SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 VIRDAN PULANG


__ADS_3

Dua bulan di rumah sakit akhirnya Virda boleh pulang berpisah dengan Arwin dan Arum yang masih menetap, karena kondisi Ar yang masih membutuhkan waktu untuk pemulihan.


Kepulangan Virdan disambut penuh kebahagiaan, keluarga juga melakukan doa syukuran untuk Virdan.


Kepulangannya sangat membuat bahagia, rumah Prasetya akan menjadi tempat tumbuh kembang Virdan ke depannya.


"Selamat datang sayang, kita sudah lama menunggu kepulangan kamu." Viana mencium pipi cucunya yang masih terlelap tidur.


"Tampannya, mirip sekali sama Wildan." Rama mencium kening bayi laki-laki yang masih terlelap.


"Anak Vira itu Daddy, kenapa hanya mirip Ayang Wil?"


"Tidak ada miripnya sama kamu Vir." Senyuman Viana terlihat menatap putrinya yang cemburu bahkan dengan bayi.


Wildan langsung berjalan ke kamar mereka, melihat kamar yang penuh anak-anak lagi sibuk bermain.


Kamar mereka dibuat lebih besar agar bisa langsung bersama Virdan, mainan penuh padahal Virdan belum bisa bermain.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam Uncle,"


"Kalian bermain apa?"


"Tidak bermain Uncle, Em sedang menculi mainan Dede." Em memasukan mainan yang dia sukai ke dalam tas.


Wildan hanya tersenyum melihatnya, langsung tiduran di ranjang melihat kelucuan Em yang baru saja sedang mengakui kejahatan yang sedang mencuri.


Suara Asih juga terdengar langsung masuk membawa makanan sambil bernyanyi santai, duduk di samping Em.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" Vira langsung tidur memeluk Wildan.


"Em lagi mencuri." Wildan tertawa melihat tingkah Em yang sangat nakal.


Viana membawa Virdan ke kamar, memberikannya kepada Vira yang langsung membangunkan putranya untuk menyusu.


Di luar rumah sedang sibuk untuk acara selamat Virdan, mengudang pengajian sederhana.


"Bangun nak, kamu belum minun susu sayang." Vira membangunkan putranya yang hanya membuka matanya, lalu terpejam kembali.


"Wow, Dede Dan juga punya nen. Em juga punya." Tatapan mata Em fokus melihat Virdan yang dipaksa untuk menyusu.


"Sayang, aku keluar dulu bantu-bantu untuk acara malam nanti." Wildan mencium wajah putranya.


Vira tersenyum melihat Wildan keluar, melihat Bening masuk sambil matanya merah habis menangis, langsung mengadu kepada Asih yang langsung membawa pentungan.


Vira tertawa lucu melihat putri kakaknya yang mirip preman, mirip sekali masa kecilnya bersama twins B dan Winda.


"Em masih nen?"


"Em ..., tapi Mama sering pukul mulut Em, lalu Papa mulai melotot." Embun mempraktekan ekspresi Mama Papanya.

__ADS_1


"Kenapa mulut Em dipukul?"


"Tidak sengaja gigit nen punya Em." Suara tawa terdengar, Embun melihat Virdan sedang menyusu.


Tatapan Vira merasakan sakitnya jadi Billa, tidak heran sekarang Billa berubah menjadi emak-emak pemarah.


Panggilan dari Winda terdengar, memperlihatkan Arum yang tidak ingin berhenti menangis. Wajah Virdan mendadak berubah, ekspresinya ingin menangis, tapi tidak ada suara dan air mata.


Perasaan Vira mendadak khawatir, berharap acara cepat selesai.


Semuanya bersiap-siap, selama acara berlangsung Vira tidak bisa duduk dengan tenang. Wildan juga bisa merasakan perubahan Virdan, wajahnya langsung sedih dan ingin menangis.


"Sayang, kenapa Virdan?"


"Arum panas di rumah sakit, Virdan mungkin bisa merasakan."


Wildan langsung menyingkir menghubungi Winda, mempertanyakan keadaan Arum yang sudah membaik, meskipun harus dirawat. Air mata Winda tidak berhenti menangis, dia berubah menjadi baby blues.


Meskipun Ar sudah menasehati, Winda tetap saja menangis depresi. Vira juga langsung mendekati suaminya.


"Ada apa kalian berdua?" Viana menatap Wildan dan Vira yang tidak konsentrasi.


"Winda terkenal baby blues, mengalami depresi jika melihat anaknya Arum menangis."


"Astaghfirullah Al azim, memangnya kenapa?"


"Virdan pulang, Arum menangis tidak ingin diam." Wildan memijit pelipisnya, melihat Winda yang menangis lebih kuat dari Arum.


Suara tangisan kuat terdengar, Bella langsung berlari kencang melihat anaknya Bulan sudah jatuh dari atas tempat tidur.


Vira kaget melihat Bulan bisa jatuh, padahal ada baby sister. Tatapan Bella tajam, melihat ke arah baby sister yang meninggalkan anaknya.


Asih yang ada di sana hanya tertawa melihat Bulan, tidak ada kasihan melihatnya jatuh karena memang Bulan tidak bisa diam.


"Larikan ke rumah sakit saja Bel."


"Dia hanya terkejut Vir, aku takut kak Tian tahu. Dia pasti marah, nyamuk menyentuh Putrinya saja dia marah, apalagi sampai jatuh."


"Salah dia sendiri Aunty, sudah Asih katakan jangan ke pinggir nanti jatuh, tapi dia masih tetap berguling-guling sampai jatuh."


"Di sini ada baby sister, bagaimana bisa tidak tahu?"


"Em mengusir semua baby sister, katanya menyebalkan."


Embun baru saja datang, dia tidak tahu apapun. Kenapa menjadi korban pencemaran nama baik.


Vira menatap Asih yang hanya tersenyum, tidak ada sedikitpun rasa bersalah dia. Jatuhnya Bulan sudah disengaja oleh Asih.


Vira langsung mengecek CCTV, Asih marah karena Bulan memukuli wajahnya yang sedang ingin tidur.


Beberapa kali Asih menasehati untuk tidak mengganggu, tapi rambutnya ditarik-tarik. Kesabaran habis, Asih menarik Bulan sampai berada di lantai barulah dia lanjut naik.

__ADS_1


Bulan menangis bukan karena jatuh, tapi tidak ada teman bermain. Baby sister dimarah jika menolong Bulan, langsung diusir keluar.


Tatapan Bella dan Vira tajam ke arah Asih yang hanya tersenyum santai memainkan ponselnya, Em langsung memukul Asih yang menuduhnya.


"Kak Asih jahat."


"Jangan membuat masalah Em, Bulan bisa di lantai, kamu bisa terlempar ke luar rumah. Jangan bangunkan singa yang sedang tidur." Tatapan Asih tajam.


"Kak Asih tidak boleh, nanti kak Asih di marah. Em anak baik."


"Baik dari sisi mananya?"


Vira langsung memeluk Asih, harus meminta maaf kepada Bulan. Dia memang sedang aktif jadinya Asih harus menjaga adiknya.


"Rambut Asih sakit."


"Iya Aunty tahu, tapi tidak boleh jahat Asih. Sesama saudara harus saling menjaga, Bulan memang sedang aktif karena pertumbuhannya."


"Asih juga sedang tumbuh?"


"Tumbuh apa?"


"Tumbuh besar."


Bella tertawa mencium pipi si gemes putrinya Ravi, anaknya selalu ingin menang.


Suara teriakan Bella dan Vira terdengar, Bulan terjatuh kembali bersyukurnya ada Wira yang menangkapnya.


Embun lompat-lompat di atas tempat tidur sampai Bulan juga lompat.


"Astaghfirullah Al azim, kepala aku bisa hilang jika putrinya Bastian terluka." Bella memanyunkan bibirnya.


"Maaf, Em tidak sengaja."


Bulan bukannya menangis, tapi tertawa dalam pelukan Wira yang langsung menciuminya. Suara tawanya sangat besar, menyentuh wajah tampan Wira.


"Bulan terbang, terbangnya bersama kak Wira. Besok Kak Wira pulang ke Amerika, kalian jangan nakal."


"Kak Wil pergi ke luar negeri lagi? tidak bisa menetap saja." Em langsung memasang wajah sedih.


"Hanya sebentar, ada acara di keluarga Alvaro."


"Ikut." Asih langsung lompat-lompat ingin minta izin ke orangtuanya.


"Em juga ikut." Langsung cepat Em mencari orangtuanya.


"Sepertinya tidak jadi pergi." Wira teriak kuat, mata Bulan melotot melihat Wira berteriak.


Bella dan Vira hanya tertawa, melihat Wira menghentikan dua bocah yang selalu ingin mengikuti dirinya yang harus mengikuti kegiatan kedua orangtuanya.


***

__ADS_1


__ADS_2