
Suasana kediaman Bisma ramai, suara Bening yang selalu tertawa membuat kehangatan keluarga sangat terasa.
Bunda Jum sedang sibuk di dapur bersama Binar memasak makanan kesukaan Tian dan Bella, Binar tersenyum melihat Bunda yang tidak menggunakan maid untuk mengurus makan suami dan anaknya.
"Bunda, ini sudah selesai." Binar meletakan makanan di atas meja.
"Iya sayang."
Bella melangkah ke dapur langsung memeluk Jum dari belakang, berkali-kali Bella mencium Jum merasakan rindu berat kepada wanita yang melahirkannya.
"Bagaimana kuliah kamu?" Jum mengusap kepala Bella.
"Maafkan Bella Bunda, sebenarnya Bella tidak kuliah S2, tapi pergi ke desa daerah yang sangat tenang." Bella mengeratkan pelukannya.
"Dasar anak nakal, kapan kamu akan dewasa Bella? jika Bunda tahu pasti sangat khawatir." Jum melepaskan pelukan Bella, menakup wajah putrinya.
"Maafkan Bella Bunda, selalu membuat Bunda khawatir."
Jum tersenyum, meminta Bella membantu Binar menyiapkan makanan ke atas meja.
Binar tersenyum, Bella juga tersenyum mencoba masakan Binar.
"Bella rasa hanya Bella yang tidak bisa masak, masakan kak Binar enak, tapi masih enak Bunda." Bella tertawa bersama Binar.
"Bella, maaf jika kamu merasa aku datang ...."
"Jangan dibahas lagi, anggap saja dulu Bella masih kekanakan, sekarang sedang belajar dewasa." Bella menepuk pundak Binar menuju ke meja makan.
Dari luar rumah sudah terdengar suara Tian, Jum langsung tersenyum berjalan menyambut putra satu-satunya.
"Bunda." Tian langsung mencium tangan Jum, memeluknya lembut.
"Kenapa pulang tidak memberikan kabar? jangan terlalu sibuk bekerja kamu punya keluarga." Jum mencubit telinga putranya.
"Maafkan Tian Bunda, kali ini Tian akan selalu datang menemui Bunda." Bastian memeluk sambil tersenyum bahagia saat melihat Bundanya.
"Mulai lupa, jika putranya pulang lupa suami." Bisma menatap tajam.
"Ayah, Tian pulang." Bastian mencium tangan Bisma.
"Bagaimana pekerjaan kamu?"
"Lancar Ayah, mulai besok Tian akan mulai masuk ke kantor lagi."
"Berhenti membicarakan perkejaan, kita makan siang dulu." Jum memeluk lengan Bisma meminta untuk duduk.
"Billa ayo makan." Bella berteriak memanggil Billa.
Bening langsung berlari ingin digendong Tian, mendudukkannya di atas kursi. Billa muncul bersama Elang mendudukkan di kursi anak-anak.
"Di mana Embun?" Tian mencium pipi Elang yang menolak dicium.
__ADS_1
"Tidur kak."
"Raka tidak suka dicium, Elang juga tidak suka." Tian mengusap kepala Elang.
Suara tangisan Embun terdengar, Bella langsung berlari kencang mengalahkan Billa yang baru saja berdiri dari kursinya.
Suara tawa Embun terdengar, Bella juga tertawa menggendong gadis kecil, cantik, gembul juga sangat lincah.
"Embun nantinya nakal seperti Rasih." Bella meletakan Embun di kursi anak.
"Mungkin anak kamu yang nakal kak Bel, bukan Embun." Billa tersenyum menatap Bella.
"Sekarang kamu sudah berani ya Bel, tidak menghormati aku lagi. Pokoknya Embun harus nakal." Bella melotot, Embun tertawa bersemangat melihat Bella.
"Dia setuju." Bella memeluk Embun penuh kasih sayang.
"Assalamualaikum, anak Papa." Erik langsung berlari mengambil Embun ke dalam pelukannya.
"Kak Erik anaknya Bella balikan." Bella memukuli Erik sampai meletakan Embun kembali.
"Anaknya Bil kak." Billa menatap kesal.
"Anak kamu harus menjadi anak aku juga." Bella mengusap wajah Embun.
Erik terdiam langsung duduk karena Jum meminta berhenti berebut dengan Bella, Elang hanya diam saja saat Papanya mencium pipinya.
"Elang, adik kamu diambil Aunty galak." Erik mengadu.
"Kita makan siang dulu, jangan berdebat." Jum menyiapkan makanan untuk Bisma.
"Assalamualaikum."
"Papi, Papi Ning pulang, Mami turunkan Ning sekarang, Papi pulang." Bening menggoyang kursinya.
"Astaghfirullah sabar Ning, Papi kamu tidak mungkin hilang." Binar langsung bergerak, tapi Tian memintanya tetap duduk.
Tian langsung menggendong Ning, melepaskannya yang langsung berlari menyambut Tama pulang.
Senyuman Bisma terlihat, meminta Tama bergabung untuk makan siang bersama. Tama tersenyum melihat Tian dan Bella, langsung mencium kening Binar.
"Apa kabar Tian?"
"Baik, sudah berapa lama kamu tidak pulang." Tian tersenyum.
"Setiap hari pulang, hanya saja sering larut malam." Tama langsung duduk di samping Tian.
"Ning duduk di kursi kamu." Binar menarik kursi.
Senyuman Jum terlihat menatap anak, menantu, juga cucunya sudah bisa makan bersama. Kebahagiaan Jum dan Bisma sudah lengkap.
"Di antara Rama dan kak Bima aku yang memiliki keluarga paling lengkap, memiliki satu putra, tiga putri, dua menantu, tiga cucu." Bisma tersenyum menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Sebentar lagi Ning ada adik juga kek, berarti cucu empat." Ning mengomel sambil makan.
Bisma dan Jum tertawa, langsung meralat kembali ucapan jika akan memiliki empat cucu.
"Ning cucu pertama ya kakek?"
"Iya sayang, kamu cucu pertama." Bisma tersenyum melihat Ning yang tersenyum bahagia.
Selesai makan semuanya berkumpul, pertengkaran Erik dan Bening terdengar. Erik memang selalu menjahili Ning yang selalu ingin ke rumah Ravi.
"Kak Erik kenapa bisa pulang cepat?" Billa mengerutkan keningnya.
"Biasalah Billa, seperti tidak tahu Erik saja. Dia pergi menunggu pulang, kebanyakan makan gaji buta." Tian duduk memangku Elang.
"Kakak ipar ucapan kamu memang ... benar." Erik tertawa langsung memeluk Billa.
Bisma meminta Bella duduk mendekat, mempertanyakan soal pendidikan Bella juga niatan Bella untuk berumah tangga.
"Kamu sudah menemukan tambatan hati?" Bisma menatap Bella.
"Tian dulu yang menikah Ayah, baru Bella." Erik langsung menutup mulutnya karena keceplosan.
Tian hanya diam, Bella juga masih terdiam. Jum langsung muncul dari dapur duduk di samping Tian.
"Bunda, ada sesuatu yang ingin Tian bicarakan?" Tian menatap Bisma.
"Apa? kamu sudah punya calon istri. Bunda ingin menemuinya." Jum tersenyum sambil menatap Tian.
Tangan Bella sudah panas dingin, Bisma menatap Bella yang terlihat panik. Pundak Bella langsung dirangkul Ayahnya menepuk pelan.
Air mata Bel hampir menetes, tidak bisa menahan kesedihannya karena sudah pernah melawan Bundanya.
"Bunda, Tian ingin menikah dengan wanita yang sangat Tian cintai. Apapun langkah yang Tian ambil pastinya harus atas izin Bunda dan Ayah." Tian menggenggam tangan Jum.
"Bunda akan menyetujuinya selama Tian bahagia, sejak kamu kecil kasih sayang Bunda kepada kamu tidak bisa diukur. Doa Bunda hanya ingin Tian menemui kebahagiaan, keluarga kecil yang harmonis." Jum mengusap wajah putranya.
"Maafkan Tian Bunda, jika selalu membuat kecewa."
"Kamu tidak pernah salah, Ayah dan Bunda membesarkan kamu dengan cinta. Bunda percaya pilihan hati kamu yang terbaik." Jum tersenyum.
Tian merasakan jantungnya berdegup kencang, mata Tian melihat ke arah Bisma yang mengangguk kepalanya.
"Bunda, mohon izin dan restu agar Tian bisa menikahi Bella Bramasta." Tatapan mata Tian melihat mata Bundanya yang terlihat tenang.
Suasana hening, Jum juga tidak mengeluarkan sepatah katapun hanya senyuman yang terlihat, langsung melepaskan genggaman tangan Tian.
"Bunda ...." Tian menatap dengan rasa bersalah.
"Bella bersedia menerima Tian, jika kalian berdua sudah memutuskan Bunda tidak punya hak untuk menghentikan. Sebagai seorang ibu hanya ingin kalian berdua bahagia." Jum langsung tersenyum melangkah pergi meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.
Tian dan Bella terdiam menatap Bisma yang sudah tarik nafas buang nafas, melangkah mengikuti istrinya ke kamar.
__ADS_1
***