SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 21


__ADS_3

Di dalam kamar pengantin Erwin masih tiduran bersama Vio dan Vani, mereka berdua masih bercerita. Lin juga sudah mandi dan mendengarkan keduanya.


"Kak Wildan sama Vira di mana? mereka memang keterlaluan, anak-anak dititip di kamar pengantin sedangkan mereka yang malam pertama." Erwin tersenyum melihat dua bocah kelelahan bermain dan akhirnya tidur.


Suara berlarian masih terdengar mencari Vani dan Vio, Wildan mengetuk pintu dan meminta maaf kepada Lin setelah melihat kedua putrinya tidur.


"Erwin di mana Lin?"


"Tidur kak Vir." Lin menunjuk ke arah sofa, Erwin sudah lama terlelap.


"Maaf ya Lin, kalian berdua lanjutkan." Vira langsung menggendong putrinya dan membawanya ke kamar mereka.


Senyuman Wildan terlihat, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kenakalan kedua putrinya.


Suara pintu diketuk terdengar, Wildan tersenyum melihat putranya masuk dan ingin tidur di kamar Mami Papinya.


"Tumben Dan, kamu bertengkar?"


"Virdan tidak punya waktu untuk bertengkar Mi, hanya saja di sana seluruh jaringan dikuasai oleh kak Bintang. Kita tidak bisa mengakses internet sama sekali." Virdan langsung duduk dan menghidupkan tabletnya.


Wildan tersenyum mengusap kepala putranya, melihat apa yang sedang Virdan kerjakan.


Vira hanya bisa tersenyum saat dua manusia jenius sedang berbicara, dia tidak mengerti apapun yang sedang dibahas oleh Virdan dan Wildan.


Wildan tersenyum melihat ketiga anaknya sudah tidur, Vira juga sudah terlelap karena kelelahan.


Tangan Wildan memeluk putranya, memejamkan matanya sebelum kedua bocah nakal terbangun.


Di kamar yang berbeda Ar sedang memeluk putrinya Arum yang masih mengobrol bersama Abinya, keduanya sudah seperti teman.


Winda melipat tangannya di dada melihat suami dan putrinya yang sangat dekat, jika Bima cinta pertama Winda, dan sekarang Ar cinta pertama Arum satu-satunya lelaki yang tidak akan menyakitinya.


Pintu kamar diketuk, Winda langsung membuka pintu melihat putranya yang tidak biasanya ingin tidur sekamar.


"Ada apa Arwin?"


"Di kamar sebelah tidak ada jaringan, kak Bintang menguasai jaringan, jadi kita semua pindah."


"Umi pikir kamu cukup pintar, tapi masih pintar Bintang."


"Umi tidak boleh membandingkan, kita tidak lahir untuk bersaing, tapi saling melengkapi. Kak Bintang sedang coba membuat sesuatu, selama masih ada tempat lain, kenapa harus diganggu." Arwin langsung duduk, melanjutkan apa yang sedang dikerjakannya.


Arum dan Ar tertawa melihat Winda yang selalu diceramahi oleh Arwin, Winda selalu terdiam saat putranya menjawab.


"Awin, jangan terlalu terobsesi. Kamu harus mengimbangi usia kalian, Abi beri waktu satu jam lagi dan sudah waktunya tidur." Ar mengusap kepala putranya.


"Siap Abi,"

__ADS_1


Arum yang sudah diam ternyata tidur, langsung Ar pindahkan di samping Winda yang asik memainkan ponselnya.


Melihat putrinya terlelap, Winda langsung memeluknya erat, putri kecilnya yang menjadi musuh bebuyutannya. Pelakor kecil yang merebut suaminya.


Ar memejamkan matanya, memeluk Arwin yang juga sudah mulai terlelap.


Pintu kamar Windy ditendang kuat, Wira langsung masuk dan lompat ke atas tempat tidur.


"Kenapa kamu di sini Wira?"


"Tidak bisa tidur di sana, Elang dan Raka selalu berdebat sesuatu yang tidak Wira mengerti."


Steven tersenyum, langsung tidur di samping putranya yang menatap langit-langit kamar. Windy penasaran dengan apa yang Wira pikirkan, meskipun putranya nakal dan playboy kecil, tapi putranya sangat pintar.


"Daddy, Wira ingin sekolah di luar, Daddy sama Mommy menetap saja di sini."


"Kamu masih kecil Wira."


Steven belum siap melepaskan putranya, sudah cukup dirinya merelakan Lin untuk menikah, dan belum ingin melepaskan putranya Wira.


"Ay, haruskan kita adopsi anak lagi? atau Windy hamil lagi?"


"Wira tidak mau mempunyai adik Mommy, sudah cukup. Tunggu saja kak Lin punya anak."


"Daddy setuju sama Wira, Mommy masih bisa berbelanja bersama Lin."


Windy akhirnya menganggukkan kepalanya, dirinya cukup senang melihat putrinya menikah dan masih dekat dengannya.


"Bella, kamu sudah besar mengalahkan sama anak." Tian memeluk putrinya yang menangis.


"Bunda jahat, Bulan tidak mau berteman sama Bunda."


Bella langsung memeluk suaminya, Bulan mengigit tangan Bundanya membuat Bella menangis dan mengadu kepada suaminya.


Secara otomatis pintu kamar terbuka, membuat dua wanita yang sedang menangis langsung menoleh, mengusap air matanya melihat Bintang masuk.


"Kak Bintang bisa masuk?" Bulan kebingungan melihat kakaknya sudah lompat ke atas tempat tidur.


"Ada apa Bintang?"


"Tidak ada apa-apa ayah, hanya saja Arwin dan Virdan meninggalkan Bintang tidur sendirian."


Bulan langsung, naik ke punggung kakaknya bermain kuda-kudaan. Bintang hanya diam saja melihat tingkah nakal adiknya yang tidur di atas punggungnya.


"Bel, putra kita mirip sekali dengan kamu."


"Dia gabungan kita ayah, hanya putrimu saja yang mirip Bella kecil." Bella dan Tian langsung bersiap untuk tidur.

__ADS_1


Kekacauan juga terjadi di kamar Erik, Billa memijit pelipisnya melihat anak dan bapak yang joget-joget sambil bernyanyi.


"Pa, udah dong. Billa pusing melihat kalian berdua." Bibir Billa monyong, menarik Erik yang tertawa melihat Embun lompat-lompat di atas tempat tidur.


Erik memeluk istrinya dari belakang, mengangkat tangan Billa untuk berjoget membuat Billa tertawa lepas melihat tingkah anak dan suaminya.


Mendengar suara ketukan pintu, Em langsung membukanya dan melihat kakaknya Elang pindah kamar.


Tatapan Elang tajam, melihat adiknya yang bernyanyi dengan suara jeleknya.


"Ada apa El?"


"Diusir kak Aka." El langsung tidur di atas ranjang, menendang Em agar turun.


Tatapan Em langsung tajam, memukul kakaknya membuat Billa berteriak. Erik tertawa melihat kenakalan putrinya.


Karena terlalu lelah, akhirnya Em tidur dalam pelukan Papanya sedangkan Billa mengusap kepala putranya yang juga sudah terlelap tidur.


Erik bahagia melihat keluarga kecilnya yang sangat bahagia, tidak terasa anak-anaknya sudah mulai besar.


Pasangan terakhir yang rusuh, Kasih sudah berdebat dengan Ravi soal baju tidur, posisi tidur bahkan letak bantal juga diributkan.


Asih hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua orangtuanya, setelah Mommynya marah baru Daddy-nya memeluk dan meminta maaf.


"Asih kamu tidur sama nenek saja ya."


"Daddy mengusir Asih."


Ravi menarik tangan putrinya keluar, melambaikan tangan melihat Asih diluar. Ravi langsung masuk dan memeluk Kasih menariknya ke atas ranjang.


Asih menendang pintu, menatap ke arah salah satu kamar yang terbuka. Raka keluar kamar celingak-celinguk melihat keluar.


"Kenapa kamu diluar Asih?"


Rasih menceritakan jika dia diusir dari kamar, Raka menarik tangan adiknya mengetuk kamar kedua orangtuanya.


Suara barang berjatuhan dari kamar Aka terdengar, Rasih dan Raka langsung berteriak ketakutan.


Ravi dan Kasih langsung memakai baju kembali, kedua anaknya teriak-teriak mendobrak pintu.


Pintu terbuka, Ravi kebingungan melihat twins R yang langsung lompat ke atas tempat tidur, menarik selimut dan bersembunyi.


"Kak Aka takut apa?"


"Em ... em sudah diamlah." Raka memejamkan matanya.


Ravi cemberut melihat dua anaknya yang menggagalkan rencananya.

__ADS_1


***


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2