
Septi kaget melihat Erik, Jum hanya tersenyum tidak enak hati melihat Erik yang terluka karena dirinya.
"Bunda, Erik baik-baik saja." Tangan Erik mencari Jum, memeluknya. Jum langsung menangis melihat mata Erik.
Kasih yang berulah hanya diam saja, menatap Ravi yang minum terus. Septi langsung membuka tutup kepala putranya, meminta Erik membuka matanya perlahan.
"Mama, cantik sekali." Erik mencium pipi Septi, memeluknya erat.
Semuanya mengelus dada, ternyata Erik tidak buta. Jum melanjutkan masaknya bersama Septi. Kasih juga ikut membantu, walaupun dia tidak mengerti.
"Mommy sama Mami tidak membantu memasak Bun?" Kasih mengupas bawang, matanya terasa perih.
"Jangan sampai wanita Bramasta dan Prasetya ikut masuk dapur, dijamin akan hancur seisi dapur." Septi geleng-geleng.
Kasih pergi ke tempat Mommy dan Mami yang asik tertawa, Kasih duduk mengusap matanya. Viana tersenyum, Reva tertawa melihat Kasih.
"Satu lagi keturunan kita kak Vi, tidak bisa masak." Reva mengusap kepala Kasih.
"Kasih tidak bisa masak ya Mom, mata Kasih perih."
"Iya sayang tidak masalah, kita memiliki asisten untuk membantu sesuatu yang tidak bisa kita lakukan." Viana tersenyum, Reva menggagukan kepalanya.
***
Acara makan malam bersama, Kasih tersenyum melihat banyaknya makanan masakan Bunda dan Mama Septi.
Suara salam terdengar, Tian langsung mencium tangan orang tua dan berlari ke kamarnya. Wildan juga baru datang bersama Karan langsung ikut duduk.
Tama juga datang bersama Karin, permintaan dari Ravi. Setelah semuanya kumpul barulah makan.
"Enak ya yang punya istri, makan di siapkan padahal suaminya punya tangan bisa mengambil sendiri." Erik nyinyir melihat Ravi.
"Makanya cepat menikah, Mama juga ingin melihat Erik kecil. Pasti mengemaskan, cerdas." Septi gemes sendiri.
"Harus lihat Ibunya juga Sep, siapa tahu mirip Ibunya, nakal ugal-ugalan."
"Tenang saja Mbak Reva dan Septi, calon istri Erik paket komplit." Jum tersenyum mengelus kepala Erik.
"Ahhh masa Bun, perasaan Erik kemarin kencan dengan mbak Iis." Ravi tertawa, Erik melemparkan buah anggur menatap Ravi kesal.
"Maksudnya, Asisten pribadi Bunda?" Jum langsung melotot.
"Jangan dengarkan Ravi Bunda, Erik hanya membantu mbak Iis."
Masih asik bersantai, Ravi berdehem meminta perhatian. Viana langsung mengerutkan keningnya.
"Daddy Mommy, Ravi ingin minta izin untuk liburan sekalian bulan madu." Ravi memulai bicara.
"Hanya berdua bersama Kasih?" Rama menatap Ravi dan Kasih.
__ADS_1
"Tidak Daddy, kak Tian, Erik, kak Tama, Karan juga Karin."
"Kenapa Karin harus ikut?" Karin langsung menolak karena tidak enak mengganggu bulan madu.
"Jangan sungkan Karin, lagian mereka berdua sudah lama menikah. Kita memang selalu melakukan perjalanan bersama, hanya saja sekarang ada wanitanya." Tian memasukkan daftar nama Karin, Kasih menggagukan kepalanya, setuju dengan ucapan Tian.
"Ingin pergi ke mana kalian?" Viana merasa malas, karena pasti akan kesepian.
"Amerika," ucap Tian.
"Roma," Wildan dan Karan bersamaan.
"Prancis, aku ingin menikmati Paris." Ravi bicara kuat.
"Erik ingin pergi ke mana ya?" Erik menggakat kedua bahunya.
"Kasih,Tama dan Karin ingin pergi ke mana?" Mami menatap wanita kembar kebinggungan.
"Tama tidak ikut Mami, soalnya harus mengantar Cinta dan Ibu ke Desa, lanjut lagi Tama harus bertugas ke luar kota."
"Emmhhh Karin ingin sekali pergi ke Korea."
"Korea Utara, bisa tidak pulang kamu Karin." Jum tersenyum.
"Bukan Bunda, Korsel Bun."
"Kasih?" Semua orang menatap Kasih.
Tian langsung mencoret semua yang disebutkan kecuali miliknya, Ravi langsung protes tapi Tian menggunakan statusnya yang paling tua untuk tetap pergi ke Amerika.
"Ravi ingin pergi ke Paris?"
"Sudah jangan debat, kalian bisa pergi ke Amerika, lanjut Paris, lanjut Korsel, baru pergi ke Roma." Bisma membulatkan semuanya.
"Butuh waktu lama Ayah, bisa sampai tiga bulanan."
"Anggap saja kalian liburan panjang, temui Vira geng." Rama menyetujui ucapan Bisma.
Tian mengaruk tengkuknya, dia baru saja buka cabang, bisa tertun'da semuanya. Libur panjang butuh waktu lama, belum lagi mengurus yang lainnya.
"Tian tinggal di Amerika saja, soal ada buka cabang di sana."
"Terserahlah," Ravi ikut saja.
Karin yang paling bahagia, dia akhirnya bisa berkeliling beberapa Negara walaupun bukan sebagai istri Ravi.
"Wildan, kenapa kamu selalu ingin pergi ke Roma?" Bima menatap Wildan yang mengerutkan keningnya.
"Dia ingin menemui pacarnya di sana Papi. Kita juga heran sejauh apa hubungan mereka." Erik yang menjawab.
__ADS_1
"Bukan Papi, Wildan ada urusan di sana."
Reva menatap Wildan tajam, mencari kebohongan. Wildan tersenyum melihat Mami yang menatap sinis.
"Wildan tidak bohong Mami."
Akhirnya orang tua memberikan izin, seluruh pekerjaan di serahkan kepada wakil di setiap perusahaan, tugas Ravi, Tian hanya mengontrol dari kejauhan. Berbeda dengan Wildan hanya perlu mengawasi saja, karyawannya orang terlatih.
Tian sudah mengatur jadwal keberangkatan, yang lain hanya perlu persiapan. Kasih melihat detailnya Tian menyusun keberangkatan.
"Karin harus bayar berapa?"
Ravi menatap Karin yang menghitung pengeluaran selama pergi, Tian hanya senyum saja langsung menulis gratis.
"Gratis, Alhamdulillah ya Allah akhirnya Karin bisa naik pesawat." Karin tersenyum, Viana juga tersenyum melihat Karin yang tidak berlarut-larut dalam kesedihan.
"Di dalam pesawat kita berdesakan tidak ya?" Karin membayangkan banyaknya penumpang.
"Hanya kita saja, karena Pesawatnya milik kak Tian." Erik tersenyum melihat Karin yang tidak kalah polos dari Kasih.
Jum diam saja melihat anak-anak yang ingin pergi lama, kedua putrinya juga sangat lama tidak kembali. Perlahan air mata Jum menetes.
"Kita tidak memiliki anak lagi, sudah tua tapi kesepian." Jum memeluk Bisma, Viana juga langsung sedih.
"Sepertinya kita juga harus liburan Daddy." Viana mengelus lengan Rama.
"Kita pindah saja ke kampung nelayan, saat anak-anak pulang kita baru pulang." Reva tersenyum menatap Bima.
"Rencana bagus, restoran Septi juga di sana berkembang pesat. Ingin melihat dunia kuliner khas banyak daerah harus mampir ke restoran Septi."
"Tidak perlu promo."
"Gratis mau?" Septi menatap Reva.
Reva langsung menggagukan kepalanya, Jum juga langsung tersenyum setuju. Viana ikut saja, sejak bersama Reva Jum, hal gratisan menjadi incaran Tri istri.
"Besok kita berangkat." Viana langsung meminta maid menyiapkan seluruh keperluan.
"Mommy, Ravi juga belum berangkat, tapi Mommy sudah ingin pergi duluan."
"Iya Mom, tunggu mereka pergi dulu, Daddy juga harus melihat perusahaan dulu baru kita bersantai." Rama merangkul Viana.
"Baiklah Daddy."
***
Hari sudah larut malam, Ravi masih di luar bersama dengan Tian melihat seluruh keperluan. Erik asik tidur mengorok.
Kasih mendekati Ravi, menyiapkan minuman untuk Ravi dan Tian. Kasih kagum melihat Tian dan Ravi yang kompak, tidak menghitung besar kecilnya pengeluaran, bahkan tidak meminta kumpul dana. Mereka langsung mengusulkan segala keperluan.
__ADS_1
"Oke, jadi semuanya sudah siap, kita menunggu hari H saja." Ravi menutup laptopnya.
***