SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 LUKISAN KASIH


__ADS_3

Kasih tersenyum melihat sebuah lukisan yang sangat hidup, lukisan yang pernah Kasih jual karena membutuhkan biaya untuk kehidupan sehari-hari, ternyata berada di dalam ruangan kerja Ravi.


"Bagus ya sayang?" Ravi datang memeluk Kasih dari belakang.


"Dapat lukisan ini dari mana?" Kasih membalik tubuhnya untuk melihat wajah Ravi.


"Sebuah pameran, aku membelinya cukup mahal dan yang paling unik inisial lukisannya." Ravi tertawa menunjukkan ini bertulisan Kasih sayang mengunakan bahasa China.


"Tahu tidak artinya?"


Ravi tersenyum memperhatikan lukisan, Ravi sangat jatuh cinta saat pertama melihatnya. Lukisan yang sederhana tapi memiliki jiwa, sebuah ungkapan rasa Kasih sayang. Lukisannya yang memiliki banyak arti, terselip juga sebuah rasa kesedihan.


"Lukisan ini menceritakan tentang aku, namanya Kasih sebuah ungkapan Kasih sayang. Aku merindukan suasana sederhana penuh cinta, canda dan tawa tapi semakin aku bertumbuh dewasa yang terlihat sebuah kesedihan. Aku marah sehingga awan berubah gelap, aku butuh sebuah Kasih sayang bukan hanya bisa memberikan." Kasih meneteskan air matanya, Kasih tidak bisa menahan kesedihannya karena keadaan yang menghancurkan segalanya.


Ravi langsung memeluk Kasih, membiarkan Kasih menangis. Dalam hati Ravi berjanji akan memberikan kebahagiaan, tidak akan membiarkan air mata Kasih keluar lagi hanya untuk mengingat masalalu.


"Tenyata kamu pelukisnya, kita sangat dekat tapi lama sekali bertemu."


"Ravi, terima kasih karena kamu pernah membantu pengobatan bapak, membantu kak Tama, memberikan pekerjaan untuk kak Cinta."


"Semua itu bukan karena aku, tapi rezeki kamu dan mereka, Tama memang hebat sehingga dia pantas memiliki pangkat, yang bisa mempertahankan pangkat hanya dirinya, soal Cinta dia memang memiliki kemampuan di bidangnya, bertahan tidaknya dia, semuanya ada pada keputusannya." Ravi mengusap air mata Kasih.


"Kasih, aku tidak pernah menolong kamu tapi terkadang Allah memberikan rezeki melalui orang lain, kita berpikir itu musibah karena kita tidak melihat hikmahnya."


Senyuman Kasih terlihat, mendengar Ravi bicara serius sungguh moments yang unik, karena biasanya Ravi hanya akan menggombal dan menganggu Kasih.


"Senyum-senyum mau minta cium ya?" Ravi mendekati wajah Kasih yang langsung berubah memerah.


"Enggak."


"Iya kali, lihat pipinya sudah memerah." Kasih langsung menutup pipinya, bibirnya langsung manyun.


"Enggak, Kasih biasa saja. Dasar Ravi otak mesum." Kasih langsung berlari keluar ruangan Ravi.


Ravi langsung tertawa, Kasih sangat menggemaskan jika sedang malu-malu. Cepat Ravi mengambil ponsel, kunci mobilnya, juga jas yang berada di kursi kerjanya.


Kasih menunggu Ravi di depan lift, beberapa orang sudah tahu jika Kasih calon istri bos mereka. Sindiran mulai terdengar, Kasih hanya tersenyum saja.


"Enak ya mantan OG tapi bisa menjadi calon Nyonya muda."

__ADS_1


"Ya pasti, adik sama kakaknya sama-sama pintar menggoda."


"Kalian saja yang jelek, bukan hanya wajah dan penampilan tapi hati kalian juga jelek. Jangan suka menghina orang lain, introspeksi diri." Kasih mengedipkan matanya, kalau dia mau dengan mudah bisa merobek mulut orang yang sukanya mencari keburukan orang lain.


"Kasih, ini tas kamu?"


"Terima kasih Abi."


Ravi langsung tersenyum menahan tawa, Kasih tidak biasanya bersikap lembut. Dengan senyuman Ravi langsung menggandeng tangan Kasih, mengajaknya masuk lift khusus dan turun ke bawah.


Jadwal Ravi dan Kasih untuk melihat gaun pengantin, juga melihat cincin sisanya sudah di urus oleh ketiga orangtuanya yang langsung turun tangan menyiapkan hotel, katering, souvernir, semua yang dibutuhkan untuk persiapan sudah ada yang menangani. Ravi dan Kasih hanya perlu duduk manis menyambut tamu undangan.


Di dalam mobil Kasih melihat undangan yang sudah di sebar, tidak ada tanda-tanda kekacauan tapi Kasih yakin air yang tenang bukan berarti tidak berbahaya.


"Ravi, banyak tidak wanita yang patah hati?"


"Tidak tahu, yang pasti aku tidak ingin tahu."


"Bagaimana jika mereka mengacau di acara pernikahan kita?"


"Sayang, biarkan semuanya berjalan sesuai ketentuan. Aku sudah berusaha untuk memberikan keamanan sedetail mungkin demi keamanan dan kelancaran acara, tapi jika masih terjadi kesalahan dan masalah, jalan terakhir kita ya harus dihadapi."


"jangan takut kita tidak sendirian, banyak orang yang mencintai kita terutama keluarga. Kamu harus yakin semuanya akan lancar sampai kita malam pertama." Ravi langsung tertawa, Kasih langsung menjauhi Ravi, tubuhnya sudah menempel di pintu mobil.


Tanpa sepengetahuan Kasih Ravi juga ingin bertemu Wildan sebelum mengambil cincin, Kasih hanya bisa tersenyum melihat Ravi yang suka sekali membuat Wildan marah.


"Ravi banyak sekali pengemar Wildan, lihatlah dia menjadi pusat perhatian."


"Iya sayang, dia pemuda tampan keluarga Bramasta, mirip sekali dengan uncle Bima yang sudah tua tapi masih terlihat muda, bahkan hampir seumuran dengan Mami."


"Iya juga, keturunan kalian semuanya hasilnya maksimal." Kasih tersenyum.


"Ganteng aku apa Wildan?"


"Di mata aku pasti kamu, tapi di mata Vira pasti Wildan."


"Kecantikan dan ketampanan kita hasil dari bibit yang unggul, nanti anak kita juga pasti lebih unggul lagi. Daddy-nya ganteng, Mommynya cantik, imut dan menggemaskan."


Kasih tertawa terus berjalan bergandengan dengan Ravi yang sudah melihat Wildan dari kejauhan. Ravi sangat mirip Daddy Rama, sedangkan Vira sekilas mirip Mommy yang banyak bulenya. Wildan sangat mirip Papi, Winda mirip Mami, Bella dan Billa dari segi wajah mirip Bisma, Jum tidak mendapatkan bagian karena kedua putrinya lebih mirip bule.

__ADS_1


"Rav, Mommy umurnya sudah berapa, tapi masih cantik Daddy juga ganteng banget."


"Sayang tanya langsung kepada Mommy, sekalian buat daftar harga untuk perawatan Mommy yang super mahal, kalau ingin melihat wajah polos wajahnya Bunda Jum. Kalau Mami dan Mommy perawatannya tiga hari sekali."


"Mommy dan Mami tidak operasi?"


"Mommy memang keturunan Bule, karena nenek juga Bule sedangkan kakek asli sini, kalau Mami memang dari kecil sudah cantik, ditambah suka makeup."


"Memang keluarga Perfeck."


Wildan sudah menggenggam gelas yang berisi es, sudah satu jam dia menungggu menjadi tontonan. Wildan sangat tidak suka makan di tempat umum, karena dia merasa risih menjadi pusat perhatian.


"Kak Ravi, kamu memang tidak pernah memberikan aku kehidupan yang tenang." Wildan tersenyum sinis, meminum air es langsung memakan batu es.


Sedangkan Ravi sengaja berlama-lama agar Wildan marah, karena kemarahan Wildan hal yang paling menyenangkan. Jangan sampai saja Vira geng tahu, sudah pasti rumah makan heboh.


"Assalamualaikum Wil."


"Waalaikum salam, aku pikir kamu sudah mati di jalanan."


"Sadis, aku sibuk mengurus acara pernikahan." Ravi menahan tawa melihat wajah Wildan.


"Aku boleh duduk?" Kasih menatap Ravi dan Wildan, cepat Ravi menarik kursi untuk duduk Vira.


Tanpa banyak basa-basi Wildan menyerahkan sebuah


map yang cukup tebal, Kasih menatap Ravi mencari jawaban.


"Semuanya harus aman Wildan."


"Jika satu kali lagi mengerjai aku, akan aku pastikan di akhir pesta bukan acara makan bersama keluarga besar tapi acara kembang api."


"Dasar pemarah,"


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2