
Wildan, Kasih, Binar juga Wira masih menunggu di ruang tunggu. Wildan melihat orangtuanya langsung menangis sesenggukan, karena bayi harus segera di dilahirkan.
Cukup lama menunggu, operasi Vira selesai, Wildan langsung mempertanyakan keadaan istrinya, dokter mengatakan jika Vira baik-baik saja.
Wildan langsung masuk melihat dua bayi kecil berada dalam tabung, tidak bisa menyentuh kedua anaknya. Air mata Wildan tidak tertahankan, bayi kecil masih harus dirawat intensif. Kondisinya yang masih lemah belum boleh di sentuh kedua orangtuanya.
"Maafkan Papi yang tidak bisa menjaga kalian, harus bertahan ya sayang."
Wildan mengadzani kedua anaknya, menatap putra dan putri kecilnya.
Wildan melihat Vira yang masih belum sadarkan diri, mencium keningnya meminta maaf, karena gagal menjaganya.
Operasi Winda juga selesai, tangisan Reva terdengar kuat saat tahu putri koma. Seketika Reva pingsan, Bima juga hampir jatuh, Rama memeluk Bima agar berdiri untuk tetap kuat..
Viana menangis histeris, Wildan yang mendengarkannya juga langsung menangis, seluruh keluarga menangis.
Dua bayi kembar di keluarkan, Wildan semakin terpukul melihat dua bayi yang langsung dibawa pergi.
Sungguh sedih takdir mereka, lahir secara prematur, ibunya mengalami koma, sedangkan Ayahnya sampai detik ini belum ada kabar.
Wildan menggenggam tangan istrinya, berharap masalah mereka cepat selesai. Melihat keadaan Winda dan Ar yang koma, kasihan melihat twins A.
"Sayang bangun, temani aku Vir. Sekarang aku sedang lemah sekali." Wildan mencium kening istrinya, tidak tega melihat Vira yang harus melahirkan di usia kandungan belum tujuh bulan.
Berkali-kali Wildan mondar-mandir melihat anaknya yang belum bisa disentuh, melihat keponakan, adiknya yang belum membaik.
Ravi merangkul Wildan, memintanya beristirahat. Wildan juga membutuhkan tenaga untuk menyambut hari ini, berharap jika esok ada cahaya kebahagiaan.
Senyuman Wildan terlihat, menguatkan hatinya untuk terus berjuang dan bertahan.
***
Pagi-pagi Vira terbangun, merasakan tubuhnya belum bisa bergerak. Tangan Vira menyentuh perutnya yang sudah hampir rata.
Air mata Vira langsung menetes, mengucapkan istighfar berkali-kali. Melihat Wildan yang duduk menatapnya, kening suaminya berkerut.
"Ayang, mana? anak Vira." Tangisan Vira pecah, mendengar suara Vira menangis kedua twins langsung menangis.
Vira diam melihat ke arah tabung inkubator, ada Mommy Daddy-nya sedang memberikan susu kepada dua bayi.
"Mereka sudah lahir?" Vira menangis lagi.
__ADS_1
Baby queen juga menangis membuat Viana tertawa, langsung menggendongnya pelan-pelan membawa ke arah Vira.
"Bayi Vira perempuan, lucu sekali. Kenapa kecil? anaknya Bella besar."
"Lahir prematur Vira, makanya sudah tahu hamil jangan terbang, kamu tidak punya sayap."
"Winda, mana Winda Mom? Tangisan Vira terdengar, baby queen langsung menangis kuat, Vira menutup mulutnya.
Viana membantu Vira, menggendong anaknya. Mendiamkannya. Tangan Vira mengusap wajah anaknya.
"Winda baik-baik saja sayang, dia sempat koma Alhamdulillah cepat sadarnya. Twins A juga sudah lahir, mereka kembar pengantin." Senyuman Wildan terlihat, menggendong putranya.
"Berarti hanya Vira yang cewek semua?"
"Dengarkan Virdan, kamu dibilang perempuan." Viana tertawa, Vira langsung teriak melupakan bayi kecil diperlukannya yang langsung terkejut.
Viana langsung ingin mencekik Vira, senyuman Vira terlihat mencium putrinya karena lupa.
"Ini anak manusia Vira, bukan boneka. Tidak punya otak kamu?" Viana ingin sekali memukul putrinya.
"Iya Mommy maaf lupa, maafkan Mami ya nak." Vira mencium putrinya.
"Siapa namanya sayang?"
"Mommy Kenapa tidak nyambung? satunya Virda satunya Vivi."
"Arwin dan Arsyila juga beda, jangan protes sekarang ada dua Vi." Viana tersenyum bahagia.
"Bagus namanya, Vivilia Pratiwi Bramasta." Wildan menahan senyuman.
"Tunggu, kenapa ada Pratiwi tapi Cloria tidak ada?"
"Viana." Rama menepuk pundak istrinya.
"Reva Pratiwi, dan Viana Cloria Arsen. Berarti namanya Vivilia Wiria Bramasta."
"Tidak sekalian saja Mom waria?" Vira melotot.
Viana tersenyum mencium pipi cucu kecilnya, Vira ingin melihat Winda juga kedua anaknya.
Wildan meminta Vira pulih dulu, begitupun dengan Winda. Keadaan Ar juga belum diketahui detailnya, Wildan berharap mereka semua mendapatkan kabar baik.
__ADS_1
Suara ketukan terdengar, Reva muncul ingin melihat kedua cucunya. Mencium pipi Virdan yang sedang tidur.
Rama dan Wildan keluar, Vira sedang belajar menyusui kedua anaknya. Sebaik apapun susu, tetap ASI ibunya.
Air mata Vira menetes, meminta maaf kepada kedua anaknya yang harus lahir secara dadakan. Bahkan mereka belum sempat melakukan acara tujuh bulanan, melihat jenis kelamin, membeli baju.
Vira merasa bersalah, dia gagal menjaga anaknya.
"Maafkan Mami ya nak, kejadian terlalu mendadak. Mami tidak menyesali yang terjadi, kalian jangan marah ya sayang, Mami akan mencintai kalian berkali-kali lipat." Vira mencium putranya.
"Bohong, Mommy tidak yakin. Buktinya Kasih, besar sayangnya kepada Asih, tapi masih naik darah melihat putrinya. Satu lagi Billa Bramasta, kurang baik dan sabar apa lagi sosok Billa, tapi masih main kejar-kejaran dengan putrinya. Dua wanita pendiam juga berubah, apalagi model perempuan seperti kamu." Viana tidak percaya sama sekali, Vira dan Vivi pasti menjadi musuh bebuyutan.
Senyuman Vira terlihat, dia juga tidak yakin akur dengan salah satu anaknya. Melihat dirinya sendiri yang tidak bisa tenang.
"Berapa lama anak-anak berada dalam tabung Mami, mommy."
"Sampai mereka kuat, melihat respon Wildan seperti kalian cukup lama, dia sensitif Vira, bahkan dengan kedua keponakannya."
Vira mengikuti apapun yang Wildan inginkan, Vira tahu bagaimana beratnya posisi suaminya harus melihat Winda dan Ar, empat bayi prematur yang butuh perawatan.
Suaminya berdiri sendiri menanggung sakitnya, dia pasti menangis dalam diam.
"Wildan pasti lemah sekali?"
"Bukan lemah lagi, kami puas melihat dia menangis, saat mendengar Winda koma, Ar juga keadaannya sangat buruk. Kamu ingin tahu apa yang Wildan katakan. Bagaimana cara aku menghadapi keponakanku, jika dia bertanya tentang orangtuanya. Wildan menangis kuat." Viana mengusap air matanya, mengusap kepala putrinya yang juga langsung menangis.
Arwin dan Syila tidak salah tetapi mereka yang harus kehilangan waktu bersama Abinya, seandainya mereka mengerti jika saat lahir tidak ada Papanya.
"Kak Ar pasti sedih, dia sangat menantikan kehadiran buah hatinya." Vira mengusap air matanya.
Wildan masuk mengendong Em yang menangis marah dengan Mama Papanya, dia harus datang sore, tapi tidak ingin mendengar.
"wow adik kecil."
"Vira kamu ingin satu ruangan dengan Winda?"
"Mau, Vira ingin bersama Winda. Vira ingin bertemu sahabat Vira, melihat twins A yang sangat kuat untuk bertahan menanti ayahnya. Vira ingin melihat kedua anak Vira Arwin dan Arsyila, sekarang Ayang." Air mata Vira tidak tertahankan.
"Em, liat dedek Ila, matanya bilu." Embun melihat mata Vivi yang warnanya juga cantik.
***
__ADS_1
GAYS MAAF SOAL GIVE AWAY.
SIANG INI AKU BUAT PERTANYAAN DI IG, KALIAN JANGAN LUPA CEK.