumam membuat Tian khawatir.
"Bel, apa yang kamu lakukan?" Tian mengetuk pintu meminta Bella keluar.
Secepat kilat Bella keluar melihat Tian yang tersenyum, Bella langsung melangkah mencari bajunya sedangkan Tian langsung mandi.
Sampai Tian selesai, Bella belum menggunakan baju. Handuk yang menutupi dada sampai pahanya masih melekat ditubuhnya.
Tian menundukkan kepalanya menelan ludah, mencoba menahan diri.
"Kenapa belum menggunakan baju?" Tian menatap Bella yang terlihat kesal.
"Lemari kacanya tidak bisa dibuka, Bella pakai baju apa?"
"Tunggu sebentar kak Tian yang mengambil ke dalam kamar kamu." Tian langsung mencari bajunya.
__ADS_1
"Sudah, tadi Bella minta tolong bibi untuk mengambil baju katanya sudah di sini semua." Bella langsung lompat ke atas tempat tidur.
"Sabar kak Tian mencari kuncinya dulu." Tian langsung membuka handle pintu.
"Cari di mana, Bunda tidak ingin menyerahkannya." Tangan Bella menarik selimut.
"Kenapa?" Tian menutup pintu kembali lalu menguncinya.
"Kata Bunda tidak perlu menggunakan baju jika di depan suami." Selimut langsung menutupi wajah Bella yang merasakan malu dengan ucapannya.
Bastian tersenyum, Bundanya memang paling pengertian. Jantung Tian juga mendadak deg-degan tidak menyangka bisa tidur satu ranjang.
"Bel, kamu sudah siap?" Selimut ditarik, Bella memunggungi Tian, karena deg-degan melihat suaminya.
Perlahan Tian naik ke atas ranjang, menyentuh pundak Bella yang tidak tertutup. Mata Bella tertutup meremas kuat handuknya.
Bau wangi dari tubuh Bella tercium, tangan Tian sudah melingkar di pinggang memeluk tubuh ramping Bella.
Bella mengigit bibir bawahnya, merasa napas suaminya yang terasa dilehernya.
Jantung Bella berdegup kencang, pelukan Tian juga semakin erat, bahkan Bella merasakan perih bagian lehernya yang dihisap perlahan.
Senyuman Bella terlihat langsung memeluk, menyembunyikan wajahnya karena malu. Tian sangat mengerti perubahan hubungan mereka yang membuat canggung.
"Sayang, kamu sudah siap belum menjadi ibu untuk anak-anakku?" Tian juga memeluk tubuh Bella.
Kepala Bella mengangguk, dia siap sejak lama. Menunggu bisa bersama sampai dirinya berusia dua puluh satu tahun, hanya mencintai satu lelaki yang sekarang menjadi suaminya.
Tangan Tian meraba punggung Bella, menurunkan handuk yang melilit. Pelukan Bella juga mengendor, Tian tanpa ragu langsung mengecup bibir seksi istrinya.
"Kak Bella deg-degan ...." Ucapan Bella tidak terselesaikan, bibir Tian sudah menutup mulutnya.
Keduanya hanya diam saling membalas, tangan Bella melingkari leher Tian, tangan Tian juga sudah menahan tekuk leher Bella.
Bella mendorong tubuh Tian karena hampir kehabisan napas. Kedua tangan Bella ditahan barulah Tian melepaskan.
Napas Bella naik turun, hanya beristirahat sebentar kecupan dibibir sudah terasa lagi, Bella membuka mulutnya merasakan hangat.
Tidak tahu kapan Tian melepaskan handuk, Bella tidak menyadarinya. Tubuh Bella sudah tidak menggunakan apapun lagi, kedua tangan Bella juga terangkat ke atas ditahan satu tangan Tian.
Suara Bella mulai terdengar saat merasakan nikmat dilehernya yang ditelusuri secara inci, bibir Bella berdarah karena digigit demi menahan suaranya yang terdengar liar.
__ADS_1
Kedua tangan Bella dilepaskan, Tian langsung membuka bajunya membuat Bella memalingkan wajahnya.
Kedua tangan Bella menutup dadanya yang sudah terlihat, senyuman Tian terlihat mengecup kening Bella lembut.
Tangan nakal mulai beraksi lagi, menyentuh perut terus naik, menyentuh dada membuat Bella menahan tangan Tian karena terasa sakit.
Suara langkah kaki terdengar menaiki tangga, Tian menyentuh bagian bawah Bella, tapi kaget karena ketukan.
Tian langsung menarik selimut menutupi tubuh mereka, Tian bersyukur karena pintu sempat dia kunci.
"Bella, kamu sekarang pindah kamar. Ada yang ingin kita bicarakan?" Vira menggedor pintu, Winda menekan handle pintu tapi terkunci.
Tian langsung mengacak rambutnya, saat suasana lagi panas ada pengganggu. Kepala Tian mendadak sakit, karena nafsunya tidak tersalurkan.
"Begini rasanya sakit kepala menahan diri." Tian tersenyum menatap Bella yang menggaruk kepalanya.
Jum kaget keluar kamar mendengar suara Winda dan Vira yang teriak-teriak.
"Astaghfirullah Al azim, kalian berdua sedang melakukan apa?" Jum naik ke lantai atas.
"Bunda selamat malam, kita ingin menunjukkan daftar jalan-jalan untuk Bella."
"Ya Allah Vira, Winda kalian berdua mengemaskan sekali. Tolong jangan tunda kehadiran cucuku. Sekarang pulang." Jum mendorong keduanya untuk turun.
"Nanti bunda, kita ada hal penting. Besok kita ingin pergi memancing." Vira menatap kesal.
"Bunda masakan makanan saja ya?"
"Tidak mau Bunda, kita lagi diet." Winda ingin naik kembali.
"Pulang sekarang, Bella tidak terima tamu malam-malam, dia sudah punya suami."
"Bunda jahat, tidak sayang kita lagi." Vira dan Winda langsung melangkah pergi.
Bisma tertawa melihat istrinya yang mengusir dua pembuat onar, Jum juga tidak tega sebenarnya, tapi tidak ingin Vira dan Winda menganggu Tian dan Bella yang baru bisa berduaan setelah hampir satu minggu menikah.
"Maafkan Bunda yan Vira sayang, Winda sayang. Bunda ingin segara melihat cucu dari Tian dan Bella sehingga kami komplit menjadi nenek dari keempat anak kami." Jum tersenyum langsung memeluk Bisma.
"Kira-kira apa yang dilakukan Tian dan Bella ya sayang. Ayah juga penasaran." Bisma tertawa, Jum mencubit telinganya memaksa untuk kembali ke kamar.
***
__ADS_1