SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 LAMARAN


__ADS_3

Acara lamaran Tian dan Bella hanya dihadiri oleh keluarga terdekat, karena keluarga besar Bramasta sangat ramai sehingga rumah ramai oleh para orang tua.


Tian cucu utama Bramasta, meskipun bukan cucu kandung tapi keluarga tidak melupakan status Tian.


"Sekarang kamu menjadi cucu nenek atau cucu menantu, nenek ingin hidup sebentar lagi ingin melihat cicit nenek dari kamu Nak." Ibu Jum memeluk erat cucu pertamanya.


"Nenek akan panjang umur, nanti nenek juga bisa menggendong anak Tian." Bastian mengusap air mata dari wajah keriput.


"Semoga saja nanti anak kalian mirip kamu semua, jangan mirip Bella. Dia cucu pembangkang, nakal, selalu membuat Bundanya pusing, nenek juga ikutan pusing." Nenek mengusap wajahnya.


Bella yang mendengar melotot, menatap Tian yang hanya tertawa saja.


"Nenek suka memfitnah orang." Bella cemberut.


"Bella sudah lebih dewasa sekarang Bu." Bisma duduk di samping mertuanya.


"Kamu yang memberikan keturunan anak nakal."


Bisma mengusap dadanya, menatap sinis langsung melangkah pergi.


"Bu, gen Jum cantik dan tampan karena Bisma." Bisma tidak terima disalahkan.


"Ayah mengatakan Bunda jelek, Tian tampan karena Jum cantik, Bel dan Bil juga mirip Jum." Teriakan Jum kuat membuat Bisma menutup telinganya.


"Mirip kamu hanya satu bulu hidungnya, lihat wajah bule mereka." Bisma melangkah pergi.


"Bisma!" Jum teriak kuat, membuat semua orang bubar.


Bastian tertawa, merangkul Bundanya untuk melangkah ke taman belakang.


Tamu undangan juga sudah berdatangan, tamu juga hanya orang sekitar perumahan mereka yang memiliki hubungan baik dengan keluarga Bramasta.


Para pengagum Tian patah hati semua, melihat Bella berdiri di samping Tian. Kecantikan Bella tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang hanya wanita biasa.


Tian juga tersenyum bahagia, senyuman yang sudah lama hilang akhirnya kembali lagi.

__ADS_1


Ravi, Erik Tama juga tersenyum melihat Tian yang akhirnya berlabuh setelah berlayar sangat lama.


Vira, Winda, Billa, Binar, Kasih dan Karin bertepuk tangan menggoda Bella. Kepala Bella tertunduk meneteskan air matanya.


Tian mendekati Bella mengusap kepala adiknya, status adik tidak berlaku lagi. Tian tersenyum melihat Bella menangis tanpa alasan.


"Kak Bella kenapa menangis?" Billa mengusap air matanya.


Bella terus menangis membuat suasana menjadi haru, Tian hanya memeluk lembut merasakan bajunya basah karena air mata Bella.


"Kapan acara ini di mulai jika kamu menangis terus?" Jum memeluk Bisma, tidak bisa menyembunyikan air mata bahagianya.


Bella menghapus air matanya, tersenyum menatap Tian yang membantu menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Jangan menangis." Tian menatap mata indah calon istrinya.


"Bisa tidak menikah saja sekarang, Bella takut dipisahkan lagi." Bella menutup wajahnya.


Tian tertawa, seluruh tamu undangan kaget mendengar ucapan Bella. Bisma mengerutkan keningnya.


"Entahlah, Jum tidak kenal." Jum kaget mendengar permintaan Bella.


"Bella, segala sesuatu ada prosesnya. Pernikahan hanya satu kali seumur hidup, aku ingin kamu menikmati hari yang hanya datang satu kali dalam hidup kita." Tian menggenggam tangan Bella.


"Bella tidak butuh pesta mewah, cukup kak Tian." Bella menahan air matanya.


"Aku sangat mencintai kamu Bel, tidak ada satu orang yang bisa mengantikan kamu. Wanita cantik banyak di dunia ini, tapi kamu yang tercantik bagi kak Tian. Banyak wanita baik di dunia ini, memiliki karakter lembut, sikapnya baik, tapi bagi aku kamu yang terbaik. Kita tidak akan terpisahkan lagi, kecuali maut." Tian menakup wajah Bella yang memerah.


Suara teriakan baper terdengar, Jum tersenyum sambil mengusap air matanya. Pemuda ketiga yang dia cintai selain bapak dan suaminya, Tian tidak lahir dari rahimnya, tidak meminum ASI-nya, tapi saat pertama melihatnya Jum merasakan ada ikatan batin.


"Bunda, Tian sangat mencintai Bunda lebih dari diri Tian sendiri. Dunia terlalu menakutkan Bunda, tapi merasakan sentuhan tangan Bunda dunia Tian yang awalnya gelap langsung berubah terang, melihat wanita tercantik juga berhati baik. Tian merasa ada kehidupan saat pertama melihat bunda, sangat takut jika hari itu hanyalah mimpi. Terima kasih sudah menjadi cahaya terang yang menyinari hidup Tian." Kepala Tian tertunduk ke arah Jum.


"Kamu melupakan ayah Tian, siapa yang membawa wanita cantik ini ke dalam kehidupan kamu." Bisma menatap sinis.


"Ayah, Tian tidak tahu harus mengatakan apa? ayah yang mengajari harus kuat, berjalan dengan gagah, jangan melihat kehidupan belakang, ayah yang selalu berjanji dan selalu menempatinya. Tian tidak menemukan keburukan dari ayah, bagi Tian Ayah lelaki sempurna yang tidak menuntut apapun. Dulu Tian melakukan kesalahan, Ayah mengatakan tidak apa-apa satu kali salah bukan masalah, hari ini kamu hebat nak, Ayah yang salah." Tian mengusap air matanya, Bisma sosok Ayah yang menutupi kelemahan putranya.

__ADS_1


Di mata Tian, Bisma selalu menyempurnakan dirinya. Biarkan dunia menyalakannya, biarkan orang memandangnya buruk, tapi selalu mengangkat Tian menjadi yang terbaik, menjadi seseorang yang tidak memiliki cacat.


"Tian dibesarkan oleh wanita dan pria yang hebat, kedua orang tua Tian pasangan terbaik. Ayah bunda Tian ingin berterima kasih satu kali lagi. Terima kasih karena sudah menghadirkan wanita cantik, calon ibu untuk anak-anak Tian, kalian bukan hanya memberikan kehidupan yang baik untuk Tian, tapi juga melahirkan pasangan terbaik." Tian tersenyum menatap Bella.


Senyuman Bella terlihat, Jum dan Bisma juga tersenyum bahagia.


Acara pemasangan cincin dilakukan, Tian melingkarkan cincin di jari manis Bella, jari Tian juga sudah melingkar cincin yang Bella pasangkan.


Suara tepuk tangan terdengar, Tian tersenyum bersama Bella. Tatapan mata Tian menatap seorang wanita cantik yang senyumannya tidak pernah pudar.


"Tian ingin berterima kasih kepada seseorang yang selalu datang menemui Tian di panti, kakak baik yang selalu menjaga Tian, terima kasih kak Windy sudah menyayangi Tian. Kak Windy juga yang mengajari Tian untuk berbagi, juga selalu memaafkan." Tian tersenyum menatap Windy yang melambaikan tangannya.


"Billa kak Tian." Bil menunjuk dirinya yang terlupakan.


"Ravi tidak disebut, padahal dulu Ravi juga baik." Ravi mengomel, ditambah lagi dengan Rasih yang marah mencari perusak mobilnya.


"Erik juga sahabat terbaik." Erik dan Ravi saling dorong.


"Billa, kamu malaikat kecil tidak bersayap, teruslah menjadi wanita baik yang menyempurnakan lelaki gila seperti Erik." Tian dan Bella tertawa.


"Ravi Erik terima kasih sudah menjadi keluarga, sahabat terbaik. Tama terima kasih sudah selalu menjadi sahabat dalam suka dan duka. Binar terima kasih karena sudah hadir sebagai keluarga kandung kak Tian." Senyuman Tian terlihat.


Vira, Winda, Wildan menunjukan tangannya. Tian hanya bisa tertawa melihat seluruh keluarga yang tidak bisa dia sebut satu-satu. Kata terima kasih tidak cukup untuk mengungkap rasa syukurnya menjadi bagian dari ayah Bundanya, Mommy dan Mami juga Daddy Papi yang juga selalu mensupport.


Suara ledakan terdengar, suara teriakan kaget juga terdengar.


Vira teriak marah melihat balon besar yang dia persiapan untuk kejutan meledakan sebelum waktunya, Vira ingin sekali menenggelamkan Wira ke dalam kolam yang nakalnya luar biasa.


"Maaf, Wira melihat balon di udara, langsung Wira tembak dengan tembakan." Wira langsung melangkah pergi, bajunya juga sobek karena terjatuh dari pohon, karena kaget mendengar balon meledak.


Windy dan Steven hanya bisa mengaruk kepala, alasan mereka selalu datang terakhir karena Wira terlalu nakal.


***


__ADS_1


NOVEL YANG KEMARIN UPDATE SEBENARNYA KARENA EROR, ASLINYA DIA UP DI APK KUNING.


__ADS_2