
Selesai makan siang Vira pergi ke rumah sakit bersama Kasih, di sana juga bertemu Billa yang sengaja menunggu kedatangan Vira.
Ketiganya langsung melangkah menuju ke ruangan wanita yang menjadi korban tabrakan, Billa juga belum melihat langsung.
"Di mana ruangannya Bil?"
Billa mengetuk pintu, langsung membuka kenop pintu. Billa teriak histeris menutup matanya, Kasih yang melihat langsung berlari menarik wanita muda yang ingin lompat dari atas balkon kamar rawatnya.
"Gila kamu ya?" tatapan Kasih tajam, melihat air mata membasahi pipi wanita yang sudah terduduk memegang kakinya.
Billa langsung membantu untuk kembali ke ranjang tidur, Vira melangkah mendekati melihat kesedihan yang sangat dalam.
"Kamu pikir dengan mati, masalah selesai?"
"Iya, aku tidak punya alasan untuk hidup, dunia terlalu kejam untukku."
"Bukan dunia yang kejam, tapi kita yang tidak bisa menerima. Ada tidak kamu, dunia akan tetap seperti ini. Masalahnya kamu tidak menerima kebenaran, juga kenyataan hidup." Kasih menatap tajam, menggelengkan kepalanya.
"Kamu tidak tahu, betapa banyaknya orang yang ingin hidup di dunia ini? tetapi mereka sudah kehabisan waktu, seharusnya kamu memanfaatkan waktu hidup untuk bertahan, bukan menyerah." Vira duduk sambil tersenyum.
Tetesan air mata terus mengalir, tidak ada jawaban lagi. Tidak ada yang mengerti betapa menderitanya dirinya.
"Siapa nama kamu? lelaki yang mengendarai mobil suamiku."
"Aku tidak tahu siapa yang menabrak, karena dia tidak pernah datang tapi mengirim polisi untuk langsung mengintrogasi."
"Baiklah, perkenalkan aku Vira, dia kakak ipar ku Kasih sedangkan dia Billa sahabat juga saudara." Senyuman Vira terlihat, mengobrol ringan agar terlihat lebih santai.
"Aku Erlin, kalian ada tujuan apa datang? apa ingin memenjarakan aku?"
Vira langsung tertawa, mengusap kepala Erlin yang terlihat panik. Rasanya hari ini Vira bahagia sekali bisa melihat wajah Erlin.
Billa dan Kasih saling pandang, Vira tidak biasanya mudah akrab dengan orang luar. Nada bicara Vira juga berbeda, sangat jauh berbeda dengan Vira yang mereka kenal.
Senyuman Vira selalu terlihat, bahkan bisa bercanda dan tertawa lepas membuat Erlin lebih santai dan mulai mengobrol.
__ADS_1
"Vira, kenapa ramah sekali?" Kasih menatap Billa yang juga binggung.
"Mungkin bawaan bayi." Billa juga tidak nyaman menegur Vira, langsung sedikit menjauh menghubungi Winda soal perubahan sikap Vira.
Billa memilih pergi, membiarkan Vira mengobrol bersama Erlin soal masa lalu Erlin.
"Di mana keluarga kamu?"
"Papa pergi bersama istri barunya saat aku masih berusia sepuluh tahun, beberapa hari yang lalu Mama mengalami kecelakaan dan meninggal." Tangan Erlin menghapus air matanya.
"Keluarga yang lain?"
"Lin tidak tahu, kami hanya perantau yang sudah menetap."
"Kenapa kamu menabrakkan diri ke arah mobil?" Kasih bernada sinis, membuat Erlin semakin menangis.
"Besok Lin ujian kelulusan, tapi tidak diizinkan masuk karena belum membayar uang sekolah. Semua uang belasungkawa sudah habis untuk menutupi hutang Papa, bahkan Lin tidak punya tempat tinggal. Niat Lin hanya ingin menyelesaikan sekolah, lalu bekerja." Tangisan Erlin sangat kuat menyentuh dadanya yang terasa sesak.
Vira juga meneteskan air matanya, dirinya tidak pernah merasakan yang namanya kekurangan. Sejak kecil hidup Vira sudah terjamin, dia memiliki segalanya bahkan cinta orang tua.
Pintu ruangan terbuka, Winda muncul langsung mendekati Vira, menatap tajam wanita yang ada di ranjang.
"Winda, kenapa kamu bisa ada di sini? di mana anak-anak?" kening Vira berkerut, Winda seharusnya tetap di rumah, karena Ar sedang bekerja keluar kota.
"Anak-anak aman di rumah, aku hanya ingin memastikan gadis ini sedang tidak berpura-pura meminta dikasihani." Tatapan mata Winda melihat ke arah mata Lin yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku, tolong jangan penjarakan Lin."
"Tidak ada yang akan memenjarakan kamu, dia Winda saudaraku. Dia wanita baik." Vira memeluk Winda yang terlihat menakutkan.
Winda hanya melihat wanita polos yang tidak memiliki sandaran, Erlin jujur dengan masa kelam nya.
"Kamu tahu siapa kami?" tatapan Winda tajam, Billa masuk kembali melihat Winda mulai mengintrogasi.
Kepala Erlin menggeleng, dia tidak tahu apapun, dirinya hanya membutuhkan uang untuk sekolah, tidak mengerti soal kejahatan.
__ADS_1
"Pemuda yang menabrak kamu, pemimpin dari BB grup. Siapapun yang mendekati dia tidak mungkin tidak ada maksud? aku tidak akan tinggal diam jika ada parasit masuk dalam keluarga kami." Winda menawarkan tawaran uang dengan kesepakatan, Erlin hanya menangis melihat Winda yang tidak menyukainya.
"Winda cukup, dia masih muda dan tidak mengerti kehidupan orang seperti kita. Jangan menilai semua orang sama buruknya." Senyuman Vira terlihat, menghapus air mata Erlin. Menjelaskan jika Winda sebenarnya hanya bercanda.
"Aku tidak bercanda Vira, gadis polos bisa menusuk dari belakang."
"Winda please."
"BB grup milik keluarga kakak?"
"Iya, pemimpin utamanya suami kakak. Kamu jangan khawatir dia pria baik, tidak akan berpikir buruk. Kamu harus cepat sehat, besok pengawal kak Vira yang menemani kamu sekolah agar bisa mengikuti ujian, soal biaya jangan khawatir." Tatapan mata Vira sangat lembut, penuh kasih sayang membuat Erlin sampai menangis bahagia.
"Terima kasih kakak, terima kasih. Lin tidak harus dikawal, besok Lin ingin sekolah, lulus dan bekerja. Terima kasih kak Vira." Erlin terlihat sangat bahagia, berkali-kali mencium tangan Vira.
Selesai mengobrol akhirnya Vira memutuskan pulang, tidak bisa meninggalkan putranya terlalu lama.
Di perjalanan pulang, Winda menghela nafas bekali-kali memperhatikan wajah Vira yang terlalu tersenyum.
Kasih juga binggung melihat Vira yang lebih anggun, juga terlihat sangat tenang.
"Vira, kenapa kamu terlihat aneh sekali?"
"Aneh kenapa Win? aku hanya merasa selalu bahagia, bangun tidur melihat putra dan suamiku, sarapan dimasakkan oleh kakak tersayang, bisa menjenguk Erlin. Aku bahagia Winda." Tawa Vira terdengar, lebih lembut dan menenangkan.
Winda mengaruk kepalanya, hilang sudah Vira yang seperti manusia kesurupan. Jika tertawa suaranya sangat besar, tapi sekarang sangat lembut.
"Apa yang akan kamu lakukan soal Erlin?" Kasih melihat perubahan ekspresi Vira.
"Aku berencana membawa dia pulang, tapi izin dulu dengan Ayang Wil. Jika diizinkan, aku ingin membiayai hidup Erlin hingga dia sukses dan memiliki keluarga."
"Gila kamu Vir, jika ingin menolong tidak harus dibawa pulang ke rumah." Winda tidak setuju, sangat yakin Wildan tidak akan pernah setuju jika ada orang asing yang tinggal bersama mereka.
Vira juga tidak mengerti, perasaannya sangat ingin tinggal bersama Erlin. Mungkin bawaan bayinya, terlalu nyaman bisa menolong wanita muda yang memiliki perjalanan yang masih panjang.
"Vira, batu yang kamu bawa pulang, bisa saja ingin berganti menjadi berlian. Jangan terpengaruhi hanya karena perasaan." Kasih juga tidak setuju.
__ADS_1
***