
Sudah satu minggu Wildan keluar dari rumah sakit, sudah mulai bekerja kembali untuk melihat keadaan perusahaan.
Vira juga sibuk bekerja, melihat keadaan perusahaan yang sempat bermasalah karena pabrik yang kacau ulah Fly.
"Morning Wil." Vira memeluk Wildan dari belakang, melihat suaminya yang sudah berpakaian rapi bersiap untuk ke kantor.
"Wil, Wil, Wil, sekalian kamu panggil adik Wildan." Tatapan Wildan tajam, mengusap kepala Vira, mengambil jam tangannya.
Suara Vira tertawa terdengar, dia masih menggunakan baju tidur karena tidak berniat untuk pergi bekerja, ingin pergi belanja dengan Bella dan Kasih.
"Panggil apa? tidak lucu panggilannya kak Wil, kamu lebih muda. Vira panggil Yang Wil, Ayang cium." Vira memonyongkan bibirnya.
Wildan hanya tersenyum, langsung mencium bibir Vira sekilas. Tangan Vira langsung bergelantungan di leher suaminya, mencium bibir Wildan lama.
"Begitu baru namanya cium."
"Memangnya yang barusan aku lakukan apa?"
"Kecupan, itu hanya kecupan singkat." Vira membuka pintu mempersilahkan Wildan keluar.
"Kamu beres-beres rumah, kita pulang hari ini." Wildan merangkul pinggang Vira melangkah bersama ke meja makan.
Dari dapur sudah terdengar suara mommy yang tertawa, tidak ada hari yang membuat heboh. Vira langsung duduk, melihat mommy bermanja-manja dengan Daddy-nya.
"Kalian hari ini pulang?" Vi duduk di samping Vira.
"Iya Mom, kita izin pulang." Wildan meminum susu yang Vira berikan.
Dari kecil sampai besar, setiap pagi Wildan harus melihat susu. Terkadang lebih baik meminum air putih, daripada bertemu susu.
"Minum susunya Yang."
"Yang?" Viana tersedak.
"Kenapa Mo"
"Jelek sekali panggilan kalian, Yang nanti kayang." Viana tertawa lucu melihat Wildan yang hanya diam.
"Ayang mommy, jika sayang sudah biasa. Jika Ay sudah miliknya Mami."
"Kenapa tidak Bun saja?"
"Bulat, buntal, atau bolong sekalian." Vira tertawa, Wildan langsung tersedak.
Rama yang baru muncul, mengusap pelan punggung menantunya yang bisa trauma dekat dengan istri dan ibu mertuanya.
"Harap maklum ya Wil." Rama tersenyum.
__ADS_1
"Tidak masalah dad, di rumah juga sudah biasa dengan keributan." Wildan tersenyum melanjutkan sarapannya.
"Keributan?" Viana dan Vira langsung melotot.
"Kita tidak membuat keributan Yang, hanya bercerita." Vira memonyongkan bibirnya.
Rama dan Wildan hanya tersenyum santai, bercerita ataupun membuat keributan beda tipis.
Selesai sarapan Wildan langsung pamit pergi, sebelum masuk mobilnya Wildan menyempatkan diri untuk melihat kedua orangtuanya.
Sebelum masuk Wildan sudah bisa mendengar suara Wira, tatapan wajah tampan anak bule yang sudah menggendong tas nya.
"Kamu ingin pergi sekolah Wir?"
"Tidak ingin pergi ke pasar." Wira tertawa lucu melihat ekspresi Wildan.
"Uncle, sebaiknya menemui nek mud, soalnya nek mud sedih tidak melihat aunty Winda. Wira juga rindu." Tatapan Wira sedih, tidak heran Windy menunda untuk kembali melihat Maminya yang kesepian.
Wildan langsung melangkah masuk, melihat Maminya bercerita dengan Windy sambil tertawa.
Melihat Wildan datang, Reva langsung memeluk putranya erat, meneteskan air matanya karena merindukan putri kecilnya.
"Mami, malam ini Wildan menginap di sini. Kak Windy sudah bisa pulang. Kita akan giliran menemani Mami sampai Winda pulang." Wildan mengusap air mata Maminya, mencium kening wanita pertama yang sangat dicintai.
"Tidak Wil, kalian sudah memiliki keluarga masing-masing, Mami hanya rindu adik kamu. Biasanya dia yang selalu marah, membuat tawa juga kehebohan. Bagaimana nasib Ar menikahi dia?" Reva menghapus air matanya, tersenyum meminta Wildan segera pergi kerja.
"Mami lebih suka, jika kamu segera memberikan cucu." Nada bicara Reva sudah kembali, Windy dan Wildan langsung tersenyum.
Wildan tersenyum, memeluk Maminya langsung menatap Wira yang sudah mengobrol dengan kakeknya. Ocehan Wira sudah seperti ustadz saja, bukan Bima yang menasehati,tapi Wira.
"Wildan, kamu sudah mulai bekerja."
"Iya Pi, biaya lipstik Vira mahal." Wildan tertawa, melihat Vira yang muncul membawa makanan.
"Fitnah, Vira jarang membeli lipstik." Vira meletakkan kue untuk Bima dan Wira yang langsung menyantapnya.
"Wir, kamu kan bule. Apa saja yang tidak busa di makan oleh bule?"
"Pertanyaan apa itu Aunty? memangnya kalau bule ada pantangan makannya. Wira akan memakan apapun, kecuali dia keluar lagi." Wira tertawa, memasukan kue langsung sekaligus.
"Wajah bule, tingkahnya kampungan."
"Aunty jaga ucapan, asal Aunty tahu Wira ini ...." Wira langsung batuk, kue keluar dari mulutnya, karena tidak muat.
"Begitu akibatnya jika rakus, makan tidak bisa pelan. Makan sambil bicara." Vira melotot.
Windy mencubit pipi Wira, membersihkan bekas kuenya. Wajah putih Wira berubah merah, matanya juga mengeluarkan air mata.
__ADS_1
Bima langsung memeluk cucunya, meminta Winda lebih lembut jika Stev tahu bisa ribut.
"Sudah sering di bilang, makan pelan-pelan."
"Makan pelan-pelan." Wira mengambil kembali kue, memasukan sedikit demi sedikit ke mulutnya.
"Daddy, Wira ingin ikut Daddy." Wira langsung berlari bergelantungan di kaki Steven.
Windy juga langsung memeluk Steven dari belakang, Vira langsung memeluk Wildan.
"Kalian semua keluar." Reva menatap tajam, meminta anak cucu, menantunya untuk keluar.
Bima tertawa, langsung meminta Reva duduk menamainya melihat laporan perusahaan. Meskipun perusahaan sudah diambil alih Wildan, tapi tetap saja Bima mengontrol.
Wildan langsung pamitan untuk pergi ke kantor, Vira yang belum mandi masih bergelantungan ditangan Wildan tidak ingin pisah.
Jika datang manjanya Wildan kehabisan kata-kata, pelukan Wildan tidak cukup bagi Vira.
"Bagaimana aku bisa pergi Vir? lepaskan pelukan kamu."
"Tidak mau, Vira masih ingin dipeluk."
Wildan menatap tajam, Vira langsung diam menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Wildan jika sudah mulai kesal.
Kedua tangan Wildan memeluk lembut, mengusap kepala istrinya untuk menunggunya pulang.
"Aku pergi kerja dulu, kamu jangan lupa mandi. Nanti malam kita tidur di kamar aku." Wildan mencium hidung Vira.
"Siap bos ku, hati-hati." Vira mencium pipi Wildan, membiarkannya masuk mobil.
Wildan langsung melangkah pergi, melajukan mobilnya melewati rumah Ravi yang juga punya drama pagi-pagi, putrinya membuat keributan.
Senyuman Wildan terlihat, keluarga mereka memang tidak bisa tenang. Jika satu tumbuh dewasa, akan hadir lagi si kecil pengacau.
Erik juga sama mulai repot ulah putrinya Em yang mulai aktif nakalnya, Billa yang hanya diam membiarkan Erik mengurus kenakalan anaknya.
[Di mana Wil?]
[Sebentar lagi sampai, tunggu aku di parkiran.] Wildan mempercepat laju mobilnya untuk menemui Karan yang sudah menunggunya.
"Pagi Tuan muda, akhirnya kerja lagi setelah libur beberapa minggu." Karan berjalan di samping Wildan untuk masuk ke ruangan meeting.
"Ada masalah kak?"
"Sedikit, tapi aku rasa akan menjadi masalah besar jika kamu mengundur untuk masuk kerja." Karan tersenyum menepuk pundak Wildan yang juga tersenyum.
***
__ADS_1