SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MEMINTA IZIN


__ADS_3

Di ruangan keluarga Wildan sedang bermain bersama putranya, mengajari Virdan beberapa kata juga memintanya mengucapkan beberapa kalimat ringan.


Kecerdasan Wildan berpidah kepada putranya, Virdan sangat mudah memahami sesuatu. Dia sangat aktif, tapi hanya bersama Wildan jika bersama orang lain hanya diam dan terlihat sangat dingin.


Vira tersenyum melihat putranya tersenyum, mengikuti mulut Daddy-nya. Fokus melihat sesuatu yang Wildan ajarkan.


"Ayang, pengen minum apa?"


"Nen." Virdan melihat Vira yang kaget, Wildan hanya tertawa melihat ekspresi Vira.


"Anak Mami pengen nen?" Vira mencium bibir putranya, tatapan Virdan melihat ke arah lain tidak ingin melihat Maminya.


Wildan meminta Vira tetap duduk diam, dirinya yang akan membuatkan minuman untuk mereka.


Senyuman Wildan terlihat, menatap putra dan istrinya bercerita. Vira memeluk putranya dari belakang tidak berhenti-henti menciumnya.


"Minum susunya dua Vir." Wildan mencium putra dan istrinya.


"Ayang, bagaimana jika kita menggunakan baby sister? sekalian menjaga Virdan, Arwin dan Arum. Vira sudah seharian tidak menggendong Arum, dokter melarang Vira karena tubuh Arum bertambah gemuk." Air mata Vira langsung menetes, dia merasakan sedih jika satu hati saja tidak melihat putrinya.


"Jangan menangis sayang, aku jemput Arum dulu."


Wildan langsung berjalan kaki ke rumah orangtuanya, tidak melihat mobil Ar terparkir. Dari dalam suara Winda sedang mengomel terdengar.


"Assalamualaikum Winda."


"Waalaikum salam kak, ada apa?"


"Di mana Ar?"


"Di luar kota, tiba-tiba saja ada pekerjaan dadakan mungkin besok pulang."


Wildan menganggukkan kepalanya, langsung mencium pipi Arwin, menggendong Arum meminjamkannya untuk dibawa pulang.


"Kak, sudah mendengar permintaan Vira soal Erlin?"


"Erlin, siapa dia?" Wildan menatap Winda yang menggendong putranya.


Winda menjelaskan pertemuan pertama Vira dan Erlin, gadis yang menabrak mobil Wildan. Vira terlihat sangat menyukai Erlin, sampai berniat ingin membawanya pulang bersama ke rumah kediaman Prasetya sampai mommy Daddy kembali.


"Kak Wil tidak mungkin menolak keinginan Vira?"


"Vira menginginkan baby sister, apa mungkin untuk anak itu?" Wildan menghela nafasnya.


"Mungkin saja, Winda juga prihatin dengan masa lalu dia, tapi tidak setuju jika dia masuk ke dalam keluarga kita."

__ADS_1


"Apa yang kamu khawatirkan?"


"Dia menyingkirkan posisi Vira, sejak hamil lagi Vira berubah."


"Winda, tidak akan pernah ada yang bisa mengantikan Vira." Wildan langsung pamit pulang, membawa putrinya Arum untuk bertemu Maminya.


Senyuman Vira terlihat langsung mendaratkan ciuman kepada Arum yang tertawa melihat Vira.


Wildan duduk memeluk Vira sambil memperhatikan Virdan dan Arum yang sedang asik bermain sendiri.


"Virdan sangat nyaman jika bersama Arum."


"Iya, mereka seperti bersaudara tapi Arum terlalu mirip kak Ar, dari mata, hidung, bibir, bahkan senyumannya."


"Kasian Winda, tidak mendapatkan apapun."


"Virdan juga mirip aku, tidak ada yang mirip ...." Ucapan Wildan terhenti melihat mata istrinya.


"Benar juga, dia anaknya Wildan." Tangan Vira mencubit perut suaminya.


Suara tawa Wildan terdengar, menunggu Vira berbicara soal Erlin yang baru saja Winda katakan.


"Ayang, Vira sudah tahu nama wanita yang menabrak mobil Ayang."


"Emhhh ... baguslah."


"Lebih baik seperti itu, tapi kita cukup bertanggung jawab sampai dia keluar dari rumah sakit."


"Ayang, masalahnya dia tidak punya keluarga lagi. Tidak punya tempat tinggal juga." Pelukan Vira sudah erat, meminta Wildan merasakan sedikit saja penderitaan Erlin.


Sejujurnya Wildan tidak perduli apapun soal Erlin, apapun yang terjadi padanya bukan urusan dirinya juga keluarga mereka.


Membantah ucapan Vira hanya akan membuatnya sedih, Wildan tidak ingin merusak perasaan istrinya yang sedang hamil. Diam menjadi pilihan Wildan agar tidak membantah keinginan istrinya.


"Kita belikan saja dia rumah."


"Dia masih kecil Ayang, tidak boleh tinggal sendirian nanti salah pergaulan."


"Ya, itu urusan dia sayang."


"Ayang, Vira sudah bicara dengan Erlin menawarkan dirinya untuk menetap di rumah ini bersama kita sampai Mommy Daddy pulang, dia juga bisa membantu Vira dan Winda menjaga baby." Tangan Vira mulai memohon.


"Dia cantik tidak Aunty?" Wira muncul sambil menggendong Arwin, meletakkan di dekat Virdan.


"Sangat cantik Wir, dia juga masih muda dan sopan sekali. Aunty menyukai dia?" Vira tersenyum menatap Wira yang duduk di meja.

__ADS_1


"Aunty menyukai dia, bagaimana jika dia menyukai Uncle?" Senyuman Wira terlihat, Wildan terkejut mendengarnya.


"Anak kecil, kamu tidak boleh berpikir seperti itu. Nanti saat melihat dia pasti langsung jatuh cinta."


"Baiklah, Wira ingin melihatnya. Sekuat apa dia saat mengurus cucu Bramasta dan Prasetya, jika dia mampu membuat nyaman Raka dan Elang juga mengimbangi Bulan, Wira akan menyukainya." Senyuman Wira terlihat, menatap Wildan yang binggung.


Vira tersenyum, menjaga Raka dan Elang hal mudah. Selama bukan Asih dan Embun semuanya pasti baik-baik saja.


Vira langsung menghubungi Erlin, memberikan kabar baik jika suaminya mengizinkan.


"Kenapa harus Raka dan Elang? seharusnya Asih dan Embun." Wildan menghela nafasnya, melihat Wira yang salah taktik.


"Uncle, menjaga Asih dan Embun sangat mudah cukup diberikan es krim dan coklat keduanya tidak akan banyak suara."


"Benar juga, kenapa tidak Bintang? Bulan terlalu nakal."


"Bulan belum boleh makan coklat dan es krim, dia pasti marah jika apa yang dia inginkan tidak dituruti. Wira saja takut menjaga Bulan, dia diam sangat tenang, tapi saat bergerak lihat gigi Wira sampai ompong." Mulut Wira terbuka menunjukkan gigi bawahnya hilang.


"Kamu terbaik Wira, sangat memahami adik-adik kamu."


"Tentu, sejak Raka dan Asih lahir Wira sudah lahir duluan." Suara tawa Wira terdengar, Wildan langsung memeluk keponakan bulenya yang paling pintar membuat tawa.


"Tidak terasa sekarang Wira sudah besar, dulu saat Asih lahir kamu masih kecil sudah pintar berlari." Vira memberikan susu untuk Wira agar semakin cepat besar.


"Kamu benar sayang, Wira dulu sangat menggemaskan. Dia selalu mencium Asih sampai mengamuk saat dibawa pulang."


"Wira tidak pernah melakukannya." Tatapan Wira tajam.


"Kamu ingat tidak Wir saat Embun dan Elang lahir, usia kamu sekitar lima tahun. Kamu sangat lucu selalu membuat semua orang tertawa. Kamu juga menjadi musuh bebuyutan Winda." Vira mencium pipi Wira membuatnya langsung teriak tidak ingin dicium.


Wildan langsung berdiri, mereka kehilangan ketiga bocil. Vira langsung melihat ke bawah meja.


"Vira kamu tetap duduk, Wira bantu Uncle mencari tiga anak kecil yang tadinya ada depan kita."


"Sudahlah Uncle tidak harus dicari, nanti juga keluar sendiri. Arum, sini sayang kak Wira punya mainan." Wira membunyikan suara mainan.


Tidak butuh waktu lama, Arum sudah merayap keluar langsung merangkak mendekati Wira. Arwin dan Virdan juga keluar mengikuti Arum yang sudah tertawa mendapatkan mainan.


"Arum, katakan kak Wira handsome."


"Nen."


Wildan dan Vira langsung tertawa, Wildan baru tahu jika putranya belajar dari Arum.


"Lucunya, apalagi jika ada Erlin. Besok Erlin mulai tinggal di sini." Vira memeluk Wildan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


***


__ADS_2