
Wildan terbangun dari tidurnya, menatap Vira yang ada di sisinya sedang memperhatikan wajahnya.
"Wil kamu sudah tahu siapa Dewa?"
"Vira, aku tidak mungkin datang ke sini jika tidak tahu." Wildan memejamkan matanya kembali.
"Kenapa kamu diam saja?" Vira mengerutkan keningnya, menatap tajam Wildan.
"Hanya mengikuti permainan, aku tidak memiliki sembilan nyawa yang sulit mati. Menantang secara terang-terangan bukan menunjukkan sebuah kehebatan. Aku bukan penjahat, hanya ingin menghentikan kejahatan." Tarikan nafas Wildan menghela nafasnya.
"Dia mencintai Bella, cinta Vira ditolak."
"Kamu cantik Vir, cerdas, memiliki bakat, jangan sembarang mencintai lelaki yang tidak bisa melihat bertapa luar biasanya kamu. Aku tidak akan membiarkan kak Bel, Winda dan kamu mencintai dia." Mata Wildan terbuka, lalu menutup kembali.
"Bangun Wil, kerja. Mereka semua sedang berjuang melawan Dewa kamu asik tidur."
"Kamu sendiri yang mengatakan harus kerja dalam tim. Bangun Vira sholat subuh."
"Wil kita semalaman tidur berdua, kamu tidak melakukan apapun? awas saja menyentuh keindahan tubuh Vira."
Wildan mengerutkan keningnya, kenyataan yang bisa saja terbalik. Vira yang sebenarnya menyentuh Wildan.
Selesai sholat Wildan langsung menemui Randu di dalam kamarnya, tatapan mata Randu kosong tidak terima dengan tuduhan Wildan..
"Bagaimana sekarang kamu percaya?" Wildan duduk di samping Randu.
Randu terdiam mengigat kejadian beberapa hari yang lalu, dia sedang sibuk melakukan penelitian di kediamannya dan Dewa.
Dewa masuk sambil tersenyum, menatap Randu dengan tatapan kagum. Dewa juga pamitan untuk pergi menemui Wildan yang kemungkinan bisa membantunya.
Randu menerima pesan singkat dari sumber yang tidak diketahui, Wildan mengirimkan pesan agar Randu berhenti mencari tahu karena tidak akan mendapatkan apapun.
Wildan mengirimkan hasil penelitian yang sama dengan Yusuf, meminta Randu memancing Dewa agar merespon penemunya.
Dengan perasaan ragu, Randu mencoba mengikuti saran Wildan. Randu hanya meninggalkan sebentar ruangnya, tapi semua penelitian lenyap terbakar, tanpa ada api.
Randu belum percaya jika Dewa salah satu orang yang selalu membuatnya gagal, Wildan memberikan kesempatan kedua untuk tinggal bersamanya.
Wildan membuktikan kembali, Dewa membocorkan penemuan Wildan yang tidak mungkin sembarang orang yang bisa masuk wilayahnya, jika tidak ada bantuan dari dalam.
Virus, jebakan hanyalah kebohongan. Mereka bukan menjebak orang luar, tapi memancing Dewa mengeluarkan seluruh orang yang terlibat agar Wildan bisa mengirimkan timnya untuk melakukan penyelidikan.
Kematian keluarga Dewa dan Randu sudah Dewa rencanakan, dia yang membunuh kedua orangtuanya karena Ayahnya menolak menyerahkan seluruh harta dan tahta kepadanya.
Dewa masih menjalankan bisnis, melakukan kejahatan yang melebihi Ayahnya hanya perbedaannya Dewa berpura-pura baik untuk mendekati banyak orang, seakan-akan dia yang tersakiti, padahal dia yang menyakiti.
Penyadap yang Wildan temukan, sengaja Dewa masukkan untuk mendengarkan seluruh laporan dari bawahannya soal bisnis ilegal.
"Di mana Dewa sekarang?"
__ADS_1
"Dia pergi setelah bicara dengan Vira."
"Kamu ingin tahu kenapa Dewa meminta Vira datang?" Wildan menatap Randu yang menggelengkan kepalanya.
Wildan baru saja mengetahui jika bisnis Viana Arsen masih berjalan meskipun dalam kebaikan, Vira orang yang mengendalikan tanpa ada yang mengetahui termasuk Viana dan Rama.
Vira bertemu dengan tim Viana saat ada di Roma, mereka masih berkomunikasi baik dengan Bella sehingga saat Wildan mengetahui Bella langsung mengakuinya.
"Berarti, Dewa menginginkan bawahan Vira untuk mengikutinya. Berarti Dewa berencana membunuh Vira?"
"Awalnya, tapi sekarang berubah. Dia ingin menyingkirkan aku, karena awalnya dia tidak mengetahui wajah seorang Wildan, dia juga meragukan kemampuan aku."
"Wil, mungkin Dewa dikendalikan oleh seseorang."
"Aku harap ucapan kamu benar, pergilah Randu. Kamu memiliki dua pilihan menyelamatkan Dewa membawanya kembali dalam kebaikan, atau kamu mati ditangan dia."
Wildan menepuk pundak Randu, memberikan bantuan menggunakan Tim Wildan untuk masuk ke markas mafia.
"Aku hanya bisa membantu kamu dari luar, karena aku memiliki janji kepada Mami untuk tidak pernah bertarung kembali." Wildan mengantarkan Randu sampai depan pintu mereka.
Vira mendekati Randu mengatakan jika tim-nya juga akan membantu Randu, sekarang randu memiliki bawahan, tim yang akan menyelamatkannya.
"Pori-pori semoga kamu kembali dengan bernyawa." Winda menyemangati.
Randu menunduk kepalanya mengucapkan terima kasih, langsung keluar dari mansion Wildan.
"Butuh bantuan Wil?" Bella mengikuti Wildan.
"Kak Bella tau betapa ribetnya bekerja dalam tim dari kejauhan, jika Mami tidak meminta Wildan bersumpah dan berjanji Wildan tidak harus bekerja di belakang layar."
"Sabar Wil, mungkin otak kamu lebih berguna daripada tenaga kamu."
Wildan masuk ruangan bersama Bella dan Yusuf, Vira dan Winda hanya diam menatap punggung mereka.
"Winda tidak dibutuhkan."
Vira langsung masuk kamarnya mengambil sesuatu langsung melangkah pergi, Winda langsung mengejar Vira masuk mobil bersama melajukan mobilnya pergi.
"Ada apa Vira?"
"Mereka membunuh Dewa, aku sudah mengirim pasukan sejak kemarin mereka semua tertangkap."
"Dari mana kamu tahu?" Winda mencari ponselnya.
Vira memberikan sesuatu ke telinga Winda, mendengarkan suara lelaki yang sangat tidak asing.
"Siapa mereka Vira?"
"Butterfly, dia menangkap Dewa."
__ADS_1
Winda menghela nafasnya, langsung mengirimkan pesan kepada Bella jika mereka pergi, Winda juga mengirimkan lokasi mereka.
"Vira ini berbahaya, kamu tidak harus menyelamatkan Dewa."
"Dewa punya alasan mengapa meminta aku datang, Dewa memang memiliki tujuan jahat tetapi rasa cinta mengubah perasaannya."
"Dewa mencintai kak Bella bukan kamu?"
"Aku hanya ingin tahu, apa sangkut pautnya sama aku. Kenapa mereka meminta aku ke sini?"
"Vir, jika Mommy tahu kamu masih menggerakkan bawahannya turun temurun pasti Mommy marah besar."
"Kita akan ketahui jika sampai terluka, selama kita baik-baik saja semuanya aman."
"Siapa yang akan menjamin kita selamat." Winda menghela nafasnya.
Vira tersenyum melihat Winda yang tidak menunjukkan ketakutan sama sekali, meskipun mulutnya terus mengomel.
Winda melihat ponselnya, mengotak-atik layarnya mencari sesuatu kebenaran.
Tatapan mata Winda langsung tajam, mendengar teriakan Dewa yang tidak bisa membunuh Wildan karena dia mencintai Bella.
"Cinta bisa mengubah segalanya, tapi Dewa tidak sadar jika cintanya kepada Bella tidak akan pernah terbalaskan." Winda menghidupkan layar tabletnya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Menyelamatkan Dewa, meskipun dia tidak mencintai aku setidaknya setelah dia selamat bersedia menerima cinta Winda Bramasta."
Winda mengambil alih tim Wildan, menggunakan sandi kakaknya meminta mereka langsung menyerang.
"Winda, Wildan bisa marah."
"Tidak punya pilihan, karena Dewa harus diselamatkan lebih dulu baru kita bisa menyusun rencana selanjutnya."
Vira menganggukkan kepalanya, berharap bisa menangkap Fly menyelamatkan Dewa dan Randu.
Di mansion, Wildan memukul meja karena ada yang menggerakkan tim-nya.
"Siapa yang melakukannya?" Wildan menatap Yusuf.
"Aku belum menghubungi mereka sama sekali."
"Winda! di mana dia?"
"Wildan lihatlah, Dewa bisa mati jika terlambat sebentar saja." Bella langsung mengecek ponselnya, melihat pesan dari Winda langsung menunjukkan kepada Wildan.
"Apa yang harus Wildan lakukan?" Wildan memijit pelipisnya.
***
__ADS_1