SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 CINTA SEGITIGA


__ADS_3

Motor Ravi masuk ke dalam gedung milik Daddy Rama, di sana sudan banyak perubahan sejak Ravi yang mengambil alih. Beberapa orang cupu menyapa Ravi yang juga sangat ramah tapi aslinya saat bekerja Ravi sangat dingin.


"Ada masalah apa paman?" Ravi berdiri melihat layar besar, dari sinilah Ravi mengawasi keempat wanita nakal Prasetya dan Bramasta. Selain Ravi ada manusia es yang mengetahui rahasia keempat wanita.


"Bella berulah lagi, kita harus menghentikan dia jangan sampai indentitasnya ketahuan."


"Hubungi manusia es, dia bisa mengurus soal Bella. Tidak ada yang berani membantahnya. Aku tidak biasa bicara kasar."


Layar langsung terhubung ke luar negeri, seorang pria tampan, menggunakan kacamata sedang sibuk membaca berkas di depannya. Ravi tertawa sudah lama dia tidak melihat adik lelakinya satu ini, semakin besar semakin dingin.


[Bella berulah, pulanglah tidak capek menyendiri.]


[Aku sudah membereskan soal Bella, kak Ravi bisa tidak lebih fokus jangan sibuk pacaran.]


[Berani kamu mengawasi aku, dia bukan pacar tapi calon istri. Jangan sampai aku menikah kamu tidak kembali.]


[Satu tahun lagi aku akan kembali, tolong jaga orangtuaku.]


Belum selesai Ravi bicara, layar sudah mati. Ravi mengumpat mengutuk manusia es yang melebihi uncle Bima dinginnya, bahkan senyuman juga satu tahun sekali muncul hanya di depan aunty Reva.


Selesai mengecek seluruh rekaman keamanan, Ravi baru melangkah pergi. Dia ingin menemui sahabatnya yang sedang berkumpul, sudah lama Ravi tidak bertemu Erik juga Tama apalagi Tian.


Saat tiba di sana hanya ada Erik dengan wajah kusut, matanya juga bengkak, wajah tampan Erik rusak karena banyaknya masalah.


"Sudah aku katakan jika ada masalah diskusi, jangan menyiksa diri sendiri."


"Aku putus dengan Cinta, dia menuntut perhatian sedangkan aku sangat sibuk."


"Sabar Rik, jika jodoh tidak akan kemana. Pasti dia ada masalah, membutuhkan teman."


"Masalahnya dia memilih lelaki lain, aku menemukan dia jalan dengan teman Dokter aku. Asli sialan, jika bukan adiknya Tama, sudah aku caci maki."


"Mungkin dia lebih tampan, mapan, status di atas kamu." Ravi tertawa ngakak, sedangkan Erik sudah dengan wajah menahan marah.


Tidak lama Tian datang bersama Tama, tatapan mata Tama melihat Erik yang sedang stres. Ravi bukannya menghibur tapi mengejeknya.


"Sudah aku katakan, jangan menyalin hubungan dengan adik sahabat. Kalian bertengkar akan merusak persahabatan kita Erik."


"Sudahlah jangan bahas lagi," Erik memanggil pelayan untuk memberikannya minuman beralkohol, Ravi coba menghentikannya.

__ADS_1


"Kamu Dokter Erik, jangan gila karena putus cinta merusak diri. Kalau sampai Bunda tahu, dia pasti akan marah."


"Jangan dikasih tahu, selama seminggu aku tidak bertugas jadi bebas."


"Haram Erik, percuma kita dididik taat beribadah, tapi tetap melakukan larangannya. Di luar boleh bajingan, tapi tidak dengan merusak diri."


"Baiklah, aku pulang saja mau tidur."


"Tetap di sini!" teriak Tama.


"Kalian lupa siapa aku, ibuku seorang wanita malam. Aku juga tidak tahu sebenarnya anak siapa, benar tidak aku anaknya kakak ipar, tidak heran orang meremehkan aku." Erik meneteskan air matanya, dia selalu berusaha kuat, menerima kenyataan tentang dirinya.


"Kita tidak tahu, bagi kami kamu anaknya Aunty Septi sama Uncle Ammar. Jika sampai Aunty tahu kamu bicara seperti ini, pasti dia akan menangis histeris. Dia sangat menyayangi kamu Erik, bahkan hampir bercerai dengan Uncle demi kamu."


"Gila kamu bicara seperti itu, hanya karena cinta membuat kamu melemah. Mental tempe kamu pakai." Bastian ikut kesal mendengar ucapan Erik.


"Kamu mental tahu, tidak berani dekat dengan adik sendiri."


"Masalah cinta kalian membuat posisi aku tidak enak, Erik dengan Cinta belum lagi Ravi dengan Kasih."


"Esshh, Ravi dan Kasih beda. Kita tidak pacaran tapi langsung akan menikah, walaupun baru kenal aku langsung jatuh cinta."


"Aku tahu kak Tama, tapi di saat hati yakin, Ravi percaya akan mampu melewati segala ujian hubungan kami."


"Hubungan Erik berakhir bukan karena Dokter lain, tapi Cinta yang masih mencinta kamu. Pikirkan saja sendiri, Kasih akan mundur atau maju." Tama pusing melihat kedua adiknya mencinta satu lelaki, sebagai kakak dia tidak bisa memihak salah satu kecuali meminta Ravi meninggalkan keduanya.


"Tidak mungkin, Cinta dan aku sudah berakhir. Perasaan aku kepada Kasih berbeda dengan perasaan terhadap Cinta."


"Berpikirlah dulu Ravi, jangan menyakiti salah satu saudara, kemungkinan Kasih akan melepaskan kamu bukan berarti kamu akan memilih Cinta, akhirnya kalian bertiga tidak akan bersatu."


Ravi berdiri dari duduknya, menatap Tama tajam. Ravi mengerti ucapan Tama tidak salah tapi dia tidak akan mundur sebelum berperang. Jika untuk memiliki Kasih harus melewati Cinta segitiga akan Ravi hadapi.


"Aku tidak akan menyerah, akan aku taklukan hati Kasih. Juga tidak akan menyakiti Cinta."


"Sejujurnya aku percaya kamu sudah memilih Kasih bukan hanya karena amanah bapak tapi jangan sampai kamu menyakiti Cinta."


"Tapi Cinta egois,"


"Ya aku memang egois!"

__ADS_1


Semuanya menatap Cinta yang baru datang dengan air matanya yang masih mengalir, Tama langsung berdiri. Cinta masuk ke dalam pelukan Tama, tangisannya pecah yang lainnya binggung melihat Cinta dengan keadaan yang terluka hatinya.


"Dari mana? apa yang terjadi?"


"Kaka, Cinta egois menyakiti adik Cinta. Kenapa aku mempunyai hati yang iri dan dengki."


"Kamu sudah bicara dengan Kasih."


"Ya kak, sebenarnya Cinta hanya ingin jujur tapi kejujuran Cinta bukan hanya menyakiti Kasih tapi ibu juga."


"Di mana Kasih!" Ravi teriak dengan nada tinggi.


"Ibu, ingin kembali ke kampung karena tidak ingin melihat pertengkaran kami."


"Aku tanya di mana Kasih?"


Tama semakin pusing di buatnya, ternyata benar respon ibu sangat buruk soal perasaan Cinta yang ingin jujur soal isi hatinya, walaupun tidak seutuhnya dia ingin memiliki Ravi. Kepergian bapak juga amanahnya membuat ketidakharmonisan dalam keluarga mereka.


"Di mana Kasih Cinta?"


"Kasih memutuskan untuk tidak mengikuti amanah bapak, dia ingin pergi keluar Negeri. Ibu juga berniat bicara dengan keluarga Prasetya untuk membatalkan perjodohan, dan ibu akan kembali ke kampung."


"Sekarang kamu puas Cinta, menyakiti Erik, Kasih, Ravi juga ibu bahkan diri kamu sendiri. Kamu meletakkan Cinta pada tempat yang salah." Tama bicara pelan menatap mata Cinta.


"Cinta harus bagaimana kak, perasaan ini ada dalam hati. Awalnya Cinta berpikir rasa ini telah mati, tapi melihat kebahagiaan Kasih Cinta merasa Kasih merebut kebahagiaan Cinta." Air mata Cinta kembali menetes.


"Kita melanggar amanah bapak, menyakiti hati Kasih. Dari awal kita berdua yang egois, satu-satunya anak yang setia mendampingi orangtunya hanya Kasih, dia kehilangan mimpi, cita-citanya demi menjaga bapak dan ibu. Baru saja dia ingin bahagia, kita kembali menghancurkan kebahagiaan Kasih. Kak Tama tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk kalian berdua, tidak bisa menjaga kalian."


"Aku tidak akan pernah membiarkan Kasih pergi, aku tidak perduli dengan amanah bapak karena aku akan tetap menjadikan Kasih istriku. Tidak perduli harus menantang Tama, Cinta bahkan ibu kalian. Jika aku tidak bisa memiliki secara baik, cara buruk akan aku lakukan." Ravi langsung melangkah pergi, tidak terlihat lagi Ravi yang ceria, tatapannya langsung dingin.


"Nah Ravi sekarang mirip Aunty Viana," Erik tersenyum sudah lupa dengan patah hatinya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2