
Pulang bekerja Kasih menyempatkan diri untuk pergi ke danau, dia duduk manis sambil melukis keindahan danau, banyak yang dia lihat, anak-anak yang sedang bermain dengan keluarganya, sepasang kekasih yang sedang bercanda, burung yang berterbangan.
Seseorang tersenyum memperhatikan Kasih dari kejauhan, dia memotret kegiatan Kasih, senyuman yang manis membuat semakin tergila-gila.
Setelah lukisan selesai Kasih langsung berlari ke mobil taksinya untuk pulang, sebentar lagi dia akan sholat magrib, karena Ravi tidak mengizinkan Kasih bekerja sampai malam, jadinya Kasih pergi pagi pulang sore.
Mobil Kasih melewati rumah Ravi, tangan Ravi menghentikan mobilnya. Kasih keluar dari mobil melihat wajah Ravi yang dingin.
"Dari mana kamu?"
"Punya mata, aku bekerjalah."
"Yakin, tidak sedang ketemuan?"
"Ravi, kamu kesambet Tante Kun."
Kasih masuk ke dalam mobilnya, langsung melaju untuk pulang ke rumah, Kasih menahan tawa melihat sikap Ravi barusan.
Cinta belum pulang, Tama juga belum pulang. Kasih akhirnya mandi sholat, lanjut makan malam. Lama dia sendirian menunggu kedua kakaknya pulang, Kasih kesepian sampai suara ketukan terdengar.
"Kak Kasih buka pintunya?"
"Vira!"
"Kak Ravi, dia memukuli orang yang menguntit kakak."
"Astaghfirullah Al azim, dia tidak menyakiti kakak, kenapa harus di sakiti!" Kasih lari ke dalam rumah, mengambil ponselnya langsung berlari lagi mengikuti mobil Vira.
"Di mana mereka Vira, kenapa Ravi berubah menjadi posesif?" Kasih langsung panik, dia tahu ada seorang pria yang selalu menguntitnya tapi selama tidak menggangu Kasih diamkan saja.
Mobil Vira melaju dengan kecepatan sedang, Kasih mencoba menghubungi Ravi tapi tidak ada jawaban, kini Kasih baru ingat soal sore tadi Ravi terlihat berlebihan.
"Ravi angkat!" Kasih teriak kesal.
"Vir!"
"Emmhhh,"
"Ravi tidak mungkin membunuhkan?"
"Mungkin kak," Vira nyegir kuda, dia tidak yakin Ravi tidak membunuh jika berurusan dengan Keluarganya dan wanita yang dia cintai.
"Gagal nikah kalau Ravi masuk penjara?"
Mendengar gumaman Kasih Vira hampir tertawa, Kasih pikir seorang Ravi bisa ditangkap polisi, sahabatnya saja seorang polisi. Ravi juga pemimpin LOVER yang sangat hebat, dia mempunyai kemampuan dalam bisnis mengimbangi Rama, tidak mungkin seorang Ravi takut dengan hukum.
Mobil Vira tiba di perumahan kosong di pinggir hutan, Kasih merasakan binggung harus mencari Ravi di mana. Kasih melihat ke atas, banyak bintang yang bertaburan di langit.
"Tempat yang indah, tapi tempat ini sangat jauh dari rumah, aku tidak pernah masuk area sini." Kasih binggung, Vira juga mendadak menghilang membuat Kasih panik.
"Ravi! Vira! kalian di mana?" Kasih terus teriak, tempat yang asing, suasana asing.
Sebuah tangan menyentuh pundak Kasih, tapi langsung ditahan Kasih langsung diputarnya kuat. Suara teriakan dan rintihan terdengar.
"Sayang, astaga patah!" Ravi meringis kesakitan.
"Ravi!" Kasih langsung memeluknya dengan erat, Ravi dengan penuh kebahagiaan menyambut pelukan Kasih sambil cengengesan.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" Ravi pura-pura tidak mengetahui apapun.
__ADS_1
"Kamu juga kenapa bisa ada di sini? Ravi tempat ini gelap sekali, nanti kita di fitnah?"
"Tidak masalah, siapa yang berani memfitnah kita."
"Ravi!"
"Kasih!"
"Ravi ini ada apa?"
Ravi naik ke atas mobil, meminta Kasih ikut naik. Keduanya duduk melihat ke atas langit, menatap bintang bersama. Kasih langsung lupa tujuannya datang, keindahan bintang mengalahkan segalanya.
"Kasih mau mendengar aku bernyanyi?"
"Memangnya bisa,"
"Aku ini keturunan Daddy Rama." Ravi tertawa, turun ke bawah, mengambil gitar, lalu naik lagi.
Senyuman Kasih terlihat mendengarkan petikan gitar Ravi yang terlatih, Ravi memang memiliki banyak keahlian selain menjadi playboy.
"Kamu wanita pertama yang melihat aku bermain gitar, selain teman lelaki."
"Benarkah, kamu tidak pernah menggoda wanita dengan bermain gitar."
"Kasih, aku tidak pernah menawarkan mereka untuk mendekati aku, aku juga tidak pernah mempertahankan mereka, memiliki mereka tidak pernah aku perjuangkan. Kecuali Cinta, awalnya aku ingin memancing Erik untuk menyatakan cinta tapi aku terkena masalah dengan Cinta membalasnya, dan mendapatkan teguran dari Tama."
"Sebenarnya kamu pernah cinta tidak dengan kak Ci?"
"Aku sayang, tapi aku tidak tahu cinta apa tidak, bertemu Cinta rasanya berbeda dengan saat pertama kali bertemu kamu?"
"Memangnya saat pertama melihat aku apa yang kamu rasakan?"
"Jadi sebenarnya cinta tidak?"
"Ya Cinta banget!" Ravi teriak, membuat Kasih menutup mulutnya sambil tertawa.
"Dengarkan lagu ini sebagai ungkapan cinta, sayang dan keseriusan aku."
Suara petikan gitar Ravi kembali terdengar, Kasih penasaran dengan suara Ravi yang bukan hanya memiliki wajah tampan.
...Boleh kenalan, dengan dirimuu......
...Maaf banget sudah ganggu waktu kamu......
...Biarkan aku, menyayangi dirimuu......
...Semoga aku dan kamu bisa jadian......
...ohhh..., jangan khawatir, aku pasti bisa jaga kamuu....
Aduh kamu bikin aku jadi lemes,
Karena senyum kamu itu paling gemes...
Memang kamu berbeda dari yang lain,
Maka itu aku sayang kamuuu...
Senyuman Kasih terus terlihat, tangannya juga bertepuk tangan, tubuhnya juga menikmati musik yang Ravi nyanyikan, bukan hanya Kasih yang tersenyum bahagia, tapi Ravi juga tersenyum bahagia, ini rasa cinta yang sudah lama Ravi nantikan.
__ADS_1
...Silahkan sayang... terima aku, aku ngak bisa bernafas tanpa kamuuu....
...Akan ku buktikan aku serius, karena memang aku itu sayang kamu....
...ohhh..., jangan khawatir, aku pasti bisa jaga kamuu....
Aduh kamu bikin aku jadi lemes,
Karena senyum kamu itu paling gemes...
Memang kamu berbeda dari yang lain,
Maka itu aku sayang kamuuu...
Petikan gitar Ravi berakhir, senyum Kasih terus terlihat, Ravi berhasil meruntuhkan hati Kasih yang dingin.
"Jangan senyum-senyum nanti dipikir orang gila."
"Ravi," Kasih mencubit lengan Ravi.
"Iya iya iya maaf, bagus tidak?" Ravi tertawa melihat kepala Kasih mengaguk, wajah polos Kasih yang hanya mengunakan baju tidur terlihat sangat cantik, terkena pantulan cahaya bulan juga lampu rumah kosong.
"Sekarang cinta aku tidak?"
"Emmhhh,"
"Aku tidak mengerti jika hanya kata emmhhh,"
"Ravi!" Kasih menunduk karena malu, Kasih tidak pernah membayangkan akan jatuh cinta dengan seorang playboy. Kasih pasrah menjadi korban selanjutnya.
"Mau jadi istri aku tidak?"
"Iya mau,"
"Jadi aku di terima menjadi suami kamu."
"Ravi jangan diulang-ulang, Kasih malu."
"Ya sudah kalau gitu bilang cinta dulu,"
"Tidak mau,"
"Jadi kamu menolak menjadi istriku."
"Ravi Kasih mau, cinta tidak harus diungkapkan, jika Kasih menerima untuk menjadi istri, berarti Kasih cinta Ravi."
"Terima kasih untuk ungkapan cinta yang romantisnya sayang." Ravi mendekatkan hidungnya dan Kasih, sambil menatap gemas.
"Gays cinta Ravi diterima, kita akan segera menikah!" Ravi teriak kuat di atas mobil, sambil menggenggam tangan Kasih penuh cinta dan kebahagiaan.
Kasih terpesona melihat tulisan di langit, tulisan I Will you marry me.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1