SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
BONUS PART 17


__ADS_3

Pintu kantor Steven diketuk, langsung terdengar suara mempersilahkan masuk. Langkah kaki mendekat, membuat Steven mengangkat kepalanya.


"Ada apa Win? tidak biasanya kamu ke sini tanpa mengabari." Stev mempersilahkan duduk.


Erwin langsung duduk menatap seorang hakim di hadapannya, Steven yang dia kenal sejak kecil memang pria yang luar biasa.


"Kak, Erwin ingin meminta bantuan. Malam nanti kita ada kumpul makan malam bersama, Erwin meminta bantuan pembelaan kak Stev."


Kening Steven berkerut, dia merasa lucu dengan tingkah laku Erik. Meminta pembelaan kepada seorang hakim.


Steven menawarkan Erik untuk menemui pengacara keluarga, dia akan membela Erik dalam kasusnya.


Wajah memohon terlihat dari dokter tampan dihadapannya, Steven akhirnya menganggukkan kepalanya.


Suara Erwin berteriak terdengar, langsung memeluk Steven dan melangkah keluar setelah menundukkan kepalanya.


Kening Steven berkerut melihat tingkah laku Erwin yang tidak normal, langsung fokus kembali membaca beberapa kasus untuk persidangan.


Di luar pintu sudah ada Rasih dan Em yang memberikan jempol, melangkah bersama Erwin untuk berjalan keluar.


Senyuman Asih terlihat menggenggam tangan Erwin, langsung meminta Arum dan Bulan juga beraksi, tapi tidak disarankan diketahui dua manusia mulutnya bocor.


Di rumah Arum sudah mengendap-endap bersama Bulan, mereka melihat Lin yang sedang berbicara serius bersama Mommy dan neneknya.


Arum bisa memperkirakan jika sedang membahas desain, langkah keduanya terhenti mendengar teriakan Vio dan Vani.


Suara besar keduanya berteriak dan berlari mendekat, Arum menepuk jidat. Bulan langsung menatap tajam ingin menonjok Twins V.


"Kalian ya, Vio cariin di semua rumah tidak ada. Sekarang mainnya tidak memanggil kita lagi." Bibir Vio monyong, melipat tangannya di dada.


"Iya, kalian tidak boleh seperti itu. Jika satu main, semuanya harus main." Tatapan mata Vani tajam.


Arum langsung duduk lemas, menatap tajam. dua bocah berisik yang mengacau rencana mereka.


Reva mendekati cucu-cucunya yang sibuk sendiri, menatap Arum dan Bulan yang terlihat marah, sedangkan twins V terlihat kesal.


Melangkah pergi meninggalkan keempat bocah yang sedang berperang melalui tatapannya, jika ditegur pasti akan main jambak- jambak.


Melihat kedua adiknya muncul, Arum langsung melangkah pergi terus diikuti oleh Vio dan Vani sedangkan Bulan mendekati Lin.

__ADS_1


"Kenapa kalian mengikuti aku?"


"Tujuan kita saja yang sama." Twins V menjulurkan lidahnya melihat Arum.


"Baiklah, kalian bantu kak Arum untuk membantu Uncle Erwin melamar kak Lin malam ini, tapi kalian tidak boleh mengatakan kepada siapapun." Jari kelingking Arum terlihat, twins V langsung melakukan janji jari kelingking untuk tidak membocorkan rencana.


Senyuman cantik dua bocah terlihat, langsung mengikuti Arum untuk menyiapkan sesuatu di kamar Lin.


Setelah tugas mereka selesai langsung melangkah pergi ke belakang rumah untuk menyiapkan persiapan tanpa ada yang tahu.


Bulan tersenyum mengatakan jika Lin sudah di kamar mungkin menemukan apa yang sudah Arum letakkan di sana.


Erwin muncul bersama Asih dan Em yang kembali setelah menemui Steven juga membeli bunga, dan beberapa kejutan untuk Lin.


Di perpustakaan Raka bisa menyaksikan apa yang di lakukan semua orang, langsung memberikan bantuan untuk menutup beberapa rekaman agar tidak ada yang mengetahui jika di belakang rumah sedang ada acara membuat kejutan.


Pintu terbuka, Virdan melangkah masuk melihat Raka yang sedang membaca. Tangan Virdan ditahan saat ingin membuka kamera.


"Biarkan saja, meskipun kita tidak membantu secara langsung cukup mendoakan kak Lin Dan Uncle Erwin hubungannya mendapatkan dukungan." Aka tidak memalingkan sedikitpun pandangannya dari buku yang sedang dia baca.


Tatapan Virdan masih melihat adik-adiknya yang sibuk merangkai bunga, dan melihat Asih naik ke atas pohon membuat Erwin memaksanya untuk turun.


"Kak, kita bisa membantu mereka. Acara makan malam akan berubah menjadi acara heboh."


, tapi jika ditolak hentikan." Raka melihat ke layar, menatap adik-adiknya yang lain juga mengetahui rencana busuk Erwin dan para wanita.


Raka hanya binggung, dia tidak pernah bisa mengetahui keberadaan Wira di sekitar perumahan. Sejauh mengenal Wira, Aka tidak bisa memahami sikap kakak lelakinya.


***


Makanan untuk acara makan makan malam sudah siap, satu-persatu keluarga mulai bermunculan.


Mereka tidak merasakan curiga sama sekali, anak-anak juga sudah duduk di tempat masing-masing dan terlihat sangat tenang.


Wildan muncul menggendong kedua putrinya yang tidak ingin turun, satu dipunggung satunya di depan.


"Papi, malam ini spesial sekali. Kita punya ...." Sebuah tangan langsung menampar mulut Vani.


Vio memukul mulut adiknya yang mulai ingin bocor, Wildan langsung meminta keduanya berhenti.

__ADS_1


Menurunkan Vio dan Vani yang sudah bertengkar, Vio mengancam adiknya akan melaporkan kepada Arum.


Kepala Vani langsung tertunduk, dia tidak sengaja. Mulutnya saja yang lancar mengomel sampai hampir bocor.


"Ada apa?"


"Vani tidak bisa menjaga janji, jika kita ada acara ...." Kepala Vio langsung menoleh ke arah kakaknya yang sudah menutup mulutnya.


Vio sama Vani sama saja, sama-sama tidak bisa menjaga rahasia. Selalu keceplosan, karena rajin berdebat.


Tatapan mata dingin kakaknya membuat Vio meminta maaf, Vani juga meminta maaf mengikuti kakak mereka untuk melangkah ke tempat makan.


Seluruh keluarga makan dengan santai dan penuh canda tawa, tatapan Erwin selalu melirik ke arah Lin yang menggunakan baju pilihannya.


Suara tangan Wira mengetuk meja membuat Lin binggung melihat adik lelakinya, menatap ke arah Erwin.


Senyuman Erwin terlihat, Lin juga tersenyum melihatnya berbeda dengan Wira yang menatapnya tajam.


Asih yang duduk di depan Wira langsung melempar dengan makanan, tatapan Asih tajam meminta Wira tidak ikut campur.


Asih bukan hanya mengancam dengan tatapan, tapi dengan genggaman tangannya. Ekspresi Wira hanya tersenyum sinis, menyipitkan matanya menantang Rasih.


"Aw, kak Lin kepala Wira sakit, bisa kita ke dalam untuk mencari obat." Wira menyentuh tangan kakaknya.


Suara pukulan di meja terdengar, Asih menumpahkan banyak minuman sambil berteriak.


"Asih saja, Asih bisa mengobati. Cacing patah kaki saja bisa Rasih buat semakin patah apalagi aku Wira yang pusing kepala." Senyuman licik Asih terlihat.


Lin tersenyum melihat Wira dan Rasih yang tidak biasanya bertengkar, mereka sangat akur sejak kecil meksipun selalu saling menjahili.


"Tidak ada wanita yang paling memahami kak Wira kecuali Asih, mau diobati tidak?"


Kepala Wira menggeleng, dia merasa kepalanya sudah membaik. Hanya perlu meminum air untuk rasa sakitnya langsung hilang.


Erwin mengedipkan matanya sebelah melihat kepintaran Asih, Wira memang sudah terang-terangan memperingati Erwin untuk menjauhi kakaknya.


Steven menghela nafasnya, melihat keanehan dari Erwin dan anak-anak. Apalagi melihat tatapan Asih dan Wira.


Bukan hanya Steven yang menyadarinya, tetapi Winda juga merasakan keanehan.

__ADS_1


***


Follow Ig Vhiaazara


__ADS_2